Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Puisi-puisi Pendek

Puisi-puisi Pendek

Banjir

Air menggenang sepanjang jalan
         seperti kenangan
masuki rumah-rumah puisi

Tuban, 2012



Gatal

Kertas-kertas kelender basah
keringat dan air mata
Cahayamu redup, berkata:
“Berhentilah menggaruk segala gatal.”

Tuban, 2012


Pintu Waktu

Ketika pintu waktu tertutup
Matamu akan membuka
Dinding-dinding udara menjadi cermin
Cermin-cermin menjadi dirimu

Wonosobo, 2012


Desember-Januari

Dengan gaun hujan
Desember genit menari
Pelan-pelan rambutnya berguguran, bersiap mati
Demi Januari yang kelak menghidupkannya lagi

Wonosobo, 2012


Jalan Menujumu


Ada hantu
terjepit di pintu kamar kepalaku
ekornya membelit rindu
rumitkan jalan menujumu

Wonosobo, 2012


Puisi-puisi tersebut pernah dimuat di Kedaultan Rakyat, 27 Januari 2013
Sebelum Kupu-kupu

Sebelum Kupu-kupu


Puisi Jusuf AN

sebelum kupu-kupu
seekor ulat bergelantung di ranting
kepalanya menunduk takzim
bertahan dari terpaan kencang angin



sebelum kupu-kupu, sayang
itulah kita sekarang
menahan lapar dengan mulut diam
bertapa, mengisi sunyi dengan doa-doa
membaca masa lalu, menerawang
masa depan, merancang cara terbang

pada waktunya nanti
kepompong ‘kan pecah
sayap kupu-kupu lalu merekah
dan kita terpukau melihatnya
menyangka kupu-kupu
tak pernah ulat

tenanglah kau, sayang
nanti kita lunasi utang-utang
kita tuntasi segala kemalang
kita ‘kan beli cermin
agar tidak melupakan belakang
kita akan bisa terbang
akan kupu-kupu, sayangku
yakinlah itu
kita akan mengisap madu

catatan: "Sebelum Kupu-kupu" saya jadikan judul kumpulan puisi saya yang memuat 41 judul puisi. Alhamdulillah, buku tersebut sempat memenangi lomba penulisan naskah buku pengayaan tahun 2009 yang diselenggarakan Pusat Perbukuan.
Pesan Singkat

Pesan Singkat

-->
Puisi Jusuf AN
           
nak, kau masih tubuh
belum manusia penuh
manusia punya rencana
punya impian dan tujuan

kibarkan impianmu di tempat jauh
yang masih sanggup anganmu sentuh
ingatlah ia tiap bangun dan sebelum tidur
gapailah ia, anakku
sebelum tubuhmu uzur

tetapi ingat, nak
genggam dunia di tangan saja
hati bukan tempatnya
Biografi Jampang

Biografi Jampang

Puisi Jusuf AN

Sesekali mesti membuka mata
dan berduka mendapati
tubuhtubuh penuh balur yang
ditanam penguasa
sebab duka adalah rahim
yang meyimpan
keberanian untuk melawan


I

"Namaku Jampang
terlahir di remang jaman
di tengah tanah yang bisu
serta tubuhtubuh yang aduh."

Lalu kau tumbuh
bertandang ke Cianjur
meramu musim demi musim
membangun benteng
dari puing kesendirian
mempersiapkan peperangan paling agung,
perang melawan aku-mu

(gaib, sebilah golok, sakti menarinari
menyilet mendung penyamun bimasakti,
karang terbelahbelah
hanya dengan ujung jari)

"Aku pulang, atau mungkin berangkat
membawa tubuh kebal dan
jiwa yang masih lapar
maka tak henti aku mengaji matahari;
Tuhan, bangunkan rumah megah dalam hati."

Kau tahu, tak ada bunga jiwa
merekah sepanjang masa

Maka kau kembali
diterkam gelisah
harihari membasah, merah
kau kalah, kau kalah

Sebelum pergi mestinya
jantungmu lebih kau kenali
sebab pamanmu sendiri lupa bercerita
tentang kobaran api di tanah Betawi


II

Antara diam dan melawan

Di ujung belati
tak henti kau menggambar kelakar kumpeni
golokmu meronta
setiap kali pintu digedor
Centeng garang penagih upeti

"Diamku adalah lubang
yang menampung segala dendam.
Selaksa pemburu kidang
aku tengah berancangancang,
sebab berperang merupakan
sembahyang suci,
gegabah berarti kalah."

Tetapi sampai kapan
kau biarkan nafas kami
mereka kuasai?


"Sampai aku-ku tiada
sampai sangsaiku menjelma pedang baja;
Penguasa di atas penguasa."

III

Hari ini
bersama dengan lecut cemeti
kau justru merayakan pesta perkawinan
sebab bagimu, hidup butuh keturunan

(daundaun gemetar lalu gugur
bersemi daun baru, melulu begitu)

Perputaran ini berlalu begitu singkat
bulan dan matahari bersorak
bersijingkat melesatlesat
dan sajak selalu berusaha merangkum
berabad waktu
dalam sebaris kata saja

Jampang tinggalkan ladang
tinggalkan jarit timangan, lalu terbang
penuhi ajakan sebilah golok
yang sudah lama meronta di sarungnya

Di masjid
angin menyusup masuk
seakan ikut duduk di lembar sajadah
mengamini rajukmu:
"Tuhan, Engkau ada dalam sukma orang tersiksa."

Selepas malam meningkap
kampung pucat
kau meloncatloncat seperti tupai
dari genting ke genting
memasuki ruangruang rahasia:
ruang yang menyimpan
keringat orangorang
keringatmu juga

Seperti hujan
lalu kau kembalikan kerigat itu
pada rakyat yang
telah lama dijadikan melarat

Begitulah, bermalammalam
kau berperang dengan cara lain
yang diajarkan musim paling dingin

Sementara moncongmoncong senapan
Sigap membelalakkan mata
menunggu kau terlelap
dalam sandaran maya:
Rayu Mayangsari yang janda itu
menggiringmu dalam kepungan musuh
menyeret lenganmu menuju pulang
ke tempat lain yang asing.

Yogyakarta, Februari 2007
puisi ini adalah tafsir dari cerita rakyat, si Jampang dari Betawi.


Fragmen Sebelah Mata Buta

Fragmen Sebelah Mata Buta

Puisi Jusuf AN

Seekor camar terbang terbakar
ombak dan pasir saling desir
hujan angin dingin
menepikanku di pantai asin

Aku seperti tersirap
setiap kali memandang matahari
tenggelam di laut senyap
bermimpi bersama ikan-ikan sepi

Ingin kuarungi laut hingga barat
menjala bola merah itu
untuk kupasang di sebelah mataku

Stanza Sebuah Pesta; Ketakutan

Stanza Sebuah Pesta; Ketakutan

sauhlah perahu
sebelum wakui mnghisap bebutir waktu
yang mengalir dalam darahmu



1/
kita yang tak pernah meminta dilahirkan
mengapa terus diburu kematian?

ketika perih lambung atau hati menyeri
seringkali kita pinta pada udara
mendatangkan ajal segera
tetapi, akuilah: tak pernah sungguh-sungguh
kita meminta.
semuanya akan terbukti saat kita sendirian
di malam lengang dan mendadak
dibangunkan bunyi ketukan pintu.

selalu saja,
ada bayangan legam mencipta ketakutan
mengikuti sepanjang perjalanan sunyi ini.
semua yang tampak, berbunyi dan bergerak
seolah juga mencintai nyawa kita
untuk dimilikinya

sedang pada hidup kita telah terlanjur mencintai
meski tak pernah benar-benar tahu untuk apa

o, sudah berapakah peristiwa menyeret kita
dalam ketakutan akan kematian?
semuanya terulang dan terulang
tanpa satu pun yang kita hapal.

seolah semuanya baru pertama kali terjadi

maka, sebuah cerita dikarang
untuk mengenang ketakutan demi ketakutan

Puisi: Hikayat Sri

Puisi: Hikayat Sri

kita adalah debu
yang terlempar dari
sunyi langit biru
tumbuh menjelma daun
menggantung dicakar angin
lalu kembali membeku:
sebiji debu di batang waktu

dan di waktu yang lain,
kita cakarmencakar
mempertahankan kehijauan,
            remang kebenaran.
seperti dongeng-dongeng masa silam



I

karena waktu pengap selalu
maka aku berguru pada batu
juga gunung, matahari dan bulan
yang kekar menjulang, merangkak,
dan takzim berputar

cuaca dan musim
bukanlah sesosok kelam
tetapi kawan paling hangat


“aku tak butuh nilai
dari tapaku bermalam-malam.
hanya kuharap sebiji benih
wujud perasan kesabaran.”

II

di atas batu berlumut
petapa itu tertunduk
mengucur mantra dari dadanya;
mengembang aromanya
hingga khayangan

lalu mendung menabungnya
dan hujan kemudian tiba.

“batara ramadi masih semedi.”
tetapi wiji widayat mesti
segera diserahkan kepada bumi
yang entah sudah berapa lama
menanam rindunya
dan selalu bercerita
setiap kali berciuman dengan hujan:
akan segera lahir anak-anak kita;
anak-anak yang gembira
menari bersama angin;
angin yang melahirkan cucu-cucu;
seterusnya begitu.

III.

“namaku sadana, lelaki yang lena
dengan wangi darah adik sendiri.
kelak mayatku menjelma hama
dan kau pun sibuk meramu racun
dari bunga yang tumbuh di gurun-gurun.”
kau tercipta dari kesialan
melengkapi keperihan kisah ini                     
sebagaimana kebanyakan yang lain              
kau laiknya mendung yang tak turun
tak sempurna namamu berdengung
            kini atau pun nanti

“akulah sri, perempuan yang
tercipta dari mantra si petapa
kelak mayatku akan ditanam di bumi
menumbuhkan benih kehidupan.”

lalu waktu
kembali mempertemukamu
dengan makhlukmakhluk
yang tercipta dari tulang belulang sadana.
sementara anantaboga, ular besar
yang menganggapmu sebagai putri
senantiasa menjagamu
dari kesepian dan ancaman

“aku akan menelusup
dalam mimpi-mimpimu
sepanjang malam
menghantui hari-harimu                                
yang lapar. dan ingatlah,                               
keteguhan adalah benihku yang baru.”

setelah kelaparan lancar dilafalkan
orangorang angankan kau datang
membenih di pelataran
mencairkan wajah-wajah gelisah
setelah melesatkan doa ke angkasa—
            dan hanya hujan sebagai jawabnya

 "tidak terlalu berarti
mencari musabab
penjelmaan segolek mayatku
menjadi padi
sebab kebenaran telah lama mati
tanpa sempat ada yang menziarahi.
bangunlah pagi-pagi,
dan lihatlah pucuk daunku
                        yang menari
menarilah bersamaku
di ladang dan pematang                                
di musim panen atau gersang
sampai keringat menjawab segala gundah:   
tak ada doa yang sia-sia
tak ada perkara tuntas terselesaikan.”

maka demikianlah
waktu akan selalu menggantikan cuaca
menuding dada siapa saja
yang keringatnya berkilauan cahaya.

Yogyakarta, 2007

Puisi ini terinspirasi atas dongeng “Dewi Sri” dari Banyumas, Jawa Tengah