Tampilkan postingan dengan label buah karyaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buah karyaku. Tampilkan semua postingan

NOVEL KAILASA: JEJAK TANAH SURGA YANG TERLUKA

Judul: Kailasa, Jejak Tanah Surga yang Terluka
Penulis: Jusuf AN, Pengasuh Tintaguru.Com
Penerbit: Glosaria, Yogyakarta
Tahun Terbit: Februari 2016
Tebal: 176 halaman

Novel ini menceritakan lika-liku kondisi pertanian masyarakat Desa Kailasa, Dieng, Wonosobo. Mereka berusaha bangkit dari keterpurukan ekonomi dengan menanam kentang. Namun, kendati hasil panen jadi melimpah dan menguntungkan, kondisi tanah di daerah tersebut terancam rusak.

Yahya, seorang sarjana pertanian berusaha sekuat tenaga mengubah paradigma masyarakat Kailasa untuk mengganti pola tanam mereka. Yahya juga membujuk para petani untuk melirik potensi pariwisata, supaya lahan pertanian desa terselamatkan dari eksploitasi yang sudah keterlaluan.

novel kailasa


Baca juga: Proses Kreatif Penulisan Novel Kailasa

Berikut adalah beberapa petikan novel Kailasa


Selama puluhan tahun warga Desa Kailasa tak ada yang kelaparan, tak seorang pun. Sebab selain memanen jagung sembilan bulan sekali, mereka juga menanam ganyong dan talas yang bisa panen kapan saja. Tetapi mereka menyimpan cerita sedih ketika tentara Jepang datang merampas hasil panen mereka dan memaksa untuk menanam gandum— tanaman yang pada waktu itu masih asing bagi orang-orang Kailasa.

----

Dulu, sebelum memutuskan memilih Fakultas Pertanian, sama sekali Yahya tak mempertimbangkan soal peluang pekerjaan setelah wisuda. Bapak dan mboknya petani, ketiga kakaknya petani, semua penduduk Desa Kailasa petani meski ada beberapa yang punya pekerjaan lain, seperti tukang bangunan, guru, atau kepala desa. Bagi penduduk Kailasa seolah-olah hanya ada satu pekerjaan di dunia ini: Petani. Mungkin aku akan menjadi petani juga, pikirnya waktu itu. Tapi begitu dia mulai memperdalam ilmu Botani, Biokimia, Ekologi Pertanian, dan Ilmu Tanah, dan melihat kenyataan pola pertanian di desanya yang memedihkan perasaan, dia kemudian mengubah pikirannya: Ingin menyelamatkan alam sekaligus para petani Desa Kailasa! Keinginannya terkesan muluk-muluk, tetapi begitulah pemikiran seorang anak muda: Idealis!
---- 

Mereka menanam emas, sekaligus bom waktu, batin Yahya. Dia sudah belajar Ilmu Tanah dan Botani, tahu kalau tanah yang ditanami kentang terus menerus tanpa adanya penggantian tanaman lain lambat laun akan kehilangan kesuburan. Dan bukit-bukit yang dijadikan lahan pertanian itu, betapa sangat memprihatinkan. Erosi yang menyebabkan pendangkalan telaga tidak akan mungkin bisa dihindari dan longsor bisa terjadi kapan saja. Yahya juga sudah belajar Ilmu Kimia, dan sangat paham jika pestisida yang disemprotkan petani dua minggu sekali akan membahayakan kesehatan dan lingkungan, dan mengancam banyak satwa.

----

Desa Kailasa tidak juga berubah, kecuali jalan aspal yang mulai mengelupas, rumah-rumah yang catnya berganti, dan bangunan Masjid yang dindingnya sudah dilapisi keramik. Setiap pagi, para orang tua berangkat ke ladang bersama para buruh dan anak-anak mereka; mencangkul, menanam benih, menyiram, menyemprot pestisida, menyiangi rumput-rumput di sekitar guludan, dan memanen. Setelah kentang dipanen, mereka akan menjualnya kepada Wa Surip, dan beramai-ramai berangkat ke kota untuk memborong barang-barang baru. Mobil-mobil pribadi di Desa Kailasa semakin banyak, sementara bangunan Sekolah Dasar masih seperti dulu; catnya belum diganti dan plangnya tampak bertambah lapuk dimakan rayap.
---
Nenek moyang penduduk di pegunungan Dieng, termasuk Kailasa, konon berasal dari India, Arab, Champa, dan Mataram. Ada anggapan, orang-orang bermigrasi dari daerah rendah menuju pegunungan Dieng dikarenakan Kerajaan Mataram pada masa itu menetapkan berbagai kerja wajib dan pajak yang memberatkan rakyat. Tetapi ada pula yang menganggap bahwa migrasi para penduduk di daerah rendah menuju pegunungan diakibatkan oleh penjajahan Belanda yang sangat menyengsarakan. Orang-orang mencari tempat yang lebih tenteram dan aman, dan pegunungan adalah pilihan yang tepat. Selain tanahnya subur, daerah pegunungan lebih sulit dijangkau. Meski kemudian, setelah Belanda kalah, tentara Jepang menyebar, berbuat onar ke desa-desa, hingga sampai ke pelosok Kailasa.

----

Tidak seperti sebelum wereng datang menyerang, para petani lebih hati-hati (atau justru ceroboh) dalam merawat tanaman mereka. Jika dulu mereka hanya menyemprot obat-obatan dua minggu sekali, maka sekarang, seturut saran Changyi, menjadi dua kali dalam seminggu. Mereka tidak peduli modal besar yang dikeluarkan. Yang penting wereng tidak menyerang dan mereka dapat panen dengan hasil memuaskan. Dan musim kemarau yang benar-benar telah tiba, membuat mereka juga harus menyalakan disel, menyedot air Telaga Cebong guna menyirami kentang yang belum lama ditanam.

----

----

Dapatkan novel ini dengan harga Rp. 35.0000,- (Belum termasuk ongkos kirim)

Pemesanan, Hubungi saya: 085230373555 (SMS/Telp/WA)

Format Pesan: Novel Kailasa_Nama_Alamat



PEDANG RASUL


66835_10200194526119451_601312762_n
Alhamdulillah, setelah menunggu sekian lama, pada akhirnya novel keempat saya terbit. Ketika posting ini ditulis, saya masih belum menerima kiriman novel itu dari penerbit. Sehingga belum tahu novel ini berapa halaman. Tetapi saya sudah tahu, novel ini dijual Rp. 44.000,-. Tapi yang bagi yang pesan langsung dengan saya, novel ini didiscon 20%.

Ingin tahu seperti apa gambaran novel ini?

Keterangan berikut barangkali bisa sedikit menerangkan isinya:
“…Gagasan cerita dalam novel ini menarik untuk dijelajahi.”
Candra Malik, sufi dan budayawan, penulis buku “Makrifat Cinta”.
***
Umar yang tergolong masih awam, bermimpi bertemu Rasulullah yang memberinya pedang. Ia tentu tidak tahu apa takwil mimpinya, selain hanya bercerita kepada Syam, pemilik bengkel yang taat dan bijaksana. Dan, Syam akhirnya mengatakan padanya bahwa pedang adalah simbol jihad, sedangkan jihad terbesar adalah jihad melawan dan memerangi hawa nafsu.
Namun, di waktu yang lain, saat mimpi tersebut terulang lagi, Umar bertanya pada seorang yang selalu menasihatinya tentang “kebenaran”; seorang jamaah Laskar Pedang yang bernama Wahidin. Dan, apa jawabannya: pedang adalah simbol perang, jihad, dan siap syahid.
Nah, dari sinilah kisah mengetarkan petualangan Umar dimulai. Dari seorang pekerja bengkel biasa hingga menjadi buron teroris kepolisian atas tuduhan pengeboman di beberapa tempat.
Sebuah suguhan yang betul-betul layak Anda simak!
***
“…Novel ini bagus. Selain penggunaan gaya bahasa yang lugas, novel ini juga sarat dengan pengetahuan, khususnya pengetahuan tentang agama, menjadikannya terasa lebih hidup dan nyata.”
Ana Widianti, M.Hum., Dosen dan kritikus sastra.

“…Tidak terkesan menggurui, namun lebih pada bersifat ideologis. Penggambaran tokoh-tokoh dalam cerita juga cukup jeli sehingga semua tokoh benar-benar berkontribusi dan berguna dalam menggulirkan cerita.”M. Najib Al-Adib, M.Ed., Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Sains al-Qur’an Wonosobo.
 ----------
nb. pemesanan bisa lewat sms: 085230373555 atau email jusufan1@gmail.com
Kumpulan Cerpen "Gadis Kecil yang Mencintai Nisan"

Kumpulan Cerpen "Gadis Kecil yang Mencintai Nisan"


Gadis Kecil yang Mencintai Nisan
Pengarang : Jusuf AN
Tebal : x + 94 halaman
Ukuran : 14 x 21 cm
Penerbit : Indie Book Corner
Tahun terbit : 2012

Jusuf AN kembali melahirkan sebuah karya sastra, kali ini merupakan sebuah kumpulan cerpen. Antologi cerpen ini merupakan salah satu naskah yang menjadi pemenang Sayembara Buku Indie 2011 yang diselenggarakan oleh Indie Book Corner.

Kumpulan cerpen yang diberi judul Gadis Kecil yang Mencintai Nisan ini memang banyak mengeksplorasi perempuan di dalam karyanya, terutama cerpen. Terbukti, hampir semua cerpen dalam buku ini memiliki keterkaitan dengan dunia dan persoalan perempuan. Perempuan-perempuan di dalam cerpen Jusuf AN bukanlah perempuan yang pasif, tapi juga bukan perempuan yang terlalu agresif. Jusuf AN bertutur dengan gaya realis tentang dunia perempuan pada umumnya. Ia tak menggarap gaya hidup perempuan kelas atas, affair, perselingkuhan kelas mewah, atau kecanggihan mereka di dunia kerja. Jusuf AN menampilkan sisi-sisi yang tampak pada perempuan, sabar, namun juga pemberontak, keras tapi juga penurut, penuh kenangan dan memiliki sisi romanisme.

Ketika Karya Kita Dikaji untuk Skripsi



Kabar itu datang pagi-pagi. Kabar yang cukup mengagetkan. Seseorang mengirimkan pesan lewat FB, mengaku berniat mengangkat novel saya yang kedua, “Burung-burung Cahaya” untuk Skripsi. Ia kuliah di Fakultas Tarbiyah UIN Sunankalijaga, rumahnya masih satu kota dengan saya, orang Wonosobo. Tetapi karena tak bisa pulang ia kemudian meminta saya untuk diwawancarai lewat chat FB saja.
“Nanti malam, sekitar jam 10-an.”
Sesuatu yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Ketika launching novel “Mimpi Rasul” di Surabaya, seorang kawan pernah menganjurkan untuk menyumbang buku itu ke Perptakaan Universitas Airlangga, barangkali ada mahasiswa yang berminta mengangkatnya sebagai skripsi. Tetapi saya tidak melakukan anjuran itu. Pikir saya, novel saya bisa dijumpai di toko-toko buku, dan perpustakaan kampus, jika minat tentu akan membelinya.
Maka, saya senang sekali mengetahui niat baik mahasiswa UIN Sunan Kalijaga itu.
Tetapi pada sore yang hujan, saudara saya menelpon mengabarkan kalau dirinya ada di Puskesmas yang tempatnya 30 meter dari rumah saya. Ia terkena infeksi batu ginjal. Sementara istrinya yang bendahara sekolah sedang mengikuti diklat di Semarang. Saya disuruh tidak mengabarkan ke istrinya, begitulah umumnya suami, selalu berusaha menyembunyikan kabar sedih ketika berjauhan dengan istri karena tidak ingin membuatnya gelisah.
  Sebenarnya sudah ada yang menungguinya, tetapi saya yang rumahnya dekat tidak enak hati untu tidak ikut menjaganya. Maka, malam yang dingin itu, saya tidur di kamar Sakinah, ruang rawat inap yang berisi 4 pasien.
Janji saya untuk melayani wawancara sang mahasiswa terpaksa tidak saya penuhi. Ketika buka FB ia sudah mengirimkan pesan. Berikut ini pesannya:
Assalamualaikum, mohon maaf sebelumnya, mungkin kalau mas jusuf belum ada waktu, untuk mempermudah proses wawancara dan tanpa mengganggu waktu mas, bagaimana kalu saya buatkan list pertanyaan saja, nanti tinggal mas jawab pertanyaan yang ada bila ada waktu luang, walau tidak selengkap wawancara, namun secara umum bisa mendapatkan materi yang saya inginkan.

wawancara dengan pengarang novel burung-burung cahaya

1. yang pertama ingin saya tanyakan adalah nama lengkap mas, karena setelah browsing kesana kemari, hanya tertulus nama Jusuf A. N., sebenarnya nama lengkap mas siapa?

2. kapan dan dimana mas dilahirkan?

3. siapakah nama orang tua mas? serta saudara, kalau ada? kemudian apa pekerjaan beliau?

4. untuk mengetahui corak pemikiran seseorang, tentu harus melihat latar belakang seseorang, seperti apakah lingkungan tempat mas dibesarkan? bagaimana pendidikan yang orang tua mas berikan?

5.setiap orang tentu memiliki cita-cita yang ia kejar, cita-cita mas menjadi apa? serta hobi yang mungkin dari kecil hingga saat ini masih dilakukan?

6. bagaimana riwayat pendidikan mas dari tk hingga saat ini? kalau melihat latar novel yang mas tulis, begitu mengetahui seluk-beluk pondok pesantren, apakah mas pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren?

7. saat ini bagaimana kehidupan mas? pekerjaan dan keluarga?

8. mas saat ini tinggal dimana? mungkin bisa mencantumkan alamat lengkapnya?

9. tentu telah banyak karya yang mas ciptakan, apakah ada sebuah karya atau beberapa mungkin yang menurut mas merupakan karya terbaik? apa judulnya dan tengtang apa karya tersebut?

10. berkarya tentu tidak akan berhenti ya mas, apakah saat ini mas sedang manggarap suatu karya?

kita mulai masuk membahas novel burung-burung cahaya ya mas

11. berapa lama mas menulis noel tersebut?

12. sebenarnya apa yang melatar belakangi mas untuk menulis novel tersebut? adakah alasan khusus, misalnya karena melihat akhlak bangsa saat ini yang tidak jelas mengarah kemana?

13. berdasarkan latar belakang, tentu mas punya tujuan yang ingin dicapai dengan adanya novel tersebut. apa harapan yang mas inginkan dari novel tersebut?

14. sebenarnya, inspirasi penulisan novel tersebut datang dari mana? apakah nevel tersebut diangkat dari kisah nyata seseorang, atau memang murni hasil pemikiran mas yang elihat realita yang terjadi?

15. pertama saya membaca novel tersebut, saya langsung merasakan sesuatu yang lain dari novel-novel lain, yaitu tentang pondok pesantren dan tahfidz Qur'an, sesuatu yang bagi saya mungkin belum menemukan dalam novel lain, mengapa mas mengambil setting pondok pesantren dan tema tahfidz Qur'an?

terimakasih mas, mungkin cukup demikian pertanyaan dari saya, mohon maaf sebelumnya bila ada yang kurang berkenan di hati mas. wassalamualaikum.

Lima belas pertanyaan. Mesti segera saya jawab, guna memperlancar tugasnya. Sayang sekali, ia tidak memberi tahu saya judul skripsinya. Tetapi tetap, doa saya teriring, semoga skripsi itu cepat selesai bermanfaat bagi ummat manusia, tidak semata memenuhi syarat sarjana. Amin

Sesuatu dari Indie Book


Kawan, pernah dengar Indie Book Corner (IBC)? Ia adalah sebuah gerakan sadar yang dibangun untuk memfasilitasi penerbitan karya penulis mencari solusi. IBC sudah mengawal banyak penulis dalam mempublikasikan karyanya berupa buku. Siapa yang berminat cukup mengantarkan naskahnya pada tim IBC, lalu proses penyuntingan dilakukan, ketika layout dan desain selesai kemudian naskah segera dipublikasikan (dicetak) menjadi buku. Sudah cukup banyak buku yang diterbitkan lewat jalur IBC, di antaranya ada yang masuk dalam nominasi 5 besar Khatulistiwa Award 2012.

Sekitar 2 bulan lalu, dalam rangka syukurnya bernapas dua tahun, IBC menyelenggarakan sayembara dengan menyediakan 140 juta untuk 5 orang pemenang terpilih. Sayembara ini terbilang unik, karena yang dinilai bukan hanya kualitas karya yang bisa berupa buku apa saja, tetapi juga kemasan (sampul, ilustrasi, dll) dan kerapian isi.

Menurut keterangan dari panitia, ada 60 lebih naskah yang masuk. Dan berikut adalah pengumuman pemenang yang saya copas dari situsnya (indiebook.com):

Setelah beberapa kali bersidang, Indie Book Corner kembali mengadakan sidang penilaian naskah Sayembara Buku Indie pada hari Jumat, 4 November 2011 lalu. Sidang kemarin juga menjadi sidang final untuk menentukan 5 pemenang setelah sebelumnya dipilih 10 naskah terbaik. Dewan juri melakukan penilaian berdasarkan kriteria yang telah dibuat sebelumnya (kualitas naskah, kemasan buku, dan kerapian isi). Kesepuluh naskah terpilih memiliki keunggulan masing-masing sehingga membuat penilaian menjadi cukup ketat.

Dengan terpilihnya 5 naskah berikut, bukan berarti naskah lain tidak layak terbit. Namun karena dari awal memang hanya akan dipilih 5 pemenang, maka lewat serangkaian proses seleksi yang ketat dewan juri memutuskan 5 naskah berikut sebagai pemenang Sayembara Buku Indie:
1. Pendamping - Ardy Kresna Crenata (Kumpulan Cerpen)
2. Gadis Kecil yang Mencintai Nisan - Jusuf AN (Kumpulan Cerpen)
3. Kupukupu-Kupukupu di dalam Perutku - Dadan Erlangga (Kumpulan Cerpen)
4. Republik Rimba - Ryan Sugiarto (Fabel)
5. Baju Bertuah Nabi Yusuf: Menguak Sisi Lain dari Kisah-Kisah Alquran Hadits - M. Fathoni Mahsun (Kumpulan Esai)
*(nomor urut bukan merupakan deret peringkat)


Alhamdulillah, buku saya menjadi salah satu pemenang. Tak terduga. Sebab sebelumnya, saya sempat pesimis karena mengetahui peminatnya yang cukup banyak. Untunglah saya memiliki teman-teman yang baik. Saya merangkul seorang yang lihai membuat ilustrasi, yakni Agus Handoko, Guru Seni Budaya yang masih sejawat dengan saya. Untuk  layout saya meminta bantuan kawan Indrian Koto. Selain cerpenis dan penyair, doi memang sudah ahli dalam hal layout. Kemudian untuk kover ada kawan yang beraik hati membuatkan, yakni Ibed Surgana Yoga, penyair dan ahli teater dari Bali yang kuliah di ISI Jogjakarta.

Setelah ilustrasi, kover, dan dilayout selesai, file kemudian dibawa dibawa ke Kanisius untuk dicetak. Kanisius selain menerbitkan buku, juga mau membantu siapa saja yang ingin mencetak buku, tidak banyak tidak masalah. Buku saya cuma dicetak empat, dengan biaya tak lebh dari seratus ribu. Dua dikirimkan ke Indiebook, dan sisasanya sebagai arsip.

"Membaca kumpulan cerpen di buku ini, kita diajak untuk kembali menjadi 'orang awam', yang melihat keseharian tanpa pretensi apa-apa. Kita disuguhi kisah-kisah romantic dan menikmatinya di sudut kamar. Kita seperti diingatkan bahwa sebetulnya kehidupan ini sederhana saja, kitalah yang membuatnya rumit dan penuh prasangka.." (Yanusa Nugroho, Cerpenis)

Jusuf adalah seorang pencerita dengan gaya yang sederhana. Menulis dengan bahasa sederhana nan lancar, plot sederhana minim tikungan, penokohan sederhana tak melangit, konflik sederhana tanpa debar, dan pesan sederhana dalam siratan. Dengan kesederhanaan itu pembaca yang sibuk mengejar dunia seakan diajaknya untuk sejenak 'pulang' dan beristirah, merenung kembali akan hakikat tujuan perjalanannya. (Diana AV Sasa, Kerani d-Buku, Surabaya)

"Gadis Kecil yang Mencintai Nisan" memuat 11 cerpen, pertama-tama akan dicetak sebanyak 300 eksemplar, dengan pendanaan sebesar 3 juta rupiah. Naskah akan dipasarkan dengan royalti sebesar 15 persen dari total harga buku yang terjual. Jika 300 buku habis dalam jangka waktu 75 hari, maka penulis akan mendapatkan kontrak penerbitan buku sejumlah 5000 eksemplar, dengan total pendanaan 25 juta rupiah dan dipasarkan secara luas dan merata ke seluruh Indonesia, serta jaringan penjualan Indie Book Corner di luar negeri.

Maaf, kawan. Tujuan tulisan ini, selain ingin berbagi kabar kebahagiaan, juga untuk memohon doa tulus dari kawan-kawan. Semoga buku kumpulan cerpen  "Gadis Kecil yang Mencintai Nisan" dapat mendatangkan manfaat bagi pembaca, dan cetakan pertama sejumplah 300 buku itu habis sebelum 75 hari. Salam.
-----------------------------------------------
Setelah buku terbit, insya Allah akan segera diadakan launchingnya.
Kalau ada yang mau pesan sekarang, boleh juga. :)

NOVEL JEHENNA

"Novel Jehenna" terbit bulan November 2010, nyaris satu tahun. Meski novel tersebut diterbitkan dengan sistem kontrak, tetapi tetap saja sebagai penulis saya ingin sekali mendapatkan laporan penjualannya. Tetapi saya sadar terkadang penerbit sangat sibuk dan tidak sempat melaporkannya. 
            Novel Jehenna dicetak 3000 eksemplar  dan dijual di seluruh Indonesia lewat jalur distributor. Belum lama ini saya mengontak penerbit, apakah masih ada stok "novel Jehenna" di gudang? kalau masih ada saya ingin membelinya dua eks saja untuk arsip saya. Sebab sekarang saya tidak lagi memiliki novel tersebut. Lima eks hadiah dari penerbit sudah habis saya bagikan kepada kawan-kawan dan terakhir saya mengirimkan novel itu kepada Badan Bahasa di Jakarta. Diva, yang menerbitkan "novel Jehenna" sudah tidak memiliki stok lagi. "Wah, mungkin sudah habis. Semoga cetak ulang," kataku. 
            "Itulah, Mas. Belum ada permintaan cetak ulang dari distributor, jadi..." 
            "Oh, begitu..."
            "Coba cari di toko buku, barangkali masih ada..."
            "Baiklah...."
======================================================
Teringat novel Jehenna, saya jadi ingin memposting sedikit petikannya. Beberapa kawan bertanya, di mana saya mesti "download novel Jehenna" ?
Tegas saya katakan tidak bisa. Novel itu hanya bisa dibaca dalam bentuk cetak. Maka, bagi yang penasaran ingin membaca, silahkan mencarinya di toko buku sebelum kehabisan.Wah, wah, judul postingan ini menipu dong? Hehe... maaf deh. Sungguh, saya tidak bermaksud untuk menipu. Saya memberi judul itu karena beberapa kali ada kata kunci "download novel Jehenna" kesasar masuk blog ini, yang bagi saya itu termasuk sebuah pertanyaan yang harus dijawab. Dan lewat postingan ini saya bermaksud menjawabnya. Kalau memang anda ingin sekali membaca "novel Jehenna" dan belum bisa mendapatkan bukunya, bisalah sementara membaca petikan novel berikut: 

"Petikan novel Jehenna" bab empat:

JEHENNA NAMAKU. Aku begitu menikmati hidupku, seperti juga Maswath dan Zalnabur (aku mulai terbiasa memanggil dua orang tuaku itu dengan nama setelah umurku lima puluh tahun lebih). Duh, senangnya, dilahirkan sebagai makhluk seperti aku. Kami hidup di bumi yang juga ditempati oleh manusia. Cara kami hidup hampir mirip dengan manusia. Sebagian dari kami ada yang hidup menggelandang, tak punya rumah yang tetap dan sebagian lagi ada yang tinggal di rumah-rumah. Tentu saja rumah kami berbeda dengan rumah manusia, meski sebenarnya memiliki fungsi yang sama saja, sebagai tempat singgah. Kami tidur, makan, kawin, dan bermain-main. Yang membanggakan bagi kami adalah, bahwa kami tak terlihat oleh mata kepala manusia sedang kami dapat memandang sepuas mata aktifitas mereka.
Dulu, ketika usiaku kepala lima, sering pada pagi buta ketika Al Mu’tadir, manusia penghuni kamar yang ranjangnya kami tempati, masih lelap di ranjangnya aku keluar dari istana kolong ranjangku, meninggalkan Maswath dan Zalnabur yang masih berdekapan. Sering aku bermain-main dengan selimut Al Mu’tadir, si tua bodoh itu, hingga kadang ia terbangun dan merinding ketakutan.
            Setiap adzan subuh menyilet gelap, aku akan terbang melesat, menembus dinding-dinding istana dan tembok kota, lalu hinggap di sebuah batu besar di sungai Tigris. Sungai yang jernih mengalir tak jauh dari istana. Sungai di mana abu mayat Hallaj dihanyutkan setelah kepalanya dipenggal dan terlebih dulu kedua bola matanya dicungkil dan lidahnya dipotong. Di sungai Tigris inilah aku biasa bemain-main dengan kawan-kawan sepantaranku. Mereka adalah Sibly, Barnabas, Aminah, dan Hakim: anak-anak jin yang pengecut yang tinggal di kota ini.
Sibly merupakan lelaki yang umurnya 2 tahun lebih tua dariku tetapi ia tak berani sekalipun hanya memainkan selimut manusia, apalagi mendekati manusia yang tengah berwudhu. Hakim merupakan anak yang selalu patuh dengan orang tuanya. Ia merupakan anak dari golongan jin muslim yang taat di kota ini. Aku sering melihatnya tengah disiksa oleh orang tuanya, dan ia hanya diam menahan tangis dan kesakitan. Sedang, barnabas adalah yang paling tua di antara kami, tetapi bukan berarti ia lelaki yang paling berani. Suatu ketika ia pernah aku tantang untuk menggoda seorang Imam di tengah shalatnya, dan Hakim menyerah sebelum bertanding. Yang terakhir adalah Aminah, putri tunggal Habib al-Huda, salah satu sesepuh dari golongan jin muslim yang cukup ditakuti di kalangan kami. Ia memiliki rambut yang panjang. Hidungnya bulat, bentuk matanya seperti mataku, agak memanjang ke samping. Tetapi warna matanya kekuning-kuningan (bangsa jin memang memiliki tubuh yang bermacam-macam dan mungkin bagi manusia rupa-rupa jin terkesan sangat aneh). Jujur, ia terlihat lebih cantik ketimbang Zalnabur. Hanya saja ia seorang muslim. Nasib Aminah hampir mirip dengan Hakim. Ia begitu patuh terhadap orang tuanya dan selalu di suruh belajar ilmu agama. Pernah suatu hari aku melihat Aminah marahi dan dipukul oleh ayahnya karena berani mengintip sepasang suami istri yang tengah bersenggama. Aku mencoba membelanya, dengan mengatakan pada Habib al-Huda, bahwa Aminah tidak bersalah, suami-istri itulah yang salah karena lupa membaca mantra. Tetapi pukulan Habib al-Huda, jin tua yang mengenakan jubah putih dan tarbus itu justru berpindah memukuliku.
Lalu aku adukan perbuatan Habib al-Huda itu kepada Maswath, ayahku. Kontan Maswath marah mendengar ceritaku. Ia ingin membalas tindakan Habib al-Huda, tetapi aku mencegahnya. Aku pikir, Maswath kurang cerdik. Sukar mengalahkan Habib al-Huda dengan kekerasan sebab ia memiliki kawan yang banyak di daerah ini, juga memiliki cambuk sakti yang biasa di simpan di dalam mulutnya. Menurutku akan lebih bagus jika mengalahkan Habib al-Huda pelan-pelan, dengan cara yang halus. Maka, aku pilih Aminah sebagai jalan untuk membalas dendamku terhadap Habib al-Huda.
Suatu hari, Aminah tidak datang ke sungai Tigris untuk bermain bersama kami. Tanpa Aminah, seolah kurang lengkap. Maka, kami (aku, Sibly, Barnabas, dan Hakim) sepakat membatalkan permainan, dan mengganti acara untuk menjenguk Aminah.
Aminah tinggal di kompleks kuburan manusia bersama ayah dan ibunya dan beberapa jin muslim lainnya. Tentu saja kami tidak boleh bertindak gegabah. Sebab jika Habib al-Huda tahu kedatangan kami, mustahil kami bakal lolos dari cambuk saktinya yang ia simpan di dalam mulut. Kami mengendap-endap di tembok pekuburan. Dengan perasaan was-was kami edarkan mata mengelilingi kompleks pekuburan. Kutemukan Aminah tengah duduk di depan pelataran cungkup, di depannya Qur’an, dan di sebelahnya terlihat Habib al-Huda memegang cambuknya.
Sibly, Barnabas dan Hakim terlihat putus asa. Mereka berdua tahu, tidak akan mungkin berhasil membujuk Aminah saat ia bersama ayahnya. Dengan hanya menepuk bahuku—seperti memberi aba-aba agar aku berhat-hati—mereka bertiga menghambur meninggalkanku. Aku tak bisa lagi mencegah mereka yang secepat kilat menghilang dari pandangan.
Aku hanya diam, mengendap-endap di kejauhan, sembari memandangi wajah Aminah. Sayup-sayup kudengar Habib al-Huda memberi pelajaran pada Aminah, sebagaimana yang dilakukan Zalnabur dan Maswath padaku setiap malam. Diam-diam aku mengikuti apa yang disampaikan Habib al-Huda pada Aminah, yang diucapkan dengan nada lantang dan terdengar tak masuk akal; berbeda dengan yang disampaikan Zalnabur dan Maswath padaku.
Tidak tertarik mendengar ceramah Habib al-Huda aku melesat pergi. Membawa penat dan kejengkelan yang meledak-ledak aku kunjungi pasar di mana Zalnabur biasa mencari makan setiap hari. Ya, banyak makanan lezat dapat kami dapat di pasar. Sebenarnya aku dan semua golonganku dapat makan apa saja, termasuk kotoran keledai, kuda atau unta atau tulang belulang binatang. Tetapi cara makan yang paling lezat dan paling kami sukai bagi kami adalah makan satu piring bersama manusia. Meski tidak semua manusia baik hati pada kami, mau mengijinkan kami turut serta makan bersama. 
......................................................................................................
Petikan Novel Jehenna Bab Sepuluh
 
ENTAH HARUS bagaimana aku meminta ampun padamu, Gustaf.”
“Aku tahu kau sudah berjuang dengan mengerahkan segala kemampuan, Jehenna. Aku lihat sendiri saat kau menjelma menjadi cahaya putih benderang semalam. Kau hebat, hampir-hampir aku tak mengenalimu waktu itu.”
“Lupakanlah itu, Gustaf. Sepuluh ribu hari seperti sedetik saja rasanya.”
“Kau masih ingat dengan janjimu rupanya.”
“Tubuhku perih sekali, Gustaf.”
“Aku pun merasakan demikian ketika menguntit Fakhrudin, bahkan sampai ketika ia hendak dikuburkan. Mungkin untuk sementara waktu kau istirahatlah dulu. Pergilah ke kota dan hiburlah dirimu. Bumi Tuban semakin lama semakin ramai manusia. Kau pasti menyukainya, Jehenna.”
“Benar katamu, Gustaf. Sementara waktu aku akan pergi. Tetapi kumohon, kabari aku jika istri Musthafa mengandung seorang putra. Aku yakin, Musthafa akan mengikuti apa yang pernah dikatakan ayahnya.”
“Kau pejuang gigih, Jehenna. Tak pernah kau merasa letih. Tentu aku akan mengabarimu nanti.”
☻☻☻
PAGI BUTA. Membawa kesal dan segunung malu aku melesat meninggalkan Gustaf. Menuju kota Tuban yang masih temaram.
Rupanya, waktu telah menyeret Tuban dengan wajah baru. Dulu, di tempat yang kini menjadi pusat kota Tuban, hanya terdapat sebuah bangunan yang besar, dan beberapa bangunan rumah dari kayu. Tetapi kini bangunan-bangunan beton sudah tumbuh di mana-mana. Sudah pula berdiri sebuah masjid baru yang lebih besar dan mewah yang terletak beberapa meter dari makam si Bonang.
Aku melayang-layang mengelilingi kota ini. Satu dua kendaraan melintas di jalan aspal. Satu demi satu pintu rumah dan pertokoan terbuka. Seseorang berkulit putih keluar membawa anjing, berlari-lari kecil. Di tangga masjid terlihat beberapa pemuda duduk sembari bersendau gurau. Tak jauh situ, di alun-alun kota tepatnya, nampak beberapa orang, tua-muda, bermain petasan besar-besar.
Ketika hari memasuki siang, aku datangi pasar. Terkenang aku dengan Zalnabur, ibuku, yang dulu mengajariku cara memilih makanan yang lezat. Aku sadar ini bukan Bagdad dengan manusia-manusia mengenakan jubah. Inilah Tuban yang dihuni manusia bercelana dan sebagian berkebaya. Tetapi tak jauh beda situasi pasar Bagdad dan Tuban. Orang-orang keluar masuk toko pakaian dan makanan. Kusaksikan pula beberapa pengemis tertunduk di tepi jalan. Memasuki lorong-lorong pasar, kulihat perempuan-perempuan penjual sayur mayur merayu pembeli yang hilir mudik. Penjual benda tajam berteriak-teriak menawarkan dagangannya. Ah, di manakah dapat aku temukan orang makan pada Ramadhan macam ini? Baru aku berpikir, segera aku lihat itu seorang lelaki tengah merokok di pojok pintu masuk lorong pasar. Di sana ada juga warung yang pintunya setengah terbuka.
Dengan cepat aku hinggap di bahu kiri seorang lelaki yang tengah bersantap di sebuah warung makan. Kenapa mesti malu-malu membuka warung dengan pintu lebar-lebar? Toh meskipun pintu warung hanya dibuka setengah saja, banyak pengunjung tetap datang. Dan mereka makan dengan lahab dan tenang. Ah, entahlah. Aku nikmati saja daging kamping dari mulut lelaki yang bahunya kuhinggapi.
Setelah bersantap, aku melesat ke udara dan turun kembali setelah kupergoki segerombol pemuda tengah bermain judi. Di tengah kota yang ramai masih juga terdapat tempat yang tersembunyi seperti ini? Entah siapa pemiliknya. Tetapi aku yakin, sebuah ruang dengan ukuran delapan kali lima meter ini sengaja dibangun sebagai tempat perjudian. Sepuluhan lelaki dengan tubuh penuh keringat dan mata merah mengguratkan ketegangan di wajah. Mereka duduk mengelilingi sebuah meja panjang. Beberapa gelas berisi tuak seolah mereka lupakan. Mata mereka tajam memanah kartu-kartu remi. Kulihat  dua orang lelaki kekar berjaga-jaga di pintu. “Tak usah terlalu seriuslah,” ejekku pada mereka. Dan mereka pun tertawa, seperti mendengarkanku. Beberapa jin yang menghinggapi kepala mereka juga tertawa mendengar ucapanku. Ada yang kurang di sini, pikirku. Tak ada seorang perempuan pun menemani mereka bermain judi. Ah, tapi ketimbang mereka melupakan permainan menyenangkan ini, tanpa perempuan pun tak apalah. 
Ahai, Tuban benar-benar telah berubah. Bukan hanya bangunan-bangunannya, tetapi juga tingkah laku manusianya. Ternyata ajaran Bonang mulai terlihat tanda-tanda keruntuhannya. Ah, tak seperti yang aku kira.
Setelah meminjam mulut salah seorang penjudi untuk menenggak tuak, aku keluar dari ruang perjudian. Dan sial! Azan dzuhur telah menyambutku di luar. Merontokkan semua nikmat yang baru kurasakan. 

=====================================
"Petikan Novel Jehenna" Bab Dua Puluh Tiga

JEHENNA NAMAKU. Siapa bilang aku tak percaya dengan kekuatan Tuhan? Ia ada dan hidup, aku juga percaya, sangat bahkan. Hanya saja, aku tidak percaya kalau dia (yang sering ditulis dengan “d” kapital) ada dengan sendirinya. Aku lebih percaya dengan apa yang pernah dikatakan pempinan utama Perguruan Dasar Laut; bahwa Allah, nama Tuhan itu, punya kekuatan mencipta karena telah merebut kaf dan nun dari Tuhan sebelumnya. Aku sendiri tak tahu seperti apa wujud kaf dan nun itu, jika memang berwujud. Pernah aku dengar bahwa kaf dan nun itu adalah ucapan Allah, diambil dari kata kun fayakun yang artinya, “jadilah” maka jadilah ia, jadilah apa Allah mau. Kalau menurutku sendiri kaf dan nun hanya sekadar nama. Nama untuk sebuah senjata maha rahasia, yang kalau kami dapat merebut senjata itu dari genggaman tangan Allah, maka kami juga akan dapat memiliki kemampuan mencipta dan bertindak sekehendak hati, termasuk menghidupkan dan mematikan makhluk. Permasalahannya, kenapa Allah tidak membunuh semua makhluk, termasuk aku, yang berusaha menyingkirkan kedudukannya, yang mengancam singgasananya? Kenapa ia justru menciptakan kami?
Sekian tahun memikirkannya, aku hanya dapat menjawab bahwa Allah membiarkan kami hidup sebagai coba bagi manusia, makhluk yang dilengkapi dengan akal pikiran dan dimuliakan dari makhluk lainnya. Barangkali Tuhan yang dulu, Tuhan sebelum Allah yang aku percaya adanya itu, juga berpikirkan begitu: membiarkan segolongan makhuk sebagai coba makhluk lain untuk menguji keimanan dan kepatuhan mereka; tetapi akhirnya makhluk yang dibiarkan menjadi penggoda itu justru menjadi bumerang bagi diri Tuhan itu, merebut kaf dan nun dan mengangkat diri sebagai Tuhan.
Jawaban itulah yang membuatku yakin, bahwa kami, segolongan makhluk penggoda manusia, pada saatnya nanti dapat merebut rahasia Allah yang kini memimpin gerak bumi seisinya, untuk kemudian pada akhirnya kami menyatakan diri sebagai Tuhan yang abadi.
Sebagaimana yang aku pelajari di Perguruan Dasar Laut bahwa  kekuatan Tuhan tersimpan di dalam al-Qur’an. Musnahnya al-Qur’an dari bumi, dari dada-dada manusia beriman, berarti kalahnya kekuatan Tuhan. Lenyapnya Qur’an menjadi tanda kemenangan kami. Boleh saja ayat-ayat al-Qur’an masih tertulis dan terkumpul dalam sebuah buku, tetapi ia tak akan berarti apa-apa jika manusia tidak mempercayainya lagi. Selama masih ada manusia tunduk menyembah pada Tuhan, itu berarti al-Qur’an masih hidup, Allah masih berkuasa dan dapat berlaku sekehendak hatinya. Tapi nanti, setelah Qur’an lenyap dari dada-dada manusia hingga tak seorang pun ada manusia menyembah Tuhan atau sekadar merasa lemah di hadapan Tuhan maka kamilah yang akan berkuasa. Kaf dan nun-nya akan terlepas dan genggamannya, atau mungkin tidak berfungsi lagi kecuali digunakan oleh kami sebagai pihak yang menang. Begitulah, pelajaran yang aku terima di Perguruan Dasar Laut.
Kami selayak pemburu gaib, sedangkan manusia adalah buruan yang tolol. Betapa tidak? Manusia tak dapat melihat wujud kami, sedang kami dapat dengan jelas dan terang melihat mereka. Sehingga kami dapat melepaskan ribuan anak panah dan memasang jebakan untuk menjerat buruan kami dengan gampang. Itulah yang membuatku percaya diri; bahwa Al-Qur’an dapat dimusnahkan dari dada-dada manusia.
Memang banyak ayat-ayat Qur’an yang berbicara perihal kami: cara membentengi diri dari tajam anak panah kami, cara agar selamat dari jebakan-jebakan yang kami pasang, dan banyak. Tetapi, sekali lagi, karena kami tak terlihat dari pandangan manusia maka banyak manusia tidak percaya dengan eksistensi kami. Sebagian manusia menertawakan ayat-ayat Qur’an itu dan sebagian lagi memang percaya, tetapi seringkali lengah-lupa.
Al-Qur’an memang menyimpan kekuatan luar biasa, kami sadar itu. Jika ia dibacakan kami seringkali lari terbirit, entah karena apa. Seolah ada kekuatan yang maha gaib tersimpan dalam setiap huruf di dalam Qur’an. Bahasa Qur’an memang kami akui begitu indah, tak ada yang dapat menandinginya. Meski begitu tidak semua ayat-ayat di dalamnya kami, khususnya aku percayai; di antaranya ayat-ayat yang mengatakan ada alam setelah mati.
Seperti kebanyakan manusia, aku tidak percaya dengan ayat yang menjelaskan perihal alam setelah kematian. Dengan sangat sederhana aku dapat beralasan, yakni karena aku belum melihatnya dengan mata kepala. Selain itu, percaya pada ayat-ayat tentang alam setelah kematian itu sama artinya aku harus keluar dari jalan perjuangan ini. Keluar dari jalan juang sama artinya dengan hilangnya kesempatan untuk menjadi Tuhan. Pikirku, jika memang surga itu ada, tentulah nikmatnya tidak seberapa dibanding jika aku menjadi Tuhan. Bukankah dengan menjadi Tuhan, aku dapat menciptakan apa pun, jauh lebih nikmat dari surga yang digambarkan al-Qur’an sekalipun.
Lalu, jika tiba-tiba aku mati dan ternyata apa yang dikatakan Qur’an perihal alam mengerikan di sana itu benar? Bukankah kata al-Qur’an aku dikenakan juga kewajiban menyembah Tuhan dan akan mendapat siksa yang pedih jika membangkang? Ah, itu urusan nanti. Sebagai makhluk, kematian memang niscaya bagiku. Kematian tetaplah suatu yang misteri. Tetapi entah kenapa aku percaya jika aku akan berumur panjang. Tuhan memang bodoh, pikirku. Ia sengaja memberi kami, para pembisik manusia ini, dengan umur yang panjang-panjang. Ratusan atau bahkan ribuan tahun. Memiliki umur ratusan tahun, membuatku kadang berkesimpulan: Tak ada gunanya memikirkan kematian. Jika pun aku mendadak mati sebelum kaf dan nun Tuhan berhasil kami rebut, aku sangat percaya, aku akan dihidupkan kembali setelah kawan-kawan seperjuanganku berhasil merebut kaf dan nun itu. Bagaimana jika kawan-kawanku tetap tidak bisa merebut kaf dan nun itu? Tidak! Dengan kekuatan yang kami miliki dan dengan tetap menggalang persatuan aku yakin kami akan sanggup melenyapkan Qur’an dari bumi, dari dada manusia beriman.

=================================================== 
Redakan penasaranmu dengan membaca lengkap novelnya!

Dahsyatnya Doa Orang Tua

Judul buku: Dahsyatnya Doa Orang Tua

Penulis       : M. Yusuf Amin N

Penerbit     : Diva Pres, Jogjakarta

SATU hal yang menjadikan dunia ini kacau dan terpuruk adalah karena sebagian besar orang lebih senang mencari untung ketimbang memberi untung; lebih senang dibantu ketimbang membantu; lebih senang menerima ketimbang memberi. Orang baru akan memberi manakala ia sudah diberi. Kalaupun ada yang memberi terlebih dahulu, biasanya ia akan menunggu untuk dibalas pemberiannya itu, mengungkit-ungkitnya, atau bahkan menagihnya. 
Apakah sikap orangtua terhadap anaknya juga demikian, lebih senang diberi ketimbang menerima?

Shalih/Shalihah Sejak dari Rahim


Buku ini dalam proses diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu, dan akan diterbitkan oleh penerbit Al-Hidayah, Malaysia.
Judul      :  Shalih/Shalihah Sejak dari Rahim; Memoar  
                     Kehamilan
Penulis   :  Miftahul Jannah & M.Yusuf Amin 
                    Nugroho
Penerbit  : Diva Pres Jogjakarta, Februari 2011
Tebal        : 270 hlm


Inilah buku yang kami tulis setelah anak pertama kami, Sang Abyad Muhammad, genap berusia 40 hari. Ingatan kami terbatas untuk memuntahkannya dengan detail. Kami tidak berdaya dengan kesibukan, kelupaan, dan lain-lain, sehingga tak menuliskan tanggal bulan terjadinya peristiwa-peristiwa penting dalam buku ini. Tetapi kami cukup dapat mengenang dengan baik, karena kenangan itu adalah kenangan mula yang sulit dilupakan.
Sejak semula, kami berencana menuliskan ini semua. Tapi tidak hanya untuk anak kami. Sebab pengalaman adalah pelajaran paling berharga, maka kurang bijak kalau segala kenangan hanya kami berikan kepadanya. Tak ada salahnya orang lain tahu, bahkan justru dengan demikian apa yang kami kerjakan memberikan manfaat lebih. Melalui tulisan macam ini? Ya. Karena itu, kami tidak hanya menuliskan memori kami tentang kami dan anak kami. Tetapi juga menulis tentang beberapa hal yang berkaitan dengan kehamilan dan melahirkan dengan berangkat dari pengalaman kami. Kami yang lahir dan dibesarkan di tanah Jawa, tanah seribu upacara.
Sudah banyak buku praktis tentang kehamilan dan melahirkan. Maka, kami berinisiatif membuat buku yang agak berbeda. Yang meskipun berbicara tentang kehamilan dan melahirkan dari berbagai segi, tetapi kami berangkat dari kisah nyata. Kalau pun ada tangga dramatik di dalamnya, itu tak lain sekadar bumbu. Bumbu yang tidak ingin kami lebih-lebihkan manis dan asamnya.

Mimpi Rasul; Kisah Bibir yang Ingin Dicium Rasulullah Saw


Judul        : Mimpir Rasul; Kisah Bibir yang Ingin Dicium 
                    Rasulullah Saw

Pengarang: Jusuf AN
Tebal         : 405 hlm
Penertbi    : Diva Press, Jogjakarta, Juni 2011

Sekilas tentang buku ini:

Lelaki itu bernama Umar. Kelahiran Jakarta, tidak lagi memiliki ayah dan ibu, tinggal bersama ayah tirinya, Ati, dan Putri, dua adik perempuannya. Suatu malam, Rasulullah hadir dalam mimpinya, memberinya sabda: “Hati-hatilah kepada dua hal: harta dan perempuan.”
Dan demikianlah, rentetan cobaan yang lembut, yang sering membuat Umar tidak menyadarinya, begitu deras mengalir pada sungai hari-harinya. 

Anakku: BURUNG-BURUNG CAHAYA


    Judul      : Burung-Burung Cahaya
    Penerbit : Sabil, Yogyakarta
    Tebal     : 446 hlm   
    Cetakan : 1, Februari 2011

Alhamdulillah
anak saya yang kedua kembali lahir, sudah digenapkan dengan nama: "Burung-Burung Cahaya". 
mohon doa restunya, semoga petualangannya di dunia perbukuan mendapatkan berkah.
Saya ingin mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya untuk Penerbit Diva Press yang bersedia membantu kelahirannya. Kepada Simbah K.H. Musthafa Bisri, Kang Acep Zam-Zam Noor, Bang Kurnia Effendi, Mas Chand Parwez Servia, dan Mbakyu Yetti A.KA yang sudi memberikan komentar (doa) dan masukan. Juga kepada guru, dan kawan-kawanku yang telah mengajarkan kebijaksanaan kepadaku (K.H. Nuruddin (almarhum), Joni Ariadinata, Mahwi Tawar, Indrian Koto, Rakai Lukman, Amin Steven, Sunlie Thomas Alexander, Ridwan Munawar,Fahmi Amrullah, Mukhlis Amrin, Aguk Irawan MN, kawan-kawan Rumah Poetika dan Sanggar Jepit Yogyakarta, serta guru dan kawan-kawanku yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. terimakasih atas kebaikan kalian semua....
*****
Berikut ini merupakan spirit dan doa untuk Burung-burung Cahaya:


Al-Quran oleh setiap muslim diakui sebagai sesuatu yang agung. Sebutan-sebutan mulia selalu dikenakan pada kitab suci umat Islam itu. Pertanyaannya, sudahkah kaum muslimin memperlakukan kitab sucinya itu sebagaimna mestinya? Novel 'Burung-burung Cahaya' yang merupakan metafor untuk menggambarkan santri-santri Pondok pesantren al-Quran ini, mencoba memotivasi pembacanya ~khususnya yang beragama Islam~ untuk memperlakukan al-Quran sebagaimana seharusnya. Di samping itu, pembaca diajak berpikir tentang lika-likunya perjalanan menuju derajat kemuliaan di sisi Allah. Novel yang menarik dan menggelitik. (KH. A. Mustofa Bisri, Budayawan, Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang)

Novel ini menguraikan secara detail berbagai anasir cerita mulai dari tema, peristiwa hingga konfilk dengan sangat hidup dan memikat. Sebuah novel yang mencoba mengangkat dunia pesantren dari sudut pandang lain, dengan cara yang lain pula. (Acep Zamzam Noor, penyair peraih penghargaan Sastra Asia Tenggara dan Khatulistiwa Award)

Pesantren tidak kalis pada persoalan manusia umumnya: cinta, harapan, dan ambisi untuk mendapatkannya. Ada niat mulia untuk menghapus kelam masa lalu, dan persahabatan yang terjalin liat seiring waktu. Jusuf memandang lengkap tiap warna yang merona di latar relijius itu. (Kurnia Effendi, Pecinta Sastra)

Cerita berjalan dalam dua koridor tentang menghafal al-Qur’an dan cinta yang coba disatukan dalam gejolak pencarian dan pendewasaan Rijal, tokoh utama novel ini. Cukup memberi romantika dan menarik untuk dibaca. (Chand Parwez Servia, Produser Film Starvision Plus)

Jusuf AN dalam novel ini menghadirkan kehidupan dunia pesantren dengan gaya penulisan yang sederhana, enteng, tetapi memikat. (Yetti A. KA. Cerpenis)


Selamat berpetualang anakku...

Jehenna, Narasi Jin di Tengah Kita

Artikel ini merupakan review novel Jehenna yang ditulis oleh Ridwan Munawar*) dan pernah dimuat di Koran Merapi edisi minggu.

“kesesatan pun perlu dibaca. Untuk dihindari”
(Ahmad Tohari)


Sederet kalimat di atas kiranya cukup reresentatif untuk menggambarkan spirit dari novel mistik yang menggambarkan bagaimana gigihnya proses penyesatan yang dilakukan oleh kaum jin terhadap manusia ini. Membaca novel ini, adalah mengikuti ketegangan tanpa henti tentang bagaimana perilaku manusia selalu berada dalam godaan dan pilihan nilai baik-buruk sampai pada titik terkecilnya.

Tokoh utama di sini adalah Jehenna, seekor jin jantan yang menggoda para pengikut Muhammad Jumadil Qubra’ dan Sunan Kalijaga sampai pada keturunannya di masa dulu sampai modern sekarang. Dengan kata lain, alur waktu dalam novel ini ada tiga; masa jawa klasik, masa pergerakan nasional dan masa modern sekarang. Dalam satuan waktu kaum jin yang rata-rata berumur ratusan sampai ribuan tahun manusia, kurun waktu tiga periode di atas tentulah pendek saja adanya. “Jehenna” sendiri adalah sebuah kata yang berasal dari Syiria yang berarti “jahanam.

JEHENNA, Sebuah Novel Super Imajiner

                               
JUDUL      : JEHENNA, Sahasia  Sebuah Kekuatan Impian
Pengarang  : Yusuf AN
Penerbit     : Diva Press, Yogyakarta (November 2010)

“Jehenna adalah novel yang berani mengambil risiko. Ia menawarkan tema yang pada kebanyakan penulis selalu dihindari, karena ketakutannya dianggap artifisial. Dunia halus, alam lelembut, dengan segala bentuk keanehannya memang riskan dituliskan, tapi di tangan penulis yang tepat, ia bisa menjadi kekuatan dan daya tarik yang luar biasa. Dan, Jusuf A.N. secara meyakinkan bisa melakukannya.” (Joni Ariadinata, cerpenis, redaktur majalah sastra Horison).

“Sebuah novel yang penuh kisah aneh dan tak terduga, membuat pembaca penasaran untuk terus membacanya hingga tamat.” (Ahmadun Yosi Herfanda, redaktur sastra harian Republika).

Jin mendapat izin Allah untuk menyesatkan manusia. Inilah kisah anak manusia yang jatuh bangun melawan godaan Sang Penyesat. Sangat menarik. (Ahmad Tohari, Penulis Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk)