Tampilkan postingan dengan label fiksi sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi sains. Tampilkan semua postingan

Resensi, Sinopsis, dan Ulasan Novel Laskar Pelangi

Resensi Novel Laskar Pelangi
Resensi Novel Laskar Pelangi - Novel ini bercerita tentang kehidupan 10 anak yang sekolah di SD dan SMP Muhammadiyah di pulau Belitong. Mereka adalah Ikal, Lintang, Sahara, Mahar, A Kiong, Syahdan, Kucai, Borek, Trapani, dan Harun. Mereka semua berasal dari keluarga miskin. Sekolah mereka digambarkan sangat memprihatinkan, bahkan nyaris roboh. Tetapi kehidupan dan sekolah yang sangat terbatas tidak membuat mereka putus asa, melainkan justru bersemangat. Mereka dididik oleh seorang guru yang gigih dan sangat penyayang, yaitu Bu Muslimah. Karena kesenangan mereka melihat pelangi Bu Muslimah kemudian menyebut mereka dengan Laskar Pelangi.

Novel dibuka dengan penggambaran SD Muhammadiyah yang terancam akan tutup jika jumlah siswa yang mendaftar kurang dari 10 anak. Situasi mendadak tegang karena baru ada 9 anak yang mendaftar. Untunglah Harun dan ibunya datang untuk mendaftarkan diri di sekolah kecil itu. - sinopsis laskar palangi

Dari situlah kemudian cerita berkembang. Berbagai peristiwa, mulai dari perkenalan 10 anak itu, proses pembelajaran di dalam dan luar kelas, mengayuh sepeda puluhan kilo meter untuk beli kapur, juga pertemuan Ikal dengan A Ling, gadis Tionghoa yang menjadi cinta pertamanya.

Salah satu tokoh yang mendapat perhatian di novel ini adalah Lintang. Lintang adalah anak yatim dari ayah seorang nelayan miskin. Tetapi Lintang memiliki kecerdasan seperti Einstein. Perjuangan yang harus dilaluinya untuk tiba di sekolah sungguh berat, karena harus bersepeda puluhan kilometer jauhnya. Berkat kecerdasan Lintang pulalah SD dan SMP Muammadiyah berhasil memenangi lomba cerdas cermat. Tetapi kemudian, kisah sedih menimpa keluarga Lintang. Ayahnya meninggal dunia dan sebagai lelaki tertua ia harus mengurus adik perempuannya. Lintang sendiri mengundurkan diri dari sekolah sebelum tamat SMP.

Dalam novel ini juga dikisahkan tentang kemiskinan yang hampir merajalela di Belitong, sementara alamnya begitu kaya dengan timah. Ternyata tambang-tambang timah yang ada di Belitong semuanya telah didominasi oleh PN Timah. Akibatnya nasib warga Belitong seperti tikus yang kelaparan di lumbung padi. Pada perkembangannya, dikisahkan, akhirnya PN timah yang membuat rakyat miskin dihancurkan dan sekarang rakyat Belitong bisa kembali menikmati tambang mereka yang puluhan tahun dieksploitasi.

Akhir novel ini menceritakan tentang anggota laskar pelangi yang memiliki masa depan cerah. Namun SD-SMP Muhammadiyah sudah tidak lagi ada, dan Bu Muslimah mengajar di SD negeri 6 Belitong Timur. Sementara Ikal, tokoh utama dalam novel ini, mendapat beasiswa ke Universitas Sorbonne, Paris. Itulah ringkasan laskar pelangi

Ulasan Novel Laskar Pelangi


Dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata ini, kita akan menemukan banyak istilah dan teori sains. Nama-nama besar sererti Isac Newton, Albert Einstein, Adam Smith, bahkan Bang Haji Roma Irama juga bisa kita temukan dalam lembaran-lembarannya. Meskipun terkadang istilah dan teori-teori sains tidak disertai catatan kaki atau keterangan tertentu, tetapi hal itu sama sekali tidak menganggu. Terlebih lagi di lembaran-lembaran akhir terdapat glosarium yang menjelaskan isitilah-isitlah tersebut.

Sains di tangan Andrea telah begitu padu dengan bahasa sastra sehingga membuahkan sebuah karya fiksi yang enak dibaca sekaligus memperkaya wawasan pembaca. Novel Laskar Pelangi memang tidak bisa dilepaskan dari latar belakang penulisnya. Kita tahu bahwa Andrea adalah seorang lulusan Master of Economic Science dari Univerisite de Paris, Sorbonne, Prancis, dan Sheffiled Hallam University, United Kingdom, dengan beasiswa dari Uni Eropa.

Selain itu, Andrea juga dikenal sebagai orang yang begitu mencintai tanah kelahirannya, Belitong. Ia begitu detail menceritakan setting dan alam pikir orang Melayu di Belitong  dengan wawasan saintifik yang sangat meyakinkan.

Terbitnya Laskar Pelangi telah memunculkan banyak fenomena. Selain telah terjual lebih dari 1 juta copy, Laskar Pelangi juga telah terbit di dua puluh negara, yaitu Brasil, Korea Selatan, Malaysia, China, Taiwan, Vietnam, AS, Australia, Selandia Baru, India, Pakistan, Banglades, Sri Lanka, Nepal, Jepang, Jerman, Belanda, Spanyol,  Italia, dan Turki. (Kompas, 19 Juni 2012)

Tahukah kamu, mengapa novel Laskar Pelangi begitu diminati? Karena di dalamnya mengandung sesuatu yang baru, sesuatu yang sebelumnya belum digarap oleh penulis-penulis lain. Apa itu? Selain gaya saintifik-nya, Andrea juga memunculkan metafor-metafor yang cerdas, meski kadang-kadang berlebihan. Caranya dalam menggambarkan detail-detail peristiwa, cerita yang menyentuh, dan humor-humor yang kocak telah menambah novel ini kian memikat.

Novel Laskar Pelangi merupakan buku pertama dari Tetralogi Laskar Pelangi. Buku kelanjutannya adalah Sang Pemimpi (2006), Edensor (2007) dan Maryamah Karpov (2008). Ajaibnya, novel Laskar Pelangi tercatat sebagai buku sastra Indonesia terlaris sepanjang sejarah.

Demikianlah artikel Resensi dan Ringkasan Novel Laskar Pelangi, semoga bermafnaat. http://www.tintaguru.com/

Judul  : Laskar Pelangi

Pengarang     : Andera Hirata

Penerbit        : Bentang

Tebal            : xxxiv, 529 halaman

Tahun Terbit  : 2005

 Berikut adalah Sinopsisnya

keyword:
sinopis novel laskar pelangi
teks ulasan novel laskar pelangi
ringkasan novel laskar pelangi
contoh resensi novel laskar pelangi
resensi laskar palangi
sinopsis laskar pelangi

baca dan download novel laskar pelangi dari google book

Dari Novel Terbitlah Film

resensi film supernovaJusuf AN*)

Tayangnya film Supernova: Kesatria,Putri, & Bintang Jatuh, yang diangkat dari novel karya Dee dengan judul yang sama baru-baru ini, ternyata mendapat sambutan yang meriah dari penggemar film tanah air. Padahal novel tersebut sudah terbit untuk pertama kalinya sejak tahun 2001. Fenomena ini nyaris sama seperti ketika film Sang Penari yang diadaptasi dari novel Trilogi Ronggong Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari tayang pertama kali di bioskop.

Memang, mengadaptasi novel ke layar lebar kini sudah menjadi semacam trend bagi rumah produksi. Tidak jarang, para penontonnya lebih banyak dari jumlah novel atau buku yang terjual. Ini tentu mengejutkan dan menggembirakan, tetapi juga membuat kita bertanya-tanya. Apakah para penonton film yang diangkat dari novel sudah membaca novelnya terlebih dahulu? Bisa jadi, kegemaran masyarakat Indonesia menonton film yang diangkat dari sebuah novel bukan disebabkan karena mereka ingin melihat versi audio-visual dari apa yang sudah mereka baca, tetapi disebabkan karena mereka sama sekali belum membaca novelnya dan lebih tertarik untuk menonton filmnya. Menonton film jauh lebih disukai masyarakat kita ketimbang membaca; itu merupakan asumsi yang masuk akal meskipun terdengar pahit.

Bagi para novelis, diangkatnya karya mereka menjadi sebuah film tentu merupakan sesuatu yang sangat menggembirakan. Sebab, selain buah amalnya akan semakin banyak tersiar novel yang dibeli rumah produksi film juga dapat menghasilkan pundi-pundi yang yang jumlahnya jauh lebih besar dari royalty yang diterima penulis dari penerbit.

Tetapi, memang ada beberapa novelis yang tidak rela dan menolak karya-karyanya difilmkan. Sebutlah Paulo Coelho. Konon novelnya yang fenomenal berjudul Alkemis sudah banyak yang berminat untuk mengangkatnya ke layar lebar, tetapi toh Coelho menolak. Coelho tidak ingin imajinasi pembaca menjadi sempit gara-gara novelnya ditafsirkan dalam bentuk film.

Nah, untuk novelis Indonesia, adakah yang berani menolak jika karya mereka diangkat menjadi film? Mungkin ada. Tetapi kebanyakan, novelis Indonesia berlomba karyanya dapat diadaptasi ke layar lebar. Seorang novelis yang karya-karyanya banyak diangkat menjadi film, yakni Asma Nadia mengakuinya secara terang-terangan. Dalam sebuah wawancara di sebuah surat kabar, Asma Nadia bahkan mengaku, ketika dirinya menulis, ia sudah membayangkan adegan-adegan jika nanti karyanya diangkat menjadi film. Jadi, ia memang menyengaja menulis novel yang siap diangkat menjadi film. Apakah hal tersebut merupakan suatu kekhilafan? Tergantung siapa yang dan dari sudut mana kita memandang.

Tidak salah mengidamkan karya kita diangkat ke layar lebar. Tetapi menulis novel jelas berbeda dengan menulis script. Menulis dengan maksud ditujukan agar karya tersebut dilirik rumah produksi sama halnya mengekang imajinasi penulis itu sendiri. Persoalan apakah sebuah novel menarik atau tidak bagi rumah produksi tentu ada banyak faktor yang melatarbelakangi. Bukan semata karena novel tersebut mudah dan cocok di angkat ke media audio-visual, tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh tuntutan pasar.

Film memiliki hukum pasar tersendiri yang meskipun bisa dikaitkan dengan pasar perbukuan tetapi tidak bisa disamakan. Tidak semua novel bagus cocok untuk difilmkan. Tetapi secara umum hampir semua novel yang laris selalu dilirik rumah produksi.

Apa yang kemudian terjadi? Jika peminat film cenderung cepat meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah manusia dan film-film bagus (khususnya yang diangkat dari novel), peminat buku (baca: novel) mengalami penambahan yang lambat. Di sinilah semestinya film dan buku menjalin hubungan yang saling menguntungkan. Rumah produksi yang mengakat film dari novel perlu juga memperjuangkan untuk menjaring para pembaca baru, bukan sebaliknya, meninabobokan minat baca masyarakat kita.
____

Sinopsis Film Supernova

Sinopsis Film Supernova

Cerita Film Supernova - Menunaikan ikrar mereka untuk berkarya bersama, pasangan Dimas dan Reuben mulai menulis roman yang diberi judul Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Paralel dengan itu, dalam kehidupan nyata, sebuah kisah cinta terlarang terjalin antara Ferre dan Rana. Hubungan cinta mereka merepresentasikan dinamika yang terjadi antara tokoh Kesatria dan Putri dalam fiksi Dimas dan Reuben. Tokoh ketiga, Bintang Jatuh, dihadirkan oleh seorang peragawati terkenal bernama Diva, yang memiliki profesi sampingan sebagai pelacur kelas atas. Tanpa ada yang bisa mengantisipasi, kehadiran sosok bernama Supernova menjadi kunci penentu yang akhirnya merajut kehidupan nyata antara Ferre-Rana-Diva dengan kisah fiksi karya Dimas-Reuben dalam satu dimensi kehidupan yang sama. (sumber)

Apakah anda sudah menonton film Supernova: Kesatria,Putri, & Bintang Jatuh? Jika sudah, silahkan beri tanggapan anda tentang film tersebut. Jika belum, tentu bukan karena anda menunggu film tersebut tayang secara gratis. Seperti saya, karena tidak ada bioskop di kota saya, maka untuk menonton film sekelas Supernova atau yang lainnya, kami mesti lari ke Jogja, Semarang, atau Purwokerto. Tidak ada salahnya nunggu versi DVD-nya beredar, tetapi tetap mengutamakan yang orisinal, kecuali jika memang tidak ada.  
Latihan Mengembangkan Imajinasi Saintifik

Latihan Mengembangkan Imajinasi Saintifik

Untuk bisa menulis fiksi (khususnya fiksi sains), paling tidak kamu mesti memiliki imajinasi yang kuat.

Sebagaimana tubuh kita, imajinasi juga harus dilatih untuk meningkatkan kekuatannya. Imajinasi bagi seorang penulis ibarat sebuah bengkel bagi semua gagasan manusia, dan semua gagasan besar yang menguntungkan diperoleh dari bengkel ini. Jika bengkel ini tidak berfungsi dengan baik, maka gagasan yang dihasilkan juga kurang berkualitas. Konsekuensinya, ide yang tidak berkualitas akan menghasilkan keuntungan yang lebih rendah. (Sharma, 2008: 56)

Untuk melatih daya imajinasi sebagai modal menulis fiksi sains, maka kita perlu untuk membiasakan memikirkan sesuatu yang seolah-olah tidak mungkin terjadi. Ketidakmungkinan ini akan membawa kita untuk mengimajinasikan apa saja.

Menurut Einstein, Imajinasi lebih dari sekadar ilmu pasti. Artinya, imajinasi justru melampaui sesuatu yang sudah pasti atau ketidakmungkinan. Imajinasi justru berusaha menghadirkan sesuatu yang orang lain banyak menganggapnya tidak mungin. Dengan imajinasi, segala sesuatu yang tampak tidak mungkin dilakukan menjadi mungkin. Dengan imajinasi inilah segala sesuatu menjadi “nyata”. Ketidakmungkinan mengandung misteri, sehingga membuat kita selalu mencari untuk menguak teka-teki di balik berbagai ketidakmungkinan tersebut. (Muhibbuddin, 2011: 37)

Selain itu kita juga bisa membayangkan sebuah kejadian yang belum terjadi. Misal, membayangkan keadaan dunia 20 atau 100 tahun yang akan datang; membayangkan sebuah penemuan baru yang berdampak besar bagi dunia; membayangkan kehidupan di Venus atau planet lain; membayangkan munculnya spesies baru hasil rekayasa genetika; membayangkan jika bertahun-tahun hujan tidak turun; dan lain sebagainya.

Membayangkan hal-hal semacam itu bukanlah sebuah dosa; justru akan melatih daya pikir dan imajinasi kita. Membayangkan hal-hal seperti disebutkan di atas, akan terasa mengasyikkan dan memancing ide-ide untuk bisa kita tuliskan.

Tetapi perlu diingat kembali bahwa fiksi sains bukanlah hasil dari imajinasi belaka. Imajinasi yang kita kembangkan untuk menulis fiksi sains mesti didukung dengan kaidah-kaidah ilmu pengetahuan. Misalkan, jika kamu ingin menuliskan kehidupan Astronot yang ada di Bulan, maka kamu mesti tahu apakah hukum gravitasi masih berlaku di Bulan ataukah tidak. Kamu juga perlu mengetahui tentang teknologi-teknologi yang digunakan oleh seorang astronot; tentang pakaiannya, bagaimana mereka makan, dan lain sebagainya.

Jika tidak demikian, maka bisa jadi apa yang kita tulis tidak tergolog sebagai fiksi sains, melainkan fiksi fantasi. Dalam fiksi fantasi orang bisa terbang dengan sapu ajaib, Astronot tidak membutuhkan teknologi, cukup memakai jaket kulit dan makan nasi setiap hari. Oleh sebab itu, kita perlu mempelajari dasar-dasar sains untuk melandasi imajinasi kita.