Karya Fiksi Sebagai Inspirasi Sains

Anda mungkin pernah bertanya-tanya: Apakah terdapat hubungan positif antara banyaknya sastrawan yang telah melahirkan karya besar di sebuah negara dengan kemajuan dalam bidang sains dan teknologi? Wah, itu pertanyaan yang bagus. Tapi, sudahkah kamu menemukan jawabannya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu untuk melihat langsung kenyataan yang terjadi di negara-negara maju lalu membandingkannya dengan negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Jerman, Inggris, Prancis, dan Rusia adalah contoh dari negara-negara maju yang banyak memiliki sastrawan besar, sebagian di antaranya adalah peraih penghargaan Nobel bidang sastra. Hal itu merupakan satu kenyataan yang sudah diakui oleh Dunia. Inggris memiliki Shakespeare, T.S Eliot, Vidiadhar Surajprasad Naipaul; Jerman memiliki Goethe, Herman Hesse, Heinrich Boll; Rusia memiliki Leo Tolstoy, Anton Chekov, Pushkin, dan lain-lain; Prancis terdapat Albert Camus, Jean-Paul Sartre, Gao Xingjian dan lainnya.

Sejak penghargaan Nobel Kesusastraan diberikan tahun 1901 sampai sekarang (2012) Inggris dan Jerman memiliki masing-masing 9 sastrawan peraih Nobel, Amerika 10 sastrawan, dan Prancis 14 sastrawan. Sementara itu, baru ada satu sastrawan Indonesia, yakni Pramoedya Ananta Toer yang pernah menjadi salah satu nominasi penghargaan Nobel bidang sastra.

Dengan melihat fakta-fakta tersebut, kita tidak lagi berat untuk menganggukkan kepala, menyetujui bahwa di dalam sebuah bangsa yang maju ternyata memang terdapat banyak sastrawan besar. Hal ini sejalan dengan pernyataan Putu Wijaya sebagaimana dikutip oleh Agus Wibowo (2010) bahwa “besar-kecilnya apresiasi sastra mempengaruhi kemajuan teknologi sebuah bangsa.”

Kemajuan suatu bangsa memang bisa diukur dari jenis bacaan yang dibaca, juga dari taraf apresiasi masyarakatnya terhadap ilmu dan seni dan sastra. Kita memang memiliki banyak sastrawan, meskipun belum ada satu pun yang meraih penghargaan Nobel sastra sebenarnya itu tidak begitu penting. Namun, yang mesti kita cermati adalah kenyataan bahwa apresiasi terhadap sastra di negeri ini masih rendah.

Apresiasi terhadap sastra, kita tahu, akan membawa masyarakat bertamasya di dunia imajinasi—yang luas tak terkira. Tanpa imajinasi kreatif yang tinggi mustahil seorang ilmuwan bisa memiliki wawasan yang menjangkau masa depan.

Dalam sejarah, ilmuwan-ilmuwan cerdas yang telah berhasil menemukan dan menginovasi sains sosial dan alam ternyata juga merupakan penggila buku dan pencinta sastra. Sebagai contoh, Albert Einstein dengan teori reletivitas-nya yang masyhur. Alfred North Whitehead, ahli matematika sekaligus pengarang karya monumental Principia Mathematica (2010)—untuk menyebut dua di antaranya. Sebaliknya, (kamu bisa cek) tidak ada satu pun ilmuwan apalagi seorang penemu yang hobinya menonton televisi. Sebab mereka paham, televisi “berbahaya” karena bisa menumpulkan kreativitas dan daya imajinasi.

Dari keterangan di atas kiranya tidak berlebihan sekiranya sastra disebut-sebut sebagai mother of science. Karena sastra, baik langsung maupun tidak, telah banyak menginspirasi lahirnya berbagai disiplin ilmu pengetahuan.








Share this

Related Posts

Previous
Next Post »