Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Surat Untuk Kyai dari Santri tentang Sastra Pesantren

Surat Untuk Kyai dari Santri tentang Sastra Pesantren

Jusuf AN

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tangan saya gemetar saat menulis surat ini, Yai. Takdzim saya kepada Yai tak berkurang sedikit pun, doa dan keberkahan Yai semoga tercurah untuk saya dan keluarga.

Maaf, Yai. Saya santri Yai, begitulah seharusnya saya memosisikan diri. Seorang santri selamanya akan tetap sebagai santri meskipun sudah tidak tinggal di pesantren lagi.

Begini, Yai. Hem, mungkin baiknya saya awali dengan cerita. Saya masih terkenang saat di pesantren dulu: Suatu malam, puluhan santri berkumpul di Masjid. Kali itu bukan untuk ngaji bandongan atau sorogan, tetapi untuk membaca, mendengar, dan mendendangkan atsar (prosa) dan nadzam (puisi) dari kitab terkemuka. Seseorang membaca atsar, saya dan yang lain mendengarkan, sesekali menyela, “Allah” atau “Ya Rasulallah”. Lalu crak..dung...crak dung-dung! Rebana membahana. Dipimpin seseorang, semua ikut mendendangkan nadzam. Beberapa tampak khusuk, tak jarang pula yang mengantuk sambil garuk-garuk, termasuk saya, barangkali syaithon berkitar-kitar di atas kepala, atau lantaran bosan, tak paham apa yang didengar dan dinyanyikan.

Tanpa harus menyebutkan kitab apa yang kami baca, tentu Yai sudah sangat mengetahuinya. Apa lagi kalau bukan kitab karangan Syekh Ja’far Al-Barzanji berjudul asli ‘Iqdul Jawahir (Untaian Mutiara). Pemandangan seperti itu sebenarnya tak hanya ditemui pondok pesantren, Yai. Tetapi juga di kampung-kampung, bergilir dari rumah ke rumah, setiap malam selama Rabi’ul Awal, juga dalam acara muputi (tradisi potong rambut dan memberi nama bayi).

Yai tentu sepakat, kitab yang kini lebih dikenal dengan nama marga pengarangnya (Al-Barzanji) itu memang dahsyat. Mungkin juga menjadi salah satu kitab setelah Al-Qur’an yang paling sering dibaca secara berulang, melebihi Manakib-nya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani atau ungkapan-ungkapan sufistik dalam Al-Hikam karya Ibn Atha’illah yang sangat sastrawi.

Maksud saya begini, Yai. Fenomena tersebut membuat kita percaya bahwa tradisi sastra di pesantren sudah berjalan demikian lama. Pada perkembangannya, pendokumentasian karya sastra hasil kreasi para santri dan kyai dalam bentuk cetak juga dilakukan, bahkan kini merambah ke bentuk audio-visual. Yai sendiri sudah pula menggubah syi’ir-syi’ir dan senang bercerita di atas mimbar. Tapi adakah Yai pernah mendengar istilah ini: “Sastra Pesantren?”

Iya, Yai. Sastra Pesantren! Istilah itu baru saya tahu setelah bertahun-tahun tidak tinggal di pesantren lagi. Pada awal millinium ke-3, istilah tersebut bahkan menjadi perbincangan di berbagai media.

Saya percaya, Yai tidak kaget. Sebab toh Yai pernah cerita jika dulu Tasawuf yang praktiknya sudah ada sejak zaman Rasulullah Saw., sebagai sebuah istilah baru dikenal abad ke-3 H. Sastra pesantren juga begitu ‘kan? Tradisi sastra di pesantren sudah ada bersamaan dengan adanya komunitas pesantren itu sendiri, meski istilah sastra pesantren belum lama muncul.

Oh ya, Yai. Sebelum jauh membincang sastra pesantren, demi kesatuan pandangan, sebaiknya kita sepakati dulu maksud istilah itu. Sastra pesantren dalam surat ini mengandung maksud sebagaimana pernah dikemukan oleh Gus M. Faizi, putra Pengasuh Pesantren Guluk-Guluk, Madura. Gus M. Faizi pernah membuat tulisan panjang berjudul Silsilah Intelektualisme dan Sastra di Pesantren, (Sebuah Perambahan Atas Tradisi Pesantren, Sastra, dan Sastra Pesantren), dimuat di Jurnal Ainil ISLAM, dan dipublikasikan ulang di blog pribadinya. Menurut beliau, sastra pesantren adalah karya sastra santri, kiai, dan atau juga yang punya silsilah sosial/intelektual dengan pesantren, bertema hal-ihwal kesantrian dan kepesantrenan dengan membawa semangat kesantrian (religiusitas), baik secara langsung maupun tidak.

Maka, ketika Gus Dur (K.H. Abdurahman Wahid) menempatkan novel Jalan Tak Ada Ujung sebagai sastra religius yang tidak kalah ketimbang Di Bawah Lindungan Ka’bah karya HAMKA, kita tidak dengan serta merta bisa memasukkan karya tersebut sebagai bagian dari sastra pesantren. Karena Mochtar Lubis bukan kiai, santri, atau pengarang yang punya silsilah sosial/inelektual dengan pesantren.

Barangkali Yai beranggapan bahwa label sastra pesantren tidak penting dan sebaiknya tidak perlu ditempelkan para karya tertentu. Sebab label itu justru akan membuat karya sastra pesantren terkesan ekslusif, dan pada akhirnya tidak menarik simpatik pihak-pihak di luar pesantren. Jika itu yang menjadi pendapat Yai, saya sependapat. Karena yang terpenting dalam sebuah karya adalah substansinya dan bukan labelnya. Atau istilah sastra pesantren biarlah tetap ada, tetapi bukan untuk mengukuhkan label, melainkan untuk menggelorakan kalangan pesantren dalam menghasilkan karya.

Wahai Kyaiku yang bijaksana.

Dulu, sewaktu masih nyantri, saya tidak tahu apa-apa soal sastra, tapi kadang kala menulis puisi juga. Tak hanya saya, banyak teman-teman seangkatan yang juga punya minat dan bakat sastra, dan mereka suka diam-diam membaca buku-buku sastra berbahasa Indonesia. Tetapi lambat laut, bibit-bibit cinta sastra kawan-kawan banyak yang punah, karena memang di pesantren tak ada yang menyemaikannya.

Itulah kenapa saya menulis surat ini, Yai. Sekadar menyoal geliat sastra di pesantren. Jika tradisi sastra di pesantren tidak dibarengi dengan kesadaran dan arah yang jelas, maka ia hanya akan berjalan di tempat. ‘Iqdul Jawahir akan terus dibaca, tetapi spirit perlawanan dan cinta kepada Rasulullah Saw tidak akan benar-benar membekas.

Memang, saya sempat pula ikut ngaji bandongan ‘Iqdul Jawahir. Buku terjemahan kitab tersebut, juga kitab-kitab kuning lain kini juga sudah banyak. Tetapi diskusi, Yai. Saya rasa beda dengan bandongan, sorogan, atau membaca kitab terjemahan.

Sampai di sini sebenarnya Yai sudah paham maksud surat ini. Seandainya saya anak kecil, tentu saya tak perlu basa-basi untuk meminta mainan. Tetapi karena saya santri dan Yai adalah panutan saya, terlebih yang saya ingin sampaikan ini butuh dalil, maka ijinkan saya mengingat masa lampau, para tokoh pendahulu pesantren.

Luar biasa, Yai. Ternyata pesantren memiliki tokoh besar yang dikenal sebagai pelopor sastra Melayu. Pastilah Yai paham siapa yang saya maksud. Atau Yai akan segera ingat setelah membaca sajak ini:

“Sidang Faqir empunya kata,
Tuhanmu Zahir terlalu nyata.
Jika sungguh engkau bermata,
lihatlah dirimu rata-rata”.[1]


Itulah petikan sajak Sidang Ahli Suluk karya Syekh Hamzah Fansuri. Menurut Kyai Zamakhsary Dhofier dalam buku Tradisi Pesantren, Syekh Hamzah Fansuri adalah salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh pusat pendidikan Islam (tradisional) pertama di Barus, Aceh, yang kemudian menjadi cikal-bakal pesantren sekarang ini.

Menderetkan nama-nama Kyai yang punya kesadaran bersastra di sini tentu akan sangat panjang. Sebutlah beberapa saja, seperti Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari dan putranya K. H Wahid Hasyim yang telah melahirkan banyak puisi berbahasa Arab, K.H Bisri Mustafa dan putranya K.H A.Mustafa Bisri yang juga telah menulis banyak nadzam dalam bahasa Arab maupun bahasa Indonesia, dan jangan lupakan juga Kyai Ahmad Qusyairi Siddiq dari Jember yang sudah mengarang kitab Fiqh berjudul Tanwir al-Hija dalam 312 sajak. Itu hanya beberapa saja, Yai. Sekadar menunjukkan bahwa ulama pesantren tidak memandang remeh sastra sebagai media dakwah mereka.

Yai tentu tak heran. Pesantren memang patut dibanggakan dan telah melahirkan banyak ulama besar, yang tidak hanya memiliki pengetahuan yang luas, tetapi juga kepribadian luhur. Pengetahuan para ulama diperoleh dari kegigihan mereka menimba ilmu dan takdzim mereka terhadap guru, sementara kepribadian dan karakter mereka bisa jadi karena pengaruh bacaan-bacaan yang penuh muatan sastra. Lalu keahlian mereka menuangkan gagasan dalam bentuk syair itu, dari mana mereka mendapatkannya? Kepekaan hati, selain juga kesadaran bahwa syair (sastra) merupakan pilihan yang sudah teruji efektif sebagai media dakwah islamiyah.

Saya percaya, Kyaiku yang sedang membaca surat ini memegang teguh visi pesantren: al-Muhafadhah‘alal qodimis shaleh wal-akhdu bil Jadidil ashlah. Ketika pendidikan untuk kaum perempuan masih tabu, Pesantren Den Anyar, Jombang tahun 1910 menjadi pesantren pertama yang membuka diri untuk santriwati. Itu bukti bahwa pesantren sanggup menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Tentu Yai juga punya niat untuk menggiatkan sastra di pesantren yang Yai asuh, sebagaimana juga sudah dilakukan di beberapa pesantren lain.

Zaman modern, Yai, bagaimanapun telah membawa manusia pada pola pikir praktis dan tak jarang menempatkan agama sebatas simbol dan ritual. Beragama di era digital ini lebih sering dimaknai hanya benar-salah, sebatas menggugurkan kewajiban, fiqh an sich—demikian istilah populernya. Situasi yang demikian ini membutuhkan penyegaran, juga media yang mampu menggerakan sisi dalam (penghayatan), sastra salah satunya.

Dan kenapa saya memilih mengirimkan surat ini kepada Yai dan bukan kepada Pusat Pembinaan Sastra dan Bahasa? Sebab di pesantren mana pun Kyai adalah sosok teladan sekaligus pengayom. Meski dalam tujuan membangkitkan sastra di pesantren, Kyai bisa saja hanya sebagai pengayom. Tapi Yai tentu ingin menjadi keduanya, uswah sekaligus pengayom, sebagaimana sudah banyak dicontohkan oleh para pendahulu.

Maka, barangkali setelah selesai membaca surat ini, Yai akan tergerak memanggil para pengurus, bermusyawarah dengan mereka tentang bagaimana menumbuhkan bakat dan minat sastra para santri, itu bagus sekali, Yai. Saya percaya dari musyawarah tersebut akan melahirkan gagasan-gagasan cemerlang. Mungkin akan diputuskan pentingnya membuat forum diskusi rutin yang khusus menyoal sastra, membentuk tim untuk menerbitkan majalah, mengadakan panggung sastra dalam di Akhirus Sanah, lomba menulis, mengundang sastrawan untuk membakar semangat, mengayakan buku sastra di perpustakan, dan lain sebagainya.

Sekali lagi, Yai adalah guru saya yang lebih memahami bagaimana kebijakan yang tepat untuk mendorong dan menggiatkan sastra pesantren. Saya tidak tahu apa-apa, dan mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan.

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


[1] Abdul Hadi WM, Hamzah Fansuri: Risalah Tasawuf dan Puisi-puisinya, Mizan, 1995, Hal. 121

--------------------
Tulisan ini dimuat dalam buku Revitalisasi Sastra Pesantren, Kumpulan Essai. Diterbitkan oleh Pesantren Mahasiswa An-Najah Purwokerto. 

Tentang Novel Kailasa dan Saya

Jusuf AN

Seorang teman menanyakan sesuatu yang cukup membuat saya terkejut. Tentang novel terakhir saya: Kailasa, kenapa berbeda dengan novel-novel saya sebelumnya? Sebenarnya saya ingin balik bertanya, apakah si Bung sudah baca semua novel saya. Tetapi saya sudah telanjur termangu, lalu menjawab sekenanya. “Entahlah.” Barulah setelah teman saya pulang, saya kembali terusik dengan pertanyaan itu. Sialan!

Ya, kenapa novel Kailasa berbeda dengan novel saya yang lain? Kenapa saya tidak penah terpikirkan pertanyaan itu sebelumnya?

Novel pertama saya berjudul Jehenna (2009), mengisahkan pengembaraan dan perjuangan seekor Jin menghasut manusia. Lalu Burung-burung Cahaya (2010), yang sebenarnya adalah sekuel Jehenna, mengisahkan para santri penghafal al-Qur’an. Tahun 2012 terbitlah Mimpi Rasul, yang kemudian disambung dengan Pedang Rasul tahun berikutnya. Kedua novel terakhir itu, diisi tokoh-tokoh orang kota dengan kisah cinta yang konyol sekaligus mengharukan, juga dialog-dialog religius.

Sampai di sini saya cukup mafhum di mana letak perbedaannya. Empat novel saya sebelum Kailasa memiliki tebal lebih dari 400 halaman, betebaran diksi islami, di dalamnya hidup manusia dan jin yang gelisah memikirkan hubungan mereka dengan Tuhan. Berbeda dengan Kailasa, anak kelima saya itu. Ia begitu tipis, tak lebih dari 200 halaman, dengan tema dan gaya bahasa yang berbeda dengan 4 kakaknya. Walau begitu, ia anak saya juga. Dan saya tidak perlu gumun. Bukankah kita sering tidak percaya dengan masa kanak-kanak? Demikian pula dengan tulisan-tulisan kita pada masa lampau.

Benih Kailasa sendiri sebetulnya sudah terkandung sejak cukup lama, sebelum kemudian saya besarkan dengan kata, hingga akhirnya sempurna mewujud jalinan cerita.

Kailasa: novel tentang pertanian, kehidupan para petani, dengan tokoh utama seorang sarjana pertanian, benar-benar telah membuat saya mesti memeras pikiran. Kuliah saya di Fakultas Syari’ah dan Pendidikan Islam, dan sudah bertahun-tahun saya tidak pernah lagi ke sawah-ladang. Bagaimana mungkin saya bisa menghidupkan kisah dan bahkan memberi ruh dalam Kailasa sedang saya sendiri, sebelumnya, nyaris buta dengan masalah yang saya tulis?

Di situlah menantangnya sebuah proses penciptaan karya. Bukan hanya membeberkan yang sudah kita tahu (pengalaman langsung), tetapi sekaligus memaksa kita menjelajah ke dalam, menyingkap detail-detail tersembunyi, untuk kemudian digodok, disaring, direnungi, diramu dan dibumbu.
Kailasa: Jejak Tanah Surga yang Terluka


Sains dan fiksi


Kita tahu, sains dan prosa fiksi sebenarnya sudah menjalin hubungan sejak lama, meski hubungan mereka jarang diketahui. Keduanya diam-diam saling memberi, mengisi, menginspirasi. Banyak penemuan-penemuan sains yang terinspirasi oleh fiksi, dan begitu pula sebaliknya: kemajuan sains dan teknologi bisa dijadikan sumber ide yang tak ada habisnya bagi penulis fiksi.

Novel Kailasa, tentu saja tidak murni fakta (bahkan Anda tidak akan pernah menemukan Desa Kailasa di Dieng sebagaimana tersebut dalam novel), tetapi juga tidak lahir dari imajinasi thok! Jika kemudian ditemukan diksi-diksi ilmiah, bahkan di akhir novel terdapat glosarium, bukan karena novel itu diterbitkan oleh Glosaria, dan penulisnya sok ilmiah!

Saya sendiri masih ragu menyebut Kailasa sebagai science fiction. Tetapi novel tersebut memang dibangun berdasarkan data dan fakta ilmiah, baik dari sisi sejarah maupun sains. Saya memang pernah membuat tulisan panjang tentang prosa fiksi sains (bisa anda lihat di fiksi-sains.blogspot.com), dan mungkin dari situlah saya tergerak untuk menulis novel dengan gaya soft science fiction. Entahlah, merunut jejak ide kadang lebih sulit ketimbang mencari sebuah jarum di tumpukan utang. hehe

Ada kisah lain, begini: suatu hari saya pernah ditikam oleh teman sekantor yang membeli novel saya: “Novelnya kok ada saru-nya. Hem, tadinya beli buat anak, tahu ada saru-nya akhirnya nggak jadi?”

Terus aku kudu piye?

Anda yang melek sastra mungkin akan membela saya dengan mengucap dalil: “Yang saru iku pikiranmu, Lek!” Ya, saya tidak pernah berniat nulis saru, tetapi begitulah tanggapan pembaca. Saya bisa apa?

Sejak awal, bahkan saya sudah menginginkan novel Kailasa nanti bisa dibaca oleh anak-anak sekolah, tetapi juga tetap enak dibaca oleh mahasiswa sastra. Tapi saya tidak ingin menulis cerita anak atau remaja, itu mungkin lebih sulit. Saya ingin menulis cerita dewasa dengan bahasa yang bisa dipahami orang awam sastra. Anda tahu, ini jauh lebih sulit ketimbang menulis sakkarepmu.

Akibat Faktor keterbacaan harus benar-benar saya perhatikan dan karenanya saya kehilangan keliaran berbahasa. Tak apa: saya menganggap ini bagian dari eksperimentasi juga, nyaris sama ketika saya menulis novel Jehenna.

Pada akhirnya, berkat Ramat Tuhan, Kailasa selesai juga. Tetapi ia mesti bersabar, karena menginjak usia tiga tahun ia baru keluar dari percetakan untuk kemudian berbincang dengan pembaca yang budiman. Tak apa. Sebagai orang tua saya cuma bisa mendoakan, semoga ia menjadi anak yang berbakti dan bermanfaat bagi pembaca.

Wonosobo, 7 Maret 2016

Tulisan ini disampaikan dalam acara Peluncuran dan Diskusi Novel Kailasa di Hall Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta (Kampus 2), 9 Maret 2016.

Jejak Kailasa

diskusi novel kailasa
panggung acara



bedah buku novel kailasa
setelah diskusi
novel kailasa
diskusi Kailasa di Wonosobo

launching novel kailasa
panggung diskusi Gramedia Fiesta


NOVEL KAILASA: JEJAK TANAH SURGA YANG TERLUKA

Judul: Kailasa, Jejak Tanah Surga yang Terluka
Penulis: Jusuf AN, Pengasuh Tintaguru.Com
Penerbit: Glosaria, Yogyakarta
Tahun Terbit: Februari 2016
Tebal: 176 halaman

Novel ini menceritakan lika-liku kondisi pertanian masyarakat Desa Kailasa, Dieng, Wonosobo. Mereka berusaha bangkit dari keterpurukan ekonomi dengan menanam kentang. Namun, kendati hasil panen jadi melimpah dan menguntungkan, kondisi tanah di daerah tersebut terancam rusak.

Yahya, seorang sarjana pertanian berusaha sekuat tenaga mengubah paradigma masyarakat Kailasa untuk mengganti pola tanam mereka. Yahya juga membujuk para petani untuk melirik potensi pariwisata, supaya lahan pertanian desa terselamatkan dari eksploitasi yang sudah keterlaluan.

novel kailasa


Baca juga: Proses Kreatif Penulisan Novel Kailasa

Berikut adalah beberapa petikan novel Kailasa


Selama puluhan tahun warga Desa Kailasa tak ada yang kelaparan, tak seorang pun. Sebab selain memanen jagung sembilan bulan sekali, mereka juga menanam ganyong dan talas yang bisa panen kapan saja. Tetapi mereka menyimpan cerita sedih ketika tentara Jepang datang merampas hasil panen mereka dan memaksa untuk menanam gandum— tanaman yang pada waktu itu masih asing bagi orang-orang Kailasa.

----

Dulu, sebelum memutuskan memilih Fakultas Pertanian, sama sekali Yahya tak mempertimbangkan soal peluang pekerjaan setelah wisuda. Bapak dan mboknya petani, ketiga kakaknya petani, semua penduduk Desa Kailasa petani meski ada beberapa yang punya pekerjaan lain, seperti tukang bangunan, guru, atau kepala desa. Bagi penduduk Kailasa seolah-olah hanya ada satu pekerjaan di dunia ini: Petani. Mungkin aku akan menjadi petani juga, pikirnya waktu itu. Tapi begitu dia mulai memperdalam ilmu Botani, Biokimia, Ekologi Pertanian, dan Ilmu Tanah, dan melihat kenyataan pola pertanian di desanya yang memedihkan perasaan, dia kemudian mengubah pikirannya: Ingin menyelamatkan alam sekaligus para petani Desa Kailasa! Keinginannya terkesan muluk-muluk, tetapi begitulah pemikiran seorang anak muda: Idealis!
---- 

Mereka menanam emas, sekaligus bom waktu, batin Yahya. Dia sudah belajar Ilmu Tanah dan Botani, tahu kalau tanah yang ditanami kentang terus menerus tanpa adanya penggantian tanaman lain lambat laun akan kehilangan kesuburan. Dan bukit-bukit yang dijadikan lahan pertanian itu, betapa sangat memprihatinkan. Erosi yang menyebabkan pendangkalan telaga tidak akan mungkin bisa dihindari dan longsor bisa terjadi kapan saja. Yahya juga sudah belajar Ilmu Kimia, dan sangat paham jika pestisida yang disemprotkan petani dua minggu sekali akan membahayakan kesehatan dan lingkungan, dan mengancam banyak satwa.

----

Desa Kailasa tidak juga berubah, kecuali jalan aspal yang mulai mengelupas, rumah-rumah yang catnya berganti, dan bangunan Masjid yang dindingnya sudah dilapisi keramik. Setiap pagi, para orang tua berangkat ke ladang bersama para buruh dan anak-anak mereka; mencangkul, menanam benih, menyiram, menyemprot pestisida, menyiangi rumput-rumput di sekitar guludan, dan memanen. Setelah kentang dipanen, mereka akan menjualnya kepada Wa Surip, dan beramai-ramai berangkat ke kota untuk memborong barang-barang baru. Mobil-mobil pribadi di Desa Kailasa semakin banyak, sementara bangunan Sekolah Dasar masih seperti dulu; catnya belum diganti dan plangnya tampak bertambah lapuk dimakan rayap.
---
Nenek moyang penduduk di pegunungan Dieng, termasuk Kailasa, konon berasal dari India, Arab, Champa, dan Mataram. Ada anggapan, orang-orang bermigrasi dari daerah rendah menuju pegunungan Dieng dikarenakan Kerajaan Mataram pada masa itu menetapkan berbagai kerja wajib dan pajak yang memberatkan rakyat. Tetapi ada pula yang menganggap bahwa migrasi para penduduk di daerah rendah menuju pegunungan diakibatkan oleh penjajahan Belanda yang sangat menyengsarakan. Orang-orang mencari tempat yang lebih tenteram dan aman, dan pegunungan adalah pilihan yang tepat. Selain tanahnya subur, daerah pegunungan lebih sulit dijangkau. Meski kemudian, setelah Belanda kalah, tentara Jepang menyebar, berbuat onar ke desa-desa, hingga sampai ke pelosok Kailasa.

----

Tidak seperti sebelum wereng datang menyerang, para petani lebih hati-hati (atau justru ceroboh) dalam merawat tanaman mereka. Jika dulu mereka hanya menyemprot obat-obatan dua minggu sekali, maka sekarang, seturut saran Changyi, menjadi dua kali dalam seminggu. Mereka tidak peduli modal besar yang dikeluarkan. Yang penting wereng tidak menyerang dan mereka dapat panen dengan hasil memuaskan. Dan musim kemarau yang benar-benar telah tiba, membuat mereka juga harus menyalakan disel, menyedot air Telaga Cebong guna menyirami kentang yang belum lama ditanam.

----

----

Dapatkan novel ini dengan harga Rp. 35.0000,- (Belum termasuk ongkos kirim)

Pemesanan, Hubungi saya: 085230373555 (SMS/Telp/WA)

Format Pesan: Novel Kailasa_Nama_Alamat



Review Karapan Laut: Membaca Kematian dalam Cerpen-cerpen Mahwi

Jusuf AN*)

Entahlah, saya sendiri tidak tahu kenapa cerpen-cerpen saya selalu dipenuhi dengan aroma kematian. Begitulah kurang lebih pengakuan Mahwi Air Tawar kepada saya, suatu ketika.

Saya kira tidak ada yang kebetulan, tidak ada yang lahir dari ruang hampa. Cerpen dan karya sastra lainnya, kita tahu, bukan saja merupakan pandangan penulis tentang dunia, tetapi juga buah perenuangan penulis atas dirinya, alam, dan lingkungannya. Mungkin Mahwi sebenarnya tidak ingin tokoh-tokoh dalam cerpennya mengalami kematian, tetapi alam bawah sadarnya telah menggerakkan cerita menuju ke arah itu, dan Mahwi tidak berdaya.

Karapan Laut, buku yang merangkum 12 cerpen mutakhir Mahwi Air Tawar hampir semuanya dipenuhi dengan bau kematian. Suatu malam, di atas kasur, menjelang tidur, saya memutuskan untuk tidak meneruskan membaca cerpen Anak-anak Laut. Bukan karena mengantuk, tetapi disebabkan kengerian yang dibangun cerpenis Madura ini seolah benar-benar hadir di depan mata. Saya takut mimpi buruk. Saya tidak tahan dengan debar jantung saya sendiri melihat anak kecil berenang di lautan yang ganas pada malam hari. Saya berhenti. Saya kalah.

Tapi pada akhirnya saya tergoda juga untuk meneruskan membaca cerpen itu, juga cerpen-cerpen lainnya. Sesekali saya bergumam, hebat benar kawan satu ini, pastilah cerpen-cerpennya tidak ditulis dalam semalam. Pastilah ia sudah memelototi cerpen-cerpennya lebih dari lima kali. Dan, ya, saya baru ngeh sekarang, kenapa Mahwi sering pulang dari Jogja ke Madura. Tentu, selain melebur rindu, juga dalam rangka proses pengentalan cerita-cerita yang sedang ia garap.

Mahwi yang lahir di Pesisir Sumenep, pastilah memang sudah sangat akrab dengan Madura dan alam pikir rang-orangnya. Tapi, percayalah, memetik kisah-kisah yang dianggap layak untuk cerpen, mengungkapkan gaya hidup dan gambaran alam dengan kata-kata, bukan sesuatu yang remeh sama sekali. Dan karenanya saya angkat topi kepada ayah Are Timur Daya ini.

Saya tahu, saya ketinggalan jauh dengan Mahwi. Dan saya juga terlambat karena baru menulis tentang Karapan Laut setelah buku terbitan Komodo Book itu lahir awal 2014. Tapi tidak apa-apa. Tidak apa-apa pula Mahwi menggunakan nama tokoh-tokoh yang unik seperti Tarebung, Durakkap, dan Markoya. Kadang saya membatin, kenapa tidak pakai nama Achmad, Mukhlis, atau Amrin, misalnya. Bukankah Achmad Mukhlis Amrin adalah orang Madura juga. hehe… Saya percaya, nama-nama tokoh dalam prosa fiksi memiliki makna sendiri, selain mungkin sebagai metafora. Dan saya kira Mahwi tidak sedang epigon dengan para pendahulunya, seperti AS Laksana dengan Seto-nya, dan Seno senang dengan Alit-nya. 
review karapan laut


Kembali kepada soal kematian. Penyebab kematian di seluruh dunia pada dasarnya hanya satu: jantungnya berhenti berdegub. Kadang-kadang Mahwi menyembunyikan kematian tokoh-tokoh cerpennya. Ini bisa dilihat dalam cerpen Janji Laut, Wasiat Api, Bajing, Ujung Laut Perahu Kalianget. Ending yang terbuka memberikan kebebasan bagi pembaca untuk menentukan bagaimana tokoh-tokoh cerpen kita (mungkin) pada akhirnya akan mati.

Keputusan Mahwi mengangkat lokalitas etnik Madura adalah hal yang tepat sekaligus berani. Soal ini pernah saya singgung dalam tulisan Cerita-cerita yang Menelanjangi Madura. Mungkin Mahwi merasa tidak ada yang perlu ditutup-tutupi dari Madura. Tentang mantra-mantra gaib, senok di pelabuhan, bajing, blater, adu caruk, dll. Bahwa cerita-cerita yang Mahwi tulis mungkin hanyalah fiksi, tapi ia bukan omong kosong, sehingga Madura dapat sedikit terdedah melalui cerita-ceritanya. Meski begitu, saya percaya Mahwi menulis bukan dalam rangka menebalkan citra miring atas Madura, melainkan untuk mengenalkan khasanah lokal, selain mengajak pembaca untuk memunguti hikmah dari setiap peristiwa.

Ya, cerita-cerita kematian dibuat bukan untuk menakut-nakuti (meski pembaca akan merinding). Lebih dari itu ia mengajak kita untuk lebih mensyukuri hidup dan kehidupan, dan tidak gegabah dalam menghadapi setiap persoalan.

*) Jusuf AN, pengagum Mahwi, tinggal di Wonosobo

Hari Baik

Cerpen Jusuf AN

Entah kenapa, ia merasa kalau hari ini akan menjadi hari paling baik di antara ribuan hari baik yang sudah ia lewati selama 30 tahun lebih. Ia sendiri tak tahu kenapa tiba-tiba pikiran semacam itu melintas di benaknya di saat ia tengah mengayuh sepeda menuju tempat kerja. Pikiran itu menguasai sebagian besar bagian otaknya, membuatnya tidak konsentrasi dan beberapa kali dimaki-maki klakson truk dan bus antar kota.

Ia bekerja di sebuah madrasah tsanawiyah yang cukup megah. Tentu ia bukan guru, begitu kita akan menebak ketika melihat penampilannya yang berjaket lusuh, celana komprang dan sandal jepit. Dan memang tebakan kita benar. Ia memang pernah berkeinginan menjadi guru, namun tak pernah terwujud. Tapi ia cukup bahagia setelah lulus sekolah menengah dan beberapa tahun menganggur kemudian ada seseorang menawarinya bekerja di sebuah sekolah negeri. “Kerjamu cuma buat minum untuk guru-guru, bersih-bersih lingkungan sekolah dan menjaga keamanan, tapi kamu tetap punya peluang diangkat menjadi pegawai negeri,” terang seseorang menawarkan. Sungguh, ia bahagia bukan lantaran masa depannya cukup menjanjikan. Ia menerima pekerjaan itu dikarenakan akan lebih dekat dengan aroma orang-orang mencari ilmu dan harum pengabdian para guru.

Ia menyukai pekerjaannya dan kerenanya ia betah. Sudah hampir 15 tahun ia bekerja di sekolahan itu dengan gaji yang meski sedikit, tapi (gaib) selalu cukup untuk menghidupi istri dan seorang anak.

Sebentar lagi lelaki berkulit coklat matang itu tiba di tempat kerjanya. Kepalanya masih rusuh. Apakah kabar baik akan aku terima hari ini? Adakah surat pengangkatanku sebagai CPNS akan turun? Ah, sepertinya tidak mungkin, ratusan guru bantu yang sudah bekerja lebih dari 20 tahun saja masih banyak yang belum turun, mana mungkin pemerintah memikirkan nasib seorang tukang kebersihan? Ya, tapi mungkin saja. Tidak ada yang tak mungkin bagi Tuhan, tampiknya sendiri. Ia pun mengayuh sepedanya lebih kencang, hampir-hampir membuat topi lusuhnya terbang disambang angin bergelombang.

Selalu ia menjadi orang pertama yang tiba di sekolahan itu. Gerbang sekolah ia buka. Sepedanya ia tuntun, disenderkannya di dinding. Ia rogoh saku celana, lalu mulai membuka kunci pintu ruang guru, ruang TU, ruang-ruang kelas, dan terakhir ia menuju dapur. Ia masak air dengan panci jumbo, menyiapkan gelas-gelas besar, membaca denah meja-meja ruang guru dan menyiapkan gelas mana yang mesti ia buat teh dan mana yang yang harus ia tuang air putih. Ia sudah melakukan pekerjaan itu selama lebih dari lima belas tahun dan sudah belajar banyak dari kesalahan-kesalahan, semisal menuangkan gula pada semua gelas atau memasak air terlalu sedikit. Pikiran tentang hari baik di kepalanya kini agak mengendur, tetapi cukup mengusik otaknya, membuatnya lupa berapa gelas yang mesti ia kasih gula, memaksanya melihat lagi denah meja ruang guru untuk memastikannya.

Beberapa hari lalu, ia memang mendengar kalau surat pengangkatan sebagai pegawai negeri akan turun bulan ini. Teringat itu ia menggeleng-gelengkan kepala, sambil tersenyum menertawakan pikirannya sendiri.

Detik melangkah cepat. Air di panci telah mendidih. Satu dua guru masuk ke dapur, membuat kopi dan teh sendiri, lalu dibawa ke ruang sebelah. Begitulah kebiasaan di sekolah itu. Sebelum bel masuk menjerit, sebagian guru akan masuk ke dapur, membuat minuman hangat, lalu di bawa ke ruang sebelah, duduk-duduk menyalakan rokok, membuka obrolan tentang apa saja, terutama tentang isu yang hangat.

Ia tengah menuang air yang baru mendidih ke dalam tremos dan mendengar guru-guru di sebelah dapur membincangkan isu tentang SK guru-guru bantu yang akan turun bulan ini. Ia yang takut kalau konsentrasinya pecah lalu air panas yang tengah ia tuang tumpah, memutuskan berhenti sejenak, mendengarkan obrolan mereka. Ia bergidik mendengar makian-makian para guru pada pemerintah, tentang gaji mereka yang rendah, dan rencana mereka menggelar aksi demonstrasi. Sampai di situ, ia kembali meneruskan kerjanya.

Sampai dzuhur ia belum menemukan sesuatu yang istimewa kecuali nikmat napasnya yang masih berembusan lewat hidung, keringat yang masih menetes, dan kerongkongan yang kembali segar ketika diguyur air putih.

Tapi ia seolah masih menunggu apa yang tadi terbersit di hatinya itu. Sempat terpikirkan olehnya untuk membongkar koran-koran yang tertumpuk di pojok ruang dapur lalu mencari kolom zodiak yang tersedia di koran Minggu. Ia ingin tahu apakah peruntungannya sesuai dengan firasat hatinya. Tapi ia buru-buru urungkan niatnya. Ia tak ingin melukai keimanannya. Ia ingin membiarkan takdir tetap gaib sebagaimana sifatnya.

Ia pulang ketika sekolah itu benar-benar sepi. Dengan perasaan yang sepi pula ia kayuh sepedanya di jalan raya yang ramai. Ia masih menduga-duga, apakah hal baik yang akan ia terima hari ini. Adakah saudaranya yang kabarnya sudah menjadi juragan di kota akan datang kemudian memberikan modal untuk istrinya membuka usaha warung kelontong. Apakah dana bantuan dari pemerintah untuk merehab rumahnya akan ia terima? Ataukah apa?

Baru kali ini ia berpikir sebegitu mendalam tentang sebuah firasat. Firasat yang ia sendiri tak tahu kenapa mendadak meledak di dadanya pada pagi-pagi di jalan raya. Firasat yang entah kenapa begitu kuat bertahan mencengkram batok kepalanya.

Setiba di rumah, ia langsung masuk dan mencari istrinya. Jika biasanya ia meminta segelas air putih, kali ini ia meminta jawaban, “Apakah Kang Darwito pulang dari Jakarta?” Istrinya menggeleng. “Apakah tadi ada petugas dari kelurahan yang datang?”

Istrinya menggeleng lagi, ganti bertanya, “Memangnya ada apa?”

Ia tidak menjawab, tapi meminta diambilkan air putih untuk mengganti keringat yang tumpah dari tubuhnya, mendinginakan perasaannya.

***

Ia berdiam di masjid sejak maghrib hingga isya turun, kebiasaan yang tidak disukai istrinya tetapi tetap ia pertahankan. Pulang dari masjid, ia sudah cukup terbebas dari firasat akan datangnya hal baik pada hari ini. Ia melangkah tenang, menikmati setiap ayunan kaki menjejak ke tanah. Membuka pintu rumah, ia mesti mengendap-endap mencari saklar lampu ruang depan. Membuka tutup saji di meja makan, ia tak menemukan apa-apa selain sepiring nasi dingin dan mie instan yang masih dalam kemasan. Ia berjalan membuka gorden pintu kamar, melongok, mendapati istri dan anaknya yang berusia tiga tahun sudah tidur. Segera ia menuju dapur, menyalakan kompor minyak tanah, memasak mie sembari mendinginkan hati, menebalkan kesabaran tentang sikap sang istri.

Di saat lidahnya mulai menari memainkan nasi campur mie, kepalanya kembali melayang, teringat akan firasatnya tadi pagi. Tapi ia tak ingin terus-terusan memikirkannya dan segera mengucap istighfar. Duduk sebentar di kursi ruang depan, ia langsung menuju kamar, mencium istri dan anaknya, lalu rebah di sisi mereka. Ia mesti tidur lebih awal karena tengah malam nanti ia mesti pergi ke sekolah untuk memastikan keadaan sekolah aman.

Dengan bismillah, ia melebur lelah di ranjang yang reot, lalu bangkit ketika mendengar bunyi tiang listrik di tabuh peronda. Dengan sarung dibalutkan di leher dan kepala mengenakan peci hitam ia kayuh sepeda menembusi dinding-dinding kabut melawan dingin yang meruncing menusuk-nusuk dadanya. Mendadak, seperti pagi tadi ketika ia berangkat kerja, ada yang meledak dalam dadanya, sebuah firasat tentang hari baik seperti yang tadi pagi ia terima, tapi kali ini lebih dahsyat, menebalkan keyakinannya, bahwa akan ada hal baik akan ia terima dalam waktu dekat. Ia kayuh sepedanya lebih cepat, meski tak dapat menandingi kecepatan laju truk tronton dan bus antar propinsi. Ia yakin kalau di depan sana, sesuatu yang terbersit dalam batinya itu seakan sudah menunggunya.

***
cerpen hari baik


Ketika matahari baru naik satu tombak seorang pegawai TU mendatangi rumahnya karena gerbang sekolah masih terkunci. Jelang siang lelaki pegawai kebersihan itu ditemukan tak bernyawa di mushala kecil di ruang guru dengan tasbih tergenggam di tangan serta peci hitam tergeletak di sisinya. Wajahnya nampak seperti seorang yang baru mendapat kabar gembira.

Wonosobo, 2009
Bengkel Sastra: Tema dan Bahasa Cerpen

Bengkel Sastra: Tema dan Bahasa Cerpen

Tema cerpen diibaratkan sebagai sebuah fondasi yang mendasari sebuah cerita secara keseluruhan. Saya kira itu ungkapan yang sulit dipahami. Tetapi ketika kita mengartikan tema sebagai sebuah ide pokok yang dijadikan sebagai sumber cerita barulah kita bisa cukup mengerti. Tanpa sebuah ide atau gagasan pokok, sebuah cerpen bisa jadi tampak seperti rumah yang bangunannya kurang rapi dan bahkan sulit dikenali sebagai sebuah rumah.

Fondasi rumah pada umumnya, kita tahu, tidak hanya terdiri dari batu saja, tetapi juga memerlukan semen, air, dan pasir. Demikian pula sebuah cerpen seringkali memuat beberapa tema sekaligus, meski ada salah satunya yang mendominasi. Anggaplah tema utama cerpen kita adalah kerusakan alam, di dalamnya bisa saja memuat tema ketuhanan, moral, sosial, dan eroik sekaligus.

Sebaiknya, ketika kita mulai menulis, tidaklah perlu memusingkan tema mana yang akan lebih ditonjolkan. Alangkah lebih baik jika kerja kita fokuskan pada hal lain, semisal penggarapan alur, latar, konflik, dan penguatan karakter pada tokoh cerita. Jenis-jenis tema tersebut akan muncul dengan sendirinya, dan kita tidak perlu memaksakan jenis tema apa yang harus mendominasi.

Selain menurut pokok pembicaraannya, tema juga bisa diklasifikasikan berdasar ketradisiannya. Di sini kita mengenal tema tradisional dan tema nontradisional. Cerpen dengan tema tradisional banyak kita jumpai pada cerpen-cerpen yang menyuguhkan karakter antagonis dan protagonis, dan biasanya di akhir cerita dimenangkan oleh protagonis. Tidak hanya itu, bisa saja tidak terdapat tokoh antagonis, melainkan hanya protagonis. Tetapi sang tokoh tersebut dihadapkan pada berbagai konflik dan pada akhirnya dapat mengatasi semuanya dengan indah. Meski terkesan biasa, tetapi kalau kita pintar meramu tema ini, maka akan menjadi cerita yang bagus, dan mengandung pesan moral yang kuat. Namun, jika kita tidak hati-hati, ending cerita dapat mudah ditebak dan pembaca tidak mendapatkan surprise sama sekali.

Kebalikannya, tema nontradisional (yang di era sekarang sudah banyak bermunculan) menawarkan sesuatu di luar kewajaran cerita fiksi. Jika biasanya tokoh dengan karakter protagonis mengalami nasib baik di akhir cerita, pengarang justru membuatnya terjungkal. Perjuangan cinta yang berakhir dengan kegagalan, kemalangan seorang guru yang jujur, perjuangan setan yang berhasil menghasut manusia dan kisah-kisah yang berakhir tragis lainnya adalah contoh tema nontradisional. Tentu saja penulis cerpen tidak sedang bermaksud membela yang jahat, tetapi karena kehendak cerita. Pembaca, meski mungkin agak kesal karena tokoh idolanya kalah, tetapi tetap dapat mengambil hikmah dari cerpen beretema nontradisional dari sisi-sisi yang lain.

Bahasa yang Menghipnotis Pembaca

Bahasa adalah alat utama yang digunakan penulis untuk menyampaikan pesan kepada pembaca. Sampai atau tidaknya pesan, secara eksplisit atau implisit, ditentukan oleh bagaimana penulis menggunakan bahasa.

Kita betah menghabiskan waktu tiga hari tiga malam membaca Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yang tebal misalnya, itu karena Ahmad Tohari berhasil menggunakan perangkat bahasa yag menghipnotis pembaca. Sebaliknya, kita keok oleh cerpen satu halaman dan memilih untuk membaca cerpen yang lain disebabkan karena penggunaan bahasa dalam cerpen tersebut tidak menarik.

Dalam cerpen, bisa saja penulis menggunakan bahasa yang puitis, tetapi juga harus proporsional. Retorika dan kiasan bisa kita gunakan sebagai gaya bahasa untuk menciptakan keindahan tetapi bukan sesuatu yang mutlak, terlebih lagi jika gaya bahasa yang digunakan klise. Bahasa klise tidak memperindah jalinan cerita, melainkan sebaliknya.

Burung-burung berkicau merdu seakan-akan menyambut datangnya pagi.

Apa yang anda pikirkan dengan kalimat tersebut? Membosankan sekali. Itulah klise. Agar terhindari dari bahasa klise seorang penulis membutuhkan latihan yang tidak cukup dilakukan semalam. Selain, tentu, banyak membaca. Dengan membaca, otomatis akan memperkaya kosa kata, juga mengasah imajinasi dan mengenali gaya bahasa penulis lain.

Cerpen berbeda dengan novel yang memungkinkan penulisnya bereksplorasi lebih panjang dan bebas. Jadi, penggunaaan kata dalam cerpen haruslah seirit mungkin. Kalau memang tidak perlu, buang. Kalau cukup satu atau dua kata, tidak usahlah dipanjang-panjangkan. Intinya, tidak berbelit-belit. Untuk itu, pengulangan kalimat dengan maksud yang sama sebaiknya dihindari.

Penyampaian cerpen menggunakan bahasa sederhana yang pas masih lebih mengena ketimbang menggunakan bahasa yang ndakik-ndakik, mengejar rima, penuh metafora, tetapi justru mengaburkan cerita. Meski begitu, bukan berarti kita tidak perlu bereksplorasi dan melakukan eksperimentasi gaya bahasa.

PENUTUP

Apapun yang anda baca, pelatihan seperti apapun yang anda ikuti, jika tidak ada upaya untuk mengaplikasikannya tentu tidak akan berarti apa-apa. Terlebih lagi dalam proses kreatif penciptaan karya sastra, teori saja tidak cukup. Kita butuh ketekunan dan kerja keras.
Bengkel Sastra: Latar Cerpen

Bengkel Sastra: Latar Cerpen

Latar tidak sebatas pada tempat kejadian perkara (TKP) cerita. Selain latar tempat, kita mengenal juga latar waktu dan latar sosial (suasana/budaya). Memang, biasanya penulis lebih memfokuskan pada latar tempat, tapi bukan berarti melupakan latar waktu dan sosial. Ketika melukiskan sebuah kota, tanpa memasukkan unsur-unsur sosial, maka pembaca kurang bisa merasakan suasana yang dibangun penulis. Jadi ketiga latar tersebut mesti diperhatikan, meski salah satu di antara ketiganya bisa jadi lebih menonjol (detail).

Mendetailkan latar tempat sangat tepat untuk cerpen-cerpen yang fokus pada persoalan tempat. Misalkan saja kita menulis cerpen tentang kerusakan alam di dieng, maka penggambaran alam dieng bisa kita detailkan, sementara latar waktu dan sosial bisa selintas saja.

Kegagalan membangun latar yang baik sama artinya dengan kegagalan cerpen itu sendiri. Sebab dengan latar yang baik sebuah cerpen menjadi semakin kuat, pembaca seakan benar-benar dibawa ke dunia lain yang seolah-olah nyata.

Pelukisan latar membutuhkan imajinasi, apalagi ketika anda bermaksud menceritakan tempat yang belum pernah anda kunjungi secara langsung. Tidak apa-apa anda menulis cerpen dengan setting pesawat terbang sementara anda sendiri belum pernah menaikinya, tetapi anda harus berhati-hati. Kalau anda menulis tokoh yang bercakap-cakap lewat telepon di atas pesawat terbang jelas itu tidak masuk akal. Demikian pula ketika anda menggambarkan tokoh anda membuka kaca jendela saat pesawat sedang terbang, tentu saja itu tidak lucu sama sekali.

Untuk membuat latar yang kuat tentu dibutuhkan observasi dan kepekaan dalam memilih detail. Sama-sama latarnya laut, tetapi sudut pandang dan cara penggambaran yang berbeda bisa membuat kualitas latar yang berbeda.

Kecenderungan penulis pemula adalah menjadikan latar sebagai tempelan semata. Apabila orang menulis dengan setting dieng, tetapi percakapan dan kebiasaan tokoh-tokohnya tidak punya keunikan yang khas, maka itu pertanda bahwa setting Dieng hanya sebagai tempelan. Demikian pula saat orang menulis dialog dengan gaya bahasa seorang intelek, tetapi ternyata tokoh-tokohnya adalah orang kecil, maka latar sosial menjadi mentah. Dan apabila anda menceritakan cerita yang kejadiannya adalah 500 tahun yang lalu, dengan menggunakan setting kontemporer maka itu juga akan membingungkan pembaca.

Cerpen yang mengangkat lokalitas memang menarik, tetapi jangan sampai kita terjebak dengan menjadikan latar sebagai tempelan belaka. Cara menguji apakah latar yang kita buat sudah menyatu dengan cerita atau hanya sebatas tempelan atau pelengkap saja bisa ditempuh dengan beberapa cara. Misal, coba pindahkan setting anda ke lain tempat. Apakah dengan perubahan tempat membuat cerita anda menjadi terasa aneh dan tidak masuk akal, atau sama saja. Demikian pula kalau misal latar waktunya diganti, apakah cerita anda akan tetap berjalan atau tidak.

Tulisan sebelumnya:

Bengkel Sastra: Tema Dan Bahasa Cerpen
Bengkel Sastra: Alur dan Pengaluran Cerpen

Bengkel Sastra: Alur dan Pengaluran Cerpen

Pengetahuan tentang alur cukup penting bagi penulis, meskipun ketika proses penciptaan karya itu dimulai, segala teori tentang alur dan pengaluran tidak begitu diperlukan. Barangkali teori tentang alur lebih sering dipakai oleh kritikus, atau orang yang hendak mengkaji sebuah karya. Bagi penulis cerpen sendiri, tidak perlu njlimet untuk menghafal dan memikirkan macam-macam alur, yang penting adalah tahu kaidah-kaidah alur dan bagaimana membuat alur cerita yang baik.

Kita tahu, secara sederhana alur dapat diartikan dengan rangkaian peristiwa yang terjadi dalam sebuah cerita. Biasanya, sebuah cerpen memiliki beberapa peristiwa, yang satu dengan lainnya kait-mengait dan menjalin ikatan yang utuh, itulah alur. Oleh para ahli telah disampaikan kaidah-kaidah alur dalam prosa fiksi, yang meliputi: kemasukakalan (plausibilitas), rasa ingin tahu (suspense), kejutan (suprise), dan kepaduan (unity).

Plausibilitas. Sebuah cerpen haruslah masuk akal (logis) berdasar pada rangkaian peristiwa yang terdapat dalam cerita. Kalau anda menulis cerita tentang perempuan yang berubah menjadi seekor kupu-kupu di dunia nyata mungkin itu tidak pernah ada. Tetapi dalam cerita fiksi, cerita tersebut dapat masuk akal setelah dijelaslan sebab-sebabnya. Anda tidak bisa mengatakan bahwa perempuan itu berubah menjadi seekor kupu-kupu karena kebetulan. Pembaca akan segera meninggalkan cerpen anda.

Suspense. Dengan membangun ketegangan sebuah cerita sebenarnya penulis sedang mengajak pembaca untuk membaca cerita sampai akhir. Tanpa menyuntikkan rasa ingin tahu pada pembaca sebuah cerpen satu halaman sekalipun akan terasa membosankan. Jadi buatlah pembaca penasaran sejak awal cerita. Anda tidak perlu terburu-buru untuk mengakhiri rasa penasaran pembaca dengan menguak misteri pertanyaan-pertanyaan yang anda beberkan di muka. Kenikmatan membaca cerpen adalah ketika sedang menaiki tangga dramatik, anda harus menyadari itu.

Ada banyak cerpen yang bisa anda jadikan contoh bagaimana sang penulis membangun tangga dramatik. Mungkin anda perlu membacanya lebih dari satu kali untuk mempelajari bagaimana penulis membangun rasa penasaran di benak pembaca, dan bagaimana cara penulis menyelesaikan konflik cerita.

Suprise. Ketika anda berusaha menyuntikkan rasa ingin tahu, dan mulai membangun tangga dramatik, pembaca akan mulai menduga-duga bagaimana kisah anda selanjutnya. Anda harus menyadari benar hal itu, sehingga ketika anda mulai merangkai cerita, anda mulai memperhitungkan bagaimana penyelesaian konfliknya. Buatlah pembaca anda terkejut dengan ending cerita anda. Untuk itu pemilihan ending bisa anda tunda atau pikirkan kembali. Bacalah kembali cerpen anda, dan posisikan diri anda sebagai pembaca (bukan penulis). Tanyakan: apakah jalan ceritanya dan endingnya dapat ditebak? Jika iya, tidak ada salahnya anda merevisi cerpen tersebut.

Unity. Antara peristiwa satu dengan peristiwa yang lain mesti memiliki hubungan yang erat. Meski begitu, di dalam cerpen, tidak semua peristiwa harus dibeberkan. Dalam proses pengeditan, di saat anda membaca lagi dan lagi cerpen anda, perhatikan apakah ada alur yang mubadzir. Cara mengetahuinya adalah dengan menanyakan apakan dengan alur itu cerita menjadi lebih kuat, dan jika alur tersebut dihilangkan apakah dapat membuat cerpen menjadi kehilangan keutuhannya? Meski anda sudah bersusah payah membuatnya, tapi anda tidak perlu ragu-ragu untuk menghapusnya, jika memang dirasa perlu.

Beberapa saran pengaluran

1. Buatlah draft cerita, mulai dari pembukaan, konflik, penyelesaian konflik, sampai ending. Jika anda sudah menemukan endingnya itu sangat bagus, karena anda tinggal memikirkan pembukaan ceritanya, dan bawalah cerita tersebut pada ending yang anda siapkan. Ini seperti ketika anda melakukan perjalanan dan anda sudah tahu kemana tujuan perjalanan anda.

2. Bisa saja anda tidak perlu membuat draft, siapkan saja karakter untuk tokoh-tokoh anda, plot dapat muncul dengan sendirinya.

3. Jika anda kesulitan membuat pengaluran yang baik, anda bisa mengambil satu cerpen yang ada sukai dan memenuhi kaidah-kaidah alur sebagaimana di atas. Ambillah alurnya, tirulah. Iya, anda memang mencuri, tetapi ini sah dalam proses kreatif penciptaan cerpen.

baca tulisan sebelumnya:
Bengkel Sastra: Teknik Mengembangkan Ide Menulis Cerpen
tulisan kelanjutannya:
Bengkel Sastra: Latar Cerpen
Bengkel Sastra: Teknik Mengembangkan Ide Menulis Cerpen

Bengkel Sastra: Teknik Mengembangkan Ide Menulis Cerpen

Ketika anda sudah memiliki ide, itu artinya anda sudah menyelesaikan satu langkah tahapan persiapan menulis. Adakalanya ide yang anda miliki masih belum jelas arahnya. Anda perlu mengendapkan ide tersebut untuk beberapa waktu. Merenungkannya lagi dengan cara melempar beberapa pertanyaan.

Misalkan anda punya ide cerita: Perempuan yang pandai meramal. Lemparkanlah pertanyaan, apa saja bukti-bukti bahwa perempuan tersebut pandai meramal? Siapa saja yang sudah diramal dan dalam rangka apa? Dari mana perempuan tersebut mendapatkan ilmu ramal? Mungkin saja ramalannya benar karena kebetulan?

Mengendapkan ide bisa memakan waktu yang lama, tapi anda tidak boleh menyia-nyiakan waktu anda begitu saja. Anda perlu membaca cerpen-cerpen karya orang lain, yang dari sana, selain mengasah imajinasi, kemungkinan besar anda akan mendapatkan banyak inspirasi untuk mengembangkan ide anda.

Membaca buku non fiksi juga penting. Bisa juga melakukan pendalaman tentang ide yang hendak anda tuliskan dengan wawancara, atau observasi. Kalau anda ingin menulis tentang kehidupan petani di Dieng sementara anda tidak memiki referensi tentang itu, lalu apa yang akan anda tulis? Jika anda ingin menulis tentang kuburan yang dijadikan tempat judi, mungkin anda perlu tahu seluk belum perjudian, psikologi orang judi, dan kuburan-kuburan yang nyaman dijadikan tempat berjudi. Dengan begitu, selain ide anda akan berkembang, cerpen anda nantinya juga akan berbobot.

Menceritakan Ide Kepada Orang Lain

Cara lain untuk mengembangkan ide cerpen adalah dengan menceritakan ide anda kepada teman anda. Katakanlah pada teman anda bahwa anda memiliki ide cerpen. Kisahkanlah ide anda, dan seperti apa cerpen yang akan anda tulis. Dengan mengeluarkan ide anda, dan bagaimana cerita anda nantinya berjalan, secara tidak sadar anda sudah memulai cerita anda, namun masih dalam bentuk ucapan.

Tidak hanya itu, teman anda yang baik hati bisa jadi juga akan menanyakan macam-macam pada anda, terkait dengan jalannya cerita. Dan anda harus bisa menjawabnya. Kalau perlu minta saran, mintalah. Anda akan mendapat stok jika cerita anda buntu.

Tapi, kalau anda takut ide anda dicuri karena teman anda karena teman anda adalah penulis juga, maka simpan saja ide tersebut untuk anda sendiri. Ceritakan ide tersebut di buku diary juga bisa. Kalau perlu membuat outline, buatlah, meskipun outline jangan sampai membani imajinasi anda ketika mulai menulis cerpen.

Mulai Memikirkan Konflik

Anda bisa mulai membuat daftar konflik untuk cerita anda. Cerita pendek biasanya hanya berkutat pada satu konflik yang dominan. Misalkan, anda bermaksud menceritakan sebuah keluarga dengan suami seorang penyair. Anda tahu dalam sebuah keluarga tentu ada banyak masalah. Pilihlah yang paling anda kuasi. Misal dari sisi ekonomi dimana sang suami tidak punya penghasilan tetap sehingga membuat istrinya sering menangis. Mungkin dari sisi istri yang kerap cemburu melihat suaminya asyik bergulat dengan kata. Dan lain sebagainya.

Tuliskan Paragraf Pertama Anda

Demikianlah, kadang-kadang kita tidak butuh outline, tidak perlu menceritakan kepada siapapun ide kita, tidak perlu memikirkan konflik cerita. Yang kita butuhkan adalah action; mulai menulis. Paragraf pertama yang anda tulis akan membuka kalimat-kalimat berikutnya. Secara otomatis konflik-konflik akan muncul, dan menagih untuk diselesaikan, lalu sampailah anda menuliskan ending.

Ketakutan memulai menulis cerita karena anda belum tahu seperti apa konfliknya, bagaimana watak tokoh-tokoh rekaan anda, dan lain-lainnya, kerap membuat orang memutuskan untuk tidak melanjutkan ide yang sudah didapat. Memberanikan diri untuk mulai menulis paragraf awal saya kira bisa menjadi pilihan. Apapun hasilnya, sekali lagi, akan lebih bagus ketimbang anda tidak berbuat apa-apa.

Baca tulisan sebelumnya:
PENCIPTAAN CERPEN: MENGUNGKAP PENGALAMAN DAN BEBERAPA SARAN

Tulisan kelanjutannya:
Bengkel Sastra: Alur Dan Pengaluran Cerpen

PENCIPTAAN CERPEN: MENGUNGKAP PENGALAMAN DAN BEBERAPA SARAN

Oleh Jusuf AN

Tulisan ini disampaikan dalam kegiatan Bengkel Sastra, Penciptaan Cerpen. Diselenggarakan Balai Bahasa Jateng bekerjasama dengan Fakultas Bahasa dan Sastra UNSIQ Wonosobo, bertempat di Aula FBS UNSIQ, 15-17 September 2015. Karena cukup panjang, tulisan ini dimuat menjadi beberapa bagian.

bengkel cerpen


Menulis, entah itu fiksi maupun non fiksi memang tidak semudah yang dibayangkan sebagian orang. Ini baru menulis, belum lagi untuk menghasilkan tulisan yang baik. Dan kita pun memaklumi jika kemudian beberapa penulis bermaksud berbagi pengalaman kepada orang lain (yang sudah menulis maupun yang belum) tentang dunia yang digelutinya melalui buku-buku how to seputar kepenulisan. Setiap penulis memiliki cara dan teknik yang berbeda dalam menghasilkan sebuah karya. Karena itulah tidak apa-apa mereka menulis buku dengan tema yang sama. Berbagi pengalaman tentu saja menyenangkan, dan dari situlah kita bisa saling menggenapi kekurangan.

Tapi ada juga penulis yang ketika ditanya, “bagaimana cara menulis yang baik?” kemudian menjawab “menulis sajalah, nanti lama-lama juga baik.” Apakah itu merupakan jawaban yang keliru? Sebab kalau menulis yang baik cukup dengan “menulis sajalah”, lalu bagaimana dengan buku-buku how to itu? Untuk apa ada pelatihan dan workshop kepenulisan?

Benar, untuk menjadi seorang penulis dibutuhkan action, bukan sekadar membaca buku how to dan mengikuti pelatihan kepenulisan. Tetapi untuk menjadi penulis yang menghasilkan karya-karya terbaik, kita butuh teknik. Sebagaimana pemain sepak bola, tentu saja senang mengamati (bukan cuma menonton) pemain internasional, berlatih teknik heading seminggu penuh, dan bergabung dengan sekolah sepak bola. Itu semua agar permainannya bias berkembang. Demikian pula dengan menulis, apapun, termasuk cerpen.

Siapapun bisa menulis cerpen. Tetapi untuk menghasilkan cerpen yang baik, dibutuhkan latihan, juga teknik. Pada kesempatan inilah saya hendak berbagi pengalaman dan jika memungkinkan juga memberikan beberapa saran seputar penciptaan cerpen, khususnya terkait teknik penggalian dan pengembangan ide, alur dan pengaluran, latar, tema dan bahasa.


PENGGALIAN IDE

Dalam banyak buku persoalan ide biasanya dimasukkan dalam tahapan persiapan menulis cerpen. Padahal bisa juga orang menulis tanpa memiliki ide sebelumnya. Sebab ide menulis kadang-kadang baru muncul ketika paragraf pertama mulai dituliskan. Tetapi memang, secara umum ide adalah bahan bakar yang digunakan oleh penulis untuk memulai karyanya.

Ide atau gagasan bisa apa saja, dan bisa datang dari mana saja, kapan saja. Anda tidur, bermimpi, lalu terpikir untuk membuat cerpen dari mimpi yang barusan anda alami. Anda tidak bisa tidur, bisa tidur tapi tidak bisa bermimpi, mimpi anda selalu buruk, semuanya bisa anda angkat sebagai sebuah ide. Namun begitu, sebagaimana seorang jurnalis, ia mesti memilah dan memilih peristiwa mana saja yang pantas untuk diangkat sebagai sebuah berita. Penulis cerpen juga mesti pandai memilih ide. Tapi bagaimana mau memilih, menemukan saja belum?

Jika belum menemukan ide, maka apakah anda sudah mencarinya? Di mana anda mencari ide tersebut? Bekal apa yang anda bawa saat dalam perjuangan mencari ide?

Ide adalah makhluk yang bertebaran di alam raya. Anda hanya memerlukan sedikit latihan dan menambah bekal dalam upaya menggenggamnya sebelum kemudian memutuskan mengangkatnya menjadi sebuah cerita.

Bekal utama untuk bisa menangkap ide adalah pengalaman. Apa yang anda lihat, apa yang anda dengar, apa yang anda rasakan, pikiran-pikiran anda, peristiwa yang anda alami, merupakan pengalaman langsung. Sedangkan apa yang anda dengar dari orang lain, yang anda baca, adalah pengalaman tidak langsung. Tanpa pengalaman, baik langsung maupun tidak langsung mustahil seseorang dapat menuliskan sesuatu.

Cobalah jalan-jalan dan amatilah apa yang anda lihat, dengar, dan rasakan apakah ada yang menarik perhatian anda. Pikirkan kembali pengalaman hidup anda sendiri, barangkali ada di antaranya yang patut untuk diangkat sebagai cerpen. Kebencian anda pada negara yang korup, penguasa yang dzalim, guru yang tidak disiplin, atau kesenangan anda terhadap bunga-bunga, pemandangan hijau, kesuburan tanah dan seorang gadis. Bisa jadi menarik untuk dikisahkan.

Jika anda benar-benar tidak memiliki pengalaman hidup yang layak dikisahkan, karena anda hidup wajar-wajar saja, dan anda tahu bahwa hidup anda pasti akan membosankan jika dijadikan cerpen maka anda bisa memungut ide yang betebaran di sekeliling anda. Seorang penulis mesti belajar untuk peka pada setiap kejadian, yang dilihat dan didengarnya. Berita-berita di koran dan televisi akan berlalu begitu saja bagi banyak orang, tetapi bagi penulis yang peka, pastilah ada di antara berita-berita tersebut yang layak diangkat sebagai cerita. Misalkan, sebuah berita mengabarkan, seorang bayi ditemukan di selokan. Itu berita yang tragis, yang mestinya membuat hati banyak orang tersentuh. Dan sebagai penulis yang sedang berburu ide, anda mesti lebih gelisah ketimbang orang yang bukan penulis.

Ada banyak peluang untuk menulis cerpen yang berawal dari berita tersebut. Tanyakanlah pada diri anda, siapa ibunya, apa penyebabnya, bagaimana nasib bayi itu kemudian, apakah ada orang yang sudi merawatnya, dan bagaimana jika seandainya bayi itu adalah anda.

Begitulah, hal-hal remeh sekalipun sebenarnya bisa dijadikan sumber ide. Masalah nanti cerpennya akan bagus atau tidak bukan semata soal idenya apa, tetapi ada banyak faktor lainnya. Sebaliknya, ide sebagus apapun kalau penggarapannya buruk, hasilnya juga akan buruk.

Dari paparan di atas sudah bisa ditangkap bahwa ide bukanlah sesuatu yang mengenalkan diri kepada anda, tetapi anda sendiri yang berusaha mengenalinya. Ide tidak begitu saja turun dari langit, tetapi harus anda cari dan kejar. Dan karena kepala kita mudah melupakan apa saja, maka penulis yang baik senang hati menuliskan ide yang dia dapat dalam bentuk catatan ringkas, entah itu di buku maupun di media lain.

Mengasah Imajinasi

Sebagaimana sudah disinggung, penulis sastra mestilah menjadi orang yang peka. Cara pandangannya terharap sesuatu juga mesti berbeda ketimbang orang kebanyakan. Untuk ini dibutuhkan imajinasi yang dengannya hal-hal (benda atau peristiwa) yang bagi sebagian orang tampak biasa, namun bagi penulis sastra menjadi aneh dan luar biasa.

Inilah bekal yang harus dimiliki penulis cerpen: Imajinasi. Bayangkanlah hal-hal yang aneh, nyleneh, dan tidak logis. Bagaimana jika seekor anjing menikah dengan manusia; apa yang terjadi jika sebuah negeri di pimpin oleh srigala; seorang anak kecil yang selalu menangis melihat ayahnya; manusia yang bisa bercakap-cakap dengan asbak; dan lain sebagainya.

Imajinasi masing-masing orang berbeda, dan karenanya ide yang sama sekalipun dapat menghasilkan cerita yang berbeda. Untuk melatih daya imajinasi anda, anda harus banyak membaca buku. Membaca apa saja, khususnya karya sastra. Selain menambah pengalaman tidak langsung (yang merupakan sumber ide) imajinasi anda akan terasah karena membaca membawa pikiran anda untuk memvisualisasikan kata-kata, dan membayangkan juga suara-suara. Khasiat membaca lebih dahsyat ketimbang hanya menonton film, meski film yang bagus, yang memberikan ruang bagi penontonnya untuk berimajinasi, juga bisa dapat membantu anda mengasah imajinasi.

Mengikat Ide dengan Judul

Kadang-kadang ini penting juga. Saya kerap menemukan ide tertentu dan seketika itu pula saya membuat judul untuk calon cerpen yang akan saya tulis. Atau bisa juga kita tidak tahu ceritanya akan seperti apa, tetapi kita sudah menemukan judulnya. Bagi yang biasa menulis, mungkin kerap mengalami “kejatuhan judul” secara tiba-tiba, meski kadang-kadang judul itu jatuh di saat yang tidak tepat, ketika kita sedang shalat misalnya. Kenapa ini bisa terjadi? Entahlah. Mungkin bisikan setan, atau mungkin juga karena alam raya tahu bahwa diri kita sedang membutuhkan ide cerita.

Jika bukan dalam bentuk judul, kita perlu mengikat ide tersebut itu dalam sebentuk judul. Tujuannya adalah untuk merangsang imajinasi agar kita bisa lebih fokus. Persoalan nanti judul ceritanya berubah itu tidak masalah.

Mendaur Ulang Ide Penulis Lain

Anda tidak perlu takut dikatakan sebagai tukang plagiat. Semua yang ada di bawah langit tidak ada yang murni. Segalanya lahir karena pengaruh dari yang lain. Termasuk cerpen. Kita menemukan banyak cerpen dengan ide yang sama atau hampir mirip yang ditulis oleh orang yang berbeda. Dan itu tidak masalah.

Bacalah cerpen, ambil ide utamanya, lalu tulislah dengan versi anda. Bisa jadi anda akan menghasilkan cerita yang sama sekali berbeda, dan anda tidak layak disebut sebagai plagiator.

Kisah cinta segitiga, cinta yang tidak direstui, betapa sudah banyak, dan tetap saja lahir. Tapi memang, yang bagus adalah ide anda sendiri, meski tidak jarang ide itu pernah ditulis oleh orang lain tanpa sepengetahuan anda.

Menulis Cepat dengan Keyword Tertentu

Bagaimana kalau kita benar-benar tidak memiliki ide untuk ditulis? Apakah kita akan berhenti menulis begitu saja. sebaiknya tidak, apalagi bagi yang sedang dalam tahapan latihan. Bagi yang sudah terbiasa menulis mungkin akan tidak masalah ketika ia berhenti menulis dalam jangka waktu yang cukup lama. Tetapi bagi yang baru-baru, ini bisa membuat anda semakin sulit menulis.

Kalau anda merasa tidak punya ide sama sekali, cobalah ambil keyword tertentu. Misal, sandal, kopyah, dan seorang kiai. Tulislah cerita dengan tiga keyword tersebut. Bebas saja. Trik ini juga akan merangsang imajinasi dan otak anda untuk terbiasa bekerja. Anda dapat membuat hubungan yang logis dari ketiga keyword tersebut. Anda mungkin akan terperangah saat melihat hasilnya. Kalau toh menurut anda tulisan itu buruk, itu masih lebih baik dari pada anda tidak menulis sama sekali.

Baca kelajutanya:
Bengkel Sastra: Teknik Mengembangkan Ide Menulis Cerpen
Bengkel Sastra: Alur dan Pengaluran Cerpen