Tampilkan postingan dengan label pesan penting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pesan penting. Tampilkan semua postingan

Surat Seorang Guru Menjelang Ujian Kenaikan Kelas

Kepada anak-anakku, siswa MTs N Wonosobo di mana pun berada

Saya tulis surat ini pada malam minggu. Malam ketika engkau barangkali tengah asyik menonton tipi, atau bergadang di luar rumah. Tapi bisa jadi ada yang tengah membuka-buka blog ini. Siapa tahu. Apa pun yang tengah engkau  kerjakan saat ini, semoga tetap bisa menjaga diri dan sadar bahwa ada Yang Gaib yang senantiasa mengawasi.

Nak, besok Senin sudah mulai ujian Kenaikan Kelas ‘kan? Wah, asyik. Artinya engkau bisa pulang gasik! Bukankah begitu? Mungkin sebagian ada yang berpikiran begitu. Tidak dosa kok. Memang kenyataannya cuma dua mapel dalam sehari. Sebelum dzuhur engkau sudah bisa pulang dan shalat dhuhur di rumah, atau di masjid yang engkau temui di mana saja (jangan shalat di jalan, bahaya! Banyak kendaraan)

Wah, saya kok malah ngantur. Maaf. Saya yakin engkau anak-anak yang tahu diri dan bisa membagi waktu. Jadi, saya tidak akan banyak menasehatimu  soal itu.

Lewat surat ini sedikit saja saya ingin sampaikan, belajar itu jangan dihafalkan, tetapi dipahami. Ah, ini juga sudah berkali-kali saya katakan di depan kelas. Tetapi maaf, barangkali engkau sudah lupa, siapa tahu. Ya kan? Bacalah materi pelan-pelan, lalu tanamkan di kepalamu. Lebih baik lagi jika engkau mengamalkan apa yang kau pelajari, itu akan membuat ilmumu mengakar kuat dan tidak mudah terlupakan.

Selain itu, belajar dengan sistem kebut semalam itu ternyata tidak enak ya? Nah! Seandainya engkau sudah rutin belajar saban hari, mengulang materi-materi yang sudah dipelajari di kelas, bisa jadi sekarang kau tinggal santai, dalam arti tidak begitu ngoyo sampai larut malam. Maka, ingatlah ini baik-baik hal itu, agar tidak terulang lain kali.

Terakhir, naik atau tidak naik kelas itu tidak penting! Yang utama engkau sudah berusaha menjadi yang terbaik bagi dirimu, orangtua, dan apa atau siapa saja. kalau saja engkau nanti tidak naik kelas, bisa jadi bukan disebabkan karena nilai Ujian Kenaikan Kelasmu buruk. Bukan! Proses belajarmu selama setahun dijadikan dasar untuk menentukan naik tidaknya engkau. Dan jika benar engkau tidak naik, terimalah itu dengan lapang dada, sebab itulah yang terbaik. Itulah takdir yang mesti kau jalani. Takdir yang sebenarnya engkau sendiri yang menciptakan. Dan semestinya itu bisa dijadikan pembelajaran yang sangat berharga.

Sudah malam rupanya. Mata saya juga sudah redup. Agaknya cukup sampai di sini surat "cinta" dari saya. Doa saya selalu untuk engkau sekalian, anak-anakku yang budiman.

Salam

Nb. Bicara soal belajar, tidak hanya baca buku. bisa juga manfaatkan blog ini. hehe
Ibu, ajari anakmu menulis yang ikhlas!

Ibu, ajari anakmu menulis yang ikhlas!



“Aku ingin jadi penulis, Ibu. Dan aku sudah memulai. Dan kau sudah pula membaca tulisan-tulisanku. Katamu, teruslah menulis, sampai napasmu habis. Napasku masih, Ibu. Tapi kata-kataku? Tak tahu lagi apa yang harus kutulis. Tak bisa lagi aku menulis.”
“Bagaimana bisa, Anakku? Bukankah kau sudah menerbitkan buku praktis cara mudah menjadi penulis?”
“Jangan keras-keras, Ibu. Tak enak jika didengar orang.”
“Memangnya Ibu bukan orang?”
“Maaf, Ibu. Itulah yang aku alami. Aku nyaris gila karena tak bisa menulis lagi. Karenanya aku datang kepadamu. Mandikan aku dengan petuahmu, Ibu!”
“Ibu bukan penulis, tapi ibu tahu di mana pusat sakitmu.”
“Aku sakit, Ibu?”
“Di dadamu.”
“Kenapa dengan dadaku. Merah-merah ini? Ini karya istriku, Ibu. Semalam ia mengerakku dengan sendok!”
“Persis di dalam situ.”
“Bagaimana Ibu tahu?”
“Ibu tidak akan tahu jika kau tak mengeluhkan masalahmu. Kau sedang mengalami apa yang disebut writer block!”
“Ibu tahu istilah itu?”
“Kan ibu baca bukumu.”
“Ah, ya. Bahkan aku sendiri sudah lupa apa yang pernah kutulis. Kok Ibu geleng-geleng?”
“Semoga Tuhan mengampunimu, Nak. Sekarang pulanglah, dan menulislah lagi. Kau sudah tahu sakitmu, sudah tahu pula obatnya.”
“Aku sudah baca buku banyak-banyak. Berkali-kali datang melepas penat ke pantai. Berbatang-batang rokok kuhisab, bercangkir-cangkir kopi kutenggak. Tetap saja aku tak bisa mengatasi writer block sialan itu, Ibu.”
“Barangkali di dadamu ada racun, Anakku. Untuk itu, kau harus tambah satu obat lagi. Antibiotik.”
“Aku harus segera beli di apotiek?”
“Tidak.”
“Di masjid?”
“Kau bisa meraciknya sendiri.”
“Bagaimana caranya, Ibu?”
“Kau mesti belajar ilmu ikhlas.”
“Ajarkan kepadaku ilmu itu, Ibu.”
“Sebelum kau menulis, tata kembali niatmu. Benar-benar ditata. Ditata benar-benar. Luruskan pada satu tujuan saja. Jika perlu, kau pejamkan matamu yang lama, tanpa bersandar pada bantal lho! Niatkan bahwa kau menulis bukan untuk mengharapkan pujian dari makhluk. Bukan pula untuk mencari keuntungan duniawi. Bukan untuk gagah-gagahan. Bukan untuk pamer intelektual. Bukan untuk cari hadiah. Bukan untuk meremehkan yang lain.”
“Lalu untuk apa?”
“Niatkan, bahwa tujuanmu menulis semata untuk mencari ridha Tuhan. Jika antibiotik itu sudah merasuk dalam dadamu, kau sungguh beruntung. Karena dengannya, kau akan bahagia. Meski tulisanmu tidak mendatangkan uang, pujian, hadiah, tetapi justru dihina banyak orang. Kau tidak akan stess lagi, meski tidak lagi bisa menulis.”
“Ridha Tuhan bersama ridhamu, Ibu.”
“Ridha ibu bersama ridha Tuhan, anakku.”


Pohon Iman (Sebuah Renungan)

Pohon Iman (Sebuah Renungan)




Bismillah.
Pohon iman. Apakah pohon iman itu? Ia adalah sebuah pohon yang tumbuh di hati. Akarnya adalah kepercayaan kepada Penguasa Yang Maha Tinggi. Dahan-dahannya menjalar ke mata, hidung, telinga, tangan, dan kaki. Buah-buahnya adalah kebaikan tak terperi. 

Indonesia adalah sebuah negeri dengan manusia-manusia beriman kepada Tuhan. Cek saja KTP kita, di sana tertulis nama agama yang kita anut. Tapi tentu, keimanan tidak butuh tanpa pengenal semacam KTP atau pun jubah, surban, dan bahkan jambang. Meski begitu kita sebenarnya bisa mengukur keimanan seseorang dari perbuatannya. Waduh mengukur? Apakah sempat? Yang paling baik marilah kita ukur sendiri keimanan kita masing-masing.
Keimanan seseorang setidaknya mesti meliputi tiga aspek, yakni kepercayaan yang tertanam di hati, diucapkan lewat lisan, dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap hamba yang beriman maka di dalam hatinya seumpama tumbuh sebuah pohon. Jika iman seseorang baik, maka pohon iman di dalam hatinya akan tumbuh subur dan rimbun dengan dahan dan ranting yang menjalar ke mata, telinga, tangan, kaki, dan organ-organ tubuh lainnya. Pohon iman yang baik akan berbuah kebaikan (amal shaleh) di setiap ranting-rantingnya. Maka, seorang yang kuat imannya ia akan bisa menjaga matanya, lidahnya, telinganya, mengaplikasikan ajaran-ajaran Tuhannya dalam setiap perbuatan, menjauhi setiap pantang.
Sebaliknya, pohon iman seseorang bisa jadi hanya sebatas pohon yang meranggas, dengan ranting-ranting kering dan patah, tak ada buah dihasilkan darinya. Atau bisa jadi, pohon iman seseorang sebatas tonggak, tanpa apa-apa, menunggu mati pada waktunya.

Tetapi percayalah, selama hati masih hidup dan tidak terkunci, maka masih ada asa pohon itu kelak bisa bersemi, tumbuh, rimbun, menjalarkan dahan-dahan, berbuah kebajikan tak kenal musim.
Salam
-----
sumber gambar: klik
Sebelum Kupu-kupu

Sebelum Kupu-kupu


Puisi Jusuf AN

sebelum kupu-kupu
seekor ulat bergelantung di ranting
kepalanya menunduk takzim
bertahan dari terpaan kencang angin



sebelum kupu-kupu, sayang
itulah kita sekarang
menahan lapar dengan mulut diam
bertapa, mengisi sunyi dengan doa-doa
membaca masa lalu, menerawang
masa depan, merancang cara terbang

pada waktunya nanti
kepompong ‘kan pecah
sayap kupu-kupu lalu merekah
dan kita terpukau melihatnya
menyangka kupu-kupu
tak pernah ulat

tenanglah kau, sayang
nanti kita lunasi utang-utang
kita tuntasi segala kemalang
kita ‘kan beli cermin
agar tidak melupakan belakang
kita akan bisa terbang
akan kupu-kupu, sayangku
yakinlah itu
kita akan mengisap madu

catatan: "Sebelum Kupu-kupu" saya jadikan judul kumpulan puisi saya yang memuat 41 judul puisi. Alhamdulillah, buku tersebut sempat memenangi lomba penulisan naskah buku pengayaan tahun 2009 yang diselenggarakan Pusat Perbukuan.
Membawa Shalawat Setiap Masuk Kelas

Membawa Shalawat Setiap Masuk Kelas


M.Yusuf Amin Nugroho

“Shallu ‘ala nabi Muhammad!”
“Shollu ‘alaih...”

Demikian saya (berusaha, setidaknya dua bulan terakhir ini) mengawali proses pembejalaran di kelas. Apa yang saya lakukan itu barangkali terkesan aneh, tidak lumrah. Karena biasanya, yang dilakukan guru setelah salam adalah membuka pelajaran dengan mengajak siswa membaca “basmallah”. Karena keanehan inilah maka tak terhindarkan banyak siswa yang cengengas-cengenges saat shalawat mulai dilantunkan.

“Allahumma shalli wa salim ‘ala, sayyidina wamaulana muhammadin, ‘adadama fi’il milahi shalatan, da imatan bidawami mulkilahi....”

Itulah shawalat Sa’adah yang lebih sering dilantunkan pada siswa dengan senandung yang sederhana. Kadang-kadang juga shalawat nariyah, atau di lain kesempatan saya mengajak mereka melantunkan shalawat badar atau sesekali shalawat Diba, Simtud Dhuror—Ya ROBBI BILL MUSTOFA:

Maula ya sholli wa salim daiman abada
‘ala habibika khoiril kholqi kulli himi
Huwa al-ahabibulladzi turjasyafa ‘atuhu
Likullihaulimmina al-ahwa limuktahimi
Ya rabbi bi al-musthafa balligh maqashidana
Waghfirlana mamadho ya Wasi’a al-Karami

Membawa shalawat ke dalam kelas, bagi saya adalah satu hal sangat penting. Sama sekali tidak ada ruginya menghabiskan waktu dua atau lima menit untuk digunakan membaca shalawat nabi di akhir atau di awal proses pemebelajaran. Dan inilah dalil utama mengenai urgensi shalawat Nabi:

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Q.S. Al-Ahzab: 56)

Pada awal sebelum saya membawa shalawat setiap masuk kelas, terlebih dulu saya menyampaikan keutamaan shalawat Nabi kepada para siswa. Tentang kenapa kita harus bershalawat kepada Nabi yang jelas-jelas maksum, dan apa pula makna ayat di atas?

Shalawat adalah doa dan salam berarti keselamatan. Seorang ulama, Syekh Muhammad bin ‘Utsaimin menerangkan, dengan mengucap salam apa yang kita takutkan menjadi hilang dan bersih dari kekurangan, dan dengan sholawat maka apa yang kita inginkan menjadi terpenuhi dan lebih sempurna.

Ketika kita mengucapkan shalawat untuk Nabi maka artinya kita sedang mendoakan kebaikan untuk junjungan kita itu. Nabi memang maksum dan shalawat untukNya sebenarnya akan kembali kepada kita sendiri. Nabi Muhammad Saw. ibarat sebuah wadah besar yang penuh terisi air jernih, sementara kita adalah botol-botol kecil yang terisi dengan air keruh yang mengelilingi wadah tersebut. Nah, ketika kita membaca shalawat kepada Nabi, ibaranya kita tengah mengisi wadah nabi yang besar itu. Tetapi karena wadah Nabi sudah tidak cukup menampung air, maka air dari wadah nabi tersebut akan meluber, mengaliri botol-botol kita yang berisi air yang kotor. Kian sering kita membaca shalawat maka air kotor dalam botol-botol kita lambat laun akan jernih.

Banyak sekali hadis tentang keutamaan shalawat, salah satu: “Barangsiapa yang bersholawat atasku sekali, maka Allah akan bersholawat untuknya sepuluh kali.” [H.R. Muslim, Ahmad dan perawi hadits yang tiga]

Bisa dibayangkan khasiat doa malaikat, makhluk tanpa nafsu, tanpa dosa, dan selalu berdzikir, dan memiliki hubungan sangat dekat dengan Allah. Maka, sangat rugilah orang-orang yang tidak mau, atau tidak membiasakan membaca shalawat dalam kesehariannya. Bahkan, Rasulullah pernah menyatakan bahwa orang yang paling bakhil adalah orang yang jika disebutkan nama Rasulullah, ia enggan membaca shalawat.

Lalu apa makna ‘Allah bershalawat kepada nabi’? Bukankah Allah pengabul doa, mana mungkin Ia turut berdoa untuk nabi, berdoa memohon kepada siapa? Maknanya tentu tidak sedangkal itu! Ibnu Katsir pernah berkata: “Maksud ayat ini (al-Ahzab: 56) adalah bahwa Allah swt mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya tentang kedudukan hamba dan nabi-Nya (Muhammad) di sisi-Nya di langit di mana malaikat-malaikat bersholawat untuknya, lalu Allah swt memerintahkan makhluk-makhluk yang ada di bumi untuk bersholawat dan salam untuknya, agar pujian tersebut berkumpul untuknya dari seluruh alam baik yang ada di atas maupun yang ada di bawah.”
Dalam masalah yang sama Abul Aliyah berpendapat: “Sesungguhnya Sholawat dari Allah itu adalah berupa pujian bagi orang yang bersholawat untuk beliau di sisi malaikat-malaikat yang dekat”. Ada juga ulama lain yang mengatakan bahwa makna shalawat Allah kepada nabi yaitu Allah melimpahkan kasih sayangNya kepada beliau.

Demikianlah, shalawat kepada nabi adalah juga wujud kepatuhan kita kepada Allah dan Rasulullah, karena selain Allah memerintahkan kita untuk bershalawat Nabi juga meminta agar ummatnya membacakan shalawat untuknya—yang pada hakikatnya adalah untuk kebaikan kita sendiri. Dengan membiasakan shalawat kepada Nabi kita sebenarnya juga sedang memupuk cinta kepadanya. Karena bukakah demikian semestinya orang yang mencinta, yakni selalu dan terus berusaha menyebut nama kekasihnya. Sebaliknya, orang yang mengaku mencintai Rasulullah tetapi enggan membiasakan bershalawat untuknya, maka sesungguhnya ia kadar cintanya patut diragukan.

Oleh karena itu, bershalawat mestilah disertai dengan penuh penghayatan dan keikhlasan. Artinya shalawat kita tidak sebatas bibir, melainkan dibaca sepenuh cinta, penuh kerinduan, penuh harap kepada Allah.

Sayangnya, sedikit saja Ummat Muhammad saw yang mau memperhatikan pentingnya bershalawat untuk Nabi. Shalawat bagi sebagian ummat Islam seringkali hanya dianggap sebatas basa-basi baku dalam pembukaan pidato, kalimat yang harus dibaca saat shalat dan khutah Jumat, dan es-a-we (Saw) yang mengikuti kata Muhammad / Nabi dianggap sebagai pelengkap kepantasan—tanpa pernah direnungkan keagungan maknanya.


“Suatu kaum yang duduk pada suatu majelis lalu mereka bubar sebelum dzikir kepada Allah dan bersholawat untuk Nabi, maka Allah akan menimpakan kebatilan atas mereka, bila Ia menghendaki maka mereka akan disiksa dan bila Ia menghendaki maka mereka akan diampuni.” [H.R. Tirmidzi dan mentahsinnya serta Abu Daud]

Masuk kelas yang notabene-nya adalah majlis ilmu, tanpa membawa shalawat, pada akhirnya menjadi kurang sempurna. Dan kita pastilah tak ingin kebatilan dan siksa dariNya. Maka, sudah sepatutnya, menjadi tugas kita untuk menanamkan kecintaan akan Rasulullah Saw kepada generasi penerus, dan bagi guru salah satu caranya adalah dengan jalan membawa shalawat setiap masuk kelas.
Ayo Menulis!

Ayo Menulis!

 Ada seribu satu manfaat yang bisa dipetik dari aktifitas menulis. namun masih sedikit saja orang menyadarinya, atau sudah menyadarinya, tetapi tetap enggan melakukannya.
Menulis itu menyehatkan
Hidup tak pernah berhenti dengan masalah. Setiap masalah yang hadir bukan untuk ditinggalkan, melainkan membutuhkan penyelesaian. Nah, ketika kita mendapat masalah, mungkin kita akan curhat atau meminta pendapat orang lain untuk sekedar mengalirkan perasaan atau meminta solusi. Tetapi tidak selamanya curhat itu baik. Kita memang butuh teman bicara, tetapi adakalanya perkara-perkara tidak kita umbar kepada orang lain. Pada saat demikian, ketika masalah, kegelisahan, unek-unek, dan lain sebagainya yang mengganjal kepala tidak dikeluarkan maka akibatnya bisa tidak sehat, bagi hati dan pikiran. Maka salah satu jalannya adalah dengan menuliskan masalah kita, apa adanya. Ketika menulis kita tidak perlu menutup-nutupi masalah kita karena hanya kita sendiri yang tahu apa yang kita tulis. Dan sebenarnya ketika kita menuangkan permasalahn kita dalam bentuk tulisan, kita sedang menguarikan masalah, sehingga jalan untuk penyelesaian masalah pun jadi terang. Coba deh!
Menulis itu membuat kita berpikir sistematis
Berpikir sistematis adalah cara berpikir para ahli ilmu. Berpikir sistematis, yakni berpikir dengan runut, dari hal-hal kecil kemudian menuju ke hal-hal yang besar, atau sebaliknya. Dengan menulis, kita menjadi terbiasa menuangkan inti permasalahan, untuk kemudian menyelesaikannya, sehingga kita bisa menelorkan gagasan-gagasan yang lebih brilian.
Menulis itu Memperdalam dan Memperbanyak ilmu
Banyak hal yang tidak kita ketahui dalam hidup dan karenanya belajar itu wajib. Ketika ada satu hal yang tidak kita ketahui mungkin kita bisa bertanya pada Guru atau orang kita anggap tahu. Namun demikian, apakah kita akan terus menerus menunggu jawaban orang lain, tidak kemudian mencari jawaban sendiri. Otak akan menjadi manja jika tak pernah diajak bekerja. Cobalah sekali-kali mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang kita gelisahkan di buku-buku. Lalu ikatlah apa yang kita dapat dari buku dengan tulisan. Dipastikan, pengetahuan kita akan dapat lama bertahan.
Menulis Sebagai Media Dakwah
Berdakwah, amar ma’ruf nahi munkar, bukan cuma tugas para Guru dan kiai, melainkan menjadi kewajiban kita semua. Dakwah tidak hanya bisa dilakukan dimimbar-mimbar majlis taklim dan pengajian, melainkan bisa kita lakukan melalui media tulisan. Dan sesungguhnya, dakwah dengan tulisan bisa lebih luas jangkauannya dan bisa bisa bertahan lama. Kita menulis satu nasehat agama misalnya, kemudian tulisan kita dicetak 1000 eksemplar. Sedang kita tahu, usia tulisan bisa mencapai puluhan tahun, maka bisa dibayangkan berapa banyak orang yang membaca tulisan kita.
Menulis itu menghibur diri dan orang lain
Bagi yang sudah menjadikan menulis sebagai hobby, maka tidak menulis sehari saja rasanya begitu tersiksa. Menulis adalah hiburan paling mengasyikkan bagi penulis sejati. Selain itu, menulis juga bisa menghibur orang lain, terutama untuk tulisan-tulisan sastra.
Menulis bisa Menjanjikan Materi
Uang memang bukan segalanya. Namun begitu, uang tetap kita perlukan untuk hidup sejahtera dan sangu ngibadah. Nah, menekuni dunia tulis menulis, selain mendatangkan manfaat sebagaimana sudah disebutkan di atas, juga bisa menjadi jalan rejeki. Jika tulisan kita baik dan disenangi publik, atau memenangi sayembara, rejeki pun akan mengalir. Di Indonesia ada ratusan penerbit buku, koran, dan majalah yang siap menampung tulisan kita.
Masih banyak manfaat menulis, yang terlalu panjang untuk dijabarkan di sini. Sekarang, setelah tahu manfaatnya, apa yang kamu rasakan! Masih ogah menulis juga. Atau masih merasa tidak mampu untuk menjadi penulis?

Menulis itu gampang!
Padahal menulis itu gampang. Sangat gampang. Tetapi segala sesuatu yang gampang tidak bisa dianggap remeh. Segala yang gampang tetap membutuhkan aktifitas belajar, kesungguhan, latihan, dan ketekunan.
 Setidaknya ada tiga cara agar kita bisa menulis dengan baik. Cara itu adalah, pertama latihan, kedua, latihan, dan ketiga latihan. Keinginan menjadi penulis saja tidak cukup. Mengetahui teori menulis juga belum cukup. Latihan terus menerus adalah cara agar kita dapat menulis dengan baik.
Bingung mau menulis apa?
Tulislah apa saja. Apa saja yang kamu pikirkan. Apa saja yang menjadi kegelisahanmu. Apa saja yang ada di sekitarmu. Apa saja yang bisa kamu tulis. Menyimpan beban pikiran berlama-lama dan tidak dikeluarkan bisa membuat penyakit. Maka keluarkanlah dalam bentuk tulisan, dan ini membuatmu dapat sehat.
Tak perlu ada beban ketika menulis, misalnya apakah tulisanmu akan bagus atau tidak, apakah tulisanmu akan keliru atau tidak. Tetapi lakukan saja, tulislah saja apa yang bisa ditulis.
Dalam bentuk apa?
Bebas. Menulis bisa dilakukan dengan aneka macam bentuk. Bisa artikel, puisi, cerpen, novel, cerita lucu, resep masakan, rencana harian, tulisan bebas, atau apa saja. Tidak perlu risau apakah puisi, cerpen atau apapun yang ditulis olehmu itu tidak sesuai dengan standar kebahasaan, atau takut dikatakan jelek. Alirkan saja, tuangkan segala hal yang kamu pikirkan dan gelisahkan. Jika perlu biasakan menulis di buku harian.
Menulis memang ada teorinya, tetapi tanpa praktek, tanpa latihan yang nyata, maka segala teori tidak akan ada gunanya. Percayalah, apa yang kita inginkan dan sungguh-sungguh kita usahakan pasti akan terwujud. (M.Yusuf AN)