Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Hari Baik

Cerpen Jusuf AN

Entah kenapa, ia merasa kalau hari ini akan menjadi hari paling baik di antara ribuan hari baik yang sudah ia lewati selama 30 tahun lebih. Ia sendiri tak tahu kenapa tiba-tiba pikiran semacam itu melintas di benaknya di saat ia tengah mengayuh sepeda menuju tempat kerja. Pikiran itu menguasai sebagian besar bagian otaknya, membuatnya tidak konsentrasi dan beberapa kali dimaki-maki klakson truk dan bus antar kota.

Ia bekerja di sebuah madrasah tsanawiyah yang cukup megah. Tentu ia bukan guru, begitu kita akan menebak ketika melihat penampilannya yang berjaket lusuh, celana komprang dan sandal jepit. Dan memang tebakan kita benar. Ia memang pernah berkeinginan menjadi guru, namun tak pernah terwujud. Tapi ia cukup bahagia setelah lulus sekolah menengah dan beberapa tahun menganggur kemudian ada seseorang menawarinya bekerja di sebuah sekolah negeri. “Kerjamu cuma buat minum untuk guru-guru, bersih-bersih lingkungan sekolah dan menjaga keamanan, tapi kamu tetap punya peluang diangkat menjadi pegawai negeri,” terang seseorang menawarkan. Sungguh, ia bahagia bukan lantaran masa depannya cukup menjanjikan. Ia menerima pekerjaan itu dikarenakan akan lebih dekat dengan aroma orang-orang mencari ilmu dan harum pengabdian para guru.

Ia menyukai pekerjaannya dan kerenanya ia betah. Sudah hampir 15 tahun ia bekerja di sekolahan itu dengan gaji yang meski sedikit, tapi (gaib) selalu cukup untuk menghidupi istri dan seorang anak.

Sebentar lagi lelaki berkulit coklat matang itu tiba di tempat kerjanya. Kepalanya masih rusuh. Apakah kabar baik akan aku terima hari ini? Adakah surat pengangkatanku sebagai CPNS akan turun? Ah, sepertinya tidak mungkin, ratusan guru bantu yang sudah bekerja lebih dari 20 tahun saja masih banyak yang belum turun, mana mungkin pemerintah memikirkan nasib seorang tukang kebersihan? Ya, tapi mungkin saja. Tidak ada yang tak mungkin bagi Tuhan, tampiknya sendiri. Ia pun mengayuh sepedanya lebih kencang, hampir-hampir membuat topi lusuhnya terbang disambang angin bergelombang.

Selalu ia menjadi orang pertama yang tiba di sekolahan itu. Gerbang sekolah ia buka. Sepedanya ia tuntun, disenderkannya di dinding. Ia rogoh saku celana, lalu mulai membuka kunci pintu ruang guru, ruang TU, ruang-ruang kelas, dan terakhir ia menuju dapur. Ia masak air dengan panci jumbo, menyiapkan gelas-gelas besar, membaca denah meja-meja ruang guru dan menyiapkan gelas mana yang mesti ia buat teh dan mana yang yang harus ia tuang air putih. Ia sudah melakukan pekerjaan itu selama lebih dari lima belas tahun dan sudah belajar banyak dari kesalahan-kesalahan, semisal menuangkan gula pada semua gelas atau memasak air terlalu sedikit. Pikiran tentang hari baik di kepalanya kini agak mengendur, tetapi cukup mengusik otaknya, membuatnya lupa berapa gelas yang mesti ia kasih gula, memaksanya melihat lagi denah meja ruang guru untuk memastikannya.

Beberapa hari lalu, ia memang mendengar kalau surat pengangkatan sebagai pegawai negeri akan turun bulan ini. Teringat itu ia menggeleng-gelengkan kepala, sambil tersenyum menertawakan pikirannya sendiri.

Detik melangkah cepat. Air di panci telah mendidih. Satu dua guru masuk ke dapur, membuat kopi dan teh sendiri, lalu dibawa ke ruang sebelah. Begitulah kebiasaan di sekolah itu. Sebelum bel masuk menjerit, sebagian guru akan masuk ke dapur, membuat minuman hangat, lalu di bawa ke ruang sebelah, duduk-duduk menyalakan rokok, membuka obrolan tentang apa saja, terutama tentang isu yang hangat.

Ia tengah menuang air yang baru mendidih ke dalam tremos dan mendengar guru-guru di sebelah dapur membincangkan isu tentang SK guru-guru bantu yang akan turun bulan ini. Ia yang takut kalau konsentrasinya pecah lalu air panas yang tengah ia tuang tumpah, memutuskan berhenti sejenak, mendengarkan obrolan mereka. Ia bergidik mendengar makian-makian para guru pada pemerintah, tentang gaji mereka yang rendah, dan rencana mereka menggelar aksi demonstrasi. Sampai di situ, ia kembali meneruskan kerjanya.

Sampai dzuhur ia belum menemukan sesuatu yang istimewa kecuali nikmat napasnya yang masih berembusan lewat hidung, keringat yang masih menetes, dan kerongkongan yang kembali segar ketika diguyur air putih.

Tapi ia seolah masih menunggu apa yang tadi terbersit di hatinya itu. Sempat terpikirkan olehnya untuk membongkar koran-koran yang tertumpuk di pojok ruang dapur lalu mencari kolom zodiak yang tersedia di koran Minggu. Ia ingin tahu apakah peruntungannya sesuai dengan firasat hatinya. Tapi ia buru-buru urungkan niatnya. Ia tak ingin melukai keimanannya. Ia ingin membiarkan takdir tetap gaib sebagaimana sifatnya.

Ia pulang ketika sekolah itu benar-benar sepi. Dengan perasaan yang sepi pula ia kayuh sepedanya di jalan raya yang ramai. Ia masih menduga-duga, apakah hal baik yang akan ia terima hari ini. Adakah saudaranya yang kabarnya sudah menjadi juragan di kota akan datang kemudian memberikan modal untuk istrinya membuka usaha warung kelontong. Apakah dana bantuan dari pemerintah untuk merehab rumahnya akan ia terima? Ataukah apa?

Baru kali ini ia berpikir sebegitu mendalam tentang sebuah firasat. Firasat yang ia sendiri tak tahu kenapa mendadak meledak di dadanya pada pagi-pagi di jalan raya. Firasat yang entah kenapa begitu kuat bertahan mencengkram batok kepalanya.

Setiba di rumah, ia langsung masuk dan mencari istrinya. Jika biasanya ia meminta segelas air putih, kali ini ia meminta jawaban, “Apakah Kang Darwito pulang dari Jakarta?” Istrinya menggeleng. “Apakah tadi ada petugas dari kelurahan yang datang?”

Istrinya menggeleng lagi, ganti bertanya, “Memangnya ada apa?”

Ia tidak menjawab, tapi meminta diambilkan air putih untuk mengganti keringat yang tumpah dari tubuhnya, mendinginakan perasaannya.

***

Ia berdiam di masjid sejak maghrib hingga isya turun, kebiasaan yang tidak disukai istrinya tetapi tetap ia pertahankan. Pulang dari masjid, ia sudah cukup terbebas dari firasat akan datangnya hal baik pada hari ini. Ia melangkah tenang, menikmati setiap ayunan kaki menjejak ke tanah. Membuka pintu rumah, ia mesti mengendap-endap mencari saklar lampu ruang depan. Membuka tutup saji di meja makan, ia tak menemukan apa-apa selain sepiring nasi dingin dan mie instan yang masih dalam kemasan. Ia berjalan membuka gorden pintu kamar, melongok, mendapati istri dan anaknya yang berusia tiga tahun sudah tidur. Segera ia menuju dapur, menyalakan kompor minyak tanah, memasak mie sembari mendinginkan hati, menebalkan kesabaran tentang sikap sang istri.

Di saat lidahnya mulai menari memainkan nasi campur mie, kepalanya kembali melayang, teringat akan firasatnya tadi pagi. Tapi ia tak ingin terus-terusan memikirkannya dan segera mengucap istighfar. Duduk sebentar di kursi ruang depan, ia langsung menuju kamar, mencium istri dan anaknya, lalu rebah di sisi mereka. Ia mesti tidur lebih awal karena tengah malam nanti ia mesti pergi ke sekolah untuk memastikan keadaan sekolah aman.

Dengan bismillah, ia melebur lelah di ranjang yang reot, lalu bangkit ketika mendengar bunyi tiang listrik di tabuh peronda. Dengan sarung dibalutkan di leher dan kepala mengenakan peci hitam ia kayuh sepeda menembusi dinding-dinding kabut melawan dingin yang meruncing menusuk-nusuk dadanya. Mendadak, seperti pagi tadi ketika ia berangkat kerja, ada yang meledak dalam dadanya, sebuah firasat tentang hari baik seperti yang tadi pagi ia terima, tapi kali ini lebih dahsyat, menebalkan keyakinannya, bahwa akan ada hal baik akan ia terima dalam waktu dekat. Ia kayuh sepedanya lebih cepat, meski tak dapat menandingi kecepatan laju truk tronton dan bus antar propinsi. Ia yakin kalau di depan sana, sesuatu yang terbersit dalam batinya itu seakan sudah menunggunya.

***
cerpen hari baik


Ketika matahari baru naik satu tombak seorang pegawai TU mendatangi rumahnya karena gerbang sekolah masih terkunci. Jelang siang lelaki pegawai kebersihan itu ditemukan tak bernyawa di mushala kecil di ruang guru dengan tasbih tergenggam di tangan serta peci hitam tergeletak di sisinya. Wajahnya nampak seperti seorang yang baru mendapat kabar gembira.

Wonosobo, 2009
  Tak Ada yang Mencintaimu Setulus Kematian

Tak Ada yang Mencintaimu Setulus Kematian

Cerpen Jusuf AN

Aneh sekali. Aku datang ke rumahmu untuk ikut mengungkapkan bela sungkawa, tetapi yang aku lihat adalah wajah-wajah cerah, senyum-senyum lebar, juga suara tawa yang sesekali nyaring terdengar. Apa dosamu, Va? Kenapa mereka justru seakan terlihat bahagia karena kehilanganmu selama-lamanya.

“Kalau aku mati, apakah kau akan menangis?” Itu adalah pertanyaan yang kau kirimkan lewat pesan singkat, tepat sebulan yang lalu sebelum kau benar-benar mati.

Aku yang waktu itu tengah berada di sebuah kafe yang riuh oleh suara musik, membiarkan saja pesanmu. Lalu tengah malam, setelah seseorang mengantarkanku pulang ke kamar kosku kembali aku mengulang membaca pesanmu.

“Bahkan, pertanyaanmu ini telah membuatku menangis, Va. Tak perlulah membahas soal kematian lagi. Kita masih sangat muda,” jawabku.

Aku tahu kau belum tidur, dan beberapa saat kemudian kau cepat membalas pesanku: “Bukankah kematian adalah sesuatu yang wajar. Setiap hari ada orang mati. Kadang ribuan orang mati dalam waktu bersamaan. Sangat biasa, bukan? Apa yang pantas untuk ditangisi dari sesuatu yang sebenarnya sangat wajar dan biasa, Mei?!”

“Tidak, Va. Aku takut!”

“Ketakutan akan mati itulah yang membuat kita bertahan hidup.”

Aku tidak membalas pesan singkatmu lagi. Tetapi bukan tidak memikirkannya, Va. Sejak pesan-pesan singkatmu itu, aku menjadi lebih sering menyendiri, kehilangan nafsu makan dan berdandan. Setiap membuka koran, fokusku hanya pada berita-berita bencana, kecelakan, dan pembunuhan. Aku mencoba menghindar, tetapi berita-berita itu seakan terus mengejarku. Menyalakan televisi yang tampak olehku adalah gambar-gambar mayat dan orang-orang yang mengusung keranda. Setiap pagi aku terjaga oleh mimpi buruk. Lalu keluar rumah dan mendapati langit selalu diliputi mendung. Ya, sebagaimana mendung yang juga meliputi pikiranku.

Sontoloyo! Kalau bukan karena kau terus mengirimiku pesan-pesan singkat soal maut, tidak mungkin aku menjadi seperti ini. Cermin itu telah menampakkan wajah kusut, mata sayu, bibir kering dan kelabu, dengan rambut panjang yang tak tertata. Apakah ini adalah Mei? Mei yang cantik itu? Tidak. Aku tidak percaya melihat bayangan diriku sendiri dalam cermin. Betapa masih terngiang rayuan genit para lelaki, termasuk dirimu, tentang mata beningku, wajahku: kecantikanku. Tidak mungkin.

Tak mau terus-menerus pikiranku terkungkung dalam mendung, aku mencoba menghubungimu. Aku ingin kau membantuku mengembalikan matahari di kepalaku. Aku ingin seperti dulu, Va. Menjadi perempuan yang energik, senang dengan warna merah, bersemangat mendatangi pameran lukisan, berjoget-berdendang di tengah konser musik, nongkrong di kafe dan pulang malam dalam keadaan setengah mabuk. Aku ingin tidak takut menghadapi maut, dan belum ingin memikirkan maut. Aku ingin berterus terang kepadamu soal itu. Aku ingin menelponmu dan menangis. Tetapi nomorku tidak bisa dihubungi. Aku coba lagi esoknya dan esoknya, hasilnya tetap sama.

Kau di mana? Beberapa teman sekampus aku tanyai tentang keberadaanmu. Tapi hanya kabar simpang siur yang aku dapat. Mungkin! Semua menjawab dengan diawali kata ‘mungkin’, yang artinya tidak ada seorang pun yang tahu persis tentang keberadaanmu, kecuali Tuhan—yang juga sudah kau anggap seperti temanmu sendiri.

Lalu demikianlah aku menduga: Mungkin kau marah denganku; kau pergi ke rumah saudarahmu yang jauh di luar kota, dan sengaja mengganti nomor handphone tanpa mengabariku. Atau, kau sudah berhenti kuliah, lalu hijrah ke luar kota, dan berusaha melupakan semua tentangku. Maafkan aku, Va. Kalau aku menolak ajakanmu untuk menikah, bukan berarti aku membencimu. Kau tahu, tidak hanya kau saja yang aku tolak dan aku selalu mencoba membina hubungan baik kepada mereka yang aku tolak.

Kita masih muda, masih kuliah pula. Menikah bukan saja akan menciptakan jeruji-jeruji pagar bagi aku yang ingin bebas, tetapi juga akan membuat kita semakin kerepotan. Bagaimana jika aku hamil, punya bayi, menyusui? Puih, tubuhku yang aku jaga keindahannya ini akan membengkak dan hari-hariku akan penuh kesibukan untuk orang lain. Dan yang terpenting: aku tidak mencintaimu!

Tetapi aku menyukai sajak-sajakmu, Va. Sajak-sajak yang kau kirimkan lewat pesan-pesan singkat. Sajak-sajak cinta, luka, atau tepatnya cinta yang luka. Sajak-sajak yang masih aku simpan di kotak masuk pesan ponselku. Aku suka kata-katamu, meski kadang-kadang berlebihan saat menyanjungku.

Aku percaya kata-kata yang kau kirimkan itu mewakili perasaanmu. Tetapi aku tidak yakin benar jika itu adalah kata-kata yang kau susun sendiri. Mungkin kau telah mengutipnya dari orang lain tanpa menyantumkan nama pengarangnya, siapa tahu. Aku tidak pernah membaca puisi kecuali hanya beberapa kali ketika tidak sengaja membuka koran yang terbit hari Minggu.

“Tak ada yang mencintaimu setulus kematian.” Suatu ketika kau kirimkan pesan itu.

“Jadi kau tidak tulus mencintaku?” Aku membalas.

“Adakah kata-kata dapat membuatmu percaya?”

“Tidak. Kalau toh benar kau tulus mencintaiku, belum tentu aku bisa menerimanya.”

Sejak itulah kau berhenti mengirimiku sajak. Tapi kau terus berkirim pesan, kalimat-kalimat mencekam: Kematian! Lalu suatu saat kau menanyakan hal itu. Apakah aku akan menangis jika kau mati? Dan aku yang waktu itu baru pulang dari kafe secara tak sadar telah menitikkan air mata membacanya.

Setelah putus asa karena berkali-kali gagal menelponmu, aku kirimkan sebuah pesan ini: Temuilah aku, Va. Atau beri tahu aku di mana kau sekarang, biar aku yang menemuimu. Entahlah. Aku tidak yakin pesan itu akan sampai dan terbaca. Tapi di luar dugaan, sesaat setelah aku kirimkan pesan itu, ponselku bergetar di atas meja. Kau menelponku.

“Va…”

“Vanya sudah tidak ada, Mbak. Ini kakaknya.”

“Ke mana, Mas?”

“Kemarin pagi. Sudah dikuburkan.”

Suara itu terdengar begitu tegas. Kuat. Keras. Membuat lidahku seketika tercekat. Kepalaku tegak. Langit-langit kamarku seakan runtuh. Menimpa kepalaku. Kepalaku seperti pecah. Mataku melotot tapi pandanganku kabur.

Seketika aku menghambur, memacu sepeda motor, menembus gerimis, menyebut nama desamu pada tiga orang yang aku temui di jalan, lalu aku lintasi aspal berkelok yang terjal dan curam. Kain putih segitiga lalu terlihat terpanjang di sebuah simpang jalan, itu artinya rumahmu sudah dekat. Dan ketika melihat sebuah rumah dengan tarub yang di bawahnya berjajar meja kayu dan kursi-kursi plastik hijau aku meminggirkan motorku, yakin benar itu adalah rumahmu.

Ini kali pertama aku mendatangi rumahmu, justru ketika kau sudah tidak ada. Ah, barangkali rumah ini bukan sepenuhnya rumahmu, atau tidak lagi menjadi rumahmu sekarang. Dan kau memang tidak menyambut kedatanganku, Va, meski mungkin sejatinya kau melihatku.

Seseorang dengan peci hitam dan baju batik menyambutku dengan senyum yang ramah. Aku dipersilakan duduk di kursi plastik menghadap meja kayu yang berderet tomples kebak kue-kue kering, juga permen dalam piring. Seorang lelaki, yang wajahnya mirip denganmu tetapi tampak lebih muda, menghampiriku, lalu duduk di depanku.

“Aku tahu. Kau Mei bukan? Saya kakaknya Va.”

Aku perhatikan matanya: Jernih. Tidak tampak tanda-tanda kalau ia baru menangis atau tidak tidur semalaman. Air mukanya juga terlihat bersih dari guratan kesedihan.

“Va meninggal baik-baik, kau percaya? Ya, ia orang yang baik, meski jarang sekali pulang.”

Aku masih terdiam, sembari memperhatikan orang-orang di sekitar. Kenapa tidak aku temukan satu pun wajah yang tampak bersedih? Kalau memang benar kau meninggal baik-baik, lalu kenapa kepergianmu tidak meninggalkan tangisan?

Aku baru akan bertanya, kapan dan apa sebab kematianmu, tetapi kakakmu sudah mengatakannya. “Ada infeksi di selaput otaknya. Dulu memang Va punya riwayat gagar otak ringan, mungkin sakitnya masih ada kaitannya dengan itu. Dokter bilang meningitis. Kita juga kurang tahu pasti. Selama sembilan hari di rawat di Rumah Sakit sesekali Va tersadar, tetapi ia sudah hilang ingatan. Begitulah, malam itu tepat pukul 01.10 Va pulang ke rumah abadinya.”

Mataku gerimis.

“Tidak usah menangis. Selain kesembuhan, hanya kematian pilihan yang terbaik bagi orang-orang yang didera sakit semacam Va. Dan Tuhan telah memberikan pilihan yang terbaik untuknya, termasuk juga bagi yang ditinggalkan.”

Ya, kenapa aku harus menangis? Apakah aku telah merasa kehilanganmu? Mungkin tidak. Mungkin aku hanya menangisi diriku sendiri, menangisi ketakutanku akan mati. Tiba-tiba aku teringat pesan singkat yang pernah kau kirimkan: Tak ada yang mencintaimu setulus kematian. Tak ada? Kalau kematian benar-benar mencintaiku, kenapa aku tidak mencintainya juga?

Gerimis di mataku mendadak mereda. Lalu aku lihat kakakmu tersenyum lebar, dan aku membalasnya dengan senyuman yang barangkali terlihat begitu mekar sembari membayangkan kematianku sendiri.

Wonosobo, 2015

Catatan:
“Tak Ada yang Mencintaimu Setulus Kematian” pernah digunakan oleh Aslan Abidin (2004) sebagai judul puisi, dimuat dalam buku dengan judul yang sama. Puisi tersebut sedikit banyak telah memberikan inspirasi atas lahirnya cerpen ini.

Ditulis sambil terkenang kawan yang sudah meninggal: Vanera El-Arj. Cerpen ini pernah diimuat di Koran Merapi Pembaruan Edisi Minggu 14 Juni 2015.
Guru Umar

Guru Umar


Cerpen Jusuf AN
 Dimuat di Kedaulatan Rakyat Minggu, 11 Mei 2014

Di depan para siswa yang tengah menggarap soal-soal Matematika, pikirannya terpecah. Dia teringat istrinya yang sudah tiga hari terbaring di Rumah Sakit sementara anak dalam kandungannya belum lahir juga. Pikirannya juga dirupeki oleh biaya persalinan yang sama sekali belum disiapkan. Dan rapat jam sembilan nanti? Aduh, pastilah akan membahas rencana-rencana busuk dalam rangka menghadapi ujian yang tinggal seminggu lagi.
Namanya Umar. Tahun lalu, dialah satu-satunya guru yang tidak setuju dengan berbagai rencana yang diagendakan pihak sekolah. Pendongkrakan dan penggantian nilai raport, pemalsuan lembar jawab, termasuk melatih siswa bekerja sama dan melakukan nyontek masal. Nuraninya menjerit. Dia merasa tidak bisa mendiamkan kecurangan-kecurangan itu berjalan. Tapi apa dayanya mencegah itu semua?
Keberanian! Ya, dia harus bisa mengumpulkan keberanian. Dia ingat-ingat lagi kisah orang-orang yang berani melakukan apa saja demi keadilan, kejujuran, dan melawan kesewenang-wenangan. Dia harus siap dipecat, dicaci dan diacuhkan oleh rekan-rekan sesama guru. Dan setelah berpikir masak-masak, dia pun merasa siap. Dia sangat rela jika karena kejujurannya membuatnya dipecat. Toh aku hanya seorang guru tidak tetap yang gajinya tidak seberapa, batinnya.
Maka, di sebuah rapat membahas rencana-rencana busuk demi kelulusan siswa, Umar berdiri dengan gagah. Lantang menentang, mengancam akan membeberkan kebusukan-kebusukan itu kepada wartawan, dan kalau perlu ke tingkat pusat.
“Tapi ini demi siswa, Pak!” sanggah Kepala Sekolah.
“Lebih baik mereka tidak lulus dari pada ijazah mereka najis.”
“Sekolah yang lain juga demikian.”
“Ini sekolah kita, bukan sekolah lain.”
Pada akhirnya sarannya dituruti. Meski akibatnya bisa terbaca: Sekolah yang selama ini menjadi kebanggan di kota itu kehilangan pamornya disebabkan lebih dari separuh siswanya tidak lulus ujian. Sejak itu Kepala Sekolah mendadak sakit karena dimarahi Kepala Dinas. (Kabarnya Kepala Dinas terlebih dulu telah dimarahi Bupati, dan Bupati telah terlebih dulu dimarahi oleh Gubernur). Beberapa bulan kemudian datanglah kepala sekolah baru menggantikan.
Umar masih berjalan mondar-mandir, antara pintu dan meja guru. Sementara anak-anak di kelas itu mulai ribut. Sebagian berusaha mencuri jawaban teman, yang lain bukannya mengerjakan, tetapi asik berbincang. Ada pula yang sibuk dengan gadgetnya. Terlihat pula seorang anak yang giat membatik lengannya dengan spidol. Dan meski hari masih pagi, ada saja siswa pulas tertidur dengan kepala tergeletak di atas meja.
Angin berkesiur, menggugurkan daun-daun mahoni di halaman. Langit yang mendung mendadak pecah. Umar bersandar pada kayu pintu, memandang butir-butir air yang membuncah. Dia tidak lagi mendengar suara ribut para siswa di kelas itu, tetapi bisa dengan jelas terdengar keributan di dalam hatinya. Melirik jam di lengan dia melihat jarum pendek nan gendut tergopoh-gopoh menuju angka sembilan. 
Ketika bel ganti pelajaran melengking, Umar sudah selesai mencocokkan dan menerangkan soal-soal yang dia berikan kepada para siswa. Kemeletok hujan di atas genting kian nyaring, nyaris menenggelamkan suaranya yang parau saat mengucap salam menutup pelajaran. Sebenarnya, Umar bisa berjalan melalui koridor, duduk sebentar di ruang guru untuk meneguk tehnya, sebelum kembali masuk ke kelas yang lain. Tetapi ia memilih langsung masuk ke kelas. Sejak peristiwa setahun lalu itu, tak seorang pun guru mau diajaknya berbincang.
Dia belum memiliki gambaran apa-apa untuk rapat nanti. Dia mulai meragukan keberaniannya sendiri setelah teringat dengan dua rekannya yang belum lama ini dimutasi ke sekolah terpencil akibat berani protes soal buku-buku paket yang diborong Pak Kepala. Dia tahu, orang yang menjadi atasannya sekarang berkepala batu dan kerap mengancam para guru jika berani melawan kebijakannya. “Kalau tidak setuju dengan keputusan saya, ya silahkan saja. Tapi jangan salahkan saya jika tunjangan sertifikasinya tidak saya cairkan!” Itulah salah satu kalimat yang paling sering diucapkan Kepala Sekolah saat rapat.
Belum lama ini Umar bahkan disuruh menghadap Pak Kepala. Di depan orang yang paling berkuasa di sekolah itu Umar sama sekali membungkukkan badannya. Duduknya tegap, tatapannya tajam. Tetapi ketika Sang Kepala mulai mengeluarkan pedang dari mulutnya, tubuh Umar mendadak lunglai.
“Tunjangan profesimu sebenarnya sudah bisa dicairkan, tetapi saya harus tunda dulu sampai ujian nasional beres. Kau tentu paham maksud saya, bukan? Jadi, jangan macam-macam!” Suara itu telak menikam jantungnya. Ingin rasanya Umar mengambil piala paling besar di lemari kaca di depannya untuk memecah kepala atasannya. Tetapi dia teringat istrinya, anak dalam kandungannya, dan tunjangan profesi yang hampir setahun belum terbayar—betapa dia membutuhkan uang itu.
Lelaki yang tubuhnya terbungkus kain batik itu mengusap wajahnya yang basah oleh keringat. Keributan di hatiku tidak boleh menjadikan anak-anak itu telantar, pikirnya. Lalu dia berdiri setelah berhasil menegarkan hati.
Jarum pendek dan gendut di lengannya sudah melewati angka sembilan. Seorang Satpam mengetuk pintu kelasnya, dan saat itulah Umar sadar jika Pak Kepala sudah menunggunya.
“Rapat ya? Sebentar!” Umar berdehem satu kali. “Hem, maaf sekali anak-anak…”
“Bukan soal rapat, Pak,” potong si Satpam di dekat pintu.
Umar mendekat lagi ke pintu.
“Barusan ada telpon, mengabarkan kalau istri Pak Umar sudah….”
“Anakku sudah lahir?” kontan Umar berjingkat.
“Mungkin.”
***
Tiba di Rumah Sakit, Umar bergegas memasuki ruang bersalin setelah terlebih dulu melepas sepatunya di depan pintu. Telinganya segera disapa suara rintihan dan teriakan perempuan-perempuan yang hendak melahirkan. Di sebuah ruangan yang dikelilingi kelambu dia menemukan istrinya ditunggui seorang Bidan. Belum sempat menanyakan kabar pada istrinya, Bidan telah terlebih dulu menyodorinya selembar kertas, menyuruh Umar untuk menandatangi. Persetujuan operasi? Umar mendongak, menatap Bidan. Panggul sempit, terang Bidan singkat.
 Segala hal yang berkaitan dengan urusan sekolah, tak lagi mengusiknya, berganti dengan bayangan istrinya yang baru saja dimasukkan ruang operasi. Di depan ruangan itu ada kursi kayu. Umar duduk di sana sebentar, memandangi sekitar. Tidak lama duduk, Umar berdiri, berjalan modar-mandir, lalu duduk lagi, melihat pintu ruang operasi. Menatap jam di lengan, dia menarik napas, mencoba tenang. “Semua akan baik-baik saja.” Dia berjuang menanamkan kalimat itu pada hatinya. Dan setengah jam kemudian, dia mendengar suara samar tangisan bayi yang sepertinya berasal dari dalam ruang operasi. Hanya sebentar. Bagaikan terbawa angin, tangisan itu hilang, begitu saja menghilang. Senyap merambat di lantai, menjalar ke sekujur tubuhnya yang gemetar.
***
Hantu yang ditunggu-tunggu itu muncul juga, tiga hari berturut-turut, dalam wujud soal-soal ujian.
Umar tidak diberi tugas untuk menjadi panitia atau pengawas. Dan dia bersyukur, karena dengan itu dia bisa terus mengawasi perkembangan bayi perempuannya yang tergolek  di kotak inkubator. Dia tak lagi merisaukan soal biaya, sebab tiga hari setelah anaknya lahir, atasannya datang menjenguk, mengatakan akan secepatnya membantu mencairkan tunjangan profesi yang sudah menjadi haknya.
Di ruang ICU, memandangi selang-selang yang berseliweran di kotak kaca yang disorot lampu biru, Umar menundukkan kepalanya dalam-dalam. Aku benar-benar telah kalah, sungguh-sungguh telah kalah.
Namun, dia belum sepenuhnya menyerah. Di sebalik matanya yang memicing, dia bisa melihat siswa didiknya yang begitu dia sayangi tengah berbagi jawaban dan nyontek bersama-sama sebagaimana yang sudah direncanakan. “Hanya Engkaulah yang kuasa menyingkap kebusukan,” bisiknya kepada Tuhan.   

Wonosobo, 2012-2013

Teriring salam untuk Keluarga Siami
di Kecamatan Tandes, Surabaya
yang berani menyuarakan kejujuran

Rumah Tanpa Ibu

Cerpen Jusuf AN
Dimuat pertama kali di Satelit Pos, 22 Desember 2013

Aku pulang, Ibu. Ingin aku meneriakkan tiga kata itu. Kalimat yang mungkin sudah aku ulangi ribuan kali. Dan jika benar aku melakukannya tadi barangkali kau yang kini ada di ruang belakang (aku yakin kau sedang di sana seperti biasanya) akan segera mendekat dan menanyaiku macam-macam. Tapi aku tak sanggup lagi mengatakan kalimat itu. Aku masuki rumah begitu saja, tanpa mengetuk pintu dan sepatah kata. Melintasi koridor ruang tengah yang senyap aku langsung menuju kamar berdinding warna biru, lalu kubanting pintu—sesuatu yang baru pertama kali ini aku lakukan. Pastilah kau akan mendengar bunyi pintu kayu yang aku banting.

Aku meloncat ke ranjang tanpa terlebih dulu menyalakan lampu. Cahaya bulan menerobosi kisi-kisi jendela meremangi ruang kamar. Tak ada angin masuk, hanya suara bising kendaraan yang tak habis-habis di luar rumah. Bantal yang kutinggalkan sebulan silam dalam keadaan basah, sekarang seolah masih basah, dan kini kembali aku basahi. Betapa aku tak kuasa membendung air mata setiap kali mengingat pengakuanmu tempo hari.

“Kau tetap anakku, Biru, meski Ibu….” Mengingat itu, ngilu benar dadaku. Sementara aku belum bisa, dan mungkin tak akan pernah bisa melupakan pengakuanmu. Aku, yang waktu itu baru saja pulang dari tempat kerja tentu saja merasa janggal dengan pembicaraan dan raut wajahmu yang merah padam.

“Ajal tak pernah diduga datangnya, Biru. Dan karena itu Ibu akan berdosa jika …” Kau memelukku tanpa menggenapkan kalimat terlebih dulu. Aku rasakan dadamu terguncang-guncang, juga basah dagumu di pundakku. “Kebenaran mesti dikatakan, Biru. Meski itu pahit bagi yang mendengar dan bagi yang mengatakan.”

“Ibu?”

“Biru, kau memang anakku,” suaranya tertahan sejenak. “Tetapi kau tidak lahir dari rahimku.”

“Ibu?”

“Panggil aku Ibu, meski mulai saat ini kau telah tahu, bahwa aku bukan perempuan yang melahirkanmu.” Terbata kau bicara, lalu menyapu air mata yang berleleran di wajahmu yang kian merah.

“Ibu?”

“Kau kira Ibu bersandiwara?”

Segala yang aku pandang seketika menghitam saat itu. Tenagaku serasa menguap. Tubuhku mendadak ringan. Aku terhuyung dan hampir saja terjatuh kalau saja kau tidak segera merangkul dan memapahku ke sofa.

“Katakan kalau Ibu baru saja berdusta!” lemah aku bicara.

“Kau memang anakku, tapi bukan berarti kau lahir dari rahimku.” Sekali lagi kau menegaskan bahwa kau sungguh-sunggu tidak tidak sedang bercanda. Tapi aku, yang selama lebih dari 25 tahun memanggilmu ibu dan menganggap bahwa kau benar-benar ibu kandungku karena memang kau begitu pantas dianggap demikian, tentu saja tidak dapat begitu saja menerima pengakuanmu.

Sementara kau hanya mendunduk, lalu mulai menuturkan masa lalu yang sungguh mirip dengan dongeng meski berkali-kali kau menegaskan bahwa itu cerita nyata:

Dua puluh lima tahun silam, pada suatu pagi yang gerimis sepulangmu dari rumah seorang dukun yang mengaku dapat membuatmu subur kau menemukan bayi yang tergolek di selokan di dekat rumahmu. Tanpa panjang pikir kau lantas membawa bayi itu dengan kain kerudungmu, lalu menunjukkan pada suamimu (lelaki yang kini sudah meninggal dunia yang dulu selalu aku panggil ayah). Begitulah, diberinya bayi itu dengan nama Biru, sebab waktu menemukannya di selokaan, kau mengaku melihat langit begitu biru tanpa sekapas awan mengotori.

Mendengar penuturanmu yang penuh isak aku yang waktu itu masih lemas terduduk di sofa seketika menghambur keluar rumah. Aku tak tahu apakah aku marah, sedih, atau kecewa. Adakah yang lebih parah dari kesakitan yang tidak dapat diberi nama? Selama sebulan aku habiskan waktu di jalanan, di kafe-kafe yang menjajakan minuman keras. Dan sekarang aku kembali lagi ke rumah ini tanpa tahu kenapa aku mesti kembali. Mungkin aku pulang karena uang di kantongku tak tersisa dan tak tahu bagaimana mesti menghibur diri dengan botol-botol anggur. Atau mungkin bukan karena itu. Aku sungguh tidak tahu.

***

SEJAK KAU kecil aku berusaha mendidikmu untuk menerima kenyataan hidup. Kebenaran mesti dikatakan, Biru, meskipun itu pahit bagi yang mendengar dan bagi yang mengatakannya, itulah kalimat yang sering aku katakan kepadamu. Mendengar kalimat itu, biasanya kau akan menambahi, bahwa tak seorang pun dapat memilih takdirnya. Tapi kenapa kau tak dapat menerima takdirmu sendiri, Biru? Kenapa kau pergi setelah mendengar kebenaran yang sungguh-sungguh benar?

Ah, ternyata aku gagal mendidikmu. Tetapi bukan berarti aku menyesal telah mengasuhmu lebih dari dua puluh lima tahun. Kau tak pernah tahu, Biru, jika kehadiranmu yang tiba-tiba telah merubah kehidupanku menjadi sebiru langit pagi hari.

Sejak menemukanmu pada suatu pagi di selokan di dekat rumah tinggalku, suamiku yang berniat menikah lagi karena aku tak dapat memberinya anak mendadak mengurungkan niatnya. Raut wajah suamiku (lelaki yang dulu kau panggil ayah) kembali cerah setelah aku tunjukkan segolek bayi yang aku temukan di selokan. “Lihatlah, matanya. Lihat! Bening bersih bercahaya. Aku yakin ia dilahirkan untuk kita,” ujar suamiku penuh kegirangan.

Tapi kami, aku dan suamiku, sering dicekam pertanyaan, bagaimana cara kami nanti mengatakan sejarah asal-usulmu. Kami tak dapat menjawab pertanyaan itu. Kami  hanya bertekad suatu saat akan mengatakannya. Kami tak pernah menentukan waktu kapan akan mengatakan kebenaran asal-usulmu. Sampai kau tumbuh dewasa, sampai suamiku meninggal dan tinggal aku sendirian yang menanggung beratnya beban rahasia.

***

Waktu membeku di kamar ini. Aku menjerit untuk yang ketiga kali meski aku tahu dengan menjerit tak dapat mengurangi secuil pun rasa perih yang disebabkan oleh seribu pisau yang begitu saja menyerbu menguliti ragaku setiap kali aku mengingat pengakuanmu. Kau pastilah ada di ruang belakang sekarang. Kau pastilah mendengar suara pintu kamar yang aku banting dan tiga kali lengking jeritanku. Kau pasti tahu dengan kedatanganku kembali ke rumah ini. Rumah yang sempit. Antara kamarku dengan ruang belakang hanya dibatasi dinding kayu yang tipis. Suara bantingan pintu dan jeritanku pastilah terdengar jelas di ruang belakang. Tapi kenapa kau tak menghampiriku juga? Aku menunggumu, Ibu (betapa berat menyebutmu dengan sebutan lain). Aku menunggumu membuka pintu kamarku dan kemudian mengatakan bahwa apa yang kau katakan sebulan silam sekadar sandiwara, sebatas canda.

Lama aku menunggu. Jangankan  pintu kamarku terbuka, suara langkah kaki mendekat kemari saja tak aku dengar. Kau di mana? Setelah diam cukup lama di kamar akhirnya aku keluar. Berdesir dadaku ketika tidak menemukan siapa pun di semua ruangan di rumah kecil ini selain kesunyian yang mencekam.

***

Bagaimana pun kenyataan mesti dikatakan, meski ujung-ujungnya adalah kepahitan. Betapa berat merawat rahasia selama lebih dari dua puluh lima tahun lamanya. Dan jauh hari sudah aku tebak kalau kau tidak akan menerima begitu saja pengakuanku. Tetapi sungguh, tak aku kira kau akan pergi. Pergi entah ke mana dan selama sebulan lamanya tak kembali.

Sudah aku cari kau di tempat kerjamu, di rumah pacarmu, di pemancingan, di kedai-kedai kopi, dan di jalan-jalan di kota ini yang tak pernah tidur. Mencarimu, sesukar mencari seekor ikan di kemahaluasan samudra. Tapi bukan berarti pencarianku berhenti. Aku terus mencarimu, mencari kabar tentangmu pada kawan-kawanmu dan rekan kerjamu, bahkan pada setiap orang yang aku jumpai dengan menunjukkan ciri-cirimu saat kau pergi. Namun tak seorang pun mengaku pernah melihat lelaki tinggi, ceking, beralis tebal, mengenakan celana panjang katun warna krem, dan kemeja biru kotak-kotak. Kebanyakan yang aku tanya menggeleng, dan sebagian lagi melengos menganggapku miring.

Pagi-pagi aku berangkat dan akan pulang saat malam benar-benar telah tua. Aku susuri jalan-jalan kota dan berusaha menghindar dari selokan. Betapa aku cemas setiap kali melihat selokan!

***

Kebenaran memang mesti dikatakan meskipun itu pahit. Aku jadi ingat kalimat yang sering kau ucapkan padaku itu. Dan baiklah, Ibu. Kalau memang nasibku benar-benar seperti yang kau ceritakan sebulan silam, seharusnya aku memang harus menerima kebenaran. Tetapi ini tidak gampang. Aku marah, Ibu. Aku marah dengan dirimu yang tidak sedari dulu mengatakan rahasia itu. Aku marah dengan diriku sendiri yang gagal menerima nasib yang diguratkan.

Malam kian meninggi. Dadaku diamuk ketidaktahuan serta kesunyian yang mencekam. Aku melangkah keluar rumah, sejenak berdiri di ambang pintu memandang bulan bundar pucat jelek seperti wajah mayat, kemudian bergegas menuju selokan di depan rumah.

Wonosobo, 2013

Ibu yang Selalu Berdandan Sebelum Tidur


Cerpen Jusuf AN

Cerpen ini disiarkan pertama kali di Media Indonesia, Minggu 3 November 2013. Ada beberapa perbedaan antara cerpen yang tampil di Media Indonesia dengan yang dimuat di blog ini. Itu adalah kerja editor, dan saya berterimakasih kepadanya, sebab toh tidak banyak yang diedit, dan tidak menghilangkan substansi cerita. Baiklah, mari kita simak bersama! 

****

Pernahkah kau bayangkan seseorang yang selalu berdandan menjelang tidurnya? Berdandan seperti laiknya orang hendak bepergian jauh ke luar kota, atau untuk menghadiri acara penting, yang benar-benar penting, sehingga ia mesti berdandan sedemikian rupa sehingga mirip orang penting.
O, barangkali itu akan menjadi cerita paling konyol yang baru pertama kali kau dengar. Seseorang yang mandi pada malam hari, menyemprotkan wangi-wangian ke tubuhnya, membungkus tubuhnya dengan busana paling bagus, lalu rebah di kasur, bersiap meluncur menuju tidur.
“Jangan lupa, matikan tipinya sebelum tidur!” Ibu memperingatkanku dari dalam kamar, persisnya dari depan cermin rias di kamarnya.
“Ibu tidak membantuku mengerjakan PR dulu?” Suaraku mengalahkan suara teve.
“PR matematika lagi? Tidak ah! Soal-soalnya terlalu sulit. Mestinya kau bisa belajar bersama teman-temanmu tadi, bukan nonton tipi terus.”
Di rumah ini, tak ada siapa-siapa kecuali aku, Ibu, dan televisi. Dan agaknya televisi sedikit lebih baik ketimbang Ibu, meski pada saat tertentu ia begitu cerewet dan kerap menayangkan jajan-jajan yang tak pernah aku makan.
Kadang aku muak dengan televisi, tetapi kami begitu mudah berdamai. Ketika tak ada tontonan yang bagus atau ketika film kesukaanku digantikan breaking news, aku marah dan meninggalkannya begitu saja, tapi tidak dalam waktu lama kami sudah bersama lagi. Kadang pula aku marah dengan ibu, dan kami sering tidak bercakap-cakap selama hampir seminggu. Setiap aku pulang sekolah, Ibu tak pernah di rumah. Ketika aku pentas drama di sekolah, Ibu tidak hadir. Ibu juga jarang membantuku mengerjakan PR, khususnya matematika. Dan yang paling tidak aku sukai dari ibu adalah kebiasaannya berdandan sebelum tidur. Satu kebiasaan yang membuatku kerap teringat dengan ucapan para tetangga dan teman-temanku tentang Ibu.
“Ibumu sudah mau ke luar negeri lagi, Lex?” tanya mamanya Fitri, suatu kali.
“Sudah kapok,” jawabku, menirukan ibu ketika aku bertanya hal yang sama.
“Kapok? Barangkali lebih tepatnya sudah tidak laku. Kau tahu?”
“Tidak laku?” Aku bertanya dalam hati. Aku tidak paham maksud ucapan mamanya Fitri. Tetapi kemudian, televisi mengajariku kata ‘tidak laku’ itu. Jadi, manusia itu seperti jajan, bisa dijual dan bisa tidak laku? Mungkin saja.
Tak hanya tetangga, guruku juga kerap menyinggung-nyinggung soal Ibu. Ketika kepalaku dicukur gundul oleh Pak Guru, semua teman-temanku  tertawa. Lebih-lebih ketika Pak Guru menghajar dadaku, “Kau anak tukang salon, tapi rambutmu bisa sampai gondrong. Apa mungkin ibumu lebih senang mencukur rambut orang lain ketimbang rambut anaknya sendiri, he?!”
Aku langsung menangis dan menghambur pulang. Ibu tak ada di rumah. Dan waktu itu listrik juga sedang padam. Aku menangis terus sampai ibu pulang. Begitu melihat kepalaku, Ibu langsung tahu kenapa aku menangis. Ketika aku terangkan kalau Pak Guru yang melakukannya, mata Ibu seketika melotot. “Guru edan! Apa tak ada hal lain yang lebih penting ketimbang mengurusi soal rambut!”
Perihal Ibu yang bekerja di salon memang sering menjadi bahan gunjingan banyak orang. Saat Ibu menyuruhku beli sabun atau sesuatu di warung aku kerap mendengar orang mempercakapkan tentang ibu.
“Sejak kapan si Mira kursus salon?”
“Ah, paling-paling di sana menjadi tukang pijat.”
“Hahaha…”
Beberapa tetangga bahkan melarang anak-anak mereka bermain denganku. Doni, Septi, Lusi, Fendy, mengatakan sendiri tentang itu kepadaku. Aku tidak tahu kenapa. Benar-benar tidak tahu. Mereka seolah-olah lebih tahu tentang ibu ketimbang aku atau ibuku sendiri.
Untunglah sampai sekarang tak ada yang tahu perihal ibu yang senang berdandan sebelum tidur. Jika sampai para tetangga tahu, pastilah mereka akan berkata begini kepadaku: “Ibumu sudah gila ya? Mau tidur aja berdandan! Hahaha…”
Aku akan dikatakan anak orang gila? Ah, tidak! Ibuku masih waras. Jauh lebih waras dari Spongebob dan Patrick. Ibuku cantik. Tidak ada orang gila yang cantik. Tapi, kebiasaan Ibu berdandan menjelang tidur itu? Betapa kelakuan Ibu itu mirip dengan…
Aku bangkit dari busa di depan teve, melangkah mendekati Ibu yang masih duduk di depan cermin rias. Tubuhnya masih dibalut handuk kimono. Rambutnya yang masih basah dibiarkan tergerai di punggungnya. Ibu mendekatkan kepalanya ke cermin, menggerak-gerakkan bibirnya yang baru dilipstik warna merah muda. Ia melirikkan mata sejenak begitu menemukan wajahku muncul dalam cermin.
“Sampai kapan Ibu akan berdandan sebelum tidur?” Aku mendengar suaraku yang parau. Ah, pertanyaan itu lagi, yang sudah aku ulangi lebih dari lima kali.
“Ibu tidak tahu, Lex.” Jawaban yang sudah aku duga. Selalu jawaban itu.
“Kalau Ibu tidur pakai baju putih dan bertemu ayah dalam mimpi, apa di sana Ibu masih pakai baju putih?”
Ibu memalingkan muka ke arahku. Cukup lama matanya tertancap pada wajahku.
“Aku pernah tidur pakai kaos sepak bola, tapi di mimpiku aku sedang hujan-hujanan tanpa pakai baju.” Itulah satu-satunya mimpi yang paling aku ingat dalam hidupku.
“Itu tidak lucu!” Dan Ibu meletakkan lipstiknya di meja, lalu mulai mengoseskan pelembab atau entah apa di wajahnya.
“Ibu…”
Hmmm.”
“Sudah dua tahun Ayah meninggal, kenapa Ibu tidak mencari ayah baru?”
Ibu tercekat sebentar, tapi kemudian meneruskan lagi berdandan. Ia mungkin sudah bosan dengan permintaanku yang satu itu. Permintaan yang entah kenapa tidak juga ia sanggupi.
Apa sulitnya bagi Ibu mencarikan Ayah baru buatku? Aku sering mendengar ibu bercakap-cakap dengan seorang lelaki lewat telepon. Beberapa kali Ibu juga menerima tamu laki-laki. Meski Ibu sendiri terkesan kurang ramah dengan tamu-tamu itu toh ia sudah membukakan pintu buat mereka.
“Aku ingin punya adik, Ibu. Biar ada teman di rumah ini. Masa’ temanku cuma televisi.” Aku menggelendot di pundak ibu. Hanya sebentar, karena handuk kimono yang Ibu kenakan agak basah.
“Tunggulah sampai SMP, tiga tahun lagi. Nanti kau bisa sekolah di luar kota dan tinggal di asrama. Kau akan punya banyak teman baru yang menyenangkan.”
“Sekolah di luar kota! Apa Ibu tidak akan kesepian tinggal di rumah ini sendirian?”
“Semua orang tua harus siap ditinggalkan.” Ibu mendesah, lalu berdiri membuka lemari. Aku memandang wajahnya yang putih bersih, bibirnya yang merah, dan rambutnya yang panjang melebihi bahu. Ibu tampak seperti perempuan bintang iklan shampo.
Ibu melepas kimononya dan tetap membiarkan aku berada di dekatnya. Barangkali Ibu masih menganggapku anak-anak, meski diam-diam aku sering mengamati kulit Ibu yang mulus. Ah, Ibu.
“Kalau Ibu siap ditinggakan, lalu kenapa Ibu melarangku keluar malam-malam?”
“Itu pesan ayahmu!”
“Benarkah? Apakah Ayah sudah di surga?”
“Yang jelas, ayahmu bahagia di alam sana.”
“Apa Ayah bisa melihat aku, Ibu?”
“Tentu saja. Tapi kita tidak bisa melihatnya lagi.” Ibu sudah mengganti handuk kimono dengan celana panjang dan baju bunga-bunga. Kini Ibu mulai menyisir rambutnya. Aku sudah duduk di bibir ranjang, memperhatikan Ibu yang begitu bersemangat berdandan.
“Katanya, Ibu sering berjumpa dengan Ayah di alam mimpi?”
“Itu benar, Alex. Ayahmu masih bisa ditemui dalam mimpi.”
Aku hanya ingin penegasan dari Ibu soal perjumaannya dengan ayah di dalam mimpi. Dan pengakuan Ibu tidak ada yang berubah. Sebelumnya, Ibu sudah kerap mengaku sering berjumpa dengan ayah. Tidak setiap malam, tapi sering. Mungkin itulah yang membuat Ibu tidak lupa untuk berdandan saban malam sebelum tidur; agar ketika bertemu ayah dalam mimpi, Ibu tampak cantik. Ah, tidak. Bukankah aku tidur pakai kaos bola, tapi di dalam mimpi aku bermain hujan tanpa pakaian.
Ibu sendiri tidak pernah menerangkan dengan terang tentang kenapa ia terus berdandan saban malam. Hanya sekali ia pernah menyampaikan bahwa apa yang ia lakukan itu semata-mata untuk ayah. “Agar ayahmu senang dan mau memaafkan Ibu.”
Ibu tidak pernah berterus terang tentang kesalahan yang ia perbuat terhadap Ayah. Tapi menurutku Ibu memang punya banyak dosa, bukan hanya salah saja. Bukan hanya kepada ayah, tetapi juga kepadaku. Ia merantau ke Arab ketika aku masih bayi. Katanya semua itu demi keluarga. Demi aku, khususnya. Untuk membangun rumah, beli baju, kulkas, dan televisi. Ya, memang Ibu telah banyak berdosa sekaligus banyak berjasa kepada kami. Dan ia memang pantas untuk minta maaf.
“Apakah di alam sana, ayah masih sakit jantung, Ibu?”
Hem, Ayahmu sehat. Sangat sehat, lebih sehat dari ketika ia hidup.” Ibu sudah selesai menyisir rambutnya. Ia duduk disampingku dengan mata nyalang memandang foto ayah yang tergantung di dinding.
“Apa Ayah marah jika Ibu menikah lagi?”
“Ibu tidak tahu.”
“Jika Ibu bertemu Ayah, cobalah tanyakan soal itu. Aku kira Ayah akan setuju. Ayah adalah orang paling baik di dunia, jauh lebih baik dari pada Pak Guru.”
Ibu terdiam cukup lama. Kepalanya tertunduk. Jari jemarinya lunglai di paha. Barangkali ia sedang menimbang-nimbang usulku. Aku mendongak melihat jam, dan buru-buru keluar kamar, tahu kalau acara kesukaanku sudah dimulai.
“Pelankan suara tipinya, Lex. Ibu mau tidur!” teriak Ibu dari dalam kamar.
***
Sekitar satu jam kemudian aku masuk ke kamar Ibu. Seketika harum parfum mawar menusuk hidungku. Lampu aku nyalakan, lalu rebah di sampingnya. Sebenarnya, Ibu lebih suka aku tidur sendiri. Tapi film yang barusan aku tonton telah menyiutkan nyaliku. Ohya, tipinya lupa belum matikan. Ah, biarlah, toh televisi tidak punya rasa kantuk.
Ibu tidur miring berhadap-hadapan denganku sehingga aku bisa melihat alisnya yang melengkung indah. Napasnya mengalir tenang dan wajahnya tampak damai dan terlihat lebih cantik ketimbang saat Ibu terjaga. Aku baru mau memejamkan mata ketika kulihat bibir Ibu tersenyum. Mungkin Ibu baru saja bertemu dengan Ayah dan semoga ia tidak lupa menyampaikan permintaanku. Hanya sebentar, tak lebih dari lima detik, senyum Ibu telah hilang. Aku menunggu bibir Ibu kembali mekar untuk kemudian aku akan menganggap bahwa Ayah pastilah telah menyetujui permintaannya. Entah berapa lama aku menunggu. Tahu-tahu sudah pagi. Kurasakan Ibu menepuki bokongku keras sekali. “Kau apakah tipinya? Kenapa tak bisa nyala, heh?!”

Wonosobo, 2013


Rayuan Terakhir di Hari Kebangkitan

Rayuan Terakhir di Hari Kebangkitan

Cerpen Jusuf AN

Aku yang sudah sebulan penuh terpasung oleh puasamu, tiba waktunya untuk bangkit. Saat khutbah ‘Ied usai, seketika aku menggeliat, secepat kilat terbang melesat, meninggalkan tempat persembunyianku yang rahasia. Aku berdiri di genting masjid, di bawah langit mendung. Menunggumu, Somad!

Dadaku bergemuruh ketika mendengar orang-orang bershalawat, melihat mereka berbaris berderet-deret untuk bersalam-salaman. Melihat itu dadaku tersedak, ngilu; menangis aku tersedu-sedu. Kau tak juga terlihat di antara orang-orang yang mulai ribut mencari sandal di emperan masjid. Kau di mana, Somad? Apa yang kau kerjakan di dalam masjid? Cepatlah keluar! Sandal barumu, tidakkah kau cemaskan akan raib!

Puih! Betapa aku tak bisa meremehkanmu kini, wahai lelaki yang betah berdiam dalam masjid. Kau, yang dulu begitu mudah menuruti rayuanku, akankah kini tak mengindahkanku lagi? Betapa dadaku diremas cemas. Lebih seperempat abad aku menguntitmu. Sejak kau lahir, baru tahun ini kau dapat puasa sebulan penuh. Tak pernah terbayangkan; sangatlah memalukan buatku.

Dulu, kukira kau mudah kujadikan kekasih. Kukira kau tak jauh beda dengan warga di kampungmu. Sebuah kampung kecil dengan kehidupan kota: pemuda-pemuda yang senang hura-hura, mementingkan dandan, menghabiskan malam dengan arak dan gitar; orang-orang tua yang sibuk menumpuk harta, lupa pada bau tanah kubur; dan anak-anak gemar menetek pada televisi.

Kau bukan anak Kiai, bukan pula orang berharta. Ayahmu cuma seorang penjaga sekolah dasar, sedang ibumu penjual gorengan. Kau kecil jarang sekali singgah lama di rumah, tersebab tak ada televisi di rumahmu. Lalu kau tumbuh menjadi lelaki muda yang tampan, dengan tubuh kekar dan hidung paruh elang. Aku turut senang, karena dengan tubuh dan paras yang kau miliki, kau akan diidamkan banyak perempuan.

Dan benarlah. Dua bunga desa menawarimu madu saat usiamu dua puluh. Kau tak memilih salah satu di antara keduanya melainkan memilih kedua-duanya. Terimakasih, Somad, kau mau mendengarku.

Gita dan Dewi, mekar di dasar hatimu, mengisi mimpi-mimpimu, membuatmu sibuk merancang jadwal kencan dan bualan. Gita anak tuan tanah, dan Dewi anak kepala desa, jelas-jelas tak menjunjung martabat keluarga; bodoh benar mau mau menjadi pacarmu. Ai, ai, rayuanmu memang hebat, Somad. Dan tak perlu kau tahu siapa yang telah turut serta membantumu.

Tapi sayang, setelah dua bulan hubunganmu dengan dua gadis itu berjalan, wajah anjingmu terbongkar juga. Kau menyesal kenapa dulu tak memilih salah satu saja di antara mereka. Dan aku, begitu melihatmu menyesal begitu sigap bertindak. Aku, tentu saja tak ingin melihat tanganmu sepi dari menjamah tubuh perempuan dalam waktu lama. Maka segera kualirkan ketenangan ke dadamu, “Masih banyak bunga lain, Somad, sedang kau kumbang bersayap emas. Tak perlulah kau cemas!”

Sebulan berlalu, kau sudah berkali-kali mencoba mendekati bunga-bunga lain yang bermekaran di kampungmu, juga bunga-bunga di luar kampung. Tapi tak kau dapat juga. Akupun segera menjadi pembimbing setia bagimu. “Perempuan sekarang, tak hanya melihat tampang, Somad! Kau butuh sesuatu.”

Seminggu setelah rayuanku terus kuhembuskan ke dadamu, setelah sebelumnya kau mengalungkan golok ke leher ayahmu, kau membeli motor bekas dari uang penjualan sepetak tanah milik ayahmu. Aku tertawa, riang bukan kepalang. Kau yang cuma tamatan SD, akhirnya menjadi tukang ojek  dan pelamun yang tangguh. Yang kau lamunkan cuma satu: Fita. Perempuan anak Kepala esde tempat ayahmu bekerja.

Fita, bukan main, tak ada yang menandingi kejernihan matanya, putih wajahnya, dan keluwesannya dalam berpakaian. “Fita, kapankah aku dapat memboncengmu?”

Tenang, Somad, Fita sudah dekat padamu, sebentar lagi akan melingkarkan lengannya yang mulus ke perutmu. Aku kawanmu, Somad, sudah bosan mendengar igaumu setiap malam, menyebut-nyebut nama Fita melulu.

Dan untuk kesekian kalinya apa yang aku rencanakan dapat berjalan tanpa aral. Malam senyap ketika Fita melajukan motornya menyusuri jalan berbatu yang gelap. Di tengah perjalanan ban motornya bocor . Kau yang waktu itu bosan diam di rumah keluar menaiki motor, bermaksud membeli arak oplosan di pangkalan ojek. Ketika melihat Fita apes di tengah jalan, kau seperti melihat bulan yang jatuh dari langit. Kau menolongnya, menyandarkan motormu di tengah jalan untuk kemudian menuntun motor Fita sampai bengkel tambal ban. Fita turut berjalan mengiring motornya bersamamu, melahirkan pecakapan panjang yang menyejukkan dadaku. Senangnya aku—lebih-lebih kau—ketika menyadari kalau harapanmu untuk mendapatkan Fita mulai nampak tanda-tandanya.

Demikianlah, seminggu kemudian, Fita takluk padamu. Kau takluk padaku. Kau bonceng Fita ke tempat-tempat wisata: pantai, hutan, kebun binatang, juga candi-candi harum dupa. Tak butuh waktu lama, jari-jari Fita yang lentik menyerah untuk kau remas, pipinya dapat kau belai, dan ludahnya telah pula kau isap. Setahun lebih kau jalani hubungan cinta (demikian kau sering menyebutnya) dengan Fita, tentu tanpa sepengetahuan orang tuamu dan orang tua Fita. Sampai beberapa bulan kemudian terbersitlah keinginan di hatimu. Sebuah keinginan yang tak pernah aku turut menghembuskannnya: Menikah!

“Kau dengarkan aku, Somad! Ayahmu bisa dipecat karena niat konyolmu menikahi anak atasannya. Cinta tak butuh tanda tangan, camkan itu! Nikmati saja hari-harimu bersama Fita, tak usah berpikir untuk menikah segala.”

Tapi kau, yang belakangan sering diejek rekan sesama tukang ojek, yang usianya sepantaran denganmu tapi sudah beranak dua, menjadi sukar kurayu. Keinginanmu untuk menikahi Fita bergejolak, seperti perut gunung hendak meledak. Maka, pagi-pagi benar, sebelum ayahmu berangkat membuka pintu gerbang sekolah dasar, kau katakan keinginanmu itu.

Merah mata ayahmu. Membara wajahnya. Gemetar bibirnya. Mengencang urat lehernya.

“Kami saling cinta, Bapak. Restuilah kami.” Baru kali ini kudengar kau begitu takdzim pada orangtua. Ayahmu, yang tolol tapi penyabar, begitu mendengar rengekanmu seketika mengendur syaraf tegangnya.

“Kau memang sudah waktunya menikah. Tapi bukan dengan mbak Fita!”

“Sungguh, Bapak, cuma Fita seorang gadis yang kucinta, lamarkanlah untukku.”

Ayahmu lalu menawarimu beberapa gadis sekampung yang sejajar dengan status keluargamu. Yati, Khoiriyah, Siti, Sri, Juwar. Setiap disebutkan nama gadis pilihan ayahmu, setiap itu pula kau menggelengkan kepala. Dadamu batu. Kepalamu batu. Cuma Fita yang kau mau.

Sungguh, tak kutemukan celah di hatimu untuk melupakan keinginanmu untuk menikah. Tapi untunglah, berkali-kali kau telah merengek pada ayah-ibumu untuk melamarkan Fita, berkalali-kali itu pula kau tak mendapat restu. Hingga keluarlah dari mulutmu perkataan yang tak pernah aku sangka: “Tuhan tidak adil!”

“Aha! Kau benar, Somad. Tuhan memang tak adil. Kalau ia adil, pasti kau lahir di keluarga kaya dan akan dapat bersanding dengan Fita di pelaminan.”

Dadamu remuk, ketika pada akhirnya Fita melanjutkan kuliah ke kota. Kau yang tak ingin mati oleh rindu memilih menyusulnya—merantau ke kota tempat Fita kuliah, berharap dapat melanjutkan hubunganmu di tempat yang jauh.

Selama setahun kau mencari tempat kos Fita dan akhirnya berhasil ketemu. Tapi malang, Fita telah hinggap pada kumbang lain. Kau tak berdaya dengan takdir pahitmu kemudian mengadu pada berbotol-botol arak.

Sampai di sini aku masih pemenang atasmu. Aku masih menganggap kau temanku yang setia. Sampai Ramadhan kedua sejak kepergianmu. Ramadhan celaka yang menyerangku, memasungku dengan puasa yang kau jalani.

Aku tak percaya ketika malam pertama Ramadhan kau mendadak terbangun tengah malam. Kau terbangun begitu saja, tanpa kutahu sebabnya. Lama kau terdiam di atas gelaran busa di kamarmu. Menerawang isi kepalamu, aku jadi tahu, kepalamu dikuasai bayangan rumah. Rumah dan dua orang tuamu yang telah kau tinggalkan hampir dua tahun. Kau terbayang wajah ayahmu yang selalu teduh dan bersemangat. Juga wajah ibumu yang kemerahan di depan tungku. Kau teringat masa kecilmu, saat-saat kau selalu membuntut ibumu kemana pun pergi. Kau terkenang pada ayahmu yang tak pernah mengeluhkan nasib. Kau menundukkan kepala saat ingat dengan dosamu sewaktu mengalungkan golok ke leher ayahmu demi sepeda motor. Mendadak dadamu dipenuhi rasa penyesalan; hatimu disergap kerinduan. Dan kau merencanakan sebuah kepulangan.

Aku tersintak. Tak percaya. Tidak mungkin, tidak mungkin!

Cepat-cepat aku berjuang untuk membangkitkan ingatan masa lalumu; tentang orang tuamu yang tak mau melamarkan Fita. Aku tahu, sampai sekarang kau masih percaya jika dulu orang tuamu mau melamarkan Fita, pastilah keluarga Fita akan setuju. Sebab kau sendiri pernah mendengar dari mulut Fita, kalau keluarga Fita tidak memandang status keluarga.

Sekuat tenaga aku mencoba menjejalkan masa lalu yang paling kau benci itu, tapi tak sepenuhnya berhasil. Beberapa kali, kau sempat terbersit ingatan tentang itu. Namun, seakan ada kekuatan lain yang membentengi dadamu, menghalau kenangan yang kujejalkan di kepalamu.

Mungkin, ya, sangat mungkin, orang tuamu kini tengah terjaga, memanjatkan doa-doa untukmu. Ya, kesadaranmu yang mendadak tegap berdiri tentulah bukan kebetulan semata, melainkan pasti ada sebabnya.

Aku membujukmu untuk kembali tidur, tapi kau tak mau. Kau bergerak membakar rokok, kemudian keluar kamar, berjalan menuju warung makan. Tapi celaka, di dadamu kulihat seberkas cahaya. Cahaya yang lahir dari niatmu untuk berpuasa esok hari, membuatku panik sekali.

Inilah awal mula aku menjadi sering salah menebak isi dada dan kepalamu. Tadinya kukira kau tak akan sanggup menjalani puasa sehari penuh sebagaimana tahun lalu, disebabkan kerjamu sebagai kondektur bus kota butuh tenaga ekstra. Aku yang telah terpasung oleh puasamu menjerit-jerit, berontak, mencoba melepaskan diri, yakni dengan cara membujukmu, terus-terusan membujukmu untuk membatalkan puasa pertamamu. Tapi seberkas cahaya yang lahir sebelum kau sahur benar-benar telah merepotkanku. Niatmu untuk berpuasa tidak main-main, membuat sekujur tubuhku lemas tak berdaya.

Somad, kalau kau ingin memutus persahabatan denganku, baiklah. Aku boleh terpasung oleh puasamu. Tapi tunggu nanti! Ketika Ramadhan habis, aku akan bangkit dengan kekuatan penuh. Tunggulah, aku sudah memiliki sebuah rencana besar untukmu, Somad!

Aku tahu, kau masih mendambakan Fita. Hatimu tak terbuka untuk perempuan lain kecuali anak kepala sekolah itu. Seminggu sebelum kepulanganmu, kau sudah mengantongi kabar tentang Fita dari kawan sekampung. Fita yang telah berhenti kuliah karena tak betah tinggal berjauhan dengan orang tua, ternyata juga sering menanyakan kabarmu. Sudah ada beberapa pemuda datang melamarnya, tetapi Fita menolaknya.

Di atas bus yang melaju membawamu pulang berkali-kali kau terbayang wajah gadis itu. Kau yakin, Fita sebenarnya juga masih menginginkan menjalin hubungan denganmu. Fita adalah masa lalu sekaligus masa depanmu.

Kampung halaman menyambut kepulanganmu dengan adzan subuh yang menderaku. Dua orang tuamu terpana, tak percaya melihat kepulanganmu. Kau tak berkata banyak, kecuali membuka tas dan memberikan seplastik besar oleh-oleh untuk orang tua dan dua adikmu. Setelah mandi, kau mengganti baju dan sarung baru, segera menuju masjid untuk merayakan kemenangan. Aku mengeram, bersiap melancarkan rencana yang telah kususun.

Kini, jama’ah shalat ‘Ied sudah bubar. Tak ada lagi sandal terlihat di emperan masjid. Kalau pun ada itu cuma sepasang sandal jepit yang beda warnanya. Kuharap nanti, kau akan mengutuk orang yang mencuri sandalmu. Dan kutukanmu akan membuat celah di hatimu sebagai jalan bagiku untuk bisa memasukinya.

Kaulah orang terakhir yang keluar dari masjid itu. Setelah berusaha mencari sandal barumu dan tak menemukannya, kau memilih pulang dengan kaki telanjang. Kau sedikit jengkel tapi tak mengutuk orang yang mengambil sandalmu. Wajahmu nampak bersih, dan dadamu, puih, membuat pandanganku silau. Kau tampak seolah-olah telah menang, Somad. Tapi jangan dulu bangga, karena sebentar lagi, akan aku padamkan cahaya di dadamu.

Aku tahu, nanti, sebelum kau sungkem di lutut orang tuamu, kau telah berencana untuk kembali meminta mereka agar mau melamarkan Fita. Aku tahu, keinginanmu menikah dengannya masih menggebu-gebu. Sedang orang tuamu pastilah tak sudi memenuhi keinginanmu yang satu itu. Betapa dua dada yang batu yang bertemu akan mencipta percik api. Dan di tanganku, api sangat berguna, terutama untuk membakar cinta; melenyapkan cahaya dadamu, Somad!

Mungkin nanti kau akan merengek memaksa mereka. Sementara orang tuamu tak goyah, tak sudi menuruti permintaan cengengmu. Lalu kau marah. Di saat kau marah, saat itulah timbul celah di dadamu untuk kumasuki. Aku akan segera menyelusup, menyatu dengan darahmu, menggerakkan otakmu, menjadi tuan bagi tubuh dan lidahmu. Tak akan pernah ada sungkeman antara kau dengan orang tuamu. Yang ada nanti adalah perang mulut antara kau dan mereka. Perang mulut yang berpeluang melahirkan kutukan, mungkin juga maut!

Pengakuan Sampah

 

filipinas

Cerpen Jusuf AN
Cerpen ini mendapat juara pertama Lomba Cerpen Tirto Utomo Award 2013

Seorang anak muda dengan mata menyorot merah muncul dari pintu. Ia berjalan mendekatiku yang berdiri diam di beranda. Aku tak percaya ketika tiba-tiba ia melayangkan kakinya, menendangku. Aku terbang sebentar di udara sebelum kemudian terjatuh, tepat di tengah jalan raya. Semua isi perutku tumpah di aspal. Tidak beberapa lama, sebuah mobil datang menggilasku, membuat tulang-tulangku patah.

Sejak itulah, aku resmi berganti nama. Tidak tepat lagi aku menyandang nama Tempat Sampah. Dalam keadaanku yang seperti sekarang, semua orang tahu namaku: Sampah!

Bermacam kendaraan yang melintas terus-terusan menggilas tubuhku yang telah gepeng serupa lempengan seng. Mulanya aku berada di tengah-tengah jalan raya, lama-lama aku dibawa menepi oleh roda-roda yang melindasku tiada henti. Sementara sampah-sampah yang tadinya berada di perutku, yang kebanyakan adalah sampah kertas dan plastik telah beterbangan, berpencar-pencar, menerima takdirnya masing-masing.

Ya, sebagai sampah kami memang harus menerima nasib yang telah diguratkan. Sebab menolak pun akan percuma. Kami tak dapat memilih, atau lebih tepatnya, kami tak punya pilihan sama sekali. Nasib kami tergantung bagaimana manusia memperlakukan kami.

Angin bertiup kencang, merontokkan dedaunan dan ranting-ranting kering pohon rambutan. Tubuhku tergeletak tak berdaya, sama sekali tak punya daya, apalagi upaya. Bisaku cuma berandai-andai, atau lebih tepatnya berangan-angan saja. Aku angankan seorang pemulung datang, memungutku, membawaku ke pengepul, hingga pada akhirnya aku menjelma sebagai barang baru, bukan lagi sampah yang tak berarti.

Lama aku menunggu pemulung itu datang. Pemulung yang bisa muncul kapan saja, dan dengan penuh cinta memungut tubuhku, memasukkannya ke dalam keranjang atau karung dengan hati yang barangkali tersenyum.

Sejauh ini, yang aku tahu, hanya pemulung saja yang benar-benar memahami keadaanku. Hanya pemulung saja yang mengerti dan tahu angan-angan bangsa kami, bangsa pada Sampah.

Tapi sang pemulung yang aku tunggu tak juga muncul. Sementara langit terlihat pucat. Angin terus bergerak mengarak awan, dan perlahan warna langit mengelam. Dalam waktu yang tidak begitu lama siang menjadi remang.

O, celaka! Hujan akan segera tiba. Kenapa kau tak jua datang, wahai sang pemulung? Tidakkah kau tahu bahwa aku tidak begitu suka terhadap hujan? Cepatlah datang!

Tapi keinginanku sia-sia saja. Sampah sepertiku barangkali memang tidak pantas untuk berkeinginan. Langit telah menjatuhkan butir-butir air — yang mungkin adalah anak-anaknya. Anak-anak langit yang tidak aku sukai, beberapa telah menitik di tubuhku. Aku telah cukup sering mengalami hal seperti ini, sehingga bisa membayangkan akan seperti apa nasibku jika saja sang pemulung tidak segera datang.

Dulu, sebelum aku keluar dari pabrik sebagai tempat sampah berawarna abu-abu, aku pernah menjadi pipa paralon. Paralon yang panjang, yang kemudian dipotong-potong untuk dipasang sebagai pelindung kabel listrik di sebuah gedung pemerintahan—aku mengetahuinya dari percakapan para tukang yang memasangku. Gedung itu berdiri tidak begitu lama. Barangkali karena campuran bahan bangunannya tidak baik atau karena salah desain, entahlah. Yang terang, gedung itu diruntuhkan.

Aku dan teman-temanku dicampakkan begitu saja di pinggir jalan, barangkali mereka telah menggolongkan kami sebagai sampah, bukan lagi pipa paralon yang masih bisa digunakan. Tapi, kami beruntung, sebab tak lama kemudian datanglah sang pemulung. Kami dibawa ke pengepul sampah, sebelum kemudian diangkut lagi dengan truk yang besar, bergoyang-goyang tubuhku di jalan yang bergelombang. Tiba di tempat tujuan, kami kemudian di kelompokkan menurut jenis kami masing-masing.

Aku yang tergolong sampah plastik keras digabung bersama pecahan ember, vas bunga, pigura, pintu kamar mandi, sepeda balita, dan berbagai macam sampah lainnya. Beberapa temanku sebenarnya masih terlihat bagus, hanya perlu dibersihkan untuk bisa dikembalikan kegunaannya. Memang, sebuah barang, dinamai sampah atau bukan, tergantung siapa memandang dan menggunakan.

Setelah dikelompokkan, kemudian kami dimasukkan ke dalam wadah raksasa yang barangkali terbuat dari baja, siap untuk dileburkan. Tubuhku meleleh bersama tubuh-tubuh sampah lainnya. Kami meleleh menjadi bubur. Kesadaran kami menghilang, lebur dengan perasaan kami yang gembira riang, bersiap untuk dibentuk menjadi barang apa saja. Saat aku kembali tersadar, kutahu diriku bukan lagi pipa paralon, melainkan bak mandi bayi. Warnaku merah menyala. O, indahnya.

Aku terbangun dari lamunan. Anak-anak langit yang genit itu semakin lama semakin banyak berjatuhan. Tubuhku telah sempurna basah. Sementar sang pemulung tak datang juga. Payah!

Lebih payah lagi, hujan tak juga reda, bahkan kian menggila. Air mulai menggenang di aspal, tubuhku telah terbenam, dan perlahan-lahan mulai terseret air. Saat itulah, aku mencoba untuk pasrah.

Air terus menyeretku, ke selokan. Bersama sampah-sampah lain aku berenang. Ada bungkus chiki, sikat gigi, bungkus mie, dedaunan, reranting pohon, dan aneka sampah lainnya.

“Gawat!” Aku berteriak. Sulit rasanya untuk benar-benar pasrah.

“Kok gawat?” sehelai daun yang mengambang di dekatku menimpali.

“Aku bilang gawat!”

Lhah kenapa? Apa yang digawatkan bagi sampah macam kita?”

“Aku dan kau memang sama-sama sampah. Tetapi kita berbeda.”

“Berbeda bagimana?”

“Kau daun kering, usiamu cuma beberapa hari saja. Sementara aku…”

“Aku paham maksudmu, Kawan.”

“Kau bisa bayangkan, sekiranya nanti aku terseret hingga sungai, terdampar begitu saja di sebuah tempat yang tak terlihat? Usiaku bisa ratusan tahun. Tetapi jika tidak memberikan manfaat bagi kehidupan, dan justru merugikan, betapa itu sangat menyedihkan bagiku.”

Sehelai daun itu, hei, di mana dia? Ah, mungkin telah mendahuluiku, atau tersangkut sesuatu di belakangku, entahlah.

“Sudahlah, kita tak dapat memilih, punya pilihan pun tidak.”

Aku mendengar suara itu. Di belakangku kulihat gelas air minum kemasan yang mengambang begitu tenang, seolah-olah telah benar-benar pasrah menjalani nasib yang diguratkan.

“Terima kasih sudah mengingatkan,” tanggapku pendek.

Sesama sampah memang harus saling mengingatkan. Benar, kami memang harus pasrah, sebab kami tak punya pilihan. Demikian pula ketika tiba-tiba tubuhku membentur kayu panjang yang melintang. Tubuhku tenggelam, terhimpit bersama ranting-ranting kecil, tak bisa bergerak sama sekali. Sampah-sampah berdesakan mendorongku, dan aku mengira air yang tak menemukan jalan melintasi selokan seketika meluap ke jalan raya.

Entah berapa lama aku terdiam di selokan. Langit terlihat cerah ketika seorang manusia memungutku yang terjepit di kayu panjang yang melintangi jalan selokan. Inilah pemulang yang aku tunggu-tunggu! Tapi ternyata orang itu tidak membawaku, tidak memasukanku ke dalam karung atau keranjang. Bersama reranting, dedaunan, dan sampah-sampah plastik lain, aku dimasukkannnya ke dalam lubang tanah.

Tamatlah riwayatku! Nanti, besok atau lusa, orang itu pastilah akan membakarku. Ini lebih menyedihkan ketimbang aku terlempar ke pinggir sungai. Jika terdampar pinggir sungai atau terkubur di dalam tanah aku masih punya kesempatan seseorang menemukanku dan memperlakukanku sebagaimana yang dilakukan oleh para pemulung. Jika aku sampai dibakar, aku tidak punya kesempatan lagi untuk mengabdikan diriku sebagai barang yang berguna. Aku akan menjadi senyawa, terbang ke angkasa, dan manusia akan mengataiku sebagai residu dan gas berbahaya.

Ya Tuhan! Aku tak bisa memilih, sebab memang Kau tak memberiku pilihan. Tetapi ijinkanlah aku untuk memohon. Datangkan pemulung ke tempat ini. Perlihatkan padanya keberadaan kami! Amin.

Kalau pemulung itu benar-benar datang, berarti Tuhan telah mengabulkan doaku. Dan aku akan memohon lagi kepada-Nya untuk menjadikan diriku emas saja. Hem, apakah ini mungkin? Mungkin saja. Aku pernah mendengar seorang ayah mendongeng kepada anaknya tentang sepasang sandal yang berdoa untuk menjadi tikus, dan Tuhan mengabulkan keinginan mereka. Jadi, apa yang tidak mungkin bagi Tuhan untuk mengubahku menjadi emas.

Pemulung yang menemukanku pasti akan sangat gembira. Dan aku akan turut gembira. Aku termasuk sampah yang beruntung, sudah terlalu banyak berhutang budi kepada para pemulung. Untuk pertama kalinya pemulung menyelamatkanku yang waktu itu berupa pipa paralon, sehingga aku bisa berubah wujud menjadi bak mandi bayi. Beberapa tahun setelah itu, ketika tubuhku sebagai bak mandi telah pecah, pemulung kembali datang menyelamatkanku, membawaku ke pengepul sampah, hingga kemudian tahu-tahu aku sudah menjadi rangka monitor teve. Bertahun-tahun kemudian, setelah tubuhku gosong-gosong, aku dibuang ke bak sampah, sampai ada pemulung menyelamatkanku untuk ke sekian kali. Tahu-tahu aku sudah menjadi tempat sampah, sesuatu yang sungguh luar biasa. Seorang manusia membeliku di sebuah toko, dan berminggu-minggu kemudian, seorang anak muda yang marah menendang tubuhku ke jalan raya.

Aku membayangkan tiba-tiba seorang pemulung datang, melirik ke lubang tempatku bersemayam, dan ketika mau memasukkanku ke dalam karung, dia terkejut menyadari barang yang dipungutnya bukan berupa tempat sampah yang telah gepeng, melainkan lempengan empas berkilauan. Dia mungkin akan buru-buru menjual aku, dan dengan uangnya dia bisa membeli banyak kebutuhan. Mungkin juga dia akan mendadak jadi kaya, dan dengan begitu tidak mau memulung sampah lagi.

Ah, jangan! Ini berbahaya. Pemulung yang menemukanku tetap harus jadi pemulung. Aku tidak begitu suka dengan orang kaya yang senang memborong barang-barang baru, lalu mencampakkannya begitu saja ketika tak lagi dibutuhkan. Pemulung yang menemukanku haruslah tetap menjadi pemulung. Tapi, aku tidak yakin. Sebab, bukankah pemulung juga manusia. Dan setahuku, manusia adalah makhluk yang mudah lupa akan tugasnya dilahirkan ke dunia.

Aduh, terus bagaimana baiknya? Apakah aku tidak perlu memohon untuk menjadi emas? Mungkin lebih baik kubiarkan saja pemulung membawaku dalam wujud asliku, dan akan aku nikmati nasibku selanjutnya, apa pun wujud dan peranku setelah ini.

Tapi kapankah pemulung itu akan muncul? Tidakkah Tuhan mendengar permohonanku? Sudah dua kali matahari melintas di atas lubang tempatku bersemayam, tetapi belum aku temui tanda-tanda kemunculan sang pemulung. Jangan-jangan pemulung dilarang masuk wilayah ini.

Tiba di hari ketiga sama saja. Harapanku semakin melepuh. Lubang tempatku menanggung derita ini makin lama makin penuh. Dan aku begitu terkejut ketika kudengar suara langkah orang mendekat. Tadinya kukira itu jawaban Tuhan atas doaku.

Tetapi dugaanku keliru, karena orang itu bukannya memungut aku, tetapi justru menyiramkan air dari dalam botol. Aku terkejut dengan bau air yang telah membuat sebagian tubuhku basah ini.

O, gawat! Sungguh-sungguh gawat. Riwayatku sebentar lagi akan benar-benar tamat.

“Ayah mau membakar sampah ya?”

“Iya, habisnya tidak ada petugas sampah lewat depan rumah kita.”

“Tapi, Yah. Bukankah di kampung ini sudah ada Bank Sampah?”

“Ayah malas kalau harus memilah-milah, lebih baik ayah bakar saja.”

“Tenang, Yah. Mumpung hari libur, biar anak ayah ini yang kerjakan.”

“Apa Ayah tidak salah dengar?”

“Jangan kaget begitu, Yah. Biasa saja.”

Benar-benar tak terduga ada anak seperti itu di dunia. Sebelum mengambil sampah-sampah plastik yang lain, akulah yang pertama kali dia pungut dan dimasukkan ke dalam plastik besar. Tubuhku bergoyang-goyang cukup lama, sampai aku mendengar suaranya: “Tabunganku hari ini, Pak.” Aku tak tahu dia sedang berbicara dengan siapa. Entah apa pula maksud kalimatnya.

Mungkinkah anak itu adalah kiriman Tuhan untuk menjawab permohonanku? Entahlah. Yang terang, anak itu sudah menolongku.

Kelak, aku akan menjelma menjadi barang baru. Dan aku tahu, suatu waktu aku akan menjadi sampah lagi. Semoga Tuhan kembali mempertemukanku dengan anak seperti itu.

Wonosobo, Januari 2013

Warisan Ayah

sm, 11 agustus 2013Cerpen Jusuf AN, Dimuat Suara Merdeka Minggu, 11 Agustus 2013

BIARLAH Ayah saja yang menderita, dengan perut pias membusung, serta wajah ditumbuhi bercak-bercak yang setiap menit akan meledak buncahkan nanah dan darah. Biarlah Ayah tercekam dalam detik-detik sekarat di atas ranjangnya yang luas ditemani puluhan dokter paling handal di kota ini. Andai saja ia nanti mati, kami tak ingin menguburkannya. Kami tak ingin ia mengenalkan pada kami hal paling menakutkan bernama derita.

***

Setelah menyelesaikan kuliah, kami berempat disuruh memilih pekerjaan yang kami suka. Dan entah kenapa pilihan kami sama: membantu Ayah memimpin kota. Sebuah kota yang subur dengan kekayaan alam yang luar biasa melimpah. Sebuah kota yang penduduknya taat beribadah, tetapi gampang dibodohi.

Ayah memberi kami jabatan penting di kantor pusat kota. Ia juga mengajak kami mengikuti rapat-rapat politik bersama anak buahnya. Kami menyukai pekerjaan ini, pekerjaan yang tidak lebih dari sekadar bermain-main. Kami sering menyebutnya, permainan anak dewasa. Dalam permainan itu kami selalu menang. Siapa pun pasti akan puas setiap kali memenangkan permainan, termasuk juga kami.

Keluarga kami adalah yang terkaya di kota ini. Kami telah mendirikan puluhan pabrik, hotel, restoran, dan villa yang tersebar banyak tempat. Kekayaan yang kami miliki semakin melimpah, membuat banyak orang iri, terutama musuh-musuh politik yang tak pernah jera berusaha menjatuhkan Ayah, yang hanya segelintir orang saja sebenarnya. Meski begitu, dengan mudah mereka berhasil kami kalahkan. Tak ada yang bisa membongkar kebusukan di balik kekayaan yang kami miliki. Tak ada yang bisa membaca dan menandingi siasat politik kami.

***

Di hari ulang tahun Ayah ke-70 kami diundang di sebuah villa di pegunungan yang sejuk. Anehnya kami hanya boleh datang sendirian saja. Awalnya kami mengira Ayah sekedar ingin merayakan pesta dan bernostalgia serta memanjat doa panjang umur. Kami datang, membawa kado masing-masing. Ketiga kakakku, masing-masing memberi kado tombak, anak panah, dan tongkat yang mereka curi dari sebuah museum. Sementara aku membawa kue berbentuk hati yang ditaburi intan berlian.

Wajah Ayah nampak bahagia dan bangga punya anak seperti kami. "Terima kasih atas kedatangan kalian semua," katanya. Kami semua tersenyum. "Mungkin sudah waktunya untuk mengatakan hal penting bagi kalian. "

Kami berempat saling pandang. Sebuah pertanyaan tergambar dalam bola kecokelatan sepasang-pasang mata kami. Warisan?

Ayah seolah tahu isi pikiran kami, dengan cepat membantah, "Bukan masalah warisan yang ingin aku sampaikan, tapi sesuatu yang teramat penting." Serentak kami mengunci mulut rapat-rapat dan membuka telinga lebar-lebar. Andai pun benar soal warisan, kami mungkin akan mengatakan secara serentak, bahwa kami tak butuh lagi warisan, sebab kekayaan kami sungguh sudah sangat melimpah.

Sepasang bibir Ayah mulai bergetar lagi, "Kematian terasa semakin dekat." Sunyi berkuasa sejenak. Desau angin dan serangga malam yang merintih kedinginan melengkapi senyap. "Jika memang firasat Ayah ini benar, maka bersamaan dengan penguburan mayatku nanti, semua harta yang kita miliki akan ditelan bumi." Angin yang berdesir tiba-tiba diam. Suasana lengang mengkhidmati wajah kami yang tercengang. Mulanya kami mengira ucapan Ayah yang terdengar seperti syair itu hanya bercanda belaka. "Bercanda memang bisa membuat orang awet muda, tapi toh kita akan tetap mati juga." Lagi-lagi Ayah tahu isi otak kami.

“Mengapa bisa begitu?” tanyaku lantang.

Ayah menjelaskan, bahwa harta dan jabatan yang sekarang kami miliki sekarang sebenarnya bukan murni kerja kami. Melainkan bantuan para iblis. Jika Ayah meninggal nanti, iblis-iblis yang telah menjadi anak buah Ayah itu secara otomatis akan pergi dan membawa harta kekayaan kami ke alam mereka.

Bagi kami penjelasan Ayah tak masuk akal. Namun kemudian, Ayah mengatakannya lagi dengan suara lugas dan jelas. "Harta kalian akan tersedot ke bumi bersama penguburanku. Camkan itu!"

Bagaimanapun aku tak rela jika hartaku hilang. Bagaimana mungkin aku mengikhlaskan puluhan pabrik, hotel, restoran dan villaku yang tersebar di berbagai kota. Dan tiba-tiba saja seolah ada kekuatan yang menggerakkan tanganku untuk mencabut pistol, dan menodongkannya di kepala Ayah.

Ayah justru menyuruhku untuk menarik pelatuk pistol yang kugenggam dengan gemetaran. Keseriusan dalam kata-katanya nampak pada garis-garis keriput dan sorot matanya yang berwarna kecokelatan. Hampir saja peluru itu meletup dan menembus pelipisnya jika ketiga kakakku tidak cepat-cepat merebut pistol yang aku genggam dan menyeretku keluar setelah membisiku sesuatu.

Tanpa sepatah kata, kami berempat pergi dari villa itu. "Dengarkan dulu penjelasan Ayah! Meski kalian tidak menguburku, tapi…" Masih sempat kami mendengar Ayah berteriak memanggil kami untuk kembali. Tapi kami tak lagi peduli.

***

Akhirnya, kami menemukan strategi untuk menyelamatkan harta benda yang kami miliki. Jika Ayah meninggal nanti, kami tak akan kami mengubur mayatnya, sehingga harta kekayaan yang kami miliki akan selamat.

Sejak kecil kami dididik Ayah untuk percaya, bahwa tak satu pun orang di dunia ini yang sepenuhnya setia, dan mungkin sudah saatnya bagi kami untuk berkhianat, meski pada ayah kami sendiri.

Beberapa hari setelah perayaan ulang tahun itu, utusan yang kami tugaskan untuk membuntuti Ayah datang memberi kabar. Katanya, Ayah menderita sakit lambung. Dokter pribadinya mengatakan, ada gangguan pencernaan biasa dan akan sembuh satu jam setelah minum obat. Tapi penyakit itu justru kian mendera Ayah. Operasi bedah pun dilakukan. Tak ditemukan apa-apa dalam perut Ayah kecuali lima peluru yang entah kenapa bisa bersarang dalam perutnya. Mungkinkah Ayah telah menelan peluru itu bersama sebatang pisang seperti saat ia menguntal kapsul? Atau bisa jadi musuh-musuh politik Ayah yang telah meneluhnya.

Lima peluru yang berhasil diambil dalam operasi itu tidak serta-merta menyembuhkan rasa sakit dalam perut Ayah. Bahkan, perutnya kian lama kian membuncit. Bukan dalam hitungan bulan seperti perkembangan kandungan perempuan. Hanya dalam waktu seminggu perut Ayah telah menggelembung seperti balon, pias seperti warna cemas wajah kami.

Selang beberapa hari, kami kembali mendapat kabar, Ayah mengeluhkan gatal-gatal di wajahnya. Semua dokter paling handal di jagat ini kelimpungan dengan penyakit yang dideritanya. Belum pernah mereka mendapati penyakit aneh seperti itu. Jika Ayah orang miskin mungkin ia akan dibiarkan mati, kemudian mayatnya akan dijadikan bahan penelitian para dokter. Untungnya Ayah punya banyak simpanan uang untuk membayar dokter-dokter itu.

***

Setiap hari kami memantau keadaan Ayah dari layar kaca hasil rekaman kamera yang sengaja kami pasang di langit-langit kamar rawat Ayah. Dari layar kaca itu kami bisa melihat wajah Ayah dipenuhi bercak-bercak yang tiap menit meledak membuncahkan nanah dan darah. Perutnya masih membusung dan sewaktu-waktu mungkin akan meledak juga. Di layar itu pula kami bisa melihat sepasang bibir Ayah senantiasa tersenyum aneh, matanya memandang fokus kamera yang sepertinya telah ia ketahui. Ia seperti tengah mengejek kami yang durhaka dengan senyum itu dan dengan cara memandangnya yang tak wajar.

Para dokter terus berusaha untuk menyembuhkan penyakit Ayah. Namun, apalah daya para dokter. Mereka hanya tahu asal muasal nafas dan tak tahu dari mana, serta kapan datang dan perginya nyawa.

Kecemasan kami memuncak ketika tiba-tiba, di layar kaca itu, nampak perut Ayah meledak, persis seperti gunung berapi yang meletus. Ayah meninggal dengan tubuh dipenuhi nanah kental yang bercampur dengan darah yang keluar dari perutnya yang meledak. Susah bagi kami untuk mengatakan berduka cita atas kematiannya. Tapi susah pula untuk mengatakan kami berbahagia.

***

Tak bisa kami bayangkan saat semua harta yang kami miliki amblas jika kami mengubur mayat Ayah. Puluhan rumah megah, ratusan kendaraan mewah, hotel, restoran, dan villa yang tersebar di seluruh kota, triliyunan uang di berbagai bank, berkilo-kilo emas, batu permata dan berlian yang kami miliki akan hilang begitu saja ditelan bumi. Dan jika semua yang kami miliki itu akan benar-benar amblas ke bumi, kami mengira akan terjadi gempa berkekuatan besar melanda negeri ini. Gempa itu tentu tidak hanya akan menewaskan kami, tapi juga ribuan orang lainnya.

Kami kemudian berkumpul untuk memilih siapa di antara kami yang akan dicalonkan dalam pemilihan nanti. Kami berempat telah siap menggantikan Ayah menjadi pemimpin kota ini.

Tapi, tiba-tiba saja bau busuk menyergap hidung kami. Sekejap melintas pertanyaan dalam pikiran kami, adakah mayat Ayah telah membusuk. Meski kami tidak melihatnya dalam layar kaca itu, karena tubuh Ayah tertutup rapat oleh kain hitam, tapi kami mulai mencium bau busuk itu dari pakaian yang kami kenakan. Bola mata kami semakin tajam memandang layar kaca yang merekam tubuh Ayah. Tapi kian lama gambar dalam layar kaca itu kian pudar. Mungkinkah layar itu juga ikut membusuk. Pandangan kami kemudian beredar ke sekeliling ruangan. Kami melihat warna tembok yang tadinya putih bersih berubah menjadi kecokelatan. Kami berdiri, berjalan mendekat, merabanya, dan dapat kami rasakan tembok itu basah dan bau busuk keluar darinya. (Sofa, meja, lukisan, dan semua benda yang kami kenakan juga mengeluarkan bau busuk).

Di sela-sela kebingungan itu, kakakku yang paling tua mengusulkan untuk membakar mayat Ayah. Kontan aku dan kedua kakakku tidak setuju. Kami tidak ingin semua harta kami akan hangus terbakar. Dan apa jadinya dunia ini jika semua harta kami terbakar.

Dalam keadaan seperti itu aku berlari ke meja telpon untuk menghubungi perawat yang masih berjaga di kamar tempat Ayah tergolek tanpa nyawa. Aku menyuruhnya untuk mengawetkan mayat Ayah. Pilihan ini lahir dari kebingunganku.

Dengan wajah menggurat cemas, kami memandang layar monitor yang buram. Di sana, samar-samar kami lihat mayat Ayah tengah disemprot zat pengawet oleh perawat yang mengenakan masker. Tubuhku mendadak kaku! **

Yogyakarta, 2006-Wonosobo, 2013