Liana

Cerpen Jusuf AN

Di hari ulang tahun Liana kedua puluh empat, beberapa menit setelah aku memberinya sekuntum mawar dan senyuman, Liana mengatakan padaku bahwa dua belas tahun lalu dirinya pernah menikah. Senyum kulepas, secepat kilat mengurangi angka dua puluh empat dengan angka dua belas.
“Aku seorang janda, dan baiknya, kau pikirkan lagi rencanamu untuk menjadikanku istri.” Itulah kalimat terakhir yang ia ucapkan sebelum akhirnya pergi membiarkan sekuntum mawar dan secangkir cappuchino yang masih penuh, meninggalkanku dalam pikiran yang gaduh.
Pada Kamis malam ini, jika (dan semoga saja) udara masih keluar masuk melalui hidungnya yang mancung, usianya genap dua lima dan aku tidak tahu apakah ia tengah merayakan ulang tahunnya atau tidak. Yang jelas, aku kembali datang ke kafe yang pada Rabu malam setahun silam ia bercerita banyak tentang dirinya dan keluarganya. Aku segera memesan segelas lemon dan secangkir cappuchino dan sesaat setelah pesananku datang sekuntum mawar aku keluarkan dari saku jasku. Kursi di depanku kosong, dan dengan keras aku mulai berimajinasi, menghadirkan tubuh Liana yang ramping bergaun merah jambu, dengan bibir berlapis lipstik merah jambu, dan rambut tergerai sebahu yang dijepit dengan jepitan merah jambu, tersenyum menerima mawar dariku lalu sesaat kemudian meletakkan kembali mawar itu di atas meja bundar dan perlahan senyumnya memudar, seperti yang terjadi setahun silam.
“Dari dulu hingga sekarang dan mungkin akan bertahan sampai bertahun-tahun ke depan, bunga mawar selalu dicintai dan dijadikan lambang cinta,” katanya kepadaku, setahun lalu.
“Tapi cintaku abadi mekar dan senantiasa segar, sedangkan mawar?” sanggahku waktu itu. Ia terdiam sejenak, menatapku ragu-ragu, lalu mulai membuka cerita tentang keluarganya.
Satu demi satu nama ia sebut. Dalijo, ayahnya, Jannah, ibunya, Endah, Neli, Juariyah, ketiga kakak perempuannya, Parman, adiknya, dan namanya sendiri, dan terakhir Lukman, satu nama yang kemudian disebutnya berulang-ulang dengan nada menekan-nekan. Nama yang terakhir itu adalah guru ngajinya yang kemudian mengekalkannya dirinya sebagai janda.
***
Dalijo adalah anak pertama yang dilahirkan oleh seorang perempuan berumur lima belas tahun. Ia sendiri menikahi Jannah pada waktu sehari setelah bendera Belanda yang berkibar di hotel Yamato di Surayabaya disobek warna birunya oleh seorang pemuda.  Pada waktu itu umur Dalijo belum genap tujuh belas tahun.
“Sepuluh lebih tentara Belanda aku tembak.” Entah sudah berapa kali ia mengulang-ulang cerita yang sama di depan anak-anaknya. Tetapi Endah, Neli, Juwariyah, Liana dan Parman, yang masing-masing memiliki selisih tiga tahun seolah tak bosan mendengarnya. Dalijo menceritakan dengan penuh semangat, seolah-olah peristiwa itu baru terjadi kemarin hari, dan anak-anaknya mendengarnya seperi sedang mendengar sandiwara radio yang menegangkan. Sedangkan Jannah, istri Dalijo, sesekali mencibirkan bibir, seperti tahu ada yang dibesar-besarkan dalam cerita suaminya. “Jelek-jelek begini, aku ikut berjasa dalam merebut kemerdekaan. Maka, kalian sebagai anak-anakku harus mengisi kemerdekaan ini dengan sesuatu yang berharga. Belajarlah yang rajin, dan turuti nasehat orangtua.”
Anak-anak itu lalu akan menganggukkan kepala. Lalu ketika suatu waktu Dalijo atau Jannah menjumpai mereka malas bangun tidur atau tidak mau mengerjakan PR dari sekolah, mereka berdua akan menyebut nama-nama pahlawan yang gugur demi kemerdekaan. Mendengar nama Soekarno, Jenderal Sudirman, Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dien, atau Sisinga Mangaraja disebut, anak-anak itu tiba-tiba merasa malu, lalu segera berjingkat dari ranjang, atau segera mengambil tas dan mengeluarkan buku-buku pelajaran.
Endah, anak pertama dari perkawinan Dalijo dan Jannah, memberikan contoh kepada adik-adinya, bahwa kita harus meneledani para pahlawan. Caranya? Belajar yang rajin, jangan sampai tidak naik kelas, dan menurut kepada bapak-emak. Menurut Endah, Dalijo dan Jannah adalah juga orang yang sangat layak disebut sebagai pahlawan dan karenanya harus dijadikan teladan serta dipatuhi nasehat-nasehatnya. “Bayangkan ketika kalian masih seumuran Parman!” katanya pada tiga adik perempuannya. “Betapa kalian sangat merepotkan!” Tidak disangka, Endah yang baru berumur tiga belas waktu itu bisa bersikap begitu dewasa.
Tidak heran kalau kemudian ada seorang pemuda yang baru pulang dari Jakarta datang melamar Endah. Mulanya Endah menolak lamaran itu, tetapi setelah Dalijo mengatakan bahwa dulu emaknya menikah juga masih seumuran dengannya, dengan keteguhan seorang yang berbakti pada orangtua Endah akhirnya menurutinya. Tujuh hari setelah menikah Endah dibawa ke Jakarta oleh suaminya, sehingga Neli menjadi anak yang tertua di keluarga Liana.
“Neli hampir-hampir tidak ada bedanya dengan Endah yang begitu patuh dengan orang tua, pandai memasak dan memijat, dan setia mengikuti sandiwara radio saban sore,” kenang Liana. “Begitu pula jalan hidup yang kemudian dipilihnya. Sama. Ia menikah, hamil, dan punya anak di usianya yang masih sangat muda. Dan entah kenapa mereka berdua begitu bahagia menjalani hidupnya.”
Liana kemudian memberikan beberapa bukti tentang kehidupan kedua kakaknya yang bahagia. Bahwa setiap Liana berkunjung ke rumah Neli dan Endah pada saat liburan sekolah, tak pernah Liana mendengar dua kakaknya itu bertengkar dengan sang suami. Anak Endah dan Neli juga lucu-lucu dan membuat dua kakaknya lebih sering tertawa-tawa saat mengasuh mereka. Selain itu, setiap Lebaran tiba, Endah dan Neli selalu pulang membawa aneka macam kue, baju batik dan jarit untuk Dalijo dan Jannah, pakaian baru untuk Juwariyah, Liana dan Parman, dan tak lupa membagi-bagi uang bergambar Sisinga Mangaraja yang sangat dibanggakan oleh mereka.
“Sangat berbeda dengan hidup Juwariyah,” kata Liana. “Meskipun wajahnya dan rambutnya lebih bagus ketimbang Endah dan Neli tetapi hidupnya tak jelas menjadi apa di luar kota, tak pernah membawa apa-apa saat pulang jelang Lebaran kecuali cerita.”
Juwariyah memang keras kepala. Dalijo menjadi sering sakit-sakitan akibat Juwariyah menolak lamaran pemuda putra sulung Kepala Desa. Kepada Juwariyah, Dalijo bahkan pernah mengatakan, “Hilang-hilang telur satu tidak masalah.” Namun Juwariyah, yang memiliki rambut lurus dan gigi-gigi putih dan rapi itu, tidak peduli atau mungkin tidak paham dengan maksud kalimat Dalijo. Ia tidak melanjutkan sekolah, tidak pernah menasehati Liana dan Parman untuk giat belajar, dan tak pernah membantu Emak di belakang. Kerjanya main melulu ke luar rumah, baru setelah ia berani menolak lamaran putra Kepala Desa itu, ia kemudian merantau ke luar kota.
“Padaku ia pernah bilang bahwa di kota sana, ada beberapa lelaki yang mengajaknya pacaran tetapi ia menolaknya. Ia memang perempuan yang berani sekaligus keras kepala, tetapi punya cita-cita yang tinggi ingin menjadi seorang pengusaha sukses,” ujar Liana. Sesaat setelah berkata demikian, terlihat jelas perubahan warna air mukanya. Matanya yang bening dengan celak merah jambu dan wajahnya yang memancarkan ketenangan perlahan-lahan menghilang, seperti siang hari yang terang dan mendadak mendung datang.
“Tentang aku, pastilah kau sudah dapat menebaknya,” kata Liana.
Aku tertegun. Tanganku segera bergerak meraih tangannya yang terkulai di samping bunga mawar itu, tetapi Liana cepat-cepat menghindar. Ia mengambil tisu dari dalam tasnya, menempel-nempelkan tisu itu pada dua belah matanya, lalu kembali menatapku dengan mata yang masih berkaca-kaca tetapi terlihat siap untuk kembali melanjutkan cerita.
“Orangtua memang layak disebut pahlawan,” katanya, “Tapi apakah kita mesti meneladani dan mengikuti mereka seperti memakan kacang mentah tanpa terlebih dulu mengupasnya?”
“Tentu saja tidak,” jawabku.
Tetapi Liana tidak dapat menolak kacang mentah yang disuguhkan emaknya pagi itu. Ia memakan kacang mentah itu dengan kulitnya. Ia tak berani membantah, tak berani berkata “ah”, meski di kemudian hari kacang yang ditelannya itu sangat pahit. Pagi itu, Liana baru selesai mandi, dan bersiap-siap untuk mendaftar ke sekolah menengah bersama kawan-kawan sepantarannya. Ia mengenakan kain merah putih dan menenteng map berisi ijazah, foto, serta sertivikat dari Kecamatan. Ia sangat senang dan bangga dengan prestasinya sebagai pelajar rangking satu sekecamatan, tetapi begitu saja ia melupakan angka-angka sembilan dalam ijazahnya ketika Jannah menggeleng-gelengkan kepala, tidak merestui niatnya melanjutkan sekolah.
“Bukan karena aku tidak menginginkan kau jadi orang pintar, tetapi aku lebih menginginkan kau jadi orang yang beruntung dan bahagia. Lihatlah Neli dan Endah, mereka berdua sekarang hidup bahagia karena menuruti nasehat Bapak-Emak. Karena itu, Liana, terimalah saja lamaran Lukman, guru ngajimu yang tampan dan baik hati itu. Kau pasti akan hidup bahagia dan tetap dapat belajar ilmu agama pada suamimu kelak.”
Terbayang oleh Liana dua wajah kakaknya, Neli dan Endah. Dua wajah itu seakan benar-benar hadir di depannya, menyuruhnya untuk takzim menganggukkan kepala.
“Dua belas tahun lalu, aku masih senang bermain kasti dan lomat karet,” kenang Liana sembari memutar-mutar cangkir cappuchino yang mungkin sudah dingin. “Sedang Lukman tak permah mau aku ajak bermain, mengijinkan aku bermain pun tidak. Kecuali permainan yang menyebalkan dan membuat selangkanganku sakit yang entah bernama apa. Permaianan pada malam hari di kamar remang itu sungguh tidak seru dan menjengkelkan. Ia memang kadang-kadang membelikanku banyak permen, tetapi setiap hari aku dipaksannya menelan pil-pil kecil yang pahit.”
Dua bulan setelah resmi menjadi istri Lukman, pada sebuah malam di mana Lukman sedang memimpin kenduri mengenang empat puluh satu hari wafatnya Dalijo, dengan tergesa dan gusar Liana mengemasi pakaiannya lalu buru-buru menghambur keluar rumah, berjalan menembus gelap, bermaksud melebur kegelapan yang melingkupi takdirnya. Tetapi ia tak tahu harus pergi ke mana. Untunglah ia ingat bahwa Juwariyah pernah bilang kalau sudah dapat menyewa rumah di daerah Tuban. Tapi ia tak punya alamat yang jelas di mana kakaknya yang keras kepala itu tinggal, sehingga ia baru berhasil menemukannya beberapa minggu setelah berkali-kali ia berkeliling pasar, pantai, dan komleks pemakaman Sunan Bonang. Usahanya tidak sia-sia, karena kemudian ia melihat Juwariyah sedang mengupasi siwalan di kios tuaknya di tepi jalan. Namun, Juwariyah yang ia harapkan dapat meradakan kesedihannya, begitu melihat Liana langsung menyuruhnya pulang.
“Untuk apa aku pulang, Kak?”
“Nah, untuk apa pula kau minggat?”
Liana tak menjawab.
“Kemarin Lukman datang kemari mencarimu. Ia akan menceraikanmu kalau dalam tujuh hari ke depan kau belum pulang juga.”
Sampai di situ Liana menutup ceritanya. Ia menunduk lama, seakan tak kuat menanggung beban berat di kepalanya. Sebelum ia bangkit dari kursi untuk kemudian pergi, sempat ia berkata: “Aku seorang janda, karenanya pikirkan lagi rencanamu untuk menjadikanku istri.”
Kursi di depanku kosong. Baru saja bayangan seorang perempuan bertubuh ramping bergaun merah jambu, dengan bibir berlapis lipstik merah jambu, dan rambut tergerai sebahu yang dijepit dengan jepitan merah jambu itu terbang menghilang. Sekuntum mawar masih tergeletak di atas meja bundar, di sebelahnya secangkir cappuchino yang mungkin sudah dingin. Aku duduk diam memandangi kursi kosong itu, sesekali menunduk mengamati secangkir cappuchino dan sekuntum mawar di atas meja bundar sembari membayangkan Liana datang ke kafe ini, duduk, lalu tersenyum menerima mawar dariku dan segera tahu apa maknanya. Aku ingin ia merayakan ulang tahunnya di sini, bersamaku. Aku ingin melihat wajahnya dan memastikan kalau dirinya tidak menyesal telah dilahirkan.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »