Ziarah Diri untuk Kebahagiaan Abadi

Oleh: M. Yusuf Amin Nugroho
 
Judul: Ziarah Agung; Kisah-kisah di Balik Perjalanan Ibadah Haji dan Operasi Tumor Usus Besar

Penulis: Nisful Laila Iskamil

Penerbit: Ladang Pustaka, Yogyakarta

Tebal: x + 260 halaman

Setiap kali membaca buku memoar saya selalu berpikir bahwa penulisnya pastilah memiliki pengalaman yang langka. Dan benarlah, buku yang ditulis oleh Nisful Laila Iskamil ini tidak meleset dari sangkaan saya tersebut. Memang, mulanya saya menyangka buku ini akan lebih banyak mengisahkan pengalaman ruhani selama menjalankan ibadah haji, sebagaimana yang telah banyak ditulis oleh penulis-penulis lain. Tetapi ternyata tidak demikian adanya.

Nisful hanya sedikit saja menceritakan bagaimana perjalanan hajinya yang penuh dengan tantangan. Ia yang ditugasi sebagai ketua rombongan dengan seabrek tugas ternyata juga dititipi oleh Tuhan berupa tumor di dalam usunya. Tetapi ia tidak menyerah. Ia terus berjuang untuk menaklukkan rasa sakitnya, dan justru berusaha untuk tetap menjalankan tugas yang diembankan kepadanya. Alhasil, meski dalam keadaan sakit dia bisa menyelesaikan ibadah hajinya, ia dapat pulang dalam keadaan selamat.

Setiba di rumah, Nisful yang menyadari bahwa sakitnya tidak kunjung sembuh segera melakukan pemeriksaan lanjutan. Ia sudah pasrah ketika Dokter menyuruhnya untuk menjalani operasi yang tidak pernah disangka-sangka. Tidak berhenti di situ, Nisful juga harus menjalani komeoterapi selama 7 bulan.

Ada banyak hikmah yang bisa kita petik dari kisah-kisah Nisful dalam menghadapi penyakitnya. Semuanya bisa dijadikan pelajaran baik bagi yang sakit maupun yang sehat. Melalui pengalamannya, Nisful sebenarnya ingin mengajak pembaca untuk santu dalam menghadapi penyakit. Pengalaman Nisful dalam buku ini, selain dimaksudkan sebagai pengingat bagi penulisnya, sekaligus bisa dijadikan pelajaran bagi pembaca.

Bijak Menghadapi Penyakit
Kadang-kadang muncul pertanyaan dalam diri kita: apakah penyakit yang kita derita adalah peringatan, azab, atau ujian untuk meningkatkan kualitas hidup kita?  Aid A-Qarni dalam bukunya La Tahzan pernah mengatakan bahwa ketulusan sebuah doa muncul tatkala rasa sakit mendera. Demikian pula dengan ketulusan tasbih yang senantiasa terucap saat rasa sakit terasa.

Buku setebal 206 halaman ini mengajak kita untuk menziarahi diri, intropeksi. Berapa lama Allah memberi sehat kepada kita? Berapa lama Allah memberi sakit kepada kita? Kalau masa sakit itu hanya secuil dibandingkan masa sehat, pantaskah kita mengeluh, seteah sekian lama kita tersenyum dan tertawa.

Nisful juga mengajak kita untuk belajar berkomunikasi dengan rasa sakit itu agar lebih akrab dan saling memberi pengertian. Bukan kemudian rasa sakit itu menjadikan kita berburuk sangka terhadap Tuhan. Alangkah bijak, jika penyakit yang dijadikan Tuhan sebagai duta ke dalam tubuh kita dijadikan batu loncatan untuk meningkatkan kualitas hidup, sehingga kebahagiaan tetap bisa rengkuh, meskipun dalam keadaan sakit.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »