Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan

Totto-Chan, Cerita Anak Yang Memikat Pembaca Dewasa

review novel totto-chan

Ketika Indonesia merayakan kemerdekaannya tahun 1945, orang-orang di Jepang sedang di rundung duka. Pesawat-pesawat Amerika berseliweran dan menjatuhkan bom-bom yang meluluh lantakkan rumah-rumah dan menelan banyak nyawa, juga sekolah itu: Tomoe Gakuen, yang didirikan oleh Mr. Kobayasyi.

Di Tomoe Gakuen (Nama ini diambil dari nama anak Mr. Kobayasyi) itulah Totto-Chan menjalani masa kecilnya, setelah dikeluarkan dari sekolah formal karena tingkahnya yang aneh. Tomoe Gakuen adalah semacam sekolah alternatif dengan siswa tak lebih dari 50 orang dan terdiri dari enam jenjang. Ada satu gedung berupa aula, selebihnya adalah gerbong-gerbong kereta yang disulap menjadi ruang kelas dan perpustakaan.


Ketika Indonesia baru saja merdeka, Jepang sudah mulai gelisah dengan pendidikan alternatif dengan kurikulum dan proses yang berbeda dengan sekolah formal. Aktifitas di sekolah Tomoe Gakuen sepertinya selalu menyenangkan, para siswa membawa bekal “sesatu dari gunung” dan “sesuatu dari laut”, menyanyi, berenang, berkemah, memasak, berwisata, dan membaca. Barangkali ada juga pelajaran fisika, matematika, dan lainnya, tetapi penulis tidak menceritakannya meski sekilas, apalagi detail.

Novel yang dikerjakan pada tahun 1979 ini melalui proses yang panjang. Penulisnya, Tetsuko Kuroyanagi mengaku telah melakukan riset yang cukup lama untuk mendalami karakter-karakter anak dan membangkitkan kenangannya. Ya, penulis novel ini tidak lain adalah Totto-Chan itu sendiri, yang sewaktu kecil bercita-cita menjadi guru di Tomoe, tetapi karena Tomoe Gakuen terbakar, akhirnya ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menulis sesuatu tentang Tomoe.

Membaca epilognya, saya langsung teringat Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi-nya. Bisa jadi Andrea tersinspirasi oleh novel yang ini. Dan nasib Totto-Chan ini juga juga menurun pada Laskar Pelangi. Kalau Totto-Chan mencatat rekor sebagai novel terlaris sepanjang sejarah penerbitan Jepang karena terjual lebih dari 4,5 juta kopi dalam setahun, Laskar Pelangi juga tidak jauh berbeda. Hanya saja, Tetsuko menolak novelnya difilmkan dan hanya menerimanya untuk sekadar dibuat orkestra, sementara Andrea mengijinkan karyanya difilmkan--atau Andrea sebanarnya tidak mengijinkan tapi tidak bisa menolak karena terikat perjanjian penerbit, entahlah. (Baca juga: Resensi, Sinopsis dan Ulasan Laskar Pelangi)

Novel ini ditulis dengan sekuel-sekuel yang pendek, dan bahasa yang ringan, mengalir, dan renyah. Gaya penyajian seperti itu barangkali memang disengaja supaya bisa dikonsumsi oleh anak-anak usia di atas tujuh tahun. Meski didominasi tulisan dan bukan gambar, toh novel ini, seturut pengakuan penulisnya, disukai oleh anak-anak di Jepang, meski dalam beberapa kata, mereka mesti membuka kamus. Tak hanya anak-anak, novel ini juga tetap enak dibaca oleh orang dewasa, saya mengauinya. Mungkin karena penulisnya pintar menggambarkan dunia anak-anak dan karakternya yang unik. Anak-anak yang polos, nakal, keras kepala, dan sering bikin ngakak. Demikian halnya novel ini, banyak bisa temukan humor di setiap sekuelnya, meski dalam beberapa bagian ada kisah yang sanggup membuat pembaca tak kuasa menitikkan air mata. Saya sendiri belum pernah menangis saat baca novel, apapun dan bagaimanapun ceritanya. 

Judul: Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela
(Diterjemahkan oleh Widya Kirana dari edisi Bahasa Inggris berjudul, Totto-Chan: The Little Girl At The Window)
Penulis: Tetsuko Kuroyanagi
Penerbit: Gramedia
Tebal: 271 halaman
Tahun Terbit: Mei 2013 (Cet Pertama), Juli 2013 (Cet Ke-2)

Cukupkan Dengan Cinta (Kumpulan Puisi Komunitas Sastra Bimalukar Wonosobo)

antologi puisi komunitas sastra bimalukar
Judul: Cukupkan Dengan Cinta (Kumpulan Puisi Komunitas Sastra Bimalukar Wonosobo)
Penyunting : Indrian Koto.
Penerbit: Bimalukar Publishing, Wonosobo, 2015.
Cetakan I: Februari, 2015.
Tebal: xiv + 121 hlm; 13,5 x 20 cm.

Kontributor

Berikut nama-nama kontributor yang terdaftar di dalam buku :
1. Agus Wépé
2. Alfa Ulfalah
3. Ani Istikharoh Anhar
4. Bagus Santoso
5. Dewi Prajnaparamitha Amandangi II
6. Dhimas Duars Duars
7. Dwi Astuti
8. Engkoh Liend
9. Eko Hastuti
10. Erwin Abdillah
11. Fakih Arya Kusuma
12. Gallant Pamungkas
13. Gusblero Free
14. Hening Andriastuti
15. Itox VC
16. Jusuf AN
17. Kaka Cahea Caradhiki
18. Kholifaturokhma
19. Maria Bo Niok
20. Moriz Avisena
21. Nafi
22. Nessa Kartika
23. Ruskim Abdullah
24. Syahida Alam
25. Vanera El-arj
26. Taufiq Hidayat RajaJek
27. Wening Tyas Suminar
28. Wilda
komunitas sastra wonosobo

 Pengantar Penyunting 

Menulis puisi tentu bukan pekerjaan yang bisa dilakukan sekali duduk. Ada proses panjang yang melingkupi puisi. Disadari atau tidak, puisi mengalami sebuah transformasi dari ruang kosong hing-ga berwujud larik. Puisi yang terbaca adalah pengejahwantahan keseluruhan ide, pikiran, perenungan, pemilihan kata dan diksi, hingga akhirnya kita sebut sebagai puisi. Puisi adalah hasil tawar-menawar yang cukup panjang antara penyair dan karyanya.

Proses menjadi dalam berkarya tak kalah rumitnya. Seseorang yang kita sebut penyair, cerpenis, novelis dan memang layak menyandang status demikian pastilah mengalami pergumulan kreatif yang luar biasa. Tidak sedikit calon penyair berbakat yang mesti ‘gugur’ sebelum mencapai titik di mana karyanya sejajar dengan karya-karya kuat lainnya. Proses ‘menjadi’ adalah dunia pertarungan melawan diri sendiri. Musuh utamanya bisa beragam bentuk: malas, merasa sudah jadi, merasa cukup, tidak tertarik membaca karya orang lain, kuat di ide tapi gagal dalam eksekusi, tidak memiliki referensi yang kuat, dan beragam bentuk lainnya. Godaan terbesar lainnya tentu saja upaya eksplorasi pengarang yang seringkali berhenti pada tahap coba-coba. Yang paling berbahaya dari kesemua itu adalah ‘fondasi’ dasar puisi, yaitu bahasa.

Di balik itu semua, kita beruntung, hal-hal berat semacam itu tidak membuat puisi menjadi ‘sesunyi kuburan’. Puisi terus lahir, penyair muda terus bermunculan. Soal jadi atau tidak, gagal atau berhasil, sebatas coba-coba atau menjadi susunan kalimat yang nikmat dibaca, dalam maknanya adalah proses waktu tadi. Semua orang selalu berhadapan dengan proses menjadi tadi.

Semua orang tahu, menulis adalah ruang pribadi, ‘dunia kamar’, namun proses penulisan bisa berlangsung di mana saja. Membaca, berkumpul, menonton serta peristiwa mengalami adalah pemicu-pemicu yang luar biasa dari sebuah karya. Ruang diskusi juga akan mencairkan kerunyaman puisi. Pada dasarnya dalam tahap belajar, dan proses belajar tentu berlangsung sepanjang hayat, seorang penyair juga butuh teman. Beruntunglah mereka yang tumbuh dari sekumpulan orang-orang yang menghayati puisi dalam proses belajarnya.

Proses puisi selalu dimulai dari diri sendiri. Renungan personal, kehilangan, cinta, peristiwa sosial, kekaguman akan alam, tempat baru, serta keterasingan adalah bekal awal seorang penyair. Inilah yang kta sebut kepekaan. Baik kepekaan personal, yang membaca ke dalam dirinya, maupun kepekaan sosial. Bahwa puisi, sebagaimana kerja seni lainnya bisa dimaklumi, bakat hanyalah pemicu belaka, kerja keraslah yang akan menentukan hasilnya.

Komunitas sastra Bimalukar yang berada di Wonosobo merupakan sebuah kelompok yang saya kira cukup lengkap. Di kota kecil, nyaris setiap periode bermunculan para penulis yang memiliki modal besar dalam berkarya. Alam, lingkungan sosial, fasilitas, serta kecakapan personal mereka tak kalah dibanding kota lainnya. Mereka muncul dari beragam latar, santri, pelajar umum, guru, mahasiswa, pekerja sosial, dan sebagainya. Dan Bimalukar melengkapi itu semua.

Membaca karya dalam kumpulan ini seperti menemukan batu akik sebesar kepala. Tak ada keraguan bahwa puisi akan mati, bahkan, semua orang harus tahu, di sebuah kabupaten seperti Wonosobo sastra mendapatkan tempat terhangat. Membaca puisi-puisi ini adalah sebuah kegembiraan. Kumpulan puisi ini adalah sebuah harapan. Kita masih akan melihat kilauan batu akik yang siap diasah menjadi kilauan yang sedap dipandang mata. Sebagian penyair dalam kumpulan ini adalah mereka yang sedang berada dalam tempaan proses menjadi, bersiap menuju proses menjadi, serta mereka yang tinggal diasah sedemikian rupa lagi hingga mendapatkan kilau yang sebenarnya. Dari sepilihan puisi ini bisa kita lihat keragaman tema dan gaya ungkap dari seorang pemula hingga mereka yang sudah mendapat porsi cukup dalam kanca kesuasteraan Indonesia. Ibarat akik, kita akan terus menggosok, menggosok dan menggosok...

Kita berharap Bimalukar ke depan menjadi wadah bagi beragam calon penulis dari beragam latar belakang di Wonosobo, sekaligus ruang yang mempertemukan berbagai kelompok orang yang men-jadikan seni, minimal, sebagai wujud kecintaannya, sehingga dalam kelompok sastra ini kita bisa tumbuh bersama. Kita menunggu antologi tunggal para penyair dalam buku ini beberapa tahun ke depan. Kita punya harapan bahwa antologi ini bisa menjadi dokumentasi awal para penyair muda Wonosobo yang puisinya masuk dalam antologi ini. Kita tidak bisa berharap semua akan jadi, sebab sebagaimana disinggung di awal, bahwa proses menjadi adalah proses seleksi. Baik seleksi alam maupun pilihan pribadi. Namun, sekali lagi, kita boleh berbangga hati, dari Wonosobo kita akan selalu bisa melihat pertumbuhan sastra seranum pipi remaja-

HAMZAH AL-FANSURI: BIOGRAFI, KARYA, DAN PENGARUHNYA TERDAHAP PERADABAN ISLAM DI NUSANTARA

A.    Pendahuluan

Kita tidak asing lagi dengan Syekh Hamzal al-Fansuri. Beliau dikenal sebagai salah satu perlopor sastra melayu. Puisi-puisinya banyak diperbincangkan dan menjadi rujukan sastrawan-sastrawan setelahnya.
Syeikh Hamzah Fansuri diakui salah seorang pujangga Islam yang sangat populer di zamannya (Abad 16 dan 17), sehingga kini namanya menghiasi lembaran-lembaran sejarah kesusasteraan Melayu dan Indonesia. Namanya tercatat sebagai tokoh kaliber besar dalam perkembangan Islam di Nusantara dari abadnya hingga ke abad kini.
Syekh Hamzah Fansuri, selain sebagai penyair atau pujangga, juga merupakan salah satu tokoh sufi. Hampir semua penulis sejarah Islam mencatat bahwa Syeikh Hamzah Fansuri dan muridnya Syeikh Syamsuddin Sumatrani adalah termasuk tokoh sufi yang sefaham dengan al-Hallaj, faham hulul, ittihad, mahabbah dan lain-lain adalah seirama. Disebabkan paham sufinya tersebut, Syekh dari Aceh ini banyak mendapatkan kritik dan perlawanan dari golongan yang tidak sepaham dengannya. 
Makalah ini akan membahas mengenai biografi dan karya-karya Hamzah Fansuri. Juga pemikiran, dan pengaruhnya dalam sejarah peradaban Indonesia.

B.       Biografi

makalah hamzah fansuri
Syeikh Hamzah Fansuri adalah seorang cendekiawan, ulama tasawuf, dan budayawan terkemuka yang diperkirakan hidup antara pertengahan abad ke-16 sampai awal abad ke-17. Nama gelar atau takhallus yang tercantum di belakang nama kecilnya memperlihatkan bahwa pendekar puisi dan ilmu suluk ini berasal dari Fansur, sebutan orang-orang Arab terhadap Barus, sekarang sebuah kota kecil di pantai barat Sumatra yang terletak antara kota Sibolga dan Singkel. Sampai abad ke-16 kota ini merupakan pelabuhan dagang penting yang dikunjungi para saudagar dan musafir dari negeri-negeri jauh.
Sayang sekali bukti-bukti tertulis yang dinyatakan kapan sebenarnya Syeikh Hamzah Fansuri lahir dan wafat, di mana dilahirkan dan di mana pula jasadnya dibaringkan dan di tanam, tak dijumpai sampai sekarang.[1] Tetapi dari syair dan dari namanya sendiri menunjukkan bahwa sudah sekian lama beliau berdominasi di Fansur, dekat Singkel, sehingga mereka dan turunan mereka pantas digelari Fansur.
Pada ahli cenderung memahami dari syair-syairnya bahwa Hamzah Fansuri lahir di tanah Syahmawi, tapi tidak ada kesepakatan mereka dalam mengidentifikasikan tanah Syahmawi itu, ada petunjuk tanah Aceh sendiri ada yang menunjuk tanah Siam, dan bahkan ada sarjana yang menunjuk negeri Persia sebagai tanah yang di Aceh oleh nama Syamawi.[2]
Dalam buku Hamzah Fansuri Penyair Aceh, Prof. A. Hasymi menyebut bahwa Syeikh Hamzah Fansuri hidup dalam masa pemerintahan Sultan Alaidin Riayat Syah IV Saiyidil Mukammil (997-1011 H-1589-1604 M) sampai ke permulaan pemerintahan Sultan Iskandar Muda Darma Wangsa Mahkota Alam (1016-1045 H-1607-1636 M).
Dari berbagai sumber disebutkan bahwa Syeikh Hamzah al-Fansuri telah belajar berbagai ilmu yang memakan waktu lama. Selain belajar di Aceh sendiri beliau telah mengembara ke pelbagai tempat, di antaranya ke Banten (Jawa Barat), bahkan sumber yang lain menyebut bahwa beliau pernah mengembara keseluruh tanah Jawa, Semenanjung Tanah Melayu, India, Parsi dan Arab. Dikatakan bahwa Syeikh Hamzah al-Fansuri sangat mahir dalam ilmu-ilmu fikih, tasawuf, falsafah, mantiq, ilmu kalam, sejarah, sastra dan lain-lain. Dalam bidang bahasa pula beliau menguasai dengan kemas seluruh sektor ilmu Arabiyah, fasih dalam ucapan bahasa itu, berkebolehan berbahasa Urdu, Parsi, Melayu dan Jawa.

C.     Karya-karya Hamzah Fansuri

Syair-syair Syeikh Hamzah Fansuri terkumpul dalam buku-buku yang terkenal, dalam kesusasteraan Melayu / Indonesia tercatat buku-buku syairnya antara lain :
a. Syair burung pingai
b. Syair dagang
c. Syair pungguk
d. Syair sidang faqir
e. Syair ikan tongkol
f. Syair perahu
Karangan-karangan Syeikh Hamzah Fansuri yang berbentuk kitab ilmiah antara lain :
a. Asfarul ‘arifin fi bayaani ‘ilmis suluki wa tauhid
b. Syarbul ‘asyiqiin
c. Al-Muhtadi
d. Ruba’i Hamzah al-Fansuri

Karya-karya Syeikh Hamzah Fansuri baik yang berbentuk syair maupun berbentuk prosa banyak menarik perhatian para sarjana baik sarjana barat atau orientalis barat maupun sarjana tanah air. Yang banyak membicarakan tentang Syeikh Hamzah Fansuri antara lain Prof. Syed Muhammad Naquib dengan beberapa judul bukunya mengenai tokoh sufi ini, tidak ketinggalan seumpama Prof. A. Teeuw juga r.O Winstedt yang diakuinya bahwa Syeikh Hamzah Fansuri mempunyai semangat yang luar biasa yang tidak terdapat pada orang lainnya. Dua orang yaitu J. Doorenbos dan Syed Muhammad Naquib al-Attas mempelajari biografi Syeikh Hamzah Fansuri secara mendalam untuk mendapatkan Ph.D masing-masing di Universitas Leiden dan Universitas London. Karya Prof. Muhammad Naquib tentang Syeikh Hamzah Fansuri antaranya :
- The Misticim of Hamzah Fansuri (disertat 1966), Universitas of Malaya Press 1970
- Raniri and The Wujudiyah, IMBRAS, 1966
- New Light on Life of Hamzah Fansuri, IMBRAS, 1967
- The Origin of Malay Shair, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1968[3]

Menurut beberapa pengamat sastra sufi, sajak-sajak Syaikh Hamzah al-Fansuri tergolong dalam Syi'r al- Kasyaf wa al-Ilham, yaitu puisi yang berdasarkan ilham dan ketersingkapan (kasyafi yang umumnya membicarakan masalah cinta Ilahi) [4].

  1. Pemikiran dan Pengaruh Hamzah Fansuri
Klik gambar untuk download makalah ini dalam format .doc

Banyak ualama Indonesia di kenal lantaran karya-karya mereka yang tersebar di berbagai wilayah dunia Islam. Di antara ulama Indonesia yang dikenal sebagai pengarang adalah Nuruddin Ar-Raniri, Hamzah Fansuri, Abdurrauf Singkel, dan Syaikh Muhammad Arsyad al Banjari.[5]
Di bidang keilmuan Syeikh Hamzah Fansuri telah mempelajari penulisan risalah tasawuf atau keagamaan yang demikian sistematis dan bersifat ilmiah. Sebelum karya-karya Syeikh muncul, masyarakat muslim Melayu mempelajari masalah-masalah agama, tasawuf dan sastra melalui kitab-kitab yang ditulis di dalam bahasa Arab atau Persia. Di bidang sastra Syeikh mempelopori pula penulisan puisi-puisi filosofis dan mistis bercorak Islam, kedalaman kandungan puisi-puisinya sukar ditandingi oleh penyair lan yang sezaman ataupun sesudahnya. Penulis-penulis Melayu abad ke-17 dan 18 kebanyakan berada di bawah bayang-bayang kegeniusan dan kepiawaian Syeikh Hamzah Fansuri. Di bidang kesusastraan pula Syeikh Hamzah Fansuri adalah orang pertama yang memperkenalkan syair, puisi empat baris dengan skema sajak akhir a-a-a-a syair sebagai suatu bentuk pengucapan sastra seperti halnya pantung sangat populer dan digemari oleh para penulis sampai pada abad ke-20.
Di bidang kebahasaan pula sumbangan Syeikh Hamzah Fansuri sukar untuk dapat di ingkari. Pertama, sebagai penulis pertama kitab keilmuan di dalam bahasa Melayu, Syeikh Hamzah Fansuri telah berhasil mengangkat martabat bahasa Melayu dari sekedar lingua franca menjadi suatu bahasa intelektual dan ekspresi keilmuan yang canggih dan modern. Dengan demikian keduudkan bahasa Melayu di bidang penyebaran ilmu dan persuratan menjadi sangat penting dan mengungguli bahasa-bahasa Nusantara yang lain, termasuk bahasa Jawa yang sebelumnya telah jauh lebih berkembang. Kedua, jika kita membaca syair-syair dan risalah-risalah tasawuf Syeikh Hamzah Fansuri, akan tampak betapa besarnya jasa Syeikh Hamzah Fansuri dalam proses Islamisasi bahasa Melayu dan Islamisasi bahasa adalah sama dengan Islamisasi pemikiran dan kebudayaan.
Di bidang filsafat, ilmu tafsir dan telaah sastra Syeikh Hamzah Fansuri telah pula mempelopori penerapan metode takwil atau hermeneutika keruhanian, kepiawaian Syeikh Hamzah Fansuri di bidang hermeneutika terlihat di dalam Asrar al-‘arifin (rahasia ahli makrifat), sebuah risalah tasawuf klasik paling berbobot yang pernah dihasilkan oleh ahli tasawuf nusantara, disitu Syeikh Hamzah Fansuri memberi tafsir dan takwil atas puisinya sendiri, dengan analisis yang tajam dan dengan landasan pengetahuan yang luas mencakup metafisika, teologi, logika, epistemologi dan estetika. Asrar bukan saja merupakan salah satu risalah tasawuf paling orisinal yang pernah ditulis di dalam bahasa Melayu, tetapi juga merupakan kitab keagamaan klasik yang paling jernih dan cemerlang bahasanya dengan memberi takwil terhadap syair-syairnya sendiri Syeikh Hamzah Fansuri berhasil menyusun sebuah risalah tasawuf yang dalam isinya dan luas cakrawala permasalahannya.[6]
Simaklah syair Hamzah Fansuri yang ditulis beliau berjudul “Sidang Ahli Suluk” pada bagian I di bait 1:

“Sidang Faqir empunya kata,
Tuhanmu Zahir terlalu nyata.
Jika sungguh engkau bermata,
lihatlah dirimu rata-rata”.

Bagi Syeikh Hamzah Fansuri, kehadiran Tuhan itu sangatlah Maha Nyata (Zahir). Karena itu sang sufi, atau disebut sebagai Faqir, adalah orang yang telah meninggalkan keterikatannya pada segala sesuatu di luar dirinya, dan memulai perjalanan ruhaninya dengan “melihat” atau mengenali dirinya sendiri setiap saat.
Selanjutnya Syeikh Hamzah Fansuri menegaskan bahwa untuk mengenal Jati Diri, seorang sufi harus memulai dengan suatu metode tafakur tertentu, suatu latihan tertentu. Suatu metode atau latihan yang sebenarnya juga banyak digunakan oleh berbagai aliran mistik keagamaan atau spiritual di berbagai belahan dunia, yang lebih dikenal dengan istilah meditasi. Selama ini pengertian meditasi atau tafakur sering disalahtafsirkan hanya sebagai latihan pernapasan, atau berzikir, atau merapal mantra.
Tetapi Syeikh Hamzah Fansuri menjelaskan dengan tepat esensi dari tafakur atau meditasi atau latihan sufi di dalam syair berjudul “Sidang Ahli Suluk” pada bagian I di bait 9:

“Hapuskan akal dan rasamu,
lenyapkan badan dan nyawamu.
Pejamkan hendak kedua matamu,
di sana kaulihat permai rupamu”.

Syeikh Hamzah Fansuri dengan sangat jelas menyatakan bahwa setiap tafakur atau metode latihan sufi apa pun harus dimulai dengan “hapuskan akal dan rasamu”, yang berarti suatu cara untuk menuju kepada kondisi “No-Mind”, kondisi berada dalam Kesadaran Murni atau Kesadaran Ilahi. Untuk mencapai kondisi “No-Mind” tersebut, maka seorang sufi harus “lenyapkan badan dan nyawamu”, yang berarti melepaskan keterikatan terhadap tubuh dan berbagai pemikiran atau nafsu (nyawa). Setelah itu, barulah sang sufi memejamkan kedua mata inderawinya, untuk mengaktifkan “mata-ruhaninya”, guna melihat rupa dari Jati Dirinya yang senantiasa berada dalam kondisi permai, kondisi “bahagia yang abadi”. Inilah sesungguhnya inti dari tafakur atau meditasi menurut Syeikh Hamzah Fansuri.[7]
Pada hakikatnya, menurut Hamzah, pemahaman akan Tuhan itu mudah, hanya memerlukan kepasrahan dan keberanian karena “Kekasih zahir terlalu terang/Pada kedua alam nyata terbentang.” Jadi, ciri khas pemahaman tasawuf Hamzah adalah hakikat Allah itu dekat dan menyatu, hanya saja manusia tidak menyadarinya.[8]
Dalam jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII Azumardi Azra menyebutkan bahwa faham Hamzah Fansuri berpaham Wujudiyah, berbeda dengan Ar-Raniri yang memementingkan Syariah dan dianggap sebagai perintis gerakan pembarahu Islam atau neo-sufisme.[9]
Fahamnya tersebut mendapat pertentangan dari syekh Nuruddin ar-Raniri. Dan untuk membasi faham wujudiyah ini, kitab-kitab berfaham wujudiyah, seperti kitab-kitab hamzah fansuri bahkan dibakar di depan masjid baiturrahman Aceh.[10]

  1. Kesimpulan

Syekh Hamzah Fansuri telah begitu banyak memberikan sumbangan terhadap peradaban Islam Nusantara. Karya-karyanya, baik puisi maupun yang lainnya telah banyak memberikan inspirasi bagi generasi-generasi sesudahnya. Melalui puisi-puisinya itu pula Syekh Hamzah Fansuri menyebarkan dakwah islamiyah.
Meskipun paham sufinya mendapatkan pertentangan dari beberapa kalangan sehinga menyebabkan buku-bukunya dibakar, tetapi namanya tidak lekang oleh zaman. Sejarah pembakaran buku sebagaimana terjadi pada awal masuknya Islam tidak boleh terulang. Buku, bagaimana pun kontroversialnya, tetap merupakan sebuah produk intelektual dan hasil perenungan dari penulisnya. Pembakaran buku, pengekangan kebebasan berpikir, justru akan membuat peradaban berjalan mundur. 

Catatan kaki:



[1] Abdul Hadi, W.M., Hamzah Fansuri, Risalah Tasawuf dan Puisi-Puisinya: Bandung, 1995, hlm. 9-13
[2] Narun Nasution, dkk., Ensiklopedi Islam Indonesia, IAIN Syarif Hidayatullah: Jakarta, 1992, hlm. 201
[4] Samsul Munir Amin, Karamah Para Kiai, Pustaka Pesantren, Yogyakarta: 2008. Hlm. 317
[5] Samsul Munir Amin, Sayyid Ulama Hijaz: Biografi Syaikh Nawawi al-Batani, Pustaka Pesantren: Yogyakarta, 2009, hlm. 49.
[6]Abdul Hadi W.M., op.cit., hlm. 14-16
[8] Budi Sudardi, Sastra Sufistik: Internalisasi Ajaran-ajaran Sufi dalam Sastra Indonesia, Tiga Serangkai Pustaka Mandiri: Solo, 2003. Hlm. 50.
[9] Azumardy Azra, Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Penerbit Mizan: Bandung, 1994. Hlm. 166-188
[10] Samsul Munir Amin, Op. Cit. hlm 314


DAFTAR PUSTAKA

  • Abdul Hadi, W.M., Hamzah Fansuri, Risalah Tasawuf dan Puisi-Puisinya, Bandung, 1995.
  • Azumardy Azra, Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Penerbit Mizan: Bandung, 1994.
  • Budi Sudardi, Sastra Sufistik: Internalisasi Ajaran-ajaran Sufi dalam Sastra Indonesia, Tiga Serangkai Pustaka Mandiri: Solo, 2003.
  • Narun Nasution, dkk., Ensiklopedi Islam Indonesia, IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 1992.
  • Samsul Munir Amin, Karamah Para Kiai, Pustaka Pesantren, Yogyakarta: 2008.
  • Samsul Munir Amin, Sayyid Ulama Hijaz: Biografi Syaikh Nawawi al-Batani, Pustaka Pesantren: Yogyakarta, 2009.
  • http://makalah-ibnu.blogspot.com/2009/02/syeikh-hamzah-al-fansuri.html. Diunduh, 28 Juni 2012.
  • http://www.tumblr.com/tagged/hamzah-fansuri. diunduh 28 Juni 2012.