Tampilkan postingan dengan label essai sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label essai sastra. Tampilkan semua postingan
Surat Untuk Kyai dari Santri tentang Sastra Pesantren

Surat Untuk Kyai dari Santri tentang Sastra Pesantren

Jusuf AN

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tangan saya gemetar saat menulis surat ini, Yai. Takdzim saya kepada Yai tak berkurang sedikit pun, doa dan keberkahan Yai semoga tercurah untuk saya dan keluarga.

Maaf, Yai. Saya santri Yai, begitulah seharusnya saya memosisikan diri. Seorang santri selamanya akan tetap sebagai santri meskipun sudah tidak tinggal di pesantren lagi.

Begini, Yai. Hem, mungkin baiknya saya awali dengan cerita. Saya masih terkenang saat di pesantren dulu: Suatu malam, puluhan santri berkumpul di Masjid. Kali itu bukan untuk ngaji bandongan atau sorogan, tetapi untuk membaca, mendengar, dan mendendangkan atsar (prosa) dan nadzam (puisi) dari kitab terkemuka. Seseorang membaca atsar, saya dan yang lain mendengarkan, sesekali menyela, “Allah” atau “Ya Rasulallah”. Lalu crak..dung...crak dung-dung! Rebana membahana. Dipimpin seseorang, semua ikut mendendangkan nadzam. Beberapa tampak khusuk, tak jarang pula yang mengantuk sambil garuk-garuk, termasuk saya, barangkali syaithon berkitar-kitar di atas kepala, atau lantaran bosan, tak paham apa yang didengar dan dinyanyikan.

Tanpa harus menyebutkan kitab apa yang kami baca, tentu Yai sudah sangat mengetahuinya. Apa lagi kalau bukan kitab karangan Syekh Ja’far Al-Barzanji berjudul asli ‘Iqdul Jawahir (Untaian Mutiara). Pemandangan seperti itu sebenarnya tak hanya ditemui pondok pesantren, Yai. Tetapi juga di kampung-kampung, bergilir dari rumah ke rumah, setiap malam selama Rabi’ul Awal, juga dalam acara muputi (tradisi potong rambut dan memberi nama bayi).

Yai tentu sepakat, kitab yang kini lebih dikenal dengan nama marga pengarangnya (Al-Barzanji) itu memang dahsyat. Mungkin juga menjadi salah satu kitab setelah Al-Qur’an yang paling sering dibaca secara berulang, melebihi Manakib-nya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani atau ungkapan-ungkapan sufistik dalam Al-Hikam karya Ibn Atha’illah yang sangat sastrawi.

Maksud saya begini, Yai. Fenomena tersebut membuat kita percaya bahwa tradisi sastra di pesantren sudah berjalan demikian lama. Pada perkembangannya, pendokumentasian karya sastra hasil kreasi para santri dan kyai dalam bentuk cetak juga dilakukan, bahkan kini merambah ke bentuk audio-visual. Yai sendiri sudah pula menggubah syi’ir-syi’ir dan senang bercerita di atas mimbar. Tapi adakah Yai pernah mendengar istilah ini: “Sastra Pesantren?”

Iya, Yai. Sastra Pesantren! Istilah itu baru saya tahu setelah bertahun-tahun tidak tinggal di pesantren lagi. Pada awal millinium ke-3, istilah tersebut bahkan menjadi perbincangan di berbagai media.

Saya percaya, Yai tidak kaget. Sebab toh Yai pernah cerita jika dulu Tasawuf yang praktiknya sudah ada sejak zaman Rasulullah Saw., sebagai sebuah istilah baru dikenal abad ke-3 H. Sastra pesantren juga begitu ‘kan? Tradisi sastra di pesantren sudah ada bersamaan dengan adanya komunitas pesantren itu sendiri, meski istilah sastra pesantren belum lama muncul.

Oh ya, Yai. Sebelum jauh membincang sastra pesantren, demi kesatuan pandangan, sebaiknya kita sepakati dulu maksud istilah itu. Sastra pesantren dalam surat ini mengandung maksud sebagaimana pernah dikemukan oleh Gus M. Faizi, putra Pengasuh Pesantren Guluk-Guluk, Madura. Gus M. Faizi pernah membuat tulisan panjang berjudul Silsilah Intelektualisme dan Sastra di Pesantren, (Sebuah Perambahan Atas Tradisi Pesantren, Sastra, dan Sastra Pesantren), dimuat di Jurnal Ainil ISLAM, dan dipublikasikan ulang di blog pribadinya. Menurut beliau, sastra pesantren adalah karya sastra santri, kiai, dan atau juga yang punya silsilah sosial/intelektual dengan pesantren, bertema hal-ihwal kesantrian dan kepesantrenan dengan membawa semangat kesantrian (religiusitas), baik secara langsung maupun tidak.

Maka, ketika Gus Dur (K.H. Abdurahman Wahid) menempatkan novel Jalan Tak Ada Ujung sebagai sastra religius yang tidak kalah ketimbang Di Bawah Lindungan Ka’bah karya HAMKA, kita tidak dengan serta merta bisa memasukkan karya tersebut sebagai bagian dari sastra pesantren. Karena Mochtar Lubis bukan kiai, santri, atau pengarang yang punya silsilah sosial/inelektual dengan pesantren.

Barangkali Yai beranggapan bahwa label sastra pesantren tidak penting dan sebaiknya tidak perlu ditempelkan para karya tertentu. Sebab label itu justru akan membuat karya sastra pesantren terkesan ekslusif, dan pada akhirnya tidak menarik simpatik pihak-pihak di luar pesantren. Jika itu yang menjadi pendapat Yai, saya sependapat. Karena yang terpenting dalam sebuah karya adalah substansinya dan bukan labelnya. Atau istilah sastra pesantren biarlah tetap ada, tetapi bukan untuk mengukuhkan label, melainkan untuk menggelorakan kalangan pesantren dalam menghasilkan karya.

Wahai Kyaiku yang bijaksana.

Dulu, sewaktu masih nyantri, saya tidak tahu apa-apa soal sastra, tapi kadang kala menulis puisi juga. Tak hanya saya, banyak teman-teman seangkatan yang juga punya minat dan bakat sastra, dan mereka suka diam-diam membaca buku-buku sastra berbahasa Indonesia. Tetapi lambat laut, bibit-bibit cinta sastra kawan-kawan banyak yang punah, karena memang di pesantren tak ada yang menyemaikannya.

Itulah kenapa saya menulis surat ini, Yai. Sekadar menyoal geliat sastra di pesantren. Jika tradisi sastra di pesantren tidak dibarengi dengan kesadaran dan arah yang jelas, maka ia hanya akan berjalan di tempat. ‘Iqdul Jawahir akan terus dibaca, tetapi spirit perlawanan dan cinta kepada Rasulullah Saw tidak akan benar-benar membekas.

Memang, saya sempat pula ikut ngaji bandongan ‘Iqdul Jawahir. Buku terjemahan kitab tersebut, juga kitab-kitab kuning lain kini juga sudah banyak. Tetapi diskusi, Yai. Saya rasa beda dengan bandongan, sorogan, atau membaca kitab terjemahan.

Sampai di sini sebenarnya Yai sudah paham maksud surat ini. Seandainya saya anak kecil, tentu saya tak perlu basa-basi untuk meminta mainan. Tetapi karena saya santri dan Yai adalah panutan saya, terlebih yang saya ingin sampaikan ini butuh dalil, maka ijinkan saya mengingat masa lampau, para tokoh pendahulu pesantren.

Luar biasa, Yai. Ternyata pesantren memiliki tokoh besar yang dikenal sebagai pelopor sastra Melayu. Pastilah Yai paham siapa yang saya maksud. Atau Yai akan segera ingat setelah membaca sajak ini:

“Sidang Faqir empunya kata,
Tuhanmu Zahir terlalu nyata.
Jika sungguh engkau bermata,
lihatlah dirimu rata-rata”.[1]


Itulah petikan sajak Sidang Ahli Suluk karya Syekh Hamzah Fansuri. Menurut Kyai Zamakhsary Dhofier dalam buku Tradisi Pesantren, Syekh Hamzah Fansuri adalah salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh pusat pendidikan Islam (tradisional) pertama di Barus, Aceh, yang kemudian menjadi cikal-bakal pesantren sekarang ini.

Menderetkan nama-nama Kyai yang punya kesadaran bersastra di sini tentu akan sangat panjang. Sebutlah beberapa saja, seperti Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari dan putranya K. H Wahid Hasyim yang telah melahirkan banyak puisi berbahasa Arab, K.H Bisri Mustafa dan putranya K.H A.Mustafa Bisri yang juga telah menulis banyak nadzam dalam bahasa Arab maupun bahasa Indonesia, dan jangan lupakan juga Kyai Ahmad Qusyairi Siddiq dari Jember yang sudah mengarang kitab Fiqh berjudul Tanwir al-Hija dalam 312 sajak. Itu hanya beberapa saja, Yai. Sekadar menunjukkan bahwa ulama pesantren tidak memandang remeh sastra sebagai media dakwah mereka.

Yai tentu tak heran. Pesantren memang patut dibanggakan dan telah melahirkan banyak ulama besar, yang tidak hanya memiliki pengetahuan yang luas, tetapi juga kepribadian luhur. Pengetahuan para ulama diperoleh dari kegigihan mereka menimba ilmu dan takdzim mereka terhadap guru, sementara kepribadian dan karakter mereka bisa jadi karena pengaruh bacaan-bacaan yang penuh muatan sastra. Lalu keahlian mereka menuangkan gagasan dalam bentuk syair itu, dari mana mereka mendapatkannya? Kepekaan hati, selain juga kesadaran bahwa syair (sastra) merupakan pilihan yang sudah teruji efektif sebagai media dakwah islamiyah.

Saya percaya, Kyaiku yang sedang membaca surat ini memegang teguh visi pesantren: al-Muhafadhah‘alal qodimis shaleh wal-akhdu bil Jadidil ashlah. Ketika pendidikan untuk kaum perempuan masih tabu, Pesantren Den Anyar, Jombang tahun 1910 menjadi pesantren pertama yang membuka diri untuk santriwati. Itu bukti bahwa pesantren sanggup menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Tentu Yai juga punya niat untuk menggiatkan sastra di pesantren yang Yai asuh, sebagaimana juga sudah dilakukan di beberapa pesantren lain.

Zaman modern, Yai, bagaimanapun telah membawa manusia pada pola pikir praktis dan tak jarang menempatkan agama sebatas simbol dan ritual. Beragama di era digital ini lebih sering dimaknai hanya benar-salah, sebatas menggugurkan kewajiban, fiqh an sich—demikian istilah populernya. Situasi yang demikian ini membutuhkan penyegaran, juga media yang mampu menggerakan sisi dalam (penghayatan), sastra salah satunya.

Dan kenapa saya memilih mengirimkan surat ini kepada Yai dan bukan kepada Pusat Pembinaan Sastra dan Bahasa? Sebab di pesantren mana pun Kyai adalah sosok teladan sekaligus pengayom. Meski dalam tujuan membangkitkan sastra di pesantren, Kyai bisa saja hanya sebagai pengayom. Tapi Yai tentu ingin menjadi keduanya, uswah sekaligus pengayom, sebagaimana sudah banyak dicontohkan oleh para pendahulu.

Maka, barangkali setelah selesai membaca surat ini, Yai akan tergerak memanggil para pengurus, bermusyawarah dengan mereka tentang bagaimana menumbuhkan bakat dan minat sastra para santri, itu bagus sekali, Yai. Saya percaya dari musyawarah tersebut akan melahirkan gagasan-gagasan cemerlang. Mungkin akan diputuskan pentingnya membuat forum diskusi rutin yang khusus menyoal sastra, membentuk tim untuk menerbitkan majalah, mengadakan panggung sastra dalam di Akhirus Sanah, lomba menulis, mengundang sastrawan untuk membakar semangat, mengayakan buku sastra di perpustakan, dan lain sebagainya.

Sekali lagi, Yai adalah guru saya yang lebih memahami bagaimana kebijakan yang tepat untuk mendorong dan menggiatkan sastra pesantren. Saya tidak tahu apa-apa, dan mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan.

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


[1] Abdul Hadi WM, Hamzah Fansuri: Risalah Tasawuf dan Puisi-puisinya, Mizan, 1995, Hal. 121

--------------------
Tulisan ini dimuat dalam buku Revitalisasi Sastra Pesantren, Kumpulan Essai. Diterbitkan oleh Pesantren Mahasiswa An-Najah Purwokerto. 

Totto-Chan, Cerita Anak Yang Memikat Pembaca Dewasa

review novel totto-chan

Ketika Indonesia merayakan kemerdekaannya tahun 1945, orang-orang di Jepang sedang di rundung duka. Pesawat-pesawat Amerika berseliweran dan menjatuhkan bom-bom yang meluluh lantakkan rumah-rumah dan menelan banyak nyawa, juga sekolah itu: Tomoe Gakuen, yang didirikan oleh Mr. Kobayasyi.

Di Tomoe Gakuen (Nama ini diambil dari nama anak Mr. Kobayasyi) itulah Totto-Chan menjalani masa kecilnya, setelah dikeluarkan dari sekolah formal karena tingkahnya yang aneh. Tomoe Gakuen adalah semacam sekolah alternatif dengan siswa tak lebih dari 50 orang dan terdiri dari enam jenjang. Ada satu gedung berupa aula, selebihnya adalah gerbong-gerbong kereta yang disulap menjadi ruang kelas dan perpustakaan.


Ketika Indonesia baru saja merdeka, Jepang sudah mulai gelisah dengan pendidikan alternatif dengan kurikulum dan proses yang berbeda dengan sekolah formal. Aktifitas di sekolah Tomoe Gakuen sepertinya selalu menyenangkan, para siswa membawa bekal “sesatu dari gunung” dan “sesuatu dari laut”, menyanyi, berenang, berkemah, memasak, berwisata, dan membaca. Barangkali ada juga pelajaran fisika, matematika, dan lainnya, tetapi penulis tidak menceritakannya meski sekilas, apalagi detail.

Novel yang dikerjakan pada tahun 1979 ini melalui proses yang panjang. Penulisnya, Tetsuko Kuroyanagi mengaku telah melakukan riset yang cukup lama untuk mendalami karakter-karakter anak dan membangkitkan kenangannya. Ya, penulis novel ini tidak lain adalah Totto-Chan itu sendiri, yang sewaktu kecil bercita-cita menjadi guru di Tomoe, tetapi karena Tomoe Gakuen terbakar, akhirnya ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menulis sesuatu tentang Tomoe.

Membaca epilognya, saya langsung teringat Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi-nya. Bisa jadi Andrea tersinspirasi oleh novel yang ini. Dan nasib Totto-Chan ini juga juga menurun pada Laskar Pelangi. Kalau Totto-Chan mencatat rekor sebagai novel terlaris sepanjang sejarah penerbitan Jepang karena terjual lebih dari 4,5 juta kopi dalam setahun, Laskar Pelangi juga tidak jauh berbeda. Hanya saja, Tetsuko menolak novelnya difilmkan dan hanya menerimanya untuk sekadar dibuat orkestra, sementara Andrea mengijinkan karyanya difilmkan--atau Andrea sebanarnya tidak mengijinkan tapi tidak bisa menolak karena terikat perjanjian penerbit, entahlah. (Baca juga: Resensi, Sinopsis dan Ulasan Laskar Pelangi)

Novel ini ditulis dengan sekuel-sekuel yang pendek, dan bahasa yang ringan, mengalir, dan renyah. Gaya penyajian seperti itu barangkali memang disengaja supaya bisa dikonsumsi oleh anak-anak usia di atas tujuh tahun. Meski didominasi tulisan dan bukan gambar, toh novel ini, seturut pengakuan penulisnya, disukai oleh anak-anak di Jepang, meski dalam beberapa kata, mereka mesti membuka kamus. Tak hanya anak-anak, novel ini juga tetap enak dibaca oleh orang dewasa, saya mengauinya. Mungkin karena penulisnya pintar menggambarkan dunia anak-anak dan karakternya yang unik. Anak-anak yang polos, nakal, keras kepala, dan sering bikin ngakak. Demikian halnya novel ini, banyak bisa temukan humor di setiap sekuelnya, meski dalam beberapa bagian ada kisah yang sanggup membuat pembaca tak kuasa menitikkan air mata. Saya sendiri belum pernah menangis saat baca novel, apapun dan bagaimanapun ceritanya. 

Judul: Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela
(Diterjemahkan oleh Widya Kirana dari edisi Bahasa Inggris berjudul, Totto-Chan: The Little Girl At The Window)
Penulis: Tetsuko Kuroyanagi
Penerbit: Gramedia
Tebal: 271 halaman
Tahun Terbit: Mei 2013 (Cet Pertama), Juli 2013 (Cet Ke-2)

Bengkel Sastra: Tema dan Bahasa Cerpen

Bengkel Sastra: Tema dan Bahasa Cerpen

Tema cerpen diibaratkan sebagai sebuah fondasi yang mendasari sebuah cerita secara keseluruhan. Saya kira itu ungkapan yang sulit dipahami. Tetapi ketika kita mengartikan tema sebagai sebuah ide pokok yang dijadikan sebagai sumber cerita barulah kita bisa cukup mengerti. Tanpa sebuah ide atau gagasan pokok, sebuah cerpen bisa jadi tampak seperti rumah yang bangunannya kurang rapi dan bahkan sulit dikenali sebagai sebuah rumah.

Fondasi rumah pada umumnya, kita tahu, tidak hanya terdiri dari batu saja, tetapi juga memerlukan semen, air, dan pasir. Demikian pula sebuah cerpen seringkali memuat beberapa tema sekaligus, meski ada salah satunya yang mendominasi. Anggaplah tema utama cerpen kita adalah kerusakan alam, di dalamnya bisa saja memuat tema ketuhanan, moral, sosial, dan eroik sekaligus.

Sebaiknya, ketika kita mulai menulis, tidaklah perlu memusingkan tema mana yang akan lebih ditonjolkan. Alangkah lebih baik jika kerja kita fokuskan pada hal lain, semisal penggarapan alur, latar, konflik, dan penguatan karakter pada tokoh cerita. Jenis-jenis tema tersebut akan muncul dengan sendirinya, dan kita tidak perlu memaksakan jenis tema apa yang harus mendominasi.

Selain menurut pokok pembicaraannya, tema juga bisa diklasifikasikan berdasar ketradisiannya. Di sini kita mengenal tema tradisional dan tema nontradisional. Cerpen dengan tema tradisional banyak kita jumpai pada cerpen-cerpen yang menyuguhkan karakter antagonis dan protagonis, dan biasanya di akhir cerita dimenangkan oleh protagonis. Tidak hanya itu, bisa saja tidak terdapat tokoh antagonis, melainkan hanya protagonis. Tetapi sang tokoh tersebut dihadapkan pada berbagai konflik dan pada akhirnya dapat mengatasi semuanya dengan indah. Meski terkesan biasa, tetapi kalau kita pintar meramu tema ini, maka akan menjadi cerita yang bagus, dan mengandung pesan moral yang kuat. Namun, jika kita tidak hati-hati, ending cerita dapat mudah ditebak dan pembaca tidak mendapatkan surprise sama sekali.

Kebalikannya, tema nontradisional (yang di era sekarang sudah banyak bermunculan) menawarkan sesuatu di luar kewajaran cerita fiksi. Jika biasanya tokoh dengan karakter protagonis mengalami nasib baik di akhir cerita, pengarang justru membuatnya terjungkal. Perjuangan cinta yang berakhir dengan kegagalan, kemalangan seorang guru yang jujur, perjuangan setan yang berhasil menghasut manusia dan kisah-kisah yang berakhir tragis lainnya adalah contoh tema nontradisional. Tentu saja penulis cerpen tidak sedang bermaksud membela yang jahat, tetapi karena kehendak cerita. Pembaca, meski mungkin agak kesal karena tokoh idolanya kalah, tetapi tetap dapat mengambil hikmah dari cerpen beretema nontradisional dari sisi-sisi yang lain.

Bahasa yang Menghipnotis Pembaca

Bahasa adalah alat utama yang digunakan penulis untuk menyampaikan pesan kepada pembaca. Sampai atau tidaknya pesan, secara eksplisit atau implisit, ditentukan oleh bagaimana penulis menggunakan bahasa.

Kita betah menghabiskan waktu tiga hari tiga malam membaca Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yang tebal misalnya, itu karena Ahmad Tohari berhasil menggunakan perangkat bahasa yag menghipnotis pembaca. Sebaliknya, kita keok oleh cerpen satu halaman dan memilih untuk membaca cerpen yang lain disebabkan karena penggunaan bahasa dalam cerpen tersebut tidak menarik.

Dalam cerpen, bisa saja penulis menggunakan bahasa yang puitis, tetapi juga harus proporsional. Retorika dan kiasan bisa kita gunakan sebagai gaya bahasa untuk menciptakan keindahan tetapi bukan sesuatu yang mutlak, terlebih lagi jika gaya bahasa yang digunakan klise. Bahasa klise tidak memperindah jalinan cerita, melainkan sebaliknya.

Burung-burung berkicau merdu seakan-akan menyambut datangnya pagi.

Apa yang anda pikirkan dengan kalimat tersebut? Membosankan sekali. Itulah klise. Agar terhindari dari bahasa klise seorang penulis membutuhkan latihan yang tidak cukup dilakukan semalam. Selain, tentu, banyak membaca. Dengan membaca, otomatis akan memperkaya kosa kata, juga mengasah imajinasi dan mengenali gaya bahasa penulis lain.

Cerpen berbeda dengan novel yang memungkinkan penulisnya bereksplorasi lebih panjang dan bebas. Jadi, penggunaaan kata dalam cerpen haruslah seirit mungkin. Kalau memang tidak perlu, buang. Kalau cukup satu atau dua kata, tidak usahlah dipanjang-panjangkan. Intinya, tidak berbelit-belit. Untuk itu, pengulangan kalimat dengan maksud yang sama sebaiknya dihindari.

Penyampaian cerpen menggunakan bahasa sederhana yang pas masih lebih mengena ketimbang menggunakan bahasa yang ndakik-ndakik, mengejar rima, penuh metafora, tetapi justru mengaburkan cerita. Meski begitu, bukan berarti kita tidak perlu bereksplorasi dan melakukan eksperimentasi gaya bahasa.

PENUTUP

Apapun yang anda baca, pelatihan seperti apapun yang anda ikuti, jika tidak ada upaya untuk mengaplikasikannya tentu tidak akan berarti apa-apa. Terlebih lagi dalam proses kreatif penciptaan karya sastra, teori saja tidak cukup. Kita butuh ketekunan dan kerja keras.
Bengkel Sastra: Latar Cerpen

Bengkel Sastra: Latar Cerpen

Latar tidak sebatas pada tempat kejadian perkara (TKP) cerita. Selain latar tempat, kita mengenal juga latar waktu dan latar sosial (suasana/budaya). Memang, biasanya penulis lebih memfokuskan pada latar tempat, tapi bukan berarti melupakan latar waktu dan sosial. Ketika melukiskan sebuah kota, tanpa memasukkan unsur-unsur sosial, maka pembaca kurang bisa merasakan suasana yang dibangun penulis. Jadi ketiga latar tersebut mesti diperhatikan, meski salah satu di antara ketiganya bisa jadi lebih menonjol (detail).

Mendetailkan latar tempat sangat tepat untuk cerpen-cerpen yang fokus pada persoalan tempat. Misalkan saja kita menulis cerpen tentang kerusakan alam di dieng, maka penggambaran alam dieng bisa kita detailkan, sementara latar waktu dan sosial bisa selintas saja.

Kegagalan membangun latar yang baik sama artinya dengan kegagalan cerpen itu sendiri. Sebab dengan latar yang baik sebuah cerpen menjadi semakin kuat, pembaca seakan benar-benar dibawa ke dunia lain yang seolah-olah nyata.

Pelukisan latar membutuhkan imajinasi, apalagi ketika anda bermaksud menceritakan tempat yang belum pernah anda kunjungi secara langsung. Tidak apa-apa anda menulis cerpen dengan setting pesawat terbang sementara anda sendiri belum pernah menaikinya, tetapi anda harus berhati-hati. Kalau anda menulis tokoh yang bercakap-cakap lewat telepon di atas pesawat terbang jelas itu tidak masuk akal. Demikian pula ketika anda menggambarkan tokoh anda membuka kaca jendela saat pesawat sedang terbang, tentu saja itu tidak lucu sama sekali.

Untuk membuat latar yang kuat tentu dibutuhkan observasi dan kepekaan dalam memilih detail. Sama-sama latarnya laut, tetapi sudut pandang dan cara penggambaran yang berbeda bisa membuat kualitas latar yang berbeda.

Kecenderungan penulis pemula adalah menjadikan latar sebagai tempelan semata. Apabila orang menulis dengan setting dieng, tetapi percakapan dan kebiasaan tokoh-tokohnya tidak punya keunikan yang khas, maka itu pertanda bahwa setting Dieng hanya sebagai tempelan. Demikian pula saat orang menulis dialog dengan gaya bahasa seorang intelek, tetapi ternyata tokoh-tokohnya adalah orang kecil, maka latar sosial menjadi mentah. Dan apabila anda menceritakan cerita yang kejadiannya adalah 500 tahun yang lalu, dengan menggunakan setting kontemporer maka itu juga akan membingungkan pembaca.

Cerpen yang mengangkat lokalitas memang menarik, tetapi jangan sampai kita terjebak dengan menjadikan latar sebagai tempelan belaka. Cara menguji apakah latar yang kita buat sudah menyatu dengan cerita atau hanya sebatas tempelan atau pelengkap saja bisa ditempuh dengan beberapa cara. Misal, coba pindahkan setting anda ke lain tempat. Apakah dengan perubahan tempat membuat cerita anda menjadi terasa aneh dan tidak masuk akal, atau sama saja. Demikian pula kalau misal latar waktunya diganti, apakah cerita anda akan tetap berjalan atau tidak.

Tulisan sebelumnya:

Bengkel Sastra: Tema Dan Bahasa Cerpen
Bengkel Sastra: Alur dan Pengaluran Cerpen

Bengkel Sastra: Alur dan Pengaluran Cerpen

Pengetahuan tentang alur cukup penting bagi penulis, meskipun ketika proses penciptaan karya itu dimulai, segala teori tentang alur dan pengaluran tidak begitu diperlukan. Barangkali teori tentang alur lebih sering dipakai oleh kritikus, atau orang yang hendak mengkaji sebuah karya. Bagi penulis cerpen sendiri, tidak perlu njlimet untuk menghafal dan memikirkan macam-macam alur, yang penting adalah tahu kaidah-kaidah alur dan bagaimana membuat alur cerita yang baik.

Kita tahu, secara sederhana alur dapat diartikan dengan rangkaian peristiwa yang terjadi dalam sebuah cerita. Biasanya, sebuah cerpen memiliki beberapa peristiwa, yang satu dengan lainnya kait-mengait dan menjalin ikatan yang utuh, itulah alur. Oleh para ahli telah disampaikan kaidah-kaidah alur dalam prosa fiksi, yang meliputi: kemasukakalan (plausibilitas), rasa ingin tahu (suspense), kejutan (suprise), dan kepaduan (unity).

Plausibilitas. Sebuah cerpen haruslah masuk akal (logis) berdasar pada rangkaian peristiwa yang terdapat dalam cerita. Kalau anda menulis cerita tentang perempuan yang berubah menjadi seekor kupu-kupu di dunia nyata mungkin itu tidak pernah ada. Tetapi dalam cerita fiksi, cerita tersebut dapat masuk akal setelah dijelaslan sebab-sebabnya. Anda tidak bisa mengatakan bahwa perempuan itu berubah menjadi seekor kupu-kupu karena kebetulan. Pembaca akan segera meninggalkan cerpen anda.

Suspense. Dengan membangun ketegangan sebuah cerita sebenarnya penulis sedang mengajak pembaca untuk membaca cerita sampai akhir. Tanpa menyuntikkan rasa ingin tahu pada pembaca sebuah cerpen satu halaman sekalipun akan terasa membosankan. Jadi buatlah pembaca penasaran sejak awal cerita. Anda tidak perlu terburu-buru untuk mengakhiri rasa penasaran pembaca dengan menguak misteri pertanyaan-pertanyaan yang anda beberkan di muka. Kenikmatan membaca cerpen adalah ketika sedang menaiki tangga dramatik, anda harus menyadari itu.

Ada banyak cerpen yang bisa anda jadikan contoh bagaimana sang penulis membangun tangga dramatik. Mungkin anda perlu membacanya lebih dari satu kali untuk mempelajari bagaimana penulis membangun rasa penasaran di benak pembaca, dan bagaimana cara penulis menyelesaikan konflik cerita.

Suprise. Ketika anda berusaha menyuntikkan rasa ingin tahu, dan mulai membangun tangga dramatik, pembaca akan mulai menduga-duga bagaimana kisah anda selanjutnya. Anda harus menyadari benar hal itu, sehingga ketika anda mulai merangkai cerita, anda mulai memperhitungkan bagaimana penyelesaian konfliknya. Buatlah pembaca anda terkejut dengan ending cerita anda. Untuk itu pemilihan ending bisa anda tunda atau pikirkan kembali. Bacalah kembali cerpen anda, dan posisikan diri anda sebagai pembaca (bukan penulis). Tanyakan: apakah jalan ceritanya dan endingnya dapat ditebak? Jika iya, tidak ada salahnya anda merevisi cerpen tersebut.

Unity. Antara peristiwa satu dengan peristiwa yang lain mesti memiliki hubungan yang erat. Meski begitu, di dalam cerpen, tidak semua peristiwa harus dibeberkan. Dalam proses pengeditan, di saat anda membaca lagi dan lagi cerpen anda, perhatikan apakah ada alur yang mubadzir. Cara mengetahuinya adalah dengan menanyakan apakan dengan alur itu cerita menjadi lebih kuat, dan jika alur tersebut dihilangkan apakah dapat membuat cerpen menjadi kehilangan keutuhannya? Meski anda sudah bersusah payah membuatnya, tapi anda tidak perlu ragu-ragu untuk menghapusnya, jika memang dirasa perlu.

Beberapa saran pengaluran

1. Buatlah draft cerita, mulai dari pembukaan, konflik, penyelesaian konflik, sampai ending. Jika anda sudah menemukan endingnya itu sangat bagus, karena anda tinggal memikirkan pembukaan ceritanya, dan bawalah cerita tersebut pada ending yang anda siapkan. Ini seperti ketika anda melakukan perjalanan dan anda sudah tahu kemana tujuan perjalanan anda.

2. Bisa saja anda tidak perlu membuat draft, siapkan saja karakter untuk tokoh-tokoh anda, plot dapat muncul dengan sendirinya.

3. Jika anda kesulitan membuat pengaluran yang baik, anda bisa mengambil satu cerpen yang ada sukai dan memenuhi kaidah-kaidah alur sebagaimana di atas. Ambillah alurnya, tirulah. Iya, anda memang mencuri, tetapi ini sah dalam proses kreatif penciptaan cerpen.

baca tulisan sebelumnya:
Bengkel Sastra: Teknik Mengembangkan Ide Menulis Cerpen
tulisan kelanjutannya:
Bengkel Sastra: Latar Cerpen
Bengkel Sastra: Teknik Mengembangkan Ide Menulis Cerpen

Bengkel Sastra: Teknik Mengembangkan Ide Menulis Cerpen

Ketika anda sudah memiliki ide, itu artinya anda sudah menyelesaikan satu langkah tahapan persiapan menulis. Adakalanya ide yang anda miliki masih belum jelas arahnya. Anda perlu mengendapkan ide tersebut untuk beberapa waktu. Merenungkannya lagi dengan cara melempar beberapa pertanyaan.

Misalkan anda punya ide cerita: Perempuan yang pandai meramal. Lemparkanlah pertanyaan, apa saja bukti-bukti bahwa perempuan tersebut pandai meramal? Siapa saja yang sudah diramal dan dalam rangka apa? Dari mana perempuan tersebut mendapatkan ilmu ramal? Mungkin saja ramalannya benar karena kebetulan?

Mengendapkan ide bisa memakan waktu yang lama, tapi anda tidak boleh menyia-nyiakan waktu anda begitu saja. Anda perlu membaca cerpen-cerpen karya orang lain, yang dari sana, selain mengasah imajinasi, kemungkinan besar anda akan mendapatkan banyak inspirasi untuk mengembangkan ide anda.

Membaca buku non fiksi juga penting. Bisa juga melakukan pendalaman tentang ide yang hendak anda tuliskan dengan wawancara, atau observasi. Kalau anda ingin menulis tentang kehidupan petani di Dieng sementara anda tidak memiki referensi tentang itu, lalu apa yang akan anda tulis? Jika anda ingin menulis tentang kuburan yang dijadikan tempat judi, mungkin anda perlu tahu seluk belum perjudian, psikologi orang judi, dan kuburan-kuburan yang nyaman dijadikan tempat berjudi. Dengan begitu, selain ide anda akan berkembang, cerpen anda nantinya juga akan berbobot.

Menceritakan Ide Kepada Orang Lain

Cara lain untuk mengembangkan ide cerpen adalah dengan menceritakan ide anda kepada teman anda. Katakanlah pada teman anda bahwa anda memiliki ide cerpen. Kisahkanlah ide anda, dan seperti apa cerpen yang akan anda tulis. Dengan mengeluarkan ide anda, dan bagaimana cerita anda nantinya berjalan, secara tidak sadar anda sudah memulai cerita anda, namun masih dalam bentuk ucapan.

Tidak hanya itu, teman anda yang baik hati bisa jadi juga akan menanyakan macam-macam pada anda, terkait dengan jalannya cerita. Dan anda harus bisa menjawabnya. Kalau perlu minta saran, mintalah. Anda akan mendapat stok jika cerita anda buntu.

Tapi, kalau anda takut ide anda dicuri karena teman anda karena teman anda adalah penulis juga, maka simpan saja ide tersebut untuk anda sendiri. Ceritakan ide tersebut di buku diary juga bisa. Kalau perlu membuat outline, buatlah, meskipun outline jangan sampai membani imajinasi anda ketika mulai menulis cerpen.

Mulai Memikirkan Konflik

Anda bisa mulai membuat daftar konflik untuk cerita anda. Cerita pendek biasanya hanya berkutat pada satu konflik yang dominan. Misalkan, anda bermaksud menceritakan sebuah keluarga dengan suami seorang penyair. Anda tahu dalam sebuah keluarga tentu ada banyak masalah. Pilihlah yang paling anda kuasi. Misal dari sisi ekonomi dimana sang suami tidak punya penghasilan tetap sehingga membuat istrinya sering menangis. Mungkin dari sisi istri yang kerap cemburu melihat suaminya asyik bergulat dengan kata. Dan lain sebagainya.

Tuliskan Paragraf Pertama Anda

Demikianlah, kadang-kadang kita tidak butuh outline, tidak perlu menceritakan kepada siapapun ide kita, tidak perlu memikirkan konflik cerita. Yang kita butuhkan adalah action; mulai menulis. Paragraf pertama yang anda tulis akan membuka kalimat-kalimat berikutnya. Secara otomatis konflik-konflik akan muncul, dan menagih untuk diselesaikan, lalu sampailah anda menuliskan ending.

Ketakutan memulai menulis cerita karena anda belum tahu seperti apa konfliknya, bagaimana watak tokoh-tokoh rekaan anda, dan lain-lainnya, kerap membuat orang memutuskan untuk tidak melanjutkan ide yang sudah didapat. Memberanikan diri untuk mulai menulis paragraf awal saya kira bisa menjadi pilihan. Apapun hasilnya, sekali lagi, akan lebih bagus ketimbang anda tidak berbuat apa-apa.

Baca tulisan sebelumnya:
PENCIPTAAN CERPEN: MENGUNGKAP PENGALAMAN DAN BEBERAPA SARAN

Tulisan kelanjutannya:
Bengkel Sastra: Alur Dan Pengaluran Cerpen

PENCIPTAAN CERPEN: MENGUNGKAP PENGALAMAN DAN BEBERAPA SARAN

Oleh Jusuf AN

Tulisan ini disampaikan dalam kegiatan Bengkel Sastra, Penciptaan Cerpen. Diselenggarakan Balai Bahasa Jateng bekerjasama dengan Fakultas Bahasa dan Sastra UNSIQ Wonosobo, bertempat di Aula FBS UNSIQ, 15-17 September 2015. Karena cukup panjang, tulisan ini dimuat menjadi beberapa bagian.

bengkel cerpen


Menulis, entah itu fiksi maupun non fiksi memang tidak semudah yang dibayangkan sebagian orang. Ini baru menulis, belum lagi untuk menghasilkan tulisan yang baik. Dan kita pun memaklumi jika kemudian beberapa penulis bermaksud berbagi pengalaman kepada orang lain (yang sudah menulis maupun yang belum) tentang dunia yang digelutinya melalui buku-buku how to seputar kepenulisan. Setiap penulis memiliki cara dan teknik yang berbeda dalam menghasilkan sebuah karya. Karena itulah tidak apa-apa mereka menulis buku dengan tema yang sama. Berbagi pengalaman tentu saja menyenangkan, dan dari situlah kita bisa saling menggenapi kekurangan.

Tapi ada juga penulis yang ketika ditanya, “bagaimana cara menulis yang baik?” kemudian menjawab “menulis sajalah, nanti lama-lama juga baik.” Apakah itu merupakan jawaban yang keliru? Sebab kalau menulis yang baik cukup dengan “menulis sajalah”, lalu bagaimana dengan buku-buku how to itu? Untuk apa ada pelatihan dan workshop kepenulisan?

Benar, untuk menjadi seorang penulis dibutuhkan action, bukan sekadar membaca buku how to dan mengikuti pelatihan kepenulisan. Tetapi untuk menjadi penulis yang menghasilkan karya-karya terbaik, kita butuh teknik. Sebagaimana pemain sepak bola, tentu saja senang mengamati (bukan cuma menonton) pemain internasional, berlatih teknik heading seminggu penuh, dan bergabung dengan sekolah sepak bola. Itu semua agar permainannya bias berkembang. Demikian pula dengan menulis, apapun, termasuk cerpen.

Siapapun bisa menulis cerpen. Tetapi untuk menghasilkan cerpen yang baik, dibutuhkan latihan, juga teknik. Pada kesempatan inilah saya hendak berbagi pengalaman dan jika memungkinkan juga memberikan beberapa saran seputar penciptaan cerpen, khususnya terkait teknik penggalian dan pengembangan ide, alur dan pengaluran, latar, tema dan bahasa.


PENGGALIAN IDE

Dalam banyak buku persoalan ide biasanya dimasukkan dalam tahapan persiapan menulis cerpen. Padahal bisa juga orang menulis tanpa memiliki ide sebelumnya. Sebab ide menulis kadang-kadang baru muncul ketika paragraf pertama mulai dituliskan. Tetapi memang, secara umum ide adalah bahan bakar yang digunakan oleh penulis untuk memulai karyanya.

Ide atau gagasan bisa apa saja, dan bisa datang dari mana saja, kapan saja. Anda tidur, bermimpi, lalu terpikir untuk membuat cerpen dari mimpi yang barusan anda alami. Anda tidak bisa tidur, bisa tidur tapi tidak bisa bermimpi, mimpi anda selalu buruk, semuanya bisa anda angkat sebagai sebuah ide. Namun begitu, sebagaimana seorang jurnalis, ia mesti memilah dan memilih peristiwa mana saja yang pantas untuk diangkat sebagai sebuah berita. Penulis cerpen juga mesti pandai memilih ide. Tapi bagaimana mau memilih, menemukan saja belum?

Jika belum menemukan ide, maka apakah anda sudah mencarinya? Di mana anda mencari ide tersebut? Bekal apa yang anda bawa saat dalam perjuangan mencari ide?

Ide adalah makhluk yang bertebaran di alam raya. Anda hanya memerlukan sedikit latihan dan menambah bekal dalam upaya menggenggamnya sebelum kemudian memutuskan mengangkatnya menjadi sebuah cerita.

Bekal utama untuk bisa menangkap ide adalah pengalaman. Apa yang anda lihat, apa yang anda dengar, apa yang anda rasakan, pikiran-pikiran anda, peristiwa yang anda alami, merupakan pengalaman langsung. Sedangkan apa yang anda dengar dari orang lain, yang anda baca, adalah pengalaman tidak langsung. Tanpa pengalaman, baik langsung maupun tidak langsung mustahil seseorang dapat menuliskan sesuatu.

Cobalah jalan-jalan dan amatilah apa yang anda lihat, dengar, dan rasakan apakah ada yang menarik perhatian anda. Pikirkan kembali pengalaman hidup anda sendiri, barangkali ada di antaranya yang patut untuk diangkat sebagai cerpen. Kebencian anda pada negara yang korup, penguasa yang dzalim, guru yang tidak disiplin, atau kesenangan anda terhadap bunga-bunga, pemandangan hijau, kesuburan tanah dan seorang gadis. Bisa jadi menarik untuk dikisahkan.

Jika anda benar-benar tidak memiliki pengalaman hidup yang layak dikisahkan, karena anda hidup wajar-wajar saja, dan anda tahu bahwa hidup anda pasti akan membosankan jika dijadikan cerpen maka anda bisa memungut ide yang betebaran di sekeliling anda. Seorang penulis mesti belajar untuk peka pada setiap kejadian, yang dilihat dan didengarnya. Berita-berita di koran dan televisi akan berlalu begitu saja bagi banyak orang, tetapi bagi penulis yang peka, pastilah ada di antara berita-berita tersebut yang layak diangkat sebagai cerita. Misalkan, sebuah berita mengabarkan, seorang bayi ditemukan di selokan. Itu berita yang tragis, yang mestinya membuat hati banyak orang tersentuh. Dan sebagai penulis yang sedang berburu ide, anda mesti lebih gelisah ketimbang orang yang bukan penulis.

Ada banyak peluang untuk menulis cerpen yang berawal dari berita tersebut. Tanyakanlah pada diri anda, siapa ibunya, apa penyebabnya, bagaimana nasib bayi itu kemudian, apakah ada orang yang sudi merawatnya, dan bagaimana jika seandainya bayi itu adalah anda.

Begitulah, hal-hal remeh sekalipun sebenarnya bisa dijadikan sumber ide. Masalah nanti cerpennya akan bagus atau tidak bukan semata soal idenya apa, tetapi ada banyak faktor lainnya. Sebaliknya, ide sebagus apapun kalau penggarapannya buruk, hasilnya juga akan buruk.

Dari paparan di atas sudah bisa ditangkap bahwa ide bukanlah sesuatu yang mengenalkan diri kepada anda, tetapi anda sendiri yang berusaha mengenalinya. Ide tidak begitu saja turun dari langit, tetapi harus anda cari dan kejar. Dan karena kepala kita mudah melupakan apa saja, maka penulis yang baik senang hati menuliskan ide yang dia dapat dalam bentuk catatan ringkas, entah itu di buku maupun di media lain.

Mengasah Imajinasi

Sebagaimana sudah disinggung, penulis sastra mestilah menjadi orang yang peka. Cara pandangannya terharap sesuatu juga mesti berbeda ketimbang orang kebanyakan. Untuk ini dibutuhkan imajinasi yang dengannya hal-hal (benda atau peristiwa) yang bagi sebagian orang tampak biasa, namun bagi penulis sastra menjadi aneh dan luar biasa.

Inilah bekal yang harus dimiliki penulis cerpen: Imajinasi. Bayangkanlah hal-hal yang aneh, nyleneh, dan tidak logis. Bagaimana jika seekor anjing menikah dengan manusia; apa yang terjadi jika sebuah negeri di pimpin oleh srigala; seorang anak kecil yang selalu menangis melihat ayahnya; manusia yang bisa bercakap-cakap dengan asbak; dan lain sebagainya.

Imajinasi masing-masing orang berbeda, dan karenanya ide yang sama sekalipun dapat menghasilkan cerita yang berbeda. Untuk melatih daya imajinasi anda, anda harus banyak membaca buku. Membaca apa saja, khususnya karya sastra. Selain menambah pengalaman tidak langsung (yang merupakan sumber ide) imajinasi anda akan terasah karena membaca membawa pikiran anda untuk memvisualisasikan kata-kata, dan membayangkan juga suara-suara. Khasiat membaca lebih dahsyat ketimbang hanya menonton film, meski film yang bagus, yang memberikan ruang bagi penontonnya untuk berimajinasi, juga bisa dapat membantu anda mengasah imajinasi.

Mengikat Ide dengan Judul

Kadang-kadang ini penting juga. Saya kerap menemukan ide tertentu dan seketika itu pula saya membuat judul untuk calon cerpen yang akan saya tulis. Atau bisa juga kita tidak tahu ceritanya akan seperti apa, tetapi kita sudah menemukan judulnya. Bagi yang biasa menulis, mungkin kerap mengalami “kejatuhan judul” secara tiba-tiba, meski kadang-kadang judul itu jatuh di saat yang tidak tepat, ketika kita sedang shalat misalnya. Kenapa ini bisa terjadi? Entahlah. Mungkin bisikan setan, atau mungkin juga karena alam raya tahu bahwa diri kita sedang membutuhkan ide cerita.

Jika bukan dalam bentuk judul, kita perlu mengikat ide tersebut itu dalam sebentuk judul. Tujuannya adalah untuk merangsang imajinasi agar kita bisa lebih fokus. Persoalan nanti judul ceritanya berubah itu tidak masalah.

Mendaur Ulang Ide Penulis Lain

Anda tidak perlu takut dikatakan sebagai tukang plagiat. Semua yang ada di bawah langit tidak ada yang murni. Segalanya lahir karena pengaruh dari yang lain. Termasuk cerpen. Kita menemukan banyak cerpen dengan ide yang sama atau hampir mirip yang ditulis oleh orang yang berbeda. Dan itu tidak masalah.

Bacalah cerpen, ambil ide utamanya, lalu tulislah dengan versi anda. Bisa jadi anda akan menghasilkan cerita yang sama sekali berbeda, dan anda tidak layak disebut sebagai plagiator.

Kisah cinta segitiga, cinta yang tidak direstui, betapa sudah banyak, dan tetap saja lahir. Tapi memang, yang bagus adalah ide anda sendiri, meski tidak jarang ide itu pernah ditulis oleh orang lain tanpa sepengetahuan anda.

Menulis Cepat dengan Keyword Tertentu

Bagaimana kalau kita benar-benar tidak memiliki ide untuk ditulis? Apakah kita akan berhenti menulis begitu saja. sebaiknya tidak, apalagi bagi yang sedang dalam tahapan latihan. Bagi yang sudah terbiasa menulis mungkin akan tidak masalah ketika ia berhenti menulis dalam jangka waktu yang cukup lama. Tetapi bagi yang baru-baru, ini bisa membuat anda semakin sulit menulis.

Kalau anda merasa tidak punya ide sama sekali, cobalah ambil keyword tertentu. Misal, sandal, kopyah, dan seorang kiai. Tulislah cerita dengan tiga keyword tersebut. Bebas saja. Trik ini juga akan merangsang imajinasi dan otak anda untuk terbiasa bekerja. Anda dapat membuat hubungan yang logis dari ketiga keyword tersebut. Anda mungkin akan terperangah saat melihat hasilnya. Kalau toh menurut anda tulisan itu buruk, itu masih lebih baik dari pada anda tidak menulis sama sekali.

Baca kelajutanya:
Bengkel Sastra: Teknik Mengembangkan Ide Menulis Cerpen
Bengkel Sastra: Alur dan Pengaluran Cerpen

Dieng dan Buku Harian Sang Ronggeng

Judul: 
Dieng dan Buku Harian Sang Ronggeng:
Kumpulan Puisi dan Cerpen Pemenang Lomba Komunitas Sastra Bimalukar Wonosobo
Supervisi: Jusuf AN
Penerbit: Media Kreativa, Yogyakarta
Cetakan: I, September 2013
ISBN: 978-602-14396-0-9
Harga: Rp. 20.000,-

Usaha dalam menumbuhkan minat masyarakat terhadap sastra merupakan bagian dari upaya membawa bangsa ini lebih beradab dan bermartabat. Meski perjalanan yang ditempuh tidaklah mudah, tetapi usaha tersebut harus tetap dijalankan, antara lain dengan  mengadakan workshop sastra, pelatihan penulisan, ataupun lomba.

Di sinilah Komunitas Sastra Bimalukar Wonosobo menjalankan perannya. Perlu diketahui, Komunitas Sastra Bimalukar merupakan salah satu—untuk tidak menyebut satu-satunya—komunitas sastra di Wonosobo yang dibentuk sebagai wadah untuk mengembangkan bakat dan minat para penulis dan pecinta sastra. Bersastra memang pekerjaan sunyi, tetapi tanpa adanya komunitas, maka kesusastraan—terutama di kota-kota kecil—menjadi lamban berkembang. Selain itu, kita sering menemukan orang yang sebenarnya memiliki bakat dan minat nyastra tetapi karena tidak ada orang-orang yang memberikan perhatian terhadap mereka, sehingga bakat dan minat mereka lenyap, atau tidak dapat tumbuh dengan baik.

Pada tanggal 3-5 Mei 2013 Komunitas Sastra Bimalukar mengadakan Workshop Sastra sekaligus Lomba Menulis Puisi dan Cerpen Piala Bupati. Tidak dinyata kegiatan dengan tema “Saya Menulis Maka Saya Ada” tersebut mendapatkan sambutan yang besar dari publik, seolah-olah masyarakat sudah menanti sangat lama hadirnya kegiatan serupa itu. Lebih dari 80 peserta yang mendaftar, dan itu tidak hanya dari kalangan pelajar sebagaimana ditargetkan panitia, tetapi diikuti pula oleh mahasiswa dan guru.

Terimakasih kepada para pembicara Workshop: Indrian Koto, Mahwi Air Tawar, Latief S. Nugraha, Evi Idawati, dan Dwi Rahariyoso. Kelima pembicara yang notabene merupakan pelaku sekaligus pegiat sastra tersebut datang dari Yogyakarta, dan jika tidak diiringi niatan untuk berbagi, barangkali mustahil mereka bisa sampai Wonosobo. Para pembicara itu pula yang kemudian menilai hasil karya peserta lomba menulis cerpen dan puisi.

Lomba Cerpen dan Puisi tersebut ternyata telah melahirnya karya-karya yang bagus, sampai-sampai membuat kewalahan Dewan Juri dalam memilih pemenangnya. Masing-masing kategori (cerpen dan puisi) dipilih satu karya terbaik yang kemudian mendapat Piala Bupati Wonosobo. Selain itu, dipilih pula tiga pemenang, dan enam karya terbaik; yang semuanya itu kemudian kami kumpulkan dalam buku ini.

Adrian Djatikusumo, dengan cerpen berjudul Buku Harian Sang Ronggong berhasil mendapatkan Piala Bupati Wonosobo. Lewat cerpennya, Adrian mengajak kita merenungi kehidupan seseorang ronggeng pada masa jauh sebelum kemerdekaan. Sebagai pelajar yang masih duduk di bangku SMP, Adrian telah meramu kisah apik, menyentuh, tapi tidak cengeng, dengan ending yang menyejutkan.

Peraih Piala Bupati Wonosobo kategori Puisi adalah Dewi Prajnaparamitha dengan puisi berjudul Dieng, Setitik Harapan. Puisi tersebut, barangkali tidak hanya menjadi bukti kecintaan Dewi pada tanah kelahiran, tapi juga menjadi cermin renungan bagi khalayak, tentang Dieng yang kini memanas dan mengeras.

 “Dieng dan Buku Harian Sang Ronggong” kami anggap pilihan yang tepat. Sebab selain mewakili karya kedua pemenang utama, judul tersebut juga mewakili kebanyakan tema cerpen dan puisi yang termuat dalam buku ini.

Terimakasih kepada semua peserta Workshop Sastra dan Lomba Menulis Cerpen dan Puisi Piala Bupati. Juga kepada Bapak Bupati Wonosobo, H.A. Kholiq Arif yang telah memberikan support bagi perkembangan literasi di Wonosobo; Kepala Perpustakaan Kabupaten Wonosobo Bapak Drs. Suharna yang memberikan ruang untuk kegiatan selama tiga hari, juga kepada semua pihak yang telah membantu terselenggaranya kegiatan tersebut.

Semoga buku ini tidak sebatas sebagai dokumentasi, tetapi juga menjadi pemicu lahirnya karya-karya lain, sehingga kesusastraan di Wonosobo dapat lebih semarak.
Menumbuhkan Minat dan Sikap Membaca

Menumbuhkan Minat dan Sikap Membaca


Dengan kecerdasan jiwalah manusia menuju arah kesejahteraan.

~Ki Hajar Dewantara, 1889-1959

Kita tidak pernah bisa memastikan berapa jumlah buku, kalimat, dan kata yang sudah kita baca sejak kita terlahir ke dunia. Dan berapakah yang dapat kita ingat dengan baik? Mungkin tidak banyak. Tetapi percayalah, bahwa apa yang kita baca (buku, koran, papan iklan, dll) disadari atau tidak, telah memberikan pengaruh pada diri kita, baik itu sikap, prilaku, maupun wawasan dan pikiran kita.

Seorang pelajar, seorang yang mengaku mencintai ilmu, dan seorang ingin maju, syarat utamanya adalah gemar membaca. Untuk itu, jika saat ini membaca belum menjadi menjadi kebiasaanmu, harus ada upaya untuk merubahnya.

Lalu bagaimana cara merubahnya? Apakah ada kiat untuk menumbuhkan minat supaya gemar membaca? Soal minat membaca mestinya memang diarahkan sejak kecil, dan itu menjadi tugas orangtua dan guru kita dulu. Tetapi, dalam kamus hidup kita, tidak ada kata terlambat. Seorang remaja, yang tadinya alergi dengan buku dapat tiba-tiba begitu mencintanya. Itu tidak mustahil. Kegemaran membaca bisa lahir kapan saja.

Berikut ini adalah jurus ampuh untuk menumbuhkan sikap gemar membaca dalam dirimu:

Ubahlah persepsi (cara pandang) negatif terhadap buku. Jika selama ini kamu menganggap buku sebagai sesuatu yang angker yang berisi teori-teori rumit, sekarang anggaplah bahwa buku merupakan teman baik. Atau, meminjam istilah Hernowo, anggaplah buku seperti sepotong pizza. Ia begitu lezat dan bergizi, dan karenanya begitu penting dijadikan makanan untuk ruhani kita.

Tumbuhkanlah jiwa petualanganmu. Petualangan di sini adalah petualangan mencari ilmu, rasa ingin tahu terhadap sesuatu. Kenapa bisa begini, kenapa begitu, atau pertanyaan-pertanyaan lain yang mendorongmu untuk mencari jawabannya.

Ketika usia balita, kita memiliki keingintahuan yang besar terhadap sesuatu, tetapi kemampuan membaca kita tidak seperti sekarang. Andai kita memiliki keingintahuan yang besar seperti anak-anak, niscaya kita akan senang membaca karena tahu bahwa dengan membaca kita mendapatkan jawaban atas berbagai pertanyaan.

Sebenarnya masih ada beberapa cara untuk menumbuhkan minat membaca, tetapi jika dua hal tersebut telah kamu diterapkan dengan baik, maka kecintaan akan membaca akan benar-benar bersemi. Sekarang tergantung pada dirimu sendiri, apakah ingin benar-benar berkarib dengan buku hingga ruhani dan pikiranmu kaya akan gizi, atau menjauhinya dan membuat duniamu sempit.

Memasyarakatkan IPTEK Lewat Fiksi

Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) seringkali hanya dipahami sebagai sebuah produk yang sudah jadi. Masyarakat menganggap hukum-hukum serta rumus-rumus fisika atau matematika sebagai sesuatu yang biasa. Sedikit saja orang yang kemudian mempertanyakan, kapan dan bagaimana sebuah suatu rumus fisika atau matematika ditemukan.

Selain kenyataan di atas, pelajaran-pelajaran sains di sekolah juga seringkali dianggap sebagai sesuatu yang rumit, sulit, dan bahkan menakutkan. Para siswa kerap menganggap bahwa mata pelajaran sains hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi. Mitos-mitos tersebut telah berjalan turun-temurun sehingga membuat generasi muda di Indonesia pada akhirnya memilih menjauhi dunia sains dan merasa “bangga” hanya menjadi penonton dan penikmat (konsumen).

Pertanyaannya, bagaimana untuk lebih mengakrabkan sains dengan masyarakat? Kita tahu, kebanyakan orang masih menganggap sains hanya bisa dipelajari di laboratorium, dengan peralatan dan bahan-bahan tertentu sebagaimana sering kita saksikan di tayangan-tayangan televisi. Padahal tidak melulu begitu. Sebenarnya, sains bisa pula dipelajari oleh siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, melalui berbagai media. Salah satu media yang ampuh untuk mengakrabkan masyarakat dengan sains adalah sastra, khususnya fiksi sains.

Melalui karya-karya fiksi sains, yang di dalamnya dipadukan antara sains dan fiksi, membuat citra sains yang selama ini dianggap berat dan sulit menjadi lebih ringan. Sehingga hal ini akan menarik minat masyarakat yang tadinya menjauhi sains karena menganggapnya sulit.

Fiksi sains bisa menjadi salah satu sarana yang efektif dan komunikatif untuk mengenalkan dan menarik minat masyarakat terhadap dunia IPTEK. Terkadang IPTEK dianggap sebagai sesuatu yang sulit karena orang tidak mengerti dengan istilah-istilah IPTEK yang asing. Tetapi dalam fiksi sains, istilah-istilah IPTEK seringkali lebur dalam cerita, disertai penjelasan-penjelasan yang mudah dipahami. Orang yang ingin memahami cerita terkadang dituntut untuk juga memahami istilah-istilah tersebut.

Tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, misalnya, di dalamnya banyak kita dapatkan istilah-istilah fisika dan biologi. Meski tidak semua istilah diterangkan dalam catatan-catatan khusus, tetapi istilah-istilah tersebut menjadi akrab bagi pembaca dan pada akhirnya menarik minat mereka terhadap masalah-masalah sains.
Fiksi sains, yang biasanya di dalamnya memuat perkembangan-perkembangan IPTEK, telah berperan serta membuat masyarakat mengenal sains lebih dekat tanpa merasa digurui. Kemungkinan-kemungkinan munculnya teknologi masa depan di dalam karya fiksi sains juga bisa memotivasi dalam memelakukan perkembangan dan pemanfaatan IPTEK untuk berbagai kebutuhan.

Fiksi sains juga bisa menjadi sarana belajar tentang kehidupan karena di dalamnya terdapat kisah-kisah tentang kemanusiaan. Sedangkan kehidupan, kita tahu, tidak bisa dipisahkan dari lingkungan atau alam sekitar kita. Siapa yang tidak tahu bahwa membuang sampah di sungai akan berdampak banjir dan kerusakan lingkungan yang lain? Tetapi pemahaman saja tidak cukup untuk mendorong orang merubah prilaku masyarakat yang “jahat” terhadap alam. Di sinilah, fiksi sains mengambil perannya. Sebab lewat karya fiksi, orang diajak bukan saja untuk memahami, lebih dari itu adalah untuk merenungi, sehingga yang muncul kemudian adalah kesadaran yang muncul dari dalam.

Selain lewat fiksi, upaya untuk mensosialisasikan IPTEK memang mesti ditempuh dengan berbagai cara lainnya. Olimpiade sains, lomba-lomba sains, penerjemahan buku-buku IPTEK, dan media (cetak dan elektronik) juga harus turut serta berpartisipasi. Dengan itu, diharapkan masyarakat Indonesia tidak lagi buta dan gagap ilmu pengetahuan dan teknologi.