Dapur Sekolah, Kantor Kedua Kami

M. Yusuf Amin Nugroho


Sudah lama sekali saya ingin menulis tentang dapur sekolah kami. Dan kali ini saya luangkan waktu. Di sini, di dapur sekolah ini.

Apa pentingnya menulis tentang dapur sekolah? Apa pentingnya dapur bagi sebuah instansi pendidikan?
Saya tidak akan menulis tentang sesuatu jika itu saya rasa tidak perlu untuk ditulis. Dan dapur sekolah kami memang pantas untuk ditulis, patut untuk dikenang, untuk diabadikan. Ada banyak hal menarik yang saya temukan di dapur sekolah. Sesuatu yang barangkali tidak saya temukan di dapur-dapur sekolah-sekolah lain, di dapur-dapur yang lain.



Sebentar, saya mau buat kopi dulu...

Selesai. Segelas kopi kini ada di atas meja, persis di depan saya.

Itu dia salah satu kelebihan di dapur sekolah kami. Di sini ada kompor, dua termos yang selalu terisi dengan air panas. Kalau pun termos itu kebetulan kosong, kami bisa dengan mudah mengisi panci untuk kemudian mendidihkan air. Sekolahan memang hanya menyediakan teh, gula, elpiji, dan air. Jika kami ingin kopi maka harus membeli sendiri di koperasi sekolah atau di warung di depan sekolah atau membawa sendiri dari rumah. Tapi untungnya warga sekolah kami, khususnya guru-guru yang laki-laki, saling sadar diri, bergantian membelikan. Maka setiap hari, kami selalu ngopi, selalu ada yang rela mengeluarkan uang untuk membeli. Dua ribu rupiah dapat sebungkus kopi, jadi tiga atau empat gelas. Tiga gelas itu bukan untuk tiga orang, tetapi bisa untuk lima orang, tujuh, bahkan sepuluh orang, tergantung berapa ahli ngopi yang hadir di dapur.

Begitulah kami. Keberasamaan terasa begitu kental, terjalin begitu liat di dapur sekolah kami. Bukan hanya para guru, tetapi juga satpam, tukang kebersihan, atau pun penjaga malam biasa berkumpul di dapur sekolah untuk ngopi bersama.

Itu baru soal ngopi. Belum lagi ketika kami memasak bersama. Rica-rica, lalapan, nasi goreng, yang paling sering adalah membuat mie instan. Kami juga kerap patungan membeli itik, ayam, untuk disembelih dan dimasak bersama. Dulu, pada masa Pak Anam, mantan Kepala Sekolah, kami juga kerap menyembelih kambing untuk disate dan digulai. Ah, ah, saya kira, kebiasaan memasak bersama sangat jarang dilakukan di sekolah-sekolah lain.

Dapur sekolah kami berukuran 10x4 meter, dipisah menjadi dua bagian dengan papan bekas mading dan horden. Bagian pertama digunakan untuk tempat memasak dan mencuci gelas-piring, rak barang pecah belah dan bumbu. Sedangkan bagian ke dua, yang lebih luas, terdapat ranjang tidur tanpa kasur, level pangung, dua meja, kursi-kursi (yang bisa bertambah, bisa berkurang), vcd player, tape dan radio, sound system, almari punya penjaga, rak sepatu, gantungan pakaian, dan sebuah bantal dari petilan sandaran kursi.

Di atas dua meja itulah meja-meja itulah gelas-gelas, asbak, jajanan pasar, buah-buahan, koran Suara Merdeka, laptop, sering dijumpai.

Letak dapur sekolah kami berada di sudut sekolah. Ada sebuah pintu mengubungkan dengan tempat parkir sepeda motor. Guru-guru biasa masuk dan pulang melalui pintu itu. Juga para tamu. Sebab pintu gerbang seringkali dikunci saat-saat jam pelajaran.

Ganti baju

Dari rumah, beberapa guru berangkat dengan mengenakan pakaian dinas tetapi memakai sandal, termasuk saya. Ada juga bersepatu tetapi menggunakan celana jeans dan kaos oblong. Sepatu sudah siap di dapur lengkap dengan kaos kakinya. Pakaian dinas bergelantungan digantungan pakaian setia menunggu pemaianya. Ada bahkan yang tidak membawa pulang PSH-nya sampai bermingu-minggu, tapi itu bukan soal yang harus dipikir rumit. Toh guru tersebut selalu mandi, rajin mengenakan minak rambut dan minyak wangi, dan pakain itu hanya digunakan setengah hari dalam seminggu. Ada pula guru yang sengaja tidak mandi dari rumah, tetapi ia telah membawa perangkat mandi dari rumah.
Pagi-pagi sebelum pukul tujuh kami sudah tiba di sekolah. Memasuki pintu dapur, banyak guru termasuk saya, tidak langsung menuju kantor. Dapur sekolah kami adalah ruang transit. Di sinilah kami meletakkan tas dan jaket, merapikan rambut, juga nyemir sepatu. Sebelum bel masuk berbunyi kami sempatkan dulu untuk menyeduh teh atau kopi, dan memibincangkan apa saja yang menarik untuk dibincangkan.

Dari Tidur sampai Kerokan

Ranjang tanpa kasur di dapur sekolah kami telah dilapisi karpet berawarna hijau lumut. Pada waktu-waktu tertentu kami sering merebahkan tubuh di ranjang itu. Dengan berbantal tas, pethelan sandaran kursi itu, atau tumpukan soal test ulangan umum semester yang tidak lagi terpakai. Meski kaki kami menggelantung di lantai, meski hanya ditempat sangat sederhana, tapi tidak jarang guru yang terlelap di situ. Sebenarnya ada tempat yang lebih nyaman untuk tidur bagi guru yang sakit atau kecapean menjalankan tugas sekolah atau pun kewajibannya bermasyarakat. Tempat itu tepatnya berada di pojok ruang guru. Tempat yang disekat dengan deretan almari itu merupakan mushala kecil yang sering digukanan untuk shalat dhuha atau shalat wajib lainnya. Selain mukena dan cermin, di sana juga ada beberapa buah bantal dan kasur tanpa sprei. Guru-guru lelaki di sekolah kami jarang ada yang menggunakan tempat itu untuk meluruskan punggung. Mungkin malu, karena tempat itu juga kadang digunakan untuk dandan (ganti pakaian) dan shalat dhuha para ibu guru.

Bercanda, membincangkan isu-isu mutakhir yang penting dan tidak penting, biasa kami lakukan di dapur sekolah ini. Cekakak-cekikik, bahkan sesekali umpatan, sering meledak tiba-tiba. Tak hanya itu, di dapur, banyak guru membuka laptopnya, lalu dengan bantuan Wi-Fi yang berpusat di atas pintu ruang guru kami berselancar mengarungi dunia. Ada yang membuka email, blog, koran digital, facebook, twetter, sampai menjalankan aktifasi trading dengan forex. Ada pula yang membuat bermacam perangkat pembelajaran, menyusun potofolio, sampai memilah-milah SK untuk PAK (penetapan angka kredit) untuk kenaikan pangkat. Ada juga yang hanya duduk melamun bermain HP, menikmati kopi dan rokok, sampai menggambar di kotak snek.

Yang menarik, dapur sekolah kami kerap digunakan untuk pijetan dan kerokan. Pak Mis dan Pak Sahono, adalah dua orang yang kerap sukarela memijit dan mengerok guru yang kecapean atau masuk angin. Pegawai kebersihan dan satpam itu, memang tidak terlalu pintar memijit, tetapi cukuplah bisa mengobati pegal-pegal di pundak dan punggung. Dan jika ada orang butuh bantuan untuk kerokan, maka mereka tinggal menyediakan minyak kerok atau balsem.

Itulah dapur sekolah kami. Tempat kami berkumpul melakukan bermacam aktifitas. Dapur sekolah kami sudah seakan-akan telah menjadi kantor kedua setelah ruang guru. Di sanalah kami biasa menyelesaikan tugas-tugas dari penilaian sampai administrasi. Segelas teh saya sering tidak tersentuh, dan dimanfaatkan oleh guru lain, sebab saya, seperti kebanyakan guru muda laki-laki, jarang sekali berada di ruang guru. Kebersamaan antar guru terjalin liat di sini, di dapur sekolah kami.

Salam

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

4 comments

comments
nadhir
26 Agustus 2011 pukul 16.07 delete

baru tahu saiia kalo smua itu dilakukan di dapur mts ...

Reply
avatar
Anonim
1 November 2012 pukul 16.23 delete

luar biasa, rahasia guru, tentang guru dan ditulis oleh guru

Reply
avatar
2 November 2012 pukul 22.00 delete

ah, cuma cerita sehari-hari bung koto...

Reply
avatar