Tampilkan postingan dengan label catatan harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan harian. Tampilkan semua postingan

Ramadhan di Tengah Wabah Covid-19


M. Yusuf Amin 

Ramadhan tahun ini (1441 H) tidak biasa. Memang tidak ada Ramadhan yang biasa. Ramadhan selalu luar biasa. Tapi puasa di tengah pandemi (covid-19) pastilah tidak pernah dialami sebelumnya.

Saya tidak membolehkan istri berbelanja ke pasar sehari sebelumnya. Ada sayur kan, ada telur, ada sambel? Beres. Tetap bangunkan saya pukul tiga. Prepegan, demikian orang Jawa menyebut saat-saat akhir menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, selalu membuat pasar tumpah ruah dengan manusia. Pun di tengah pandemi begini? Ya. Jalanan kota yang dua hari atau seminggu sebelumnya sepi seperti mati, mendadak hidup kembali.

Ramadhan memang mestinya kita sambut dengan sambutan paling meriah di dada kita. Tentu saja tidak melulu dengan belanja, makanan yang lezat dan bahkan kurma. Cukup dengan dada yang gembira. Sebab paham akan bertemu dengan bulan yang menyimpan banyak keistimewaan. Mungkin itu sudah cukup.



Agaknya ketakutan masyarakat akan terjangkit virus korona lambat laut akan mengecil, mengecil, dan mungkin perlahan akan lenyap. Agaknya mulai muncul bersit pikiran yang ngeri-ngeri sedap; wabah ini hanya konspirasi global, saya tetap aman kalau pakai masker dan cuci tangan pakai sabun, imun saya kuat, dan lain sebagainya. Bisikan yang entah muncul dari mana itu kemudian meningkatkan keberanian orang-orang untuk berkerumun di pasar. Ya, situasinya memang ruwet, ruwet, ruwet. Sementara kita dituntut untuk memilih, memberikan keputusan sendiri, disebabkan tidak adanya aturan yang tegas dan jelas.

Termasuk soal ibadah berjamaah di Masjid dan Mushalla. Himbauan dari MUI dan Kementerian Agama agar umat beribadah di rumah saja tidak begitu diindahkan, khususnya oleh orang-orang kampung.

"Kampung kita (insyaAllah) aman, sudah diportal, jamaahnya kita kenal semua, shalat tarawih tetap jalan," kata Pak RT.

"Kalau pasar saja berjubel dengan  orang-orang yang tak dikenali riwayat mereka saja berani, apalagi ke mushala kampung sendiri?" tambah Mbah Senep.

Logika Pak RT dan Mbah Senep belum bisa dituntut untuk menerapkan kaidah, "Mencegah kemadharatan lebih diutamakan ketimbang mengundang kemaslahatan." Mereka hanya bisa disadarkan ketika sudah muncul kasus nyata, yang tentu saja tidak diharapkan.

Saya mendapat cerita dari Ibu saya, bahwa Kyai di kampung kelahiran saya menangis setelah terbitnya himbauan MUI yang dikuatkan oleh ketua NU dan Muhammadiyah tentang Shalat Jumat yang ditiadakan. Menangis karena menanggung beban dosa apabila tidak jumatan atau karena kesedihan yang mendalam tidak bisa menjalankan ibadah fardhu 'ain? Kita tidak bisa mendeteksinya. Tetapi toh kemudian jumatan pada minggu berikutnya digelar, dengan diam-diam, tanpa speaker toa, dan orang-orang berduyun-duyun menghadiri. Lagi-lagi aparat tidak bisa berbuat tegas dalam hal ini, tidak bisa. Menangkapi para imam tentu akan dianggap kriminal, membiarkan mereka tanpa himbauan apa-apa juga akan dianggap tidak bertanggung jawab. Sekali lagi ini ruwet, ruwet, ruwet.

Bagi orang kampung datang ke Masjid dan mushala bukan lantaran (semata) mencari lipat pahala. Di masjid dan mushala itulah biasanya mareka bertemu dengan sesama saudaranya, tahu kabar-kabar terbaru, dan itu bisa jadi sarana rekreasi dan rileksasi di tengah berbagai kesulitan dan kesumpekan hidup. Untuk hal-hal itu bagi kaum milenial mungkin cukup dilakukan dengan menengok dan membuat story WA.

Malam pertama Ramadhan ini, saya sebenarnya ingin tarawih di rumah saja. Tapi tanpa kehadiran saya pun, mushalla kampung saya tetap menyelenggarakan jamaah tarawih. Dan entah kenapa, saya ketonen, teringat mereka, dan ingin memastikan bahwa jamaah di mushala kampung saya tetap dengan menjaga jarak dan memakai masker. Jamaah meningkat, mungkin 4 kali lipat ketimbang biasanya. Tarawih jalan, saya deg-degan, rasanya seperti malam pertama. Dan benar, ini malam pertama Ramadhan. Dan karena tadarus al-Qur'an selepas tarawih di Mushalla ditiadakan, saya mendadak bergairan menulis catatan ringan ini.

Ramadhan waktu yang baik untuk bermunajat: Semoga kita tetap sehat dan segera lepas dari keruwetan ini. 

Perjalanan Single Origin Kopi Bowongso

diskusi kopi bowongso

Pertama kali dengar orang menyebut “single origin” mungkin kau mengira bahwa itu istilah untuk menyebut jomblo yang masih belum pernah pacaran, belum disentuh, bahkan belum dimodifikasi oleh mantan. Hehe... Kalau disangkutkan dengan kopi, saya mulanya juga mengira single origin adalah kopi yang punya satu rasa. Hahaha... Ngawur semua!

Single origin tidak lain adalah kopi yang berasal dari satu daerah atau tempat, yang sejak panen, roasting, sampai giling tidak dicampur dengan kopi dari daerah yang berbeda. Demikian Mas Eed, salah seorang pejuang Kopi Bowongso memberikan keterangan dalam acara #EduTalk12, (Sabtu, 15/10/16) di Pendopo Wakil Bupati Wonosobo. Acara yang digagas sepasang blogger (Erwin dan Wening) bekerja sama dengan Join Kopi Wonosobo tersebut mendapat apresiasi yang melimpah, terbukti dengan banyaknya peserta yang hadir (lebih 150 orang). Selain Mas Eed, Pak Harjanto (Pelaku Bisnis Kopi), dan Pak Efendi (Perwakilan dari Dinas Pertanian) juga hadir sebagai pemantik.

Ada banyak hal baru dan menarik saya peroleh, terkait dunia perkopian, mulai dari hulu sampai hilir. Pada tulisan ini, saya coba fokuskan pada lika-liku perjalanan Kopi Bowongso yang dipaparkan oleh Mas Eed.

Order Kopi Bowongso Bisa melalui Bukalapak dan Tokopedia


https://www.bukalapak.com/p/food/minuman/4skhze-jual-kopi-arabika-bowongso-lereng-sumbing-premium

https://www.tokopedia.com/kopirejeki/kopi-arabika-bowongso-wonosobo-lereng-sumbing-1

baca juga: Kopi Bowongso Lereng Sumbing Wonosobo Paling Enak Sedunia

Kopi Bowongso, Perjalanan Meningkatkan Kualitas


Desa Bowongso yang berada di lereng Sumbing ada di ketinggian lebih dari 1200 mdpl. Mayoritas penduduknya adalah petani dengan tembakau sebagai tanaman favorit. Pengolahan lahan yang secara terus menerus tanpa adanya pergantian tanaman membuat Eed gelisah. “Nanti apa yang mau kita tinggalkan unt anak cucu kita?” Kegelisahan yang dirasaan Eed bisa dibenarkan mengingat, lambat laun lahan bisa kehilangan kesuburan. Belum lagi pola tanam dan pengaruh pupuk kimia, jelas memberikan dampak negatif bagi tanah dan lingkungan.

Eed lalu mendatangi dinas Pertanian, dan gayung pun bersambut. Keinginan Eed dan kelompok Tani Bina Sejahtera untuk membudidayakan kopi arabica mendapatkan dukungan dari pemerintah. Didampingi Dinas Pertanian, Kelompok Tani Bina Sejahtera mendapatkan bantuan bibit yang ditanam pada tahun 2010. Bibit-bibit tersebut tidak sepenuhnya menggantikan tembakau, dan memang bukan dimaksudkan untuk itu. Tembakau masih ada, dan kopi ditanam secara tumpang sari, meski saya pernah menjumpai beberapa petak lahan yang semuanya ditanami kopi.

Setelah tiga tahun tumbuh, kopi arabica yang ditanam Kelompok Tani Bina Sejahtera akhirnya menemui masa panen. Eed mengaku belum tahu apa-apa soal kopi, dan kesadaran ini membuatnya terus berlajar, salah satunya dengan mengikuti pelatihan pengolahan kopi “pasca penen” yang diadakan Dinas pertanian.

Baru pada tahun 2015, untuk awal kalinya Eed membawa hasil roasting kopi Bowongso kepada ahlinya. Beliau adalah Pak Harjanto, satu-satunya orang Wonosobo yang punya sertifikat Q Grader, bukti sah lulusan Speciality Coffee Association of America (SCAA’s). Tenang Pak Harjanto, hobby, peran dan bisnis kopina, insyaAllah akan akan saya tulis pada kesempatan lain. Yang perlu saya sampaikan di sini adalah komentar Pak Harjanto setelah mencicipi Kopi Bowongso: "Pertahankan." Artinya Single Origin Bowongso sudah memiliki kualitas yang bagus.

Tentu saja penilaian Pak Harjanto tidak asal-asalan, dan Eed sendiri tidak mudah puas. Trial and error terus dilakukan oleh Eed guna meningkatkan kualitas Kopi Bowongso. Dan ia menyadari bahwa: “Kualitas biasanya berbanding terbalik dengan kuantitas.” Pertanyaannya, seperti apakah kopi yang berkualitas?

Di Jember ada Pusat Penelitian dan Pengujian Kopi dan Kakaa (Puslit Koka). Kopi dengan kualitas baik, minimal nilainya 82. Untuk berjuang mendapatan nilai itu menjadi tantangan tersendiri. Dan Eed paham, kopi berkualitas tidak hanya dipengaruhi oleh mesin roasting, tetapi diawali prosesnya sudah diawali sejak penanaman, pemanenan, dan pengolahan pasca panen.

Bukan hal mudah untuk menyadarkan petani soal proses menghasilkan kopi berkualitas. Dengan kegigihannya, Eed terus mengedukasi anggotanya untuk, “Wajib petik merah”: bukan under ripe (belum matang) atau over ripe (terlampau matang), tapi sempurna. Lalu setelah panen, jangan menunda proses. Tidak lebih dari 8 jam kopi yang baru dipetik harus segera diproses sebelum terjadi fermentasi alami yang dapat merusak citarasa kopi.

Lalu soal roasing. Kelompok Tani Bina Sejahtera sendiri kini sudah menggunakan mesin Roasting Custom produk dalam negeri, Agrowindow. Dengan mesin tersebut, langkah Kopi Bowongso semakin mantap sehingga pada uji cita rasa kopi bulan Agustus 2016 yang lalu, Kopi Arabica Bowongso masuk dalam 11 besar kopi dengan cita rasa terbaik se-Indonesia.

tentang kopi Bowongso yang lain, anda juga bisa baca-baca di web kopi spesial dot com.

Kopi Bowongso Lereng Sumbing Wonosobo Paling Enak Sedunia


kopi luwak bowongso

Pernah dengan kopi Bowongso? Kopi Paling Enak Sedunia, kata Dhimas, teman saya. Memang tidak ada di iklan televisi, belum pula banyak tersiar, di banding misalnya Kopi Gayo atau Kintamani. Tapi sebenarnya, bagi pengamat kopi sungguhan, kopi Bowongso sudah cukup masyhur.

Beberapa kawan, blogger khususnya, pernah menuliskan tentang Kopi Bowongso. Dari posting-posting itulah publik bisa mendapatkan informasi yang cukup detail, yang kemudian membuat penasaran, dan akhirnya tergerak untuk datang langsung ke desa yang terletak di lereng Sumbing tersebut.

Termasuk saya. Mulanya saya ngopi sebatas senang saja, biar lidah tidak pahit dan merokok pun jadi enak, juga tubruk melulu metodenya. Tapi obrolan-obrolan soal kopi yang marak, di tengah bincang buku bersama rekan, di kala menunggu bel masuk kelas, di media sosial, membuat saya tergoda untuk tahu lebih banyak soal kopi. Kedai-kedai juga mulai tumbuh di kota Wonosobo, dan ini begitu menggembirakan bagi orang yang sepakat bahwa nongkrong sambil ngopi bisa memberikan warna tersendiri pada hidup.

Kian memuncak penasaran saya dengan Kopi Bowongso setelah mencoba beberapa kopi hasil roasting Pak Harjanto (pemilik Dee Coffe), lalu Kopi Arabika Temanggung. Adakah kopi wonosobo yang lebih enak dari Pedicof (Pleatu Dieng Coffee) Arabika Single Original? Ada.

Ah, sebentar. Soal enak, kurang enak, atau tidak enak, sebenarnya soal selera saja. Kalau menurut saya kopi Bowongso lebih enak ketimbang pedicof misalnya, itu sah saja, begitu pula jika anda berpendapat sebaliknya.

Berkunjung langsung ke Bowongso, lalu menyeduh Kopi Arabika dan Kopi Luwak liarnya membuat saya percaya bahwa “kenikmatan secangkir kopi tidak dipengaruhi oleh proses penyeduhan, malainkan juga perjuangan untuk mendapatkannya”. Andai saja saya membeli kopi Bowongso di Toko Aneka (Sejauh ini kopi Bowongso tidak dipasarkan di toko oleh-oleh Wonosobo. Soal itu saya jabarkan nanti), mungkin rasa dan perasaan nikmat itu tidak sedalam sore itu.

Sore itu sebenarnya masih siang, tetapi mendung dan hawa dingin pegunungan sempurna mencipta suasana sore. Saya datang bersama Dhimas, si penulis buku Catatan Kopi dan Pejuang Skripsi. Dhimas mengaku sudah sekali datang ke Bowongso, dengan demikian saya tidak perlu lagi buka-buka google map. Perjalanan kami lancar tanpa cela. Kalau terpaksa saya harus turun karena Kharisma Dhimas tak kuat membawa beban dosa tubuh saya yang ringkih, itu justru bagian dari perjuangan yang membuat kami diganjar dengan Kopi Luwak Liar paling enak di dunia. Di surga, apakah ada?

jalan menuju desa bowongso


Ketika kami tiba, kami di sambut hangat di ruangan yang sepertinya sudah disetting seperti warung. Tapi ini rumah. Dan karena momennya masih lebaran, maka kue dan jajan tradisional masih berjajar di meja. Saya yakin, itu tidak untuk dijual.

Order Kopi Bowongso Bisa melalui Bukalapak dan Tokopedia

https://www.bukalapak.com/p/food/minuman/4skhze-jual-kopi-arabika-bowongso-lereng-sumbing-premium

https://www.tokopedia.com/kopirejeki/kopi-arabika-bowongso-wonosobo-lereng-sumbing-1

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Yang membuat saya terperangah adalah sebuah mesin yang tampak begitu gagah sedang menderu, operatornya cuma satu, Mas Eed, begitu kami akrab memanggilnya.

Tidak semua orang bisa paham bagaimana roasting kopi yang bagus. Ya, beberapa artikel tentang kopi sudah saya baca, dan saya tidak kaget lagi. Tapi alat itu, gagah betul. Puluhan juta harganya. Kelak, baru saya tahu mesin roasting kopi itu buatan dalam negeri. Kelompok Tani Bina Sejahtera yang mendapatkan alat tersebut dari Dinas Pertanian.

menyeduh kopi bowongso


Ada banyak pelajaran saya dapatkan selama kunjungan mendadak itu. Tentunya, berkait dengan sejarah Kopi Bowongso serta perjuangan Mas Eed dan teman-temannya dalam meningkatkan dan menjaga kualitas kopi. Saya akan tuliskan soal itu secara terpisah.

Tulisan ini adalah bagian pertama dari beberapa catatan seputar kopi Wonosobo. 

Mendengar Langsung Proses Kreatif Ronggeng Dukuh Paruk

Jusuf AN 

Waktu itu, saya berkesempatan mengikuti Program Penulisan Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) di Cianjur, Awal Agustus 2016. Meski sudah cukup lama menulis karya sastra saya merasa mendapatkan banyak ilmu baru dalam kegiatan tersebut, selain tentu teman dan kenangan. Di antara mereka yang menjadi pembimbing Mastera Novel waktu itu adalah Triyanto Triwikromo, Agus R. Sarjono, Abidah El-Khaeliqy, dan yang paling sepuh adalah beliau Abah Ahmad Tohari.

Salah satu kegiatan Mastera adalah sharing proses kreatif. Sebenarnya ini sukarela saja, tidak semua pembimbing membuka proses kreatifnya. Salah seorang yang dengan senang hati berbagi pengalaman menulisnya adalah Ahmad Tohari.

Kita tahu, Ahmad Tohari masyhur dengan novelnya Ronggeng Dukuh Paruk. Bahkan bisa dikatakan, Ahmad Tohari ya Ronggeng Dukuh Paruk, meski dia telah menghasilkan banyak novel yang lain.

Di meja bundar, setelah selesai membahas soal diksi Ahmad Tohari menuturkan pengalamannya. Tentu kami sangat senang dan menyimaknya baik-baik. Saya tidak merekam suaranya, tetapi saya menulis cepat apa yang beliau sampaikan dengan pelan. Tentu tidak semuanya bisa saya kejar, tetapi phoin-phoinnya bisa saya tangkap untuk kemudian saya tulis ulang dengan gaya bebas. 

proses kreatif Ahmad Tohari

Beginilah proses kreatif Ahmad Tohari, khususnya berkaitan dengan sebelum dan setelah novel ronggeng dukuh paruk.

Novel ronggeng dukuh paruk ditulis oleh Ahmad Tohari ketika umurnya 28 tahun. Waktu itu, beliau sudah menjadi redaktur Harian Merdeka di Jakarta, jadi sudah menguasai betul soal bahasa.

“Sebetulnya berangkat dari peristiwa berdarah tahun 1965. Di kampung saya banyak orang dibunuh, di depan umum, banyak rumah dibakar, di depan umum. Lalu peristiwa eksekusi, di pertontonkan!”

Melihat peristiwa tersebut, beliau betul-betul sangat terguncang, traumatik, dan tidak bisa menerimanya. “Kalau pun komunis yang menang, mungkin kami dihabisi PKI, tapi nyatanya PKI yang kalah.” 

Proses Kreatif Ronggeng Dukuh Paruk


Pada saat Ronggeng Dukuh Paruk mulai ditulis, belum ada satu pun novel yang berani mengangkat isu PKI sebagai latar. Dan Ahmad Tohari nekat melakukannya. Tidak tanggung-tanggung beliau memutuskan keluar dari zona nyaman, berhenti menjadi redaktur, lalu pulang kampung dan memulai menulis secara bebas, hingga kelak sanggup meyelesaikan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk.

Ada beberapa hal yang menginspirasi kelahiran ronggeng dukuh paruk. Pertama, kemiskinan, kedua, kelicikan orang-orang kaya, dan ketiga, pemberontakan atas perilaku TNI dan orang-orang kampung yang telah berbuat semena-mena. Beliau merasa marah dengan realitas yang melingkupinya.

Meski Ronggeng Dukuh Paruk penuh kritik terhadap pemerintah, khususnya para serdadu, tetapi kenapa Ahmad Tohari bisa aman sampai sekarang? Sementara banyak penulis pada masa Orba yang dibuang, dipenjara tanpa pengadilan, dilenyapkan dan sampai sekarang tidak jelas rimbanya. Begini keterangan beliau...

Kehidupan dan Karya Ahmad Tohari

“Saya memakai beberapa trik. Pahlawannya ‘kan tentara. Dibuat asyik dulu dengan ronggeng.” Maksudnya, pada bagian-bagian awal novel Ronggeng Dukuh Paruk, belum ada kritik tajam soal keberingasan tentara, tetapi lebih menceritakan kehidupan ronggeng.

Selain itu, ketika menjadi cerita bersambung di Kompas, redaksi juga memenggal bagian-bagian yang sensitif menyangkut tentara . Saya sendiri baru tahu kalau novel itu pernah menjadi cerita bersambung di Kompas pada tahun 80-an. “Yang memutuskannya adalah Jacop Oetomo sendiri. Waktu itu baru selesai bab 7, yang terakhir belum selesai.”

Sejak menjadi cerbung itulah Ahmad Tohari menerima puluhan surat pembaca. “Semua surat pembaca tidak hanya menyinggung isi cerita, tetapi juga menyinggung bahasa.” Menandakan bahwa banyak pembaca terkesan dengan cerita ronggeng dukuh paruk.

Tidak hanya pujian, ada juga beberapa ulama yang mempersoalkan novel tersebut, terlebih Ahmad Tohari masih merupakan keturunan Kyai dan punya ikatan dengan pesantren. Dunia ronggeng yang gelap, bahasa-bahasa yang tabu seperti tetek dan sebagainya menjadi hal yang dipermasalahkan.

“Dari sisi sufistik, bahwa apa pun yang ada di langit, dan di bumi milik Tuhan. Ronggeng juga milik tuhan. Apakah kalian tidak belajar fiqih? Kok heran jika ada kata-kata genital di novel?” Demikian Ahmad Tohari berusaha menangkis pandangan-pandangan miring soal tema novelnya dan bahasa yang digunakan.

Lalu, apakah Ahmad Tohari benar-benar bebas dari intimidasi tentara? Tidak!

“Tahun 1986 saya menerima surat yang ditandatangi Mayor Jendral.” Dan Ahmad Tohari memenuhi panggilan itu, berangkatlah beliau ke Jakarta. Di sana beliau ditanyai macam-macam. Tapi anehnya, “Mereka bertanya tapi sudah menyediakan jawabannya.” Sehingga beliau seperti memang sudah dijerat dan dicap salah. Selama empat hari beliau dikurung, dan pada hari kelima datanglah pertolongan itu.

Tentara yang mengiterogasinya bertanya: “Apakah ada orang yang bisa menjamin Anda bukan penganut komunis?” Kemudian Ahmad Tohari menulis sebuah nama, lengkap dengan nomor telponnya. “Namanya Abdurrahman Wahid. Waktu itu Gus Dur menjadi ketua PBNU.” Ahmad Tohari sudah kenal sejak lama dengan Gus Dur dan hafal nomor telponnya. Mengetahui nama itu, Ahmad Tohari langsung dibebaskan.

Yang paling menarik dan cukup menggelikan adalah cerita ketika suatu hari, Gus Dur datang ke rumahnya. Ya, sepulang bertualang ke Timur Tengah dan Eropa, Gus Dur datang ke rumah Ahmad Tohari di Banyumas. Untuk tujuan apa? Tidak lain semata, memberi pendapat tentang novelnya, Kubah. Kata Gus Dur, novel kubah jelek, karena begini-begini-begini dan seterusnya. Dan Ahmad Tohari tidak jengkel. Justru dengan itu beliau menjadi tahu seperti apa novel yang bagus. Ya Ronggeng Dukuh Paruk itu, Masterpiece-nya.

Semoga sehat selalu, Pak Ahmad Tohari. 

Tentang Novel Kailasa dan Saya

Jusuf AN

Seorang teman menanyakan sesuatu yang cukup membuat saya terkejut. Tentang novel terakhir saya: Kailasa, kenapa berbeda dengan novel-novel saya sebelumnya? Sebenarnya saya ingin balik bertanya, apakah si Bung sudah baca semua novel saya. Tetapi saya sudah telanjur termangu, lalu menjawab sekenanya. “Entahlah.” Barulah setelah teman saya pulang, saya kembali terusik dengan pertanyaan itu. Sialan!

Ya, kenapa novel Kailasa berbeda dengan novel saya yang lain? Kenapa saya tidak penah terpikirkan pertanyaan itu sebelumnya?

Novel pertama saya berjudul Jehenna (2009), mengisahkan pengembaraan dan perjuangan seekor Jin menghasut manusia. Lalu Burung-burung Cahaya (2010), yang sebenarnya adalah sekuel Jehenna, mengisahkan para santri penghafal al-Qur’an. Tahun 2012 terbitlah Mimpi Rasul, yang kemudian disambung dengan Pedang Rasul tahun berikutnya. Kedua novel terakhir itu, diisi tokoh-tokoh orang kota dengan kisah cinta yang konyol sekaligus mengharukan, juga dialog-dialog religius.

Sampai di sini saya cukup mafhum di mana letak perbedaannya. Empat novel saya sebelum Kailasa memiliki tebal lebih dari 400 halaman, betebaran diksi islami, di dalamnya hidup manusia dan jin yang gelisah memikirkan hubungan mereka dengan Tuhan. Berbeda dengan Kailasa, anak kelima saya itu. Ia begitu tipis, tak lebih dari 200 halaman, dengan tema dan gaya bahasa yang berbeda dengan 4 kakaknya. Walau begitu, ia anak saya juga. Dan saya tidak perlu gumun. Bukankah kita sering tidak percaya dengan masa kanak-kanak? Demikian pula dengan tulisan-tulisan kita pada masa lampau.

Benih Kailasa sendiri sebetulnya sudah terkandung sejak cukup lama, sebelum kemudian saya besarkan dengan kata, hingga akhirnya sempurna mewujud jalinan cerita.

Kailasa: novel tentang pertanian, kehidupan para petani, dengan tokoh utama seorang sarjana pertanian, benar-benar telah membuat saya mesti memeras pikiran. Kuliah saya di Fakultas Syari’ah dan Pendidikan Islam, dan sudah bertahun-tahun saya tidak pernah lagi ke sawah-ladang. Bagaimana mungkin saya bisa menghidupkan kisah dan bahkan memberi ruh dalam Kailasa sedang saya sendiri, sebelumnya, nyaris buta dengan masalah yang saya tulis?

Di situlah menantangnya sebuah proses penciptaan karya. Bukan hanya membeberkan yang sudah kita tahu (pengalaman langsung), tetapi sekaligus memaksa kita menjelajah ke dalam, menyingkap detail-detail tersembunyi, untuk kemudian digodok, disaring, direnungi, diramu dan dibumbu.
Kailasa: Jejak Tanah Surga yang Terluka


Sains dan fiksi


Kita tahu, sains dan prosa fiksi sebenarnya sudah menjalin hubungan sejak lama, meski hubungan mereka jarang diketahui. Keduanya diam-diam saling memberi, mengisi, menginspirasi. Banyak penemuan-penemuan sains yang terinspirasi oleh fiksi, dan begitu pula sebaliknya: kemajuan sains dan teknologi bisa dijadikan sumber ide yang tak ada habisnya bagi penulis fiksi.

Novel Kailasa, tentu saja tidak murni fakta (bahkan Anda tidak akan pernah menemukan Desa Kailasa di Dieng sebagaimana tersebut dalam novel), tetapi juga tidak lahir dari imajinasi thok! Jika kemudian ditemukan diksi-diksi ilmiah, bahkan di akhir novel terdapat glosarium, bukan karena novel itu diterbitkan oleh Glosaria, dan penulisnya sok ilmiah!

Saya sendiri masih ragu menyebut Kailasa sebagai science fiction. Tetapi novel tersebut memang dibangun berdasarkan data dan fakta ilmiah, baik dari sisi sejarah maupun sains. Saya memang pernah membuat tulisan panjang tentang prosa fiksi sains (bisa anda lihat di fiksi-sains.blogspot.com), dan mungkin dari situlah saya tergerak untuk menulis novel dengan gaya soft science fiction. Entahlah, merunut jejak ide kadang lebih sulit ketimbang mencari sebuah jarum di tumpukan utang. hehe

Ada kisah lain, begini: suatu hari saya pernah ditikam oleh teman sekantor yang membeli novel saya: “Novelnya kok ada saru-nya. Hem, tadinya beli buat anak, tahu ada saru-nya akhirnya nggak jadi?”

Terus aku kudu piye?

Anda yang melek sastra mungkin akan membela saya dengan mengucap dalil: “Yang saru iku pikiranmu, Lek!” Ya, saya tidak pernah berniat nulis saru, tetapi begitulah tanggapan pembaca. Saya bisa apa?

Sejak awal, bahkan saya sudah menginginkan novel Kailasa nanti bisa dibaca oleh anak-anak sekolah, tetapi juga tetap enak dibaca oleh mahasiswa sastra. Tapi saya tidak ingin menulis cerita anak atau remaja, itu mungkin lebih sulit. Saya ingin menulis cerita dewasa dengan bahasa yang bisa dipahami orang awam sastra. Anda tahu, ini jauh lebih sulit ketimbang menulis sakkarepmu.

Akibat Faktor keterbacaan harus benar-benar saya perhatikan dan karenanya saya kehilangan keliaran berbahasa. Tak apa: saya menganggap ini bagian dari eksperimentasi juga, nyaris sama ketika saya menulis novel Jehenna.

Pada akhirnya, berkat Ramat Tuhan, Kailasa selesai juga. Tetapi ia mesti bersabar, karena menginjak usia tiga tahun ia baru keluar dari percetakan untuk kemudian berbincang dengan pembaca yang budiman. Tak apa. Sebagai orang tua saya cuma bisa mendoakan, semoga ia menjadi anak yang berbakti dan bermanfaat bagi pembaca.

Wonosobo, 7 Maret 2016

Tulisan ini disampaikan dalam acara Peluncuran dan Diskusi Novel Kailasa di Hall Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta (Kampus 2), 9 Maret 2016.

Jejak Kailasa

diskusi novel kailasa
panggung acara



bedah buku novel kailasa
setelah diskusi
novel kailasa
diskusi Kailasa di Wonosobo

launching novel kailasa
panggung diskusi Gramedia Fiesta


Kumpulan Surat Cinta Anak SD Untuk Guru Bikin Merinding

Contoh Surat Untuk Guru- Anak-anak selalu ajaib. Kadang-kadang saya, juga mungkin anda, pernah dibuat jengkel mendengar mereka mengoceh ngawur, bertingkah mirip anak-anak kangguru, atau hal-hal kecil lain yang menjengkelkan. Tetapi saya, dan tentu juga anda, percaya, mereka adalah anak-anak. Dunia mereka adalah dunia anak-anak. Anak-anak yang belum sempurna memahami baik dan benar, etika dan sopan santun. Lalu kita menyesal karena sudah menjengkeli mereka. 
Kalau kemudian mereka melakukan tindakan-tindakan yang tidak kita sukai, bukan berarti mereka adalah orang jahat. Bukan. Demikian ditegaskan oleh teman saya, Abdul Qadir Al-Amin, seorang seniman yang juga guru di sebuah SD di Magelang.
surat untuk guru
Amin, pemilik Akun FB Yang Merindukan Tuhan menandai saya dan beberapa teman dalam status Facebooknya, suatu ketika. (sumber status)

[ Hanya ingin berbagi sama temen-temen Revolusiener Pendidikan.
Saya mencintai murid-murid saya. Saya ingin sekali memperlihatkan ini pada mereka yang hanya memandang bahwa murid-murid saya nakal dan tertinggal. Ah, Sudah pantaskah mereka menyandang gelar sebagai penjahat (nakal) dan tertinggal? ]

Hari ini, saya meminta murid-muridku untuk menulis surat kepada siapa saja, kepada orang yang disayangi. Saya sempat menyampaikan bahwa isi surat bebas, boleh cerita apa saja, atau sesuatu yang sangat rahasia, yang sebenarnya ingin disampaikan tapi tidak berani atau tidak tahu cara mengatakannya. Tuliskan saja di dalam surat!
Padahal aq dah bilang temanya ceria, lah, kok malah aq jadi sedih membacanya.....

Bagi saya, surat-surat yang ditulis siswa teman saya itu sungguh menakjubkan. Dan karenanya saya meminta ijin kepadanya untuk mengabadikan statusnya dalam blog ini. 

Surat-surat Cinta Anak SD yang Polos dan Bikin Merinding 

Surat 1
Kepada Nenek.
Nenek, aku mau cerita pada nenek, karena aku sayang nenek.
Nenek dimana? Nek, pulang ya...

Surat 2
Kepada Kakek.
Kek, aku pengen ketemu nenek, tapi nenek sudah meninggal.
Karena ia sangat senang sama aku.

Surat 3
Kepada Ayah dan Ibu
Ibu, aku rindu dengan engkau.
Ayah, aku ingin menjadi keluarga. Kenapa ibu tidak pulang? Apa aku membuat kesalahan? Maafin aku kalau membuat salah. Aku rindu denganmu. Maafin ayah kalau membuat salah.
1 Love U Ibu. Ibu tercinta, jangan marah kepadaku. Aku mohon, pulang!

Surat 4
Kepada Ibu
Ibu, kenapa ibu tidak memberikan baju kepada saya, malah memberikan baju kepada orang lain? Malah yang diberikan kepada orang lain malah yang bagus.
Kenapa anak yang pertama tidak diberikan baju yang bagus kalau yang kedua malah diberikan baju yang bagus, kenapa, Bu? Kenapa baju yang diberikan kepada anak pertama tidak bagus?
Terimakasih.

Surat 5
Kepada Keluarga
Aku membuat kesalahan, aku sudah memecahkan piring. Bu, aku minta maaf. Aku sudah mencurigakanmu. Maafkan aku membuat kesalahan.

Surat 6
# Kepada Ayah
Ayah, Bunga (Nama siswi=disamarkan) kangen sama Ayah
Bunga pengen ketemu sama Ayah. Ayah tolong pulang. Pulanglah, Yah. Maafin nenek karena ayah enggak boleh pulang ke rumah Bunga.

Surat untuk Guru

## Kepada Pak Amin
Pak, maafin Bunga, Bunga selalu bikin pak amin marah. Pak, Bunga sayang sama pak Amin

Surat 7
Kepada Ibu
Ibu, aku ingin bertemu Ibu
Aku pasti akan pulang. Aku minta mondok karena aku mencari ilmu.

Surat 8
# Kepada Ibu/Ayah.
Assalamualaikum.
Ibu, Ayah, maafin aku ya! Maafin aku yang sebesar-besarnya karena aku sudah bersalah kepadamu, Ayah, Ibu/berdosa kepadamu. Tolong maafin aku, ya. Tolong banget.
## Kepada MAWAR (Nama disamarkan)
Mawar, maafin Bunga (Nama siswi= disamarkan)
Maafin dosa-dosa Bunga ya!
Maafin Bunga kalau Bunga berbuat salah kepadamu.
Kalau Bunga berbuat salah kepadamu, Mawar; Bunga akan menerima balasannya.

Surat 9
Kepada ..... (tidak disebutkan)
Saya ingin membahagiakan orang tua saya, tapi saya nggak bisa.
Saya berusaha untuk belajar, akhirnya saya bisa. Orang tua saya bahagia.

Surat 10
Kepada Ibunda tersayang
Maafin jika Surya (Nama disamarkan) nakal.
Sebenarnya Surya sayang sama Ibu. Surya sangat sayang dan berterimakasih karena sudah merawat dan menjaga dan mengurus Surya.
Terimakasih Ibu. Surya, sayang Ibu.
Surat 11
Kepada Ibu
Ibuku, maafkan aku karena aku sudah bersalah kepada ibu. Aku jadi takut sama Ibu. Maaf.
Surat 12
Kepada Ibu.
Ibu itu ibuku. Dan sebagai anak harus menghormati kepada orang tua.
Surat 13
Kepada MAWAR (Nama disamarkan)
Mbak Mawar sekarang ada dimana?
Bunga (nama siswa=disamarkan) pengen ketemu sama mbak Mawar, karena Bunga kangen sama mbak Mawar.
Aku ingin seperti kakak, karena kakaku jadi perawat di rumah sakit.

Surat 14
Kepada Pak Amin
Pak Amin, sebenarnya saya ingin mengucapkan kalau saya sudah mengacaukan rencana pak Amin. Saya minta maaf ya pak Amin. Saya menyebalkan karena saya sudah mengacaukan rencana pak Amin. Saya tidak akan mengulanginya lagi.
Surat 15
Kepada Mas Surya (Nama disamarkan) tercinta
Mas Surya, kapan mas Surya pulang dari China? Saya tidak sabar menanti kepulangan mas Surya dari China. Sebenarnya Bunga (Nama siswi disamarkan) pengen mengatakan sesuatu. Bunga pengen menerima kabar dari mas Surya tapi tidak berani menerimanya, Bunga pun tidak pernah melihat wajah mas Surya, makanya Bunga takut menerimanya karena Bunga tidak pernah keluar rumah.

Surat 16
Kepada Ibu
Ibu, itu temanku nakal sama aku.
Aku takut nanti aku dinakali lagi. Aku nggak mau sekolah lagi.

Surat 17
Kepada Teman (di Sekolah sebelumnya)
Mawar (Nama yang dituju=disamarkan), maafin aku karena sudah ninggalkan kamu. Apakah kamu sedih atau ceria karena kamu selalu nakali aku. Kelak kamu minta maaf, aku sudah maafin kamu kok. Jangan sedih ya...

Surat 18
Kepada semua orang
Saya tidak berani berbicara keras
Saya tidak berani berbohong
Saya tidak berani membantah orang
Saya akan membantu orang
Saya suka kepada orang

Surat 19
Kepada Kakak.
Saya kangen kepada Kakak.
Aku selalu menghawatirkan Kakak. Saya kangen sekali. Aku senang melihatmu, Kakak.

Surat 20
Kepada Pak Amin
Pak Amin, saya malu sama pak Amin karena aku suka meminjam spidol. Pak Amin jangan marah ya...

Contoh Surat Untuk Guru

Surat 21
Kepada Pak Amin
Saya minta besok Esbeka-nya pakek cet air dan dikelompokkan menjadi lima kelompok dan gambarnya.

Surat 22
Kepada Ibu
Ibu, engkau Pangeranku dan engkau yang membesarkanku. Aku sayang padamu

Surat 23
Kepada Ibu
Ibu, engkau yang mangkanku , engkau yang melahirkanku, sungguh mulya. Hatiku, ibu, engkau yang mendewasakanku. Ibu, tawa dan senyum sungguh mulya. Hatiku selalu menghias bibirmu.

Surat 24
Kepada Ibu
Ibu, engkau yang menglahirkanku. Engkau yang membesarkanku. Senyum indah menghias bibirmu. Sungguh besar jiwamu.
Engkau berharga bagiku. Engkau bagai jiwaku. Aku sungguh sayang padamu. Engkau bagai bidadari di hidupku.

Surat 25
Kepada Orang Tua
Orang tua sangat baik karena juga banyak adik. Orang tua juga senang punya anak., dan orang tua sangat baik kepada anaknya. Dan orang tua baik kepada adik. Orang tua baik kepada temannya. Orang tua juga sangat baik kepada teman sekolah. Orang tua sangat baik karena udah tua. Dan sangat cantik. Aku juga sangat senang karena Allah saw (maksude SWT). Orang trua juga sangat baik kepada Allah saw (SWT).

baca juga: Blog Guru dan Blog Bukan Guru
-------------
Bagaimana? Apa yang anda rasakan setelah membaca surat-surat untuk guru dan orang yang dicintai itu? Tolong, ceritakan kepada saya!

Sebentar lagi hari guru tiba. Kapan hari guru? hari guru nasional diperingati setiap tanggal 25 November. Dipilihnya hari tersebut karena pada tanggal yang sama di tahun 1945 Persatuan Guru Indonesia menggelar kongres yang pertama pasca kemerdekaan. PGI kemudian berganti nama menjadi PGRI, organisasi guru pertama setelah Indonesia merdeka.

Di beberapa negara, hari guru dijadikan sebagai hari libur nasional. sementara di Indonesia hari guru ya biasanya diperingati dengan upacara. Tapi ada yang berbeda pada peringatan hari guru nasional 2015. Di bawah pimpinan Anies Baswedan sudah mulai digerakkan gerakan terimakasih guru. Pada hari guru, semua orang dianjurkan untuk mendatangi guru-guru SD mereka, mencium tangan, memeri hadiah, dan mengucap syukur (terima kasih).

Menuju Blog Guru yang Mengurai Mrengutmu

Blog guru sudah menjamur. Mau musim hujan atau kemarau kabar dunia guru dan pendidikan di tanah air terus bermunculan. Menariknya, banyak guru yang antusias untuk mengikuti perkembangan berita, penasaran dengan judul-judul yang setengah telanjang.

Lima tahun lebih nyeriusi per-bloging-an membuat saya kian memahami betapa pertarungan sesama blogger untuk menggaet pengunjung itu bukan fiksi. Saya sendiri kadang-kadang ikut bertarung di dalamnya; belajar SEO dan mempraktikkannya. Ya, selain sebagai bekal, biar bisa ikut ndopok pas kopdaran, juga untuk memerangi konten-konten sampah, selain agar blog ini tidak ikut tenggelam dan berlumut.

Pekerjaan ngeblog kadang-kadang membuat kita capek ya, lebih-lebih ketika ada yang dikejar. Untungnya kita masih memiliki sumber energi: rasa malu. Kemaluan (baca: rasa malu) inilah yang membuat kita bertahan untuk tidak gegabah. Kalau hanya untuk mendatangkan ribuan pengunjung, itu sangat mudah bagi blog tintaguru, cie...cie. Cari saja berita guru yang lagi hot, edit dikit, kasih pembuka asssalamu;alaikum dan penutup wa’alaikum salam, sebar ke 50 saja groub guru di Facebook, bisa dipastikan pengunjung akan membludak. Tapi, kata kemaluanku, “Kalau mau gituan, pakai FB abal-abal aja. Kasih foto cewek, jilbaban, yang cantik seperti istrimu.” Hah! Itumah sudah banyak.
Blog Guru
Tukang becak bilang, ngeblog membutuhkan seni, sebagaimana mengayuh becak itu sendiri. Juga harus berani. Kalau tidak berani, mana bisa tukang becak menyeberang jalan raya di rimba kuda besi ibu kota. Mana bisa menulis kalau takut di diacungi jari miring, dan melek mbengi.

Kalau ngeblog hanya soal kesenangan, itu sih oke saja. Siapapun bisa mengkambing hitamkan hobinya ketika mendapati blognya sepi pengunjung. Kalau ngeblog hanya sebatas cari recehan, silakan saja anda cari sebanyak-banyaknya itu duit, sampai tubuh anda sendiri tenggelam olehnya. Ngeblog: Kesenangan plus cari duit? Ini juga visi murahan yang kabur, tidak ke kanan, ke kiri, atau lurus, tetapi nyerong entah kemana. Trus aku kudu piye?

Sante dulu, Kang. Sabar. Mendapati blog kita dikunjungi banyak orang memang menjadi kesenangan sendiri buat kita, tetapi apa yang sudah pengunjung dapat dari blog kita? Apa? Kerumitan navigasi? Ini masih mending. Bisa jadi mereka tidak mendapati apa-apa selain omong kosong yang mencelakakan. Kadang-kadang blogger tidak menyadari ini, saya juga. Maaf ya bro... (sebenarnya saya sadar sih, tapi gimana lageee, habisnya situ tidak melirik sponsor yang membelikanku kopi sih)

Betapa ngeblog akan sangat membosankan jika hanya sekadar mengumpulkan recehan. Bagaimana soal recehan itu kita bungkus dengan istilah berbagi, growing, share? Bisa itu, bisa. Apa sih kita, kalau hidup tidak berbagi. Saya ngasih tulisan, situ ngasih recehan, impas. Hoho...tak sefana itulah. Berbagi kok. Kita memberi, mau dikasih or not, yo asyik ae. Jazakumullahu khairu ahsan al-jaza. Ngono lo...

Trus saiki enak’e piye?

Begini sajalah. Kebanyakan blog guru, yang mengabarkan tentang guru, meski pemiliknya bukan guru, memberikan konten yang gitu-gitu aja. Kalau tidak materi pelajaran, ya silabus, atau UKG, PPG, TPG, Sergur, Dapodik, PU-PNS, Gaji Ke-13, Honorer K2, yang semua itu lebih sering ditulis dalam format berita, atau tutorial. Blog ini juga gitu, kan ya. Ya tapi tidak seberapa. Akibat konsumsi berita yang berlebihan, ditambah lagi berita-berita itu dilebih-lebihkan, bahayanya jauh melampaui udud sehari 2 pak. Bisa edan. Gila ditandai dengan marah-marah di kelas, dan sering meninggalkan tugas.

Sekali-kali penting juga menyisipkan guyonan, seperti Lativi Abdima yang nulis soal semua guru Non PNS di Kementerian Agama akan diangkat jadi PNS. Itu lawakan yang sungguh-sungguh mengharukan. Ayolah, Guru Indonesia, tersenyum dan tertawalah tidak hanya ketika tunjangan sertifikasi cair. Jika sulit, maka ijinkan saya mengurai mrengutmu.

Anda tahu, mengurai mrengut lebih sulit ketimbang Seach Engine Optimization (SEO), tapi jika berhasil efeknya akan melampaui SEO. Percayalah.

Jual Carica Harga Grosir - Catatan Mengunjungi Pabrik Manisan Carica

Manisan Carica - Untuk sebuah keberhasilan seseorang mesti memegang dua kunci ini: Ketekunan dan Fokus. Itulah kesimpulan saya setelah bercakap-cakap dengan Alfha Gemilang, pengusaha muda yang telah memasuki pintu keberhasilan itu. Saya kira semua orang setuju dengan kesimpulan saya. Dan saya percaya ini tidak hanya berlaku di dunia usaha tetapi juga profesi atau pekerjaan apapun. Itulah kenapa biaya berobat di dokter spesialis lebih mahal ketimbang di dokter umum. Itu pula kenapa Enstein berkata, bahwa untuk berhasil kita hanya butuh 1% kecerdasan dan selebihnya adalah kerja keras (tekun). Itu pula kenapa saya sampai sekarang masih begini-begini saja, karena tidak fokus dan kurang tekun.

jual manisan carica


Mas Alfa, demikian saya menyapanya, adalah seorang lajang yang melihat facenya mungkin lahir sekitar tahun 1990-an. Ia telah membuat keputusan yang menurut saya berani, yakni berhenti menjadi pengajar di Politeknes. Memutuskan pulang kampung, ia bersama sang bunda kemudian merintis usaha manisan carica. Dengan modal awal sekitar tiga juta rupiah, usahanya terus berkembang pesat. Dan kini, baru setahun lebih sedikit usahanya berjalan, omset penjualannya sudah mencapai di atas seratus juta perbulan. Soal omset sebesar itu hanya dugaan saya semata setelah mengetahu bahwa dalam sehari pabriknya bisa menghasilkan 60 keranjang. Masing-masing keranjang berisi 90 cup. Artinya dalam sehari pabriknya menghasilkan 5400 cup. Anggaplah 1 cup harganya Rp. 3000, maka tinggal kalikan saja dengan 5400 cup. Agaknya bisnis manisan carica begitu menggiurkan? Hemmmm tentu tidak semudah itu. Ada proses yang tentu punya lika-liku yang rumit.

Untuk usaha yang baru berumur satu tahun, dan sanggup bersaing dengan berpuluh-puluh jenis usaha carica yang sama, apalagi kalau bukan stempel SUKSES patut kita sematkan untuk Mas Alfa.

Carica Gemilang, itulah brand produknya. GEMILANG: seGEr, ManIs, LezAt, dan NGangeni. Dengan nama dan label yang unik itu saya percaya Mas Alfa punya kelihaian di bidang pemasaran, juga imajinasi yang baik; meski ia sendiri adalah lulusan Fakultas Matematika. Ya lulusan Matematika. Saya su’udhan, jangan-jangan doi suka baca karya sastra juga. Entahlah.


pabrik manisan carica

pabrik carica

cara membuat carica


Rumah ini baru di tempati bulan Maret 2015 silam, dan di sinilah para karyawan UD. Carica Gemilang bekerja 6 hari dalam seminggu. Ada 23 orang pekerja produksi dan 1 orang cewek yang mengurusi administrasi. Gambar-gambar di atas saya ambil hari Jumat (5/6) sekitar pukul 14.30 dan mereka sudah bekerja sejak pagi. Tetapi saya amat-amati mereka tetap tampak bersemangat. Guru aja yang kerja dari pagi sampai sampai pukul 13.30 biasanya air muakanya tampak lusuh. Kok ini…. heran!
harga carica


Cara membuat carica sendiri sebenarnya cukup mudah. Di mulai dari pengupasan buah carica, pemisahan biji dengan dagingnya, pemotongan, perebusan sampai yang terakhir adalah pengemasan. Setelah carica dikemas dalam cup atau botol, didiamkan dulu selama 1 minggu baru kemudian diberi label dan di kemas lagi dalam dus yang siap untuk dipasarkan. Hingga sekarang, pemasaran Carica Gemilang sudah sampai Bali, Makassar dan beberapa kota di luar Jawa. Dan sebentar lagi produk Carica Gemilang juga akan sampai Singapura, Subhanallah. Itu karena Mas Alfa sendiri dalam waktu dekat akan berkunjung ke sana dan pasti akan membawa serta manisan caricanya, minimal 5 dus, mungkin sih.

agen carica

Carica adalah buah khas yang hanya bisa ditemui di dataran tinggi, seperti Dieng dan saya dengar juga ada di daerah Bali. Untuk harga manisan Carica sendiri terbilang murah dan peminatnya cukup banyak, karena selain bergizi juga ngangeni (bikin ketagihan), meski tanpa bahan pengawet. Nah, kalau Anda berminat mencicipi carica Gemilang, bisa order lewat saya. Dan berikut adalah harga Jual Carica.

Harga Jual Carica

berikut adalah harga jual carica gemilang
1 Dus isi 4 Cup Rp16,000.00
1 Dus isi 6 Cup Rp22,000.00
1 Dus isi 12 Cup Rp40,000.00
1 Dus isi 6 Botol Rp72,000.00
Contact: SMS/WhatsApp 085230373555 BBM: 555E291D
(Harga belum termasuk ongkos kirim. Pemesanan dalam jumlah banyak mendapat potongan harga. silakan kunjungi agen carica gemilang)

Carica Harga Grosir.


Order minial 100 cup kecil ukuran 125 gram. Harga percup @Rp.2500,-
Carica dikirim via dakota cargo dengan ongkir yang lebih murah dibanding jasa kurir lainnya.
anda bisa order melalui saya atau via bukalapak dan tokopedia. Silakan kunjungi

https://www.tokopedia.com/kopirejeki/carica-tanpa-label-untuk-dikemas-ulang
https://www.bukalapak.com/p/food/minuman/22avr4-jual-carica-untuk-dikemas-ulang-rebrand


Ohya, masih penasaran dengan manisan carica, datanglah ke wonosobo atau pesan saja! Anda juga boleh kok kunjungi juga web resmi Carica Gemilang. Atau jika ingin melihat proses pembuatan carica mainlah ke Pabrik Carica Gemilang nanti saya temani. Dan ini saya kenalkan FB orang tekun dan fokus itu: Alpha Gemilang.

bos carica gemilang

Demikian, kalau toh anda tidak mau beli, semoga tulisan ini bisa menginspirasi.

Bebas: Ngeblog atau Mati?

untuk apa ngeblog

Kenapa harus ngeblog? Hah! Itu pertanyaan bodoh yang lebih pantas dijadikan sebagai judul buku ketimbang awal sebuah tulisan. Orang mungkin akan mengatakan bahwa blog memiliki segudang manfaat, dan karenanya kemudian ia berfatwa bahwa ngeblog adalah suatu keharusan. Apakah tidur dan facebookan tidak memiliki manfaat yang tidak lebih besar dari ngeblog? Toh hukumnya tidak sampai pada suatu kewajiban. Behhh! Apa perlu saya ungkapkan qaidah fiqihnya?

Kita memang pandai memberi label yang besar untuk sesuatu yang sebenarnya kecil. Ngeblog itu kecil, sebab hampir semua orang bisa melakukannya, termasuk anak kecil dan imut-imut macam saya. Tapi sesuatu yang kecil, tengau misalnya, bisa membuat tanganmu tidak keluar dari sarung sepanjang malam. Kecil, jika banyak, akan menjadi besar pula, seperti utang-utangmu pada teman dan tetangga. Dan karenanya tidak bisa kita meremehkannya (dhomir -nya kembali kepada blog, ok).
diskusi blog mbakyublogger

Ketika diminta sharing pengalaman seputar Ngeblog dalam acara #EduTalk dalam rangka Ultah @MbakYuBlogger saya pura-pura keget! Hah. Apa memang tidak ada pembicara yang lain? Dan karena beliau pengasuh MbakYuBlogger Wening Tias Suminar mengatakan tidak ada, ditambah lagi iming-iming akan diberi kaos, jadilah saya bilang “siaaaap!” Sayangnya saya tidak hanya diberi kaos EduTalk yang putih seperti susu, tetapi juga diberi cangkir raksasa, carica, dan diberi kesempatan foto bersama para Mbakyu Blogger yang imut-imut.

foto bareng mbakyublogger

 Lalu, seperti hendak berbicara di muka Seminar Nasional, saya membuat slide dengan master "Ngeblog atau Mati?” Pikir saya, pastilah hadirin akan merinding begitu membaca judulnya, ditambah melihat tubuh saya yang ringkih dan mendengar suara saya yang gemetar, mereka akan mengalami komplikasi aneh yang kemudian membawa mereka pada sebuah lorong gelap dan di sanalah mereka pelan-pelan akan saya tunjukkan seberkas cahaya. Subhanallah! Rasanya kalimat panjang itu tidak sengaja saya ketikkan.

Jadi begini…ekhem (dehem) Blog adalah bla…bla..bla… Masa’ saya mesti melihat file tesis saya (yang kebetulan juga mengupas soal blog) dan tempelkan di sini. Tidak ah! Adakalanya kita dapat dengan mudah memahami sesuatu setelah melihat contohnya, tidak penting benar suatu definisi tekstual kecuali ketika anda mengerjakan karangan ilmiah. Begitulah saya berkhotbah.

Klik spasi! Dan muncullah di layar sebuah pertanyaan: Apa manfaat ngeblog? Sebenarnya saya lupa mengatakan, kadang-kadang ngeblog bisa tidak bermanfaat sama sekali dan justru hanya membuat madzarat. Tapi ucapan seperti itu akan membuat semangat mereka yang ingin mengenal blog bisa jadi melempem.

Tahulah kita, bahwa sesuatu itu bisa memberi manfaat atau madharat bukan semata didasarkan pada kepentingan pribadi. Menurutmu mungkin blog esek-esek begitu najis dan bahaya (meski kadang-kadang kau sendiri mengintipnya), tapi bagi pemilik blog ia bisa membuatnya makan berhari-hari. Kadang pula manfaat bercampur dengan madharat, bagaikan alkohol dan rokok. Dan yang super adalah ketika tidak ada hal lain kecuali itu hanya berbagi sesuatu yang bermanfaat. Inilah yang anda harapkan! Soal postingan-postingan sebuah blog mengandung kontroversi, tentu saja itu tak bisa dihindari. So, kembali kepada hati di mana niat bersemayam dalam damai.

Sebagai tempat menampung kegelisahan, berekspresi, bersosial, menambah teman, berbagi ilmu, berbagi masalah, mendulang Dollar, hanyalah sebagian kecil saja dari apa yang didapat seseorang dari ngeblog. Bisa saja orang menjadi terkenal gara-gara blog, dan itu boleh. Menjadi terkenal adalah cita-cita yang tidak selalu miring, sebab dengan itu suara anda akan lebih banyak didengar, dan anda akan lebih berhati-hati dalam bersikap. Wijaya Kusuma (Omjay), misalnya. Guru SMP Lab School Jakarta ini mengenalkan dirinya lewat blog dan media sosial. Akibatnya cukup gawat: Ia diundang ke sana-kemari, berkeliling Indonesia untuk berbagi ilmunya dan membawa pulang honor untuk sangu anak istri dan sisanya untuk beli Avansa. Tapi setiap orang punya jalannya sendiri, Omjay tidak harus anda jadikan patokan blogger sukses (untuk menyebut orang yang eksist karena blog)

Jangan pula tiru saya yang tidak pandai mencuri waktu untuk menulis di blog ini. Jadilah diri anda sendiri! Bebas! Di sinilah kenikmatan terbesarnya. Perasaan bebas. Sebebas-bebasnya. Termasuk ketika anda memutuskan memilih: Ngeblog atau mati? Orang Ngeblog akan mati. Tidak Ngeblog juga pasti mati. Tapi kalau orang ngeblog mati blognya bisa jadi akan tetap hidup. Jadi bebas saja. Hidup anda kok! Dan saya akan memberi tahu anda bagaimana contoh paling jelek dari wujud “kebebasan” itu dengan mengakhiri tulisan ini tanpa saya harus berjanji untuk melanjutkannya lain waktu. Blog-blog saya sendiri kok!

31

Angka macam apa itu? Usiaku!
Kau akan mengatakan betapa hidup berlari terbirit-birit
Kau akan mengatakan jika usia begitu singkat
Kau menanyakan apa saja yang sudah kau perbuat
Kau, iya kau! Aku

Sejauh ini saya merasa belum menjadi apa-apa, bahkan untuk sekadar menjadi manusia rasanya masih jauh. Tetapi saya menyadari bahwa hidup adalah proses.

Lalu kau bertanya, sampai kapan prosesmu itu akan menemu muara?

Tanyakanlah itu kepada semua orang dan tak seorang pun akan sanggung menjawabnya. Tidak ada yang benar-benar tahu apakah ia telah sampai kepada sebuah kesempurnaan, puncak pencapaiannya sebagai manusia.

Saya merasa masih muda. Masih jauh dari apa yang mereka bilang dewasa. Tetapi Ia dapat mengambilku sewaktu-waktu, saya tahu. Dan saya sudah minta ampun, selalu. Semoga Allah menghapuskan dosa-dosa saya, memberikan cahaya, dan menuntun saya menemukan diri saya yang sebenarnya.

Pembaca...Minta Aminnya!

Kalau Saya Menjadi Kepsek

Pernahkah kau membayangkan menjadi angin? Pejamkan matamu dan bayangkanlah dirimu tiba-tiba menguap dari botol yang terbuka, lalu kau bergerak menampar-nampar jendela, sebelum kemudian menyelusup masuk melalui lubang ventilasi kamar pacarmu. Begitulah, kita bisa membayangkan menjadi apa saja dan kadang-kadang hal itu dapat membuat kita ngakak lebih keras, tersenyum lebih lebar, dan memiliki sensasi mendebarkan yang tidak bisa kau temukan di Dufan.

Akhir-akhir ini saya yang hanya guru ingusan iseng-iseng membayangkan menjadi kepala sekolah (Kepsek). Ini di luar dugaan. Membayangkan menjadi seekor jin pernah saya lakukan, hingga kemudian saya menulis novel yang tokoh utamanya adalah seekor jin. Membayangkan menjadi Tuhan, kadang terlintas juga, tetapi saya takut Tuhan tidak suka dengan keliaran imajinasi saya, dan karenanya segera saya stop. Tapi membayangkan menjadi Kepsek? Aduh! Sungguh keterlaluan. Bagaimana jika Kepsek saya membaca tulisan ini? Hem, bisa jadi saya diberi hadiah, atau malah diprenguti. Biarlah!

Jika saya menjadi Kepsek, dan tahu ada anak buah saya membuat tulisan semacam ini, maka saya akan merasa bangga, menyadari bahwa sebenenarnya saya punya anak buah yang tidak hanya lucu tapi juga pinter berkhayal. Tapi sebagai Kepsek, saya tidak benar-benar butuh orang macam itu. Yang saya butuhkan adalah orang yang loyal, manutan, dan setia mendukung gagasan dan ide saya yang brilian. Wow!

Kalau saya menemukan anak buah yang tidak loyal, saya tidak akan langsung memanggilnya, memarahinya, dan atau memberinya sanksi, meskipun hanya sebatas prengutan. Mula-mula saya akan mendekatinya, bicara baik-baik dengannya, jika ia perokok saya akan memberinya rokok. Lalu pelan-pelan saya tanyakan tentang kenapa berani-beraninya ia membelot dari kepemimpinan saya. Saya akan terbuka dengan kritikan, meski telinga saya pasti akan merah. Saya menyadari bahwa saya pernah menjadi anak buah, pernah menjadi guru biasa tanpa sampiran, dan melihat dengan jelas sesuatu yang tidak saya sukai (meski belum tentu itu salah) dari sikap dan kebijakan atasan saya.

Saya tahu, menjadi Kepsek tidaklah mudah. Jadinya saja sulit apalagi ketika sudah jadi. Tapi anggaplah saya benar-benar sudah menjadi kepala sekolah sekarang. Anggap saja, tidak sungguhan kok. Bermimpi atau bercita-cita pun tidak, sama sekali tidak pernah. Tapi saya bisa membayangkan betapa repot dan mendebarkan menjadi Kepsek. Tapi kan di balik kesulitan pasti ada keasyikan. Dan saya akan menjalani hari-hari memimpin sebuah sekolah yang besar, berusaha mati-matian untuk lebih membesarkan sekolah itu, juga membesarkan rekening pribadi, dan nama saya sendiri. Hahaha

Memang sih, ketika belum menjadi Kepsek saya ini orangnya idealis. Bersih. Karena tidak peluang untuk berkotor-kotor. Kalau melihat kecurangan sedikit saja saya muak. Tapi ketika sekarang menjadi Kepsek, saya mulai berhitung dengan banyak hal. Saya sudah benar-benar berubah, bukan guru lagi, tapi masih manusia, meski mungkin tinggal setengah. Kalau saya tetap idealis sebagaimana dulu ketika menjadi aktipis bagaimana mungkin saya dapat mengembalikan jutaan rupiah yang sudah saya berikan kepada orang-orang yang membantu saya menduduki jabatan paling keren di sekolah ini? Kepala sekolah lain juga begitu, bahkan di antara mereka ada yang sengaja membuat proyek-proyek yang sebenarnya tidak begitu penting. Lhah kok saya tahu? Dalam bayangan saya, kami sesama Kepsek sering curhat, dan secara terbuka ada yang mengatakan itu—tanpa malu.

Duhai asyiknya menjadi Kepsek! Saya selalu mendapat jatah yang paling besar dari setiap kegiatan. Ya wajarlah, kan dalam setiap kepanitiaan posisi saya sebagai Penanggung Jawab. Kalau ada kesalahan atau kekacauan dalam sebuah kegiatan saya akan menyalahkan ketua panitia. Saya akan bilang: "Bagaimana bisa begitu? Kalau tidak becus jadi ketua panitia ya bilang saja, biar diganti yang lain." Memarahi jangan diartikan negatif ya, karena itu bagian dari kerja saya sebagai Penanggung Jawab.

Saya tahu, tanggung jawab saya sebagai Kepsek dan semua kegitan di sekolah bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Ketika memimpin rapat, di depan para guru, saya berkali-kali mengatakan hal itu. Bahwa dunia hanyalah sementara, kerja adalah ibadah, keikhlasan yang utama, bersyukur akan membuat bahagia, dan seterusnya yang terkesan mulia. Sesekali saya juga membaca puisi di depan para siswa. Saya kan Kepsek yang suka puisi gitu lhoh. Saya bangga dapat menceramai orang, meski saya kerap tidak ikhlas dalam bekerja, merasa kurang dengan gaji dan tunjangan, dan terus mengumpulkan pundi-pundi demi kesenangan pribadi dan keluarga. Kalau saya tidak mengajak mereka berbuat baik, bukan kepala sekolah namanya. Wibawa saya akan saya taruh di mana?

Ya, soal wibawa diri saya sebagai Kepsek memang harus saya junjung tinggi. Jika ketika masih menjadi guru saya sering berkumpul dengan sesama rekan guru, udud dan ngopi bersama, cekikikan, ngrumpi nggedebus gak jelas, ketika sudah menjadi Kepsek saya akan lebih banyak berdiam di ruangan saya. Aduh, enak sekali di ruangan itu. Saya buka laptop yang sudah tersambung dengan internet, saya mulai facebookan, ngeblog, menulis cerpen dan puisi tanpa dihantui bel ganji jam pelajaran. Lhah iya, saya cuma mengajar seminggu 6 jam kok. Kalau saya tidak mengajar pun tidak akan ada yang mencari saya. Waka Kurikulum tidak akan berani! Semua orang tahu kalau saya sibuk, punya urusan sendiri yang berbeda dengan para guru. Ah, tapi tidak! Saya akan tetap masuk kelas. Bagaimanapun, saya masih punya hati nurani dan tahu tanggung jawab. Tapi kalau sewaktu-waktu saya kosong, misal anak saya sakit, atau mobil saya bannya kempes, macet, bangun kesiangan, atau tiba-tiba saya ingin menghadiri temu sastra di luar kota, saya tidak bingung lagi. Tinggal SMS Waka Kurikulum, beres! Kalau anak buah tidak hadir karena berhalangan wajib membuat surat ijin yang ditujukan kepada saya, nah saya mau membuat surat ijin ditujukan kepada siapa? SMS saja cukuplah! Kepsek kok!

Sejak hari pertama saya menjadi Kepsek saya sudah merancang sekian agenda untuk mengangkat derajat sekolah ini; baik SDM-nya maupun sarana dan prasarananya. Saya tahu anak buah saya semuanya sudah Sarjana. Tetapi saya juga tahu bahwa kompetensi dan motivasi mereka sebagai guru harus ditingkatkan. Mereka butuh penyegaran keilmuwan, butuh lecutan motivasi dan saya kemudian akan mengirim mereka untuk mengikuti pelatihan dan seminar keren di luar kota. Saya memilih mereka yang belum pernah mengikutinya, belum pernah mendapat surat tugas untuk ke luar kota. Saya tidak ingin anak buah saya menjadi seperti saya yang dulu, tidak pernah mendapat tugas mengikuti pelatihan atau kegiatan di luar sekolah karena yang disuruh adalah orang yang itu-itu saja, yang dekat dengan Kepsek tentunya.

Karena saya suka ngeblog, maka saya juga sudah merancang pelatihan pembuatan blog bagi para guru. Saya akan mengundang Omjay, Botak Sakti, Ibu Amiroh, Ibu Etna, dan teman-teman saya yang jago ngeblog untuk menyemangati anak buah saya berinovasi dan berkreasi dengan blog. Saya akan sangat malu jika punya anak buah yang gaptek dan karenanya saya mewajibkan semua guru punya laptop, email, blog dan bisa menggunakan itu semua dalam proses pembelajran.

Saya juga akan mengundang teman-teman saya untuk mengisi workshop penulisan karya ilmiah, juga workshop sastra dan jurnalistik untuk para siswa. Beliau Mas Joni Ariadinata mungkin akan saya undang, juga Indrian Koto, Mahwi Air Tawar, Ahmad Mukhlis Amrin, dan teman-teman saya di Kominitas Sastra Bimalukar. Saya akan berikan honor yang besar kepada mereka. Dan sebagai penanggung jawab kegiatan saya juga akan mendapat honor yang besar pula. Hehe

Impian saya yang lain adalah membangun perpustakaan yang hebat. Ketika menjadi guru tanpa sampiran Kepsek saya geram menyaksikan perpustakaan yang penuh sesak dengan buku teks pelajaran. Buku-buku yang usianya pendek. Padahal ada pos dana yang bisa digunakan untuk membeli buku bacaan. Kalau toh tidak ada, saya akan berjuang mati-matian untuk mengadakannya. Akan saya penuhi perpustakaan sekolah saya dengan buku-buku bagus, khususnya sastra, lebih khusus lagi novel-novel saya. Hahaha… Tentu saja saya agak rugi karena mengurangi belanja buku teks berarti mengurangi pendapatan saya dari rekanan penerbit. Tidak apa, saya sudah cukup gembira mendengar degub jantung sekolah yang saya pimpin itu sehat. Novel-novel saya juga akan banyak dibaca oleh siswa dan teman-teman guru, best seller jadinya. Hahaha

Ada satu lagi yang ingin saya perjuangkan, yakni nasib guru honorer. Sebagai Kepsek yang baik dan pernah menjadi guru honorer pula saya tidak mungkin menutup mata dengan nasib mereka. Disaat penyusunan Rencana Anggaran Pembelanjaan Sekolah saya sendiri yang akan mengusulkan kenaikan honor untuk mereka. Soal kenaikan tunjangan saya sebagai Kepsek nanti juga ada yang mengusulkan. Tidak hanya honor, saya juga akan memberi tambahan uang transpot dan dana kesehatan bagi guru honorer. Ketika pembagian bahan seragam, para guru honorer juga akan menerima ongkos untuk menjahit, agar mereka tidak seperti saya yang pernah menumpuk bahan pemberian sekolah karena berpikir 7 kali ketika akan menjahitkannya.

Demikianlah! Membayangkan menjadi Kepsek saya kira bukanlah kesia-siaan, bukan pula bermaksud memanjangkan angan. Justru dengan itu saya akan banyak menghayati kehidupan, merasakan dan seolah-olah mengalami lika-liku yang yang belum saya alami; empati. Dengan begitu, saya (semoga) tidak mudah menyalahkan orang lain, khususnya Kepsek. 

Tumpang Tindih Aturan Rugikan Siapa?

problema guru honorer
Beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis surat terbuka untuk Kemdikbud dan LPMP terkait dengan NUPTIK guru non PNS di madrasah negeri. Tulisan tersebut bermula dari kejengkelan saya karena beberapa teman saya tidak bisa memiliki NUPTK dan menghalangi mereka untuk mendapatkan tunjangan dan mengikuti program-program lainnya.

Malam ini, iseng-iseng saya blog walking ke situs kementerian agama, lalu menuju Direktorat Pendidikan Madrasah yang beralamat di sini: http://madrasah.kemenag.go.id/. Ada info penting yang saya temukan yang masih ada kaitannya dengan surat terbuka saya.

Info tersebut adalah tentang Surat Edaran Dirjen Pendis tentang Pengaktifan NUPTK. Saya download,  lalu saya baca pengantarnya. Surat tersebut tertanggal 5 Januari 2015. Inti dari surat tersebut adalah himbauan tentang pentingnya NUPTK bagi tenaga pendidik dan kependidikan. Di phoin lain juga dijelaskan bahwa Guru Non PNS yang bertugas di Madrasah negeri syarat untuk mendapatkan NUPTK pengajuannya ke LPMP bisa dengan SK Kepala Madrasah Negeri.  Dasar hukumnya adalah Keputusan Menteri Agama Nomor 20 Tahun 2014 tentang Penunjukan Kuasa Pengguna Anggaran dan Pelaksana Tugas Kuasa Pengguna Anggaran di lingkungan Kementerian Agama dan Surat edaran Dirjen Pendidikan Islam nomor sekian....sekian...sekian (nanti dibaca sendiri saja) tanggal 10 Oktober 2014 tentang Kepala Madrasah Negeri sebagai Penanda Tangan Surat Keputusan Pengangkatan Guru Bukan PNS di Madrasah Negeri.

Surat tersebut ditandatangi oleh Prof. Dr. Phil. Kamarudin Amin MA selaku Dirjen Pendis.

Entahlah. Saya memposting surat terbuka itu pada tanggal 13 Oktober 2014 sementara surat edaran Dirjen tersebut tertanggal 10 Oktober 2014. Tapi kenapa waktu itu LPMP menolak untuk mengurus NUPTK teman-teman guru non PNS yang mengabdi di Madrasah Negeri? Saya tidak sedang bertanya kepada rumput yang kering.

Dari kasus tersebut kita bisa melihat adanya aturan yang tumpang tindih. LPMP mewajibkan guru honorer di sekolah dan madrasah negeri punya SK Bupati atau Kanwil Kemenag sementara Dirjen Pendis membolehkan. Ini yang pertama.

Lalu soal ini:
Status Guru Non PNS Masihkan Bisa Disebut Ilegal

Saya ulangi paragraf ini: Bahwa ternyata sudah ada Surat Keputusan Menteri Agama Nomor 20 Tahun 2014 tentang Penunjukan Kuasa Pengguna Anggaran dan Pelaksana Tugas Kuasa Pengguna Anggaran di lingkungan Kementerian Agama dan Surat edaran Dirjen Pendidikan Islam nomor sekian....sekian...sekian (nanti dibaca sendiri saja) tanggal 10 Oktober 2014 tentang Kepala Madrasah Negeri sebagai Penanda Tangan Surat Keputusan Pengangkatan Guru Bukan PNS di Madrasah Negeri.

Sementara, sebagaimana pernah saya singgung dalam tulisan  status guru honorer dalam Pasal 8 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 48 tahun 2005 Tentang Pengangkatan Tenaga Honorer Menjadi Calon Pegawai Negeri Silip (CPNS) menyebutkan bahwa Instansi Negeri dilarang mengangkat pegawai baru.

Bagaimana ini? Kementerian Agama membolehkan dan menganggap sah kepala Madrasah Negeri mengangkat guru non PNS sementara PP melarangnya. Dua aturan tersebut seakan tumpang tindih dan saling kontradiktif. Pertanyaannya, masihkan pantas Guru Honorer/Non-PNS dianggap ilegal?

Jika anda penasaran ingin membaca surat edaran Dirjen tersebut silahkan meluncur ke sini: Surat Edaran Dirjen Pendis tentang Pengaktifan NUPTK